Peta Sebaran Wilayah dengan UMK Kain dan Tenun Terbanyak di Indonesia

Peta Sebaran Wilayah dengan UMK Kain dan Tenun Terbanyak di Indonesia
info gambar utama

Salah satu identitas Indonesia dapat diwakili oleh selembar kain. Kain dengan nilai yang tersirat di setiap helai benangnya, menjadi representasi kearifan lokal. Contohnya, identitas Indonesia diwakili oleh kain tenun nusantara. Kain tenun merupakan kain yang dihasilkan dari proses bersilangnya antara benang lusi dan pakan secara bergantian yang dibentangkan secara melintang.

Secara wilayah, kain tenun diproduksi dan tersebar hampir di setiap provinsi Indonesia. Masing-masing wilayah perajin kain tenun memiliki nilai dan identitasnya sendiri sebagai pembeda dan media menyampaikan nilai.

Mengenal Griya Kain Tuan Kentang dan Kain Tenun Palembang yang Mendunia

UMK kain dan tenun masih terpusat di Pulau Jawa

Produksi kain tenun dengan identitas khas suatu daerah menjadi potensi tersendiri bagi daerah tersebut. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa produksi kain tenun di Indonesia didominasi oleh industri kecil dan menengah yang berada di desa/kelurahan sebagai pusat produksi kain tenun daerah.

Dalam data potensi desa (Podes) berdasarkan keberadaan jenis dan industri kecil mikro, per tahun 2018 terdapat 19.063 desa yang memiliki produsen kain dan tenun di dalamnya.

Di level provinsi, jumlah desa yang memiliki Usaha Kerja Mikro (UMK) kain dan tenun terbanyak berada di Pulau Jawa dengan urutan pertama adalah Jawa Tengah, yang memiliki 3.800 desa dengan perajin kain dan tenun di dalamnya.

Sementara itu, Jawa Timur berada di urutan ke-2 dengan 2.777 desa perajin kain dan tenun dan Jawa Barat berada di urutan ke-3 dengan 2.496 desa perajin kain dan tenun.

Sebaran desa dengan pengrajin kain dan tenun di dalamnya. | Infografis: GoodStats
info gambar

Jumlah UMK kain dan tenun terbanyak masih terpusat di Pulau Jawa dengan 125.722 unit per tahun 2018. Jumlah tersebut meningkat sekitar 4 persen dibandingkan data yang tercatat sebelumnya di tahun 2014 sebanyak 107.381 unit.

Namun, di saat UMK kain dan tenun masih terpusat di Pulau Jawa, daerah Maluku beserta kepulauan di sekitarnya justru menjadi daerah dengan persentase peningkatan tertinggi.

Pada tahun 2014, hanya terdapat 81 UMK kain dan tenun di wilayah Maluku. Sementara itu, pada tahun 2018 jumlah UMK kain dan tenun di Maluku meningkat tajam, sebesar 49,6 persen atau menjadi 406 unit.

Meningkatnya jumlah UMK kain dan tenun di Maluku tentu saja disebabkan permintaan pasar terhadap kain dan tenun khas Maluku meningkat sehingga unit produksi kian bertambah.

Selain itu, penyebab lain meningkatnya jumlah UMK perajin kain dan tenun di Maluku adalah kerja sama antara pihak-pihak dalam memasarkan kain dan tenun khas Maluku.

Contohnya adalah kerja sama antara hotel-hotel di Maluku dengan para pegiat UMK kain dan tenun. Beberapa hotel menyediakan spot khusus untuk memajang dan menjual kain dan tenun khas Maluku.

Salah satu contoh kain tenun khas Maluku adalah Kain Tenun Ikat Tanimbar yang pada umumnya memiliki motif dan warna yang beragam. Sama seperti namanya, kain tenun ikat Tanimbar berasal dari Kepulauan Tanimbar, Provinsi Maluku.

Kain ikat tenun Tanimbar dapat dibeli di berbagai toko sovenir khas Maluku dengan harga jual di kisaran Rp150.000 hingga Rp200.000.

Kain Tenun Kamohu Buton, Warisan Budaya Asal Sulawesi Tenggara

5 Wilayah dengan jumlah UMK kain dan tenun terbanyak di Indonesia

5 Kabupaten di provinsi Nusa Tenggara Timur jadi pusat UMK Kain dan Tenun Indonesia | Infografik : GoodStats
info gambar

Dari sekian banyak UMK kain dan tenun di Indonesia, GoodStats merangkum setidaknya ada 5 wilayah dengan jumlah UMK kain dan tenun terbanyak di Indonesia, 5 wilayah tersebut yakni:

1. Kabupaten Pekalongan (15.158 UMK)

Kabupaten Pekalongan memiliki identitas sebagai salah satu daerah pusat perajin batik yang ternyata merambat hingga ke perajin tenun. Salah satu desa di Kabupaten Pekalongan, tepatnya di Desa Pakumbulan, Kecamatan Buaran, terdapat sekitar 100 pengrajin kain tenun yang sudah ada sejak 1980-an.

2. Kabupaten Ende (10.547 UMK)

Kain Tenun Ikat Ende Lio menjadi salah satu kain tenun yang terkenal dari Kota Pancasila ini. Pada umumnya, motif yan digunakan untuk kain tenun Ende dan Lio adalah motif flora dan fauna.

Motif kain tenun yang terkenal di Kabupaten Ende antara lain motif Semba yang merupakan selendang untuk kaum laki-laki, motif Lawo Jara Nggaja untuk sarung bagi kaum perempuan, motif Lawo Pundi yang didasarkan pada motif serangga dan binatang melata, motif Lawo Soke yang dibuat dengan meniru daun sukun yang berdiri, motif Lawo Soke Mata Ria yakni dengan meniru bentuk daun sukun yang berdiri dengan ukuran lebih besar, dan masih banyak jenis serta motif kain tenun di Kabupaten Ende.

3. Kabupaten Manggarai (9.970 UMK)

Songke menjadi nama yang disematkan untuk tenun ikat asal Manggarai dengan salah satu motif khasnya bernama mata manuk yang diartikan sebagai mata ayam.

Motif lainnya yang umum ditemukan sebagai corak Songke, adalah motif Wela Ngkaweng yang mengandung makna bahwa kehidupan manusia yang bergantung pada alam. Lain itu ada motif Wela Runu yang mengandung arti bahwa meski pun tampak tak berarti, namun setiap kehidupan di dunia ini memiliki manfaat.

Kwmudian ada motif Ntala yang bermakna, hendaknya kehidupan selalu berimbas positif bagi sesama serta memberikan perubahan pada lingkungan sekitar, serta beragam jenis dan makna motif Songke lainnya yang mengandung makna dalam dan erat dengan kehidupan manusia.

4. Kabupaten Timor Tengah Selatan (9.167 UMK)

Lagi, wilayah di provinsi Nusa Tenggara Timur menjadi wilayah dengan jumlah UMK kain dan tenun terbanyak di Indonesia. Wilayah yang kerap disingkat Kabupaten TTS ini berada di dekat negara tetangga, Timor Leste dan Australia.

Contoh kain tenun yang berasal dari Kabupaten TTS ini adalah Kain Tenun Amanuban, Kain Tenun Amantun dan Kain Tenun Mollo.

Warna kain tenun khas Kabupaten TTS ini umumnya berasal dari bahan alami sebagai bahan baku pembuat warna seperti warna biru yang berasal dari daun tarum dan warna kuning yang berasal dari kulit pohon.

5. Kabupaten Sumba Barat Daya (8.884 UMK)

Terakhir, satu lagi wilayah dari Nusa Tenggara Timur memiliki jumlah UMK kain dan tenun terbanyak ke-5 di Indonesia.

Kain tenun khas Pulau Sumba salah satunya adalah Kain Sumba atau Tenun Sumba yang waktu pembuatannya memakan waktu 6 bulan hingga 3 tahun karena harus melewati berbagai tahapan dengan jangka waktu tertentu.

Banyak motif hewan yang digunakan sebagai corak Kain Sumba seperti motif kuda, buaya, naga, burung, rusa hingga kura-kura.

Berdasarkan data tersebut, dapat dilihat bahwa Nusa Tenggara Timur dalam skala kabupaten/kota sangat memimpin dalam bidang UMK kain dan tenun khas daerahnya masing-masing.

Selain Batik, Ini 4 Kain Nusantara yang Indah dan Mendunia

Upaya berbagai pihak dalam optimalisasi aset kerajinan kain dan tenun

Sebagai bentuk apresiasi serta mengoptimalkan aset yang dimiliki dalam konteks kekayaan budaya melalui kain tenun, upaya ekspansi kain tenun pun terus ditingkatkan.

Dikutip dari halaman resmi Kementerian Perindustrian bahwa target ekspor produk kain tenun dan batik pada tahun 2019 mampu menembus angka 58,6 juta dolar AS atau naik 10 persen dibanding capaian tahun 2018 sebesar 53,3 juta dolar AS.

Tercatat, ekspor kain tenun dan batik Indonesia mayoritas dikapalkan ke negara maju seperti Jepang, Belanda dan Amerika Serikat.

“Tenun dan batik merupakan high fashion yang nilai tambahnya tinggi, bukan sebagai komoditas. Maka itu, ekspor untuk industri ini terus kami dorong. Apalagi, sekarang Wastra Nusantara semakin beragam dan diminati konsumen global. Bahkan, tadi kami melihat ada substitusi sutra dari pabrik yang di Sukoharjo, Jawa Tengah,” ucap Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto saat pembukaan Pameran Adiwastra 2019 lalu.

Selain itu, kain tenun juga kini memiliki hari lahir sendiri (terpisah dari Hari Batik Nasional). Pada 16 Agustus 2021 yang lalu, Presiden Joko Widodo telah menandatangani Keputusan Presiden (Kepres) tentang penentuannya Hari Tenun Nasional (HTN) yang akan diperingati setiap tanggal 7 September.

Ditetapkannya Hari Tenun Nasional pada 7 September berkaitan dengan sejarah diresmikannya Sekolah Tenun pertama di Indonesia yakni pada 7 September tahun 1929 oleh dr. Soetomo di Surabaya.

Penetapan Hari Tenun Nasional, menjadi momentum untuk menggerakkan kegiatan tenun tradisional dan industri tenun juga secara otomatis, sekaligus mengembangkan tenun tradisional di seluruh Indonesia.

Harapannya, jika Hari Tenun Nasional sudah diresmikan pemerintah, kedepannya dapat diikuti dengan gerakan, wajib menggunakan busana tenun di hari kerja, mulai dari instansi pemerintah maupun swasta, seluruh sekolah negeri maupun swasta.

"Tenun layak diperlakukan seperti kita mengenakan dan memposisikan batik. Kita perlu terus mendukung perkembangan pembinaan perajin tenun Indonesia agar berkembang lebih banyak sekaligus dapat meningkatkan produksi,” kata Anna selaku pendiri Komunitas Tekstil Tradisional Indonesia (KTTI) bersama Yayasan Cinta Budaya Kain Nusantara dan Asosiasi Pengrajin Tenun Indonesia.

Kedepannya, diharapkan kain tenun dapat sama eksisnya dengan batik sebagai representasi identitas Indonesia di kancah global.

Memahami Pentingnya Pelestarian Kain Nusantara Sebagai Identitas Budaya Indonesia

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Widhi Luthfi lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Widhi Luthfi.

WL
IA
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini