Kemang, Tempat Jin Buang Anak yang Menjelma Menjadi Kawasan Mentereng

Kemang, Tempat Jin Buang Anak yang Menjelma Menjadi Kawasan Mentereng
info gambar utama

Kawasan Kemang, Jakarta Selatan merupakan salah satu daerah elite yang ada di Ibu Kota. Padahal pada era 1950-an, Kemang hanyalah kawasan perkebunan.

Pohon yang paling banyak dijumpai adalah pohon kemang (Mangifera kemanga caecea). Buahnya tergolong buah mangga, bau wanginya menusuk. Karena pohon inilah daerahnya disebut Kemang.

“Kemang, pada masa Betawi tempo doeloe, dan ini menurut cerita orang-orang tua, merupakan daerah udik, yang ketika itu disebut Betawi pinggiran. Daerah ini, di samping penghasil buah-buahan, juga pusat usaha peternakan sapi,” tulis sejarawan Betawi, Alwi Shahab dalam salah satu kumpulan esai sejarahnya tentang Jakarta, Robinhood Betawi: kisah Betawi tempo doeloe (2001).

Kemang saat itu cukup sepi, bahkan karena itu banyak yang menjulukinya sebagai tempat jin buang anak. Seorang kawan Alwi bernama Mohammad Nahar, pemimpin redaksi Pers Biro Indonesia (PIA), pernah diolok-olok karena pindah ke Jalan Bangka pada pertengahan 1960-an.

"Ngapain lu tinggal di tempat jin buang oplet," begitu bunyi salah satu olok-olok itu," tulis Alwi yang dikutip dari Republika.

Misteri Kapten Jas yang Dikeramatkan di Museum Taman Prasasti

Alwi dalam bukunya menyatakan akses keluar masuk Kemang saat itu tidak mudah. Untuk ke Pasar Minggu, misalnya, dia harus jalan kaki dulu ke Mangga Besar kemudian melanjutkan ke Pasar Minggu dengan naik delman. Meski begitu, Kemang tempo dulu disebutnya cukup menyenangkan.

Kemang dahulunya dikenal sebagai penghasil susu. Udara yang sejuk membuat daerah ini cocok untuk peternakan sapi. Susu hasil perahan didistribusikan ke sejumlah wilayah Jakarta.

"Dahulu di Kemang setiap pagi dan sore hari ratusan orang mengantar susu hasil peternakan," tulis Alwi.

Kemang, serta Mampang Prapatan, adalah pemasok susu terbesar untuk daerah Jakarta. Saat itu hampir seluruh penduduknya, mencari pendapatan dari bercocok tanam, dan beternak sapi.

Namun sekarang peternakan sapi plus kebun-kebun sudah berubah menjadi rumah-rumah. Nyaris tak berbekas. Peternakan yang dulu merupakan penghasilan rakyat juga ikut sirna.

"Sudah tidak terdengar lagi sapi-sapi yang melenguh di pagi hari. Di tengah-tengah gemerlapnya Kemang dengan berbagai tempat hiburan, yang tersisa bagi warga Betawi hanya identitas keagamaan mereka," ungkap Alwi.

Daerah resapan air yang hilang

Kemang pada awalnya hanya sebuah kampung di Kelurahan Bangka. Menurut rencana tata ruang wilayah (RTRW) Jakarta tahun 1965-1985, Kemang difungsikan sebagai daerah resapan air. Dalam artian, tidak diperbolehkan ada banyak bangunan yang yang menutupi permukaan tanah.

Namun dalam waktu hanya puluhan tahun, Kemang berubah menjadi hunian yang begitu padat. Hal ini setelah ragam bisnis tiap tahunnya selalu bertambah berkat diizinkannya Kemang menjadi wilayah komersial sekitar tahun 1999 silam.

Tak hanya warga Jakarta dari daerah lain, sejumlah warga asing juga memilih tinggal di daerah ini. Sejumlah sumber menyebut, kehadiran ekspatriat di Kemang bahkan telah berlangsung sebelum 1990.

“Di sini Anda akan biasa melihat tulisan "For Rent" (disewakan) di antara rumah-rumah mewah dengan pekarangan luas dan berpagar tinggi. Dan transaksi sewa-menyewa rumah di kawasan ini, jangan heran, biasa dipatok dengan harga dolar,” tulis Alwi.

Societeit Harmonie, Gedung Tempat Sosialita Eropa Dansa-Dansi di Batavia

"Kawasan ini merupakan tempat tinggal orang-orang asing dan berduit,” tulisnya tentang Kemang.

Sejumlah bangunan baru pun terus bermunculan. Kemang perlahan menjadi kota satelit yang dikelilingi permukiman mewah dan bangunan modern lainnya. Sekitar 50 persen orang Betawi di Kemang sudah hijrah ke selatan Jakarta.

"Sebagian besar dari mereka pindah ke Ciganjur, Jagakarsa, Srengseng Sawah, Cileduk, bahkan ada yang ke Bogor," ucapnya.

Pada medio 2000 an, kawasan Kemang kemudian dikenal menjadi daerah 'anak nongkrong Jakarta'. Saking terkenalnya, sampai-sampai ada ungkapan “kalau belum kongkow-kongkow di Kemang, belum gaul.”

Anak-anak muda tersebut mengisi kegiatan di Kemang dengan bersantai di café-café, restoran, dan sejenak menenangkan pikiran di ragam hiburan malam yang tersedia.

Mengulik kembali sejarah, Ridwan Saidi budayawan Betawi dalam buku yang berjudul ‘Profil Orang Betawi’ menyatakan Kemang memang sudah sejak lama menjadi tempat tongkrongan. Tapi bukan buat anak muda, melainkan para jawara.

Pada abad ke-18, Kemang menjadi markas jawara yang melakukan perlawanan terhadap penjajah. Pasalnya wilayah ini sulit dijangkau, oleh karena tanahnya yang senantiasa berlumpur sepanjang tahun, apalagi saat musim hujan. Tak hanya itu, Konturnya berbukit, dan pepohonan rindang yang membuat kawasan ini ideal sebagai tempat persembunyian.

Namun sekarang kenangan pepohonan rindang di kawasan Kemang hanya sekedar obrolan Warung Kopi (Warkop). Bagi mereka yang telah tinggal di kawasan ini dari tahun 1970-an, melihat Kemang sudah tidak sama lagi.

Mengembalikan Kemang

Sebagaimana daerah resapan air yang telah jauh berubah dari fungsi aslinya. Akhirnya membuat kawasan ini menjadi lokasi langganan banjir saat Jakarta diguyur hujan deras.

Banyaknya pembangunan yang dilakukan dengan melanggar aturan hukum atau 'mencaplok' lahan hijau menjadi alasannya. Kemang kini menjadi akrab dengan banjir.

Selain banyaknya bangunan yang berdiri di lahan resapan. Ditambah lagi terjadi penyempitan Kali Krukut yang menjadi saluran air, sehingga banjir tak terelakkan.

Pada Februari 2017, banjir di Kemang mencapai ketinggian sekitar satu meter. Akibatnya, puluhan kendaraan roda empat dan dua terendam. Bahkan, menewaskan satu orang akibat tersengat listrik yang tergenang air di rumahnya.

Menurut pengamat perkotaan Nirwono Joga perlu ada audit bangunan dan lingkungan terkait tata ruang Kemang. Seperti menghitung berapa ruang yang tersisa dan berapa ruang yang masih bisa diselamatkan.

G Kolff & Co, Toko Buku Pertama di Jakarta Tempo Dulu

"Karena, gedung, seperti perkantoran, pusat perbelanjaan, hotel, apartemen, dan sebagainya, paling banyak menyedot air jika dibandingkan dengan rumah tangga," kata Nirwono yang dikutip dari Republika.

Padahal, kata Nirwono, Kemang merupakan kawasan terbuka hijau seperti yang dicantumkan dalam Rencana Induk Jakarta 1965-1985, Rencana Umum Tata Ruang (RUTR) 1985-2005, dan RTRW 2000-2010, serta RTRW 2010-2030. Ini berarti, izin pendirian bangunan tak bisa diberikan dengan mudah untuk kawasan tersebut.

“Karena daerah itu untuk bangunan rendah dan daerah resapan air,” katanya.

Dirinya mencatat, zonasi peruntukkan kawasan seolah tak dipahami warga. Mereka seperti tak menyadari lahan yang mereka tempati bukan untuk peruntukkannya.

Padahal, katanya, berbeda dengan kawasan Jakarta yang lain. lahan di Jakarta Selatan yang boleh dibangun tidak boleh lebih dari 20-30 persen. Sisanya harus dijadikan kawasan tangkapan air.

"Di daerah Kemang misalnya, aturan mainnya kalau kita punya lahan 100 meter persegi, yang dibangun enggak boleh lebih dari 20-30 persen. Kecil. Yang sisanya, 70-80 persen itu, harus dihijaukan. Ini berlaku sampai dengan daerah yang sekarang kita kenal kiri-kanan jalan tol di selatan," kata Nirwono.

Proyeksi sebagai daerah resapan air inilah yang menurut Nirwono menjadikan Jakarta Selatan lebih sejuk. Ia juga mengakui kalau Jakarta Selatan lingkungannya paling baik di antara Jakarta lainnya.

"Kalau kita bilang kualitas lingkungan terbaik itu adanya di Jakarta Selatan, itulah kenapa kecenderungannya orang banyak yang menghuni kawasan ini," pungkasnya.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini