Cerita Badak dan Catatan Marco Polo yang Menyebutnya Unicorn

Cerita Badak dan Catatan Marco Polo yang Menyebutnya Unicorn
info gambar utama

Marco Polo, seorang pelaut kelahiran Italia, memang cukup terkenal sebagai penghimpun cerita-cerita yang terkesan unik dan aneh bagi masyarakat Eropa. Marco Polo mengawali kemasyhuran namanya saat tiba di China, saat menelusuri jalan sutra.

Pada akhir abad 13, dirinya menginjakan kaki di tanah Sumatra. Di sana dirinya terperanjat menyaksikan seekor binatang aneh tetapi nyata.

Dalam catatan perjalanannya, dia menyebut binatang itu unicorn--kuda bertanduk dalam mitologi Eropa--di negeri yang dirinya namakan Java Minor (Jawa Kecil). Menurut catatanya hewan itu menjadi peliharaan para raja yang berkuasa.

"Unicorn tersebut mempunyai bulu seperti kerbau dan kaki menyerupai gajah. Mereka mempunyai satu tanduk besar di tengah-tengah kening," jelas Marco yang dikutip dari buku Sumatera Tempo Doeloe karya Anthony Reid.

Marco kemudian merincikan kembali bahwa hewan itu memiliki lidah yang dilengkapi dengan duri-duri tajam dan panjang. Sehingga ketika ingin melukai siapa pun, mereka akan meremukan orang itu dengan cara berlutut di atasnya lalu mengoyaknya dengan lidah.

Fakta Menarik, Mengapa Kehidupan Badak Harus Kita Jaga

"Mereka mempunyai kepala menyerupai kepala babi hutan dan selalu menunduk ke tanah. Mereka lebih suka menghabiskan waktu dengan berkubang dalam lumpur dan lendir," ucapnya.

Marco menggambarkan satwa ini begitu tidak enak dilihat, tidak seperti cerita dongeng unicorn yang berkembang di Eropa. Karena memang pada perkembangan ilmu pengetahuan, unicorn yang dimaksud oleh Marco Polo adalah badak.

"...Dia tak kenal kata 'badak'. Mungkin juga dia tak membaca risalah Gaius Plinus Secundus dalam Naturalis Historia. Laksamana dan ilmuan Romawi yang hidup antara di dasawarsa-dasawarsa awal abad Masehi itu menggambarkan hewan yang disebut rhinoceros, mirip dengan yang dilihat Marco Polo," tulis Goenawan Muhammad, jurnalis senior dalam esai berjudul Monster.

Menurut Goenawan, 'badak' juga muncul dalam sebuah gambar karya perupa terkenal Jerman, Albert Durer, karya tahun 1515. Durer disebutnya juga belum pernah melihat badak secara langsung.

Durer hanya memberi nama itu kepada bentuk hewan yang dia buat bedasarkan teks dan coretan orang lain. Tetapi bagi orang Eropa, selama 300 tahun gambar itulah yang mewakili badak yang hidup di alam.

"Cukup mirip, meskipun anatominya meleset: Ada tanduk di punggung, dan kuku kakinya seperti kuku kaki sapi," ucap Goenawan.

"Ia bukan hewan cantik seperti unicorn di pangkuan Maria, ia memukau karena ganjil, bukan gajah, bukan babi hutan, bukan beruang, tapi hibriditas," jelasnya.

Penelitian badak di Hindia Belanda

Penelitian badak jawa (Rhinoceros sondaicus) pertama diperkirakan terjadi pada 1787. Tulang badak itu dikirim kepada penyidik alam Belanda bernama Petrus Camper, yang belum sempat menerbitkan hasil penelitiannya karena meninggal tahun 1789.

Sedangkan badak jawa yang ditembak di Sumatra oleh Alfred Davaucel, spesimennya dikirim ke ayah tirinya Georges Cuvier, ilmuan asal Prancis. Cuvier pada tahun 1822, akhirnya mengetahui bahwa hewan ini istimewa.

Di waktu yang sama pula Anselme Gaetan Desmarest mengidentifikasinya sebagai Rhinoceros sondaicus. Dahulu badak ini hanya dikenal di bagian selatan Jawa Barat dan di Gunung Slamet (Jawa Tengah), walau ada juga fosil yang ditemukan di sebelah utara Yogyakarta.

Ketika Franz Wilhelm Junghuhn, ahli botani dan geologi dari Jerman, mendaki Gunung Pangrango pada 1839, d'ia dikejutkan dengan dua badak jawa di dekat puncak gunung.

"Seekor sedang berendam di sungai kecil dan yang lain sedang merumput di pinggir sungai," catat Junghuhn.

Ini Dia, Minuman Bersoda Pertama di Indonesia

Sampai akhir abad 19, penduduk Kota Bandung masih bisa menyaksikan adanya badak jawa, mereka menyebutnya badak priangan. Tidak mengherankan bila di Bandung ada daerah yang bernama Rancabadak.

Namun pada tahun 1895 seorang pemburu Belanda menembak mati badak jawa tidak jauh dari Kota Bandung. Itulah badak jawa terakhir di Kota Bandung.

Sementara itu, badak sumatra (Dicerorhinus sumatrensis) pertama kali didokumentasikan ditembak di suatu daerah yang berjarak 16 km dari luar Benteng Marlborough, dekat pesisir barat Sumatra, pada tahun 1793.

Deskripsinya dikirimkan ke Joseph Banks, seorang naturalis yang kelak menjadi presiden Royal Society. Kelak menerbitkan sebuah makalah tentang spesimen tersebut pada tahun yang sama.

Badak sumatra, diberikan oleh seorang ahli tata nama Johann Fischer von Waldheim pada 1814. Nama ini dianggap paling tepat dan tetap dipertahankan meski pernah ada beberapa pergantian.

Dalam bahasa Inggris, badak bercula dua ini sebutannya sumatran rhino. Juga dipanggil hairy rhino karena rambutnya yang lebat, khususnya bagian punggung, perut bawah, ujung ekor, dan ujung daun telinga.

Satwa ini tersebar di Sumatra, semenanjung Malaysia, dan Thailand. Di Malaysia panggilannya badak kerbau, karena badannya yang mirip kerbau.

Lestarikan badak

Badak yang diperkirakan telah bermukim di bumi sejak 60 juta tahun silam ini awalnya berjumlah 30 jenis. Kini, perlahan dan pasti, jumlah yang tersisa di dunia hanya 5 jenis.

Dua jenis badak di antaranya ada di Indonesia, yakni badak sumatra, badak jawa. Selain itu ada badak india (indian rhino), badak hitam afrika (diceros bicornis), dan badak putih afrika (cerototherium simun).

Badak sumatra satu-satunya badak di Asia yang memiliki dua cula. Badak ini juga merupakan kerabat dekat dengan badak purba. Sementara badak jawa hanya memiliki satu cula.

Kabar Baik, Populasi Badak Jawa Meningkat di Taman Nasional Ujung Kulon

Badak sumatra ini posturnya paling kecil bila dibandingkan jenis badak yang lainnya. Tingginya sekitar 120-135 cm dengan panjang tubuh 240-270 cm.

Widodo S Ramono, Direktur Eksekutif Yayasan Badak Indonesia (YABI) menyatakan, populasi badak sumatra saat ini cenderung menurun. Bila tahun 1993 jumlahnya diperkirakan sekitar 200 individu, saat ini surut menjadi 100 individu.

"Sejak para ahli menyatakan badak sumatra yang ada di hutan Malaysia punah, Agustus 2015 ini, praktis keberlanjutan hidup badak tersisa bergantung pada keberhasilan dan upaya konservasi kita semua," ujarnya yang dikutip dari Mongabay Indonesia.

Menurut Widodo, populasi besar badak sumatra sekarang terbatas, sekitar 30-35 individu. Sehingga, makin kecil populasi badak makin rentan pula menuju kepunahan.

Upaya yang perlu dilakukan adalah melalukan agregasi agar badak-badak itu lebih sering bertemu."Badak sumatra tidak mudah untuk breeding, dalam satu periode estrous antara 20-25 hari hanya ada 4 hari badak betina mau didatangi badak jantan," jelasnya.

Nasib yang sama terjadi kepada badak jawa. Sejak dinyatakan punah di Vietnam pada 2010, saat ini keberadaan satwa tersebut hanya ada di Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK), Banten.

Badak jawa ini memiliki postur yang tegap. Tingginya, hingga bahu, sekitar 128 - 175 sentimeter dengan bobot tubuh 1.600-2.280 kilogram. Meski penglihatannya tidak awas, akan tetapi pendengaran dan penciumannya super tajam.

Pada 2015, jumlahnya diperkirakan sekitar 60 individu. Sunarto dari Wildlife Specialist WWF Indonesia menilai, populasi badak jawa masih stagnan sehingga perlu strategi mengembangkan populasi.

Strategi yang dimaksud adalah melalui kloning dengan individu lain. "Usaha dan upaya mengembangkan populasi badak dengan individu lain ini sayangnya menghadapi kendala ketersediaan habitat," ungkapnya.

Persebaran badak jawa yang berada di TNUK saat ini masih dibatasi oleh ketersediaan air, potensi pakan, kondisi topografi, dan gangguan baik dari alam maupun manusia. Status badak jawa dilindungi sejak 1931 di Indonesia yang diperkuat dengan penetapan Ujung Kulon di barat daya Pulau Jawa sebagai taman nasional sejak 1992.

Kedua spesies tersebut menyandang status kritis (Critically Endangered/CR) dalam daftar merah IUCN. Pada UU Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, kedua spesies ini tidak boleh disakiti, dibunuh, dipelihara, atau diperdagangkan.

Sama halnya dengan gajah yang diburu gadingnya, badak diburu untuk diambil culanya kemudian dijual ke pasar gelap. Perdagangannya bahkan hingga ke pasar international dan ini merupakan tindak kejahatan transnasional.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

RK
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini