Kisah Pitung, Ilmu Rawa Rontek dan Peluru Emas Kepala Polisi Belanda

Kisah Pitung, Ilmu Rawa Rontek dan Peluru Emas Kepala Polisi Belanda
info gambar utama

Si Pitung, memang menjadi cerita rakyat yang begitu melegenda di tanah Betawi. Sosoknya pada masa kolonial digambarkan sebagai 'Robin Hood dari Indonesia'. Bedasarkan catatan sejarah, Pitung memiliki nama asli Solihun, putra dari bang Piung dan Mpok Pinah yang lahir di kawasan Pengumben, Rawa Belong, Jakarta Barat. Nama Pitung juga diceritakan memiliki berbagai arti.

Dalam bahasa Sunda, Pitung diambil dari kata pitulung yang artinya 'penolong', sedangkan catatan lain menyebut Pitung berasal dari bahasa Jawa yang artinya kelompok tujuh.

Pitung besar dalam lingkungan pesantren yang dipimpin oleh seorang pedagang kambing bernama H. Naipin. Pendidikannya di pesantren membuat sosok Pitung terbentuk sebagai orang yang rendah hati dan muslim yang taat.

Kemang, Tempat Jin Buang Anak yang Menjelma Menjadi Kawasan Mentereng

"Si Pitung, berdasarkan cerita rakyat (folklore) yang masih hidup di masyarakat Betawi, sejak kecil belajar mengaji di langgar (mushala) di kampung Rawa Belong," catat jurnalis dan pemerhati budaya Betawi Alwi Shabab, mengutip Republika.

Menurut Alwi, Pitung dianggap santri cerdas, karena mudah menangkap pelajaran yang diberikan gurunya. Kemampuan bela dirinya pun didapat saat menimba ilmu di pesantren bersama H. Naipin.

"Selain belajar agama dengan H Naipin, Pitung--seperti warga Betawi lainnya, juga belajar ilmu silat. H Naipin, juga guru tarekat dan ahli maen pukulan," bebernya.

Rawa Rontek Bang Pitung

Dalam catatan Alwi, pada masa remaja Pitung pernah disuruh menjual kambing ke Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat. Dari kediamannya di Rawa Belong dia membawa lima ekor kambing naik gerobak. Tapi ketika dagangannya habis dan hendak pulang, Pitung dibegal oleh beberapa penjahat pasar. Mulai saat itu, dia tidak berani pulang ke rumah.

"Dia tidur di langgar dan kadang-kadang di kediaman gurunya H Naipin. Ini sesuai dengan tekadnya tidak akan pulang sebelum berhasil menemukan hasil jualan kambing," bebernya.

Saat hidup di rumah gurunya ini, Pitung mulai mendalami ilmu kanuragan. Dirinya melakukan meditasi alias tapa dengan tahapan berpuasa 40 hari.

Hari-harinya pun dilalui dengan perjalanan untuk menguji ilmunya. Dirinya pun mengunjungi beberapa tempat, bahkan sampai berhadapan dengan penjahat.

Societeit Harmonie, Gedung Tempat Sosialita Eropa Dansa-Dansi di Batavia

Menurut Alwi, salah satu ilmu kesaktian yang dipelajari Pitung disebut Rawa Rontek. Gabungan antara tarekat Islam dan jampe-jampe Betawi.

"Dengan menguasai ilmu ini Bang Pitung dapat menyerap energi lawan-lawannya. Seolah-olah lawan-lawannya itu tidak melihat keberadaan Bang Pitung," jelas Alwi.

Karena ilmu ini, digambarkan Pitung mampu menghilang. Selain itu, dirinya dapat hidup kembali walau sudah dibunuh.

"Menurut cerita rakyat, dengan ilmu kesaktian rawa rontek-nya itu, Bang Pitung tidak boleh menikah. Karena sampai hayatnya ketika ia tewas dalam menjelang usia 40 tahun Pitung masih tetap bujangan," paparnya.

Kepala polisi dan peluru emas

Kemampuan Pitung dalam bela diri rupanya dilirik sekawanan perampok. Pitung lalu ditawari untuk menjadi pemimpin kelompok rampok. Bersama Dji'ih dan Rais, Pitung mulai menyasar rumah si kaya dan tuan tanah yang kerap membelenggu petani dengan berbagai pajak yang dikenakan atas hasil pertanian mereka.

Saat itulah, Pitung mendapat sebutan 'Robin Hood Betawi', sekalipun tidak sama dengan Robin Hood si jago panah dari hutan Sherwood, Inggris. Tapi keduanya memiliki sifat yang hampir sama.

"Selalu ingin membantu rakyat tertindas. Meskipun dari hasil rampokan terhadap kompeni dan para tuan tanah yang menindas rakyat kecil," ucap Alwi.

Saat itu aksi Pitung benar-benar membuat repot pemerintahan kolonial di Batavia. Berbagai macam strategi dilakukan pemerintah Hindia Belanda untuk menangkapnya hidup atau mati.

"Pokoknya Pitung ditetapkan sebagai orang yang kudu dicari dengan status penjahat kelas wahid di Betawi," jelasnya.

Gejolak Bumi di Batavia Tempo Dulu

Dalam sejarah Belanda yang ditulis oleh Margaret Van Till (1996) dari Hindia Belanda 1892, pemerintah Hindia Belanda melalui Adolf Wilhelm Verbond Hinne atau lebih terkenal dengan nama Schout Hinne seorang kepala polisi membuat operasi penangkapan Pitung. Pencarian dilakukan di rumahnya di Tanah Abang.

Akhirnya Schout pun berhasil menangkap Pitung bersama kawanannya di Kampung Kebayoran. Setelah pemerintah kepala kampung menerima 50 ringgit dari pemerintah Hindia Belanda.

Tapi tidak hampir setahun, Pitung berhasil kabur dengan bantuan penjaga penjara. Pitung hanya bermodal belincong (sejenis linggis) untuk membongkar atap dan mendaki dinding penjara.

"Hal ini membuat pemerintah kolonial Belanda menghargai kepala Pitung senilai 400 gulden karena begitu sulit menangkapnya," beber Margaret.

Karena kesal tidak mampu menangkap Pitung, Schout memilih untuk pergi ke dukun. Dari dukun ini, Schout mendapat sebuah peluru emas yang disebut mampu melumpuhkan Pitung.

Tapi tindakan Schout yang datang ke dukun, malah mendapat kecaman Penasehat pemerintah Hindia Belanda urusan Bumiputera, Snouck Hurgronje.

"Masak seorang Eropa, percaya dengan dukun," jelas Ridwan Saidi budayawan Betawi.

Menurut Ridwan, Schout kemudian mendapat informasi bahwa Pitung berada di Kampung Bambu yang berada di antara Tanjung Priok dan Meester Cornelis (Jatinegara). Pitung pun dengan cepat berpindah dan berhasil ditemukan di Tanah Abang.

"Di situlah baku tembak terjadi sampai akhirnya Pitung tertembak di dada. Ilmu tak lagi berfungsi karena Schout menggunakan peluru emas yang disiapkan oleh dukun untuk melumpuhkan Pitung," pungkasnya.

Sosok legenda?

Hingga kini, keberadaan Pitung masih menjadi perdebatan. Ada yang menyebut ini sebagai legenda turun temurun yang sulit untuk dibuktikan kebenarannya. Ada pula yang menyebut keberadaan pahlawan Betawi itu memang benar-benar ada.

"Sejauh ini, tokoh legendaris si Pitung dilukiskan sebagai pahlawan yang gagah. Pemuda bertubuh kuat dan keren, sehingga menimbulkan rasa sungkan setiap orang yang berhadapan dengannya," papar Alwi.

Sejarah Hari Ini (4 Maret 1621) - Pemerintahan Kota Batavia Berdiri

Walau begitu menurut Alwi, sampai saat ini belum ditemukan bukti otentik yang menunjukan sosok Pitung. Pasalnya sampai sekarang makam dari jawara Betawi ini memang tidak pernah ditemukan.

"Begitu takutnya penjajah terhadap Bang Pitung, sampai tempat ia dimakamkan dirahasiakan. Takut jago silat yang menjadi idola rakyat kecil ini akan menjadi pujaan," tambahnya.

Berdasarkan cerita rakyat, terdapat beberapa versi tentang kuburan Pitung. Kabarnya badannya dibelah, dikubur di beberapa tempat seperti Jembatan Lima dan Pulau Onrust. Tujuannya supaya badannya tidak menyatu lagi karena Pitung punya ilmu rawa rontek, mati bisa hidup lagi.

Ada juga kabar makam Pitung terdapat di sisi kanan depan gedung Telkom, Jl Palmerah Utara No. 80 Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. Di lokasi ini terdapat serumpun bambu.

Di bawah rumpun bambu itu, di tanah seluas tak lebih dari 3x5 meter persegi terdapat sebuah kuburan berpagar besi. Makam ini hanya dipisahkan saluran air dengan lebar satu meter dari jalan raya.

Meski tidak ada bukti otentik, seperti batu nisan yang memberikan informasi tentang siapa yang dimakamkan, Bachtiar, pengurus Sanggar Betawi si Pitung yang juga pesilat Betawi, Cingkrik percaya pada cerita orang tua zaman dulu.

"Dari cerita orang tua dulu, itu adalah kuburan Pitung. Bahkan konon katanya yang dikubur adalah tubuh bagian bawah Pitung,” ujarnya.

Makam Si Pitung sengaja tidak terlalu digembar-gemborkan ke publik karena khawatir akan dikeramatkan. Maka kuburannya dibuat biasa, jika dilihat sekilas cuma tanah datar.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

RK
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini