Menjaga Kelestarian 2 Spesies Badak Langka yang Hanya Ada di Indonesia

Menjaga Kelestarian 2 Spesies Badak Langka yang Hanya Ada di Indonesia
info gambar utama

Setiap tanggal 22 September sejatinya menjadi momen dari peringatan Hari Badak Sedunia atau World Rhino Day.

Ya, salah satu spesies hewan yang awalnya diperkirakan memiliki 30 jenis berbeda sejak puluhan juta tahun silam tersebut, nyatanya harus kehilangan lebih dari separuh jenisnya dan menyisakan lima jenis badak yang dua di antaranya saat ini hanya ada di Indonesia, yaitu badak jawa (Rhinoceros sondaicus) dan badak sumatra (Dicerorhinus sumatrensis).

Jika melihat data yang dimiliki oleh IUCN, indikasi kelangkaan dari kedua hewan tersebut berada di status kritis dan terancam punah (Critically Endangered).

Sedikit mengulas mengenai awal mula momen peringatan ini dicetuskan, Hari Badak Sedunia pertama kali diperingati pada tahun 2010 sebagai gagasan dari lembaga konservasi dunia (WWF) Afrika.

Nyatanya, Afrika sendiri saat ini menjadi salah satu wilayah yang menjadi lokasi keberadaan dari dua jenis badak lain yang tersisa, yaitu badak putih (Ceratotherium simum) dan badak hitam (Diceros bicornis).

Bagaimana dengan satu jenis sisanya? Badak india (Rhinoceros unicornis), sesuai namanya berada di negara India. Ketiga negara yang menjadi tonggak penting dalam pelestarian hewan mamalia bercula ini tentu telah melakukan berbagai upaya terbaik untuk menjaga kelestariannya.

Seperti apa pelestarian badak yang ada di Indonesia sendiri?

Hore Ada Harapan Untuk Badak Jawa

Kelahiran empat anak badak jawa dalam satu tahun terakhir

Anak badak jawa
info gambar

Seperti yang telah banyak diketahui, Taman Nasional (TN) Ujung Kulon sendiri hingga saat ini menjadi satu-satunya habitat dari spesies badak jawa yang tersisa. Ada berbagai faktor yang melatar belakangi hal tersebut, salah satunya perubahan dan kondisi ketidak cocokan habitat hutan di daerah lain yang ada di Pulau Jawa, dibanding dengan lingkungan di TN Ujung Kulon.

Mengenai populasi, berdasarkan update terakhir per tanggal 6 September 2021 diketahui ada sebanyak 75 ekor badak jawa di kawasan konservasi tersebut. Di mana dua di antaranya baru saja lahir pada bulan Juni lalu.

Populasi tersebut diketahui merupakan populasi badak jawa tertinggi sepanjang sejarah pengelolaan TN Ujung Kulon.

Melansir laman Indonesia.go.id, diketahui bahwa pada tahun 1967 populasi badak jawa diperkirakan tinggal 25 individu, kemudian naik menjadi 56 individu pada tahun 1982 dan sempat turun kembali menjadi 47 individu di tahun 1992. Sampai pada saat ini, populasi tersebut sudah berkembang dan melampaui 70 individu seperti yang sebelumnya disebutkan.

Selain dua anak badak jawa yang baru lahir beberapa bulan lalu, diketahui juga ada sepasang anak badak jawa lainnya yang berada di kisaran usia satu tahun. Kedua anak badak jawa yang lahir di bulan September 2020 tersebut diberi nama Luther dan Helen.

Wiratno, selaku Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE), Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menyatakan, bahwa kelahiran empat anak badak jawa tersebut dalam satu tahun terakhir merupakan salah satu contoh keberhasilan perlindungan penuh (full protection) badak jawa dan habitatnya aslinya.

Bicara soal habitat, KSDAE nyatanya memiliki program dan rencana strategis mengenai kemungkinan untuk melakukan pemindahan sebagian badak jawa dari TN Ujung Kulon ke Cagar Alam Sancang yang berada di Cikepuh, Kabupaten Sukabumi, yang merupakan bagian dari Taman Nasional Halimun–Salak.

Rencana program tersebut nyatanya dilakukan bukan tanpa alasan, selain memiliki tujuan untuk memperluas populasi dan habitat, posisi Ujung Kulon dinilai memiliki risiko kebencanaan tinggi karena lokasinya dekat dengan Gunung Krakatau yang sangat aktif.

Meski begitu, hal tersebut masih berupa rencana dan dalam tahap penjajakan lebih mendalam.

Secercah Harapan Badak Jawa, Mari Menapaki Jejak Hewan yang Hampir Punah Ini

Upaya penggunaan teknologi untuk meningkatkan populasi badak Sumatra

induk dan anak badak sumatra
info gambar

Berbeda dengan badak jawa yang setidaknya menunjukkan pertumbuhan populasi sepanjang sejarah pemeliharaan di habitatnya, hal yang memprihatinkan justru terjadi pada populasi badak sumatra.

Jika dibandingkan dengan badak jawa pada rentang tahun yang sama, padahal badak sumatra awalnya memiliki populasi yang jauh lebih banyak.

Lebih detail, pada tahun 1991 populasi badak sumatra diperkirakan mencapai 536 sampai 920 individu. Namun, pada 2001 jumlahnya menurun drastis menjadi 216 individu, kondisi penurunan tersebut terus terjadi pada tahun 2006 menjadi sekitar 145-200 individu, terakhir pada tahun 2013 hingga saat ini jumlahnya diperkirakan kurang dari 100 individu yang tersisa.

Adapun yang keberadaannya terkonfirmasi masih berlanjut terlihat di habitat alam yang berlokasi di Taman Nasional Leuser (Aceh), Taman Nasional Kerinci Seblat, persisnya di sekitar perbatasan Sumatra Barat-Jambi-Bengkulu, dan satu lagi di Taman Nasional Way Kambas, Lampung. Jumlah keseluruhan badak sumatra yang ada diperkirakan hanya sekitar 75-80 individu.

Berbagai upaya tentu telah dilakukan untuk membuat populasi badak sumatra kembali meningkat dan kembali seperti sebelumnya. Namun, hal tersebut tentu tidak mudah mengingat badak sendiri termasuk hewan dengan siklus reproduksi yang sulit dan panjang.

Belum lagi, kenyataannya di lapangan ternyata dihadapkan dengan situasi bahwa badak sumatra yang berhasil ditangkap dari alam untuk diselamatkan, sulit untuk berkembang biak.

Hal tersebut dikonfirmasi oleh Muhammad Agil, seorang Dosen Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) asal Institut Pertanian Bogor lewat webinar “Penerapan Teknologi dalam Konservasi Badak Sumatra” yang berlangsung pada hari Selasa, (21/9).

Menurut Agil, kesulitan berkembang biak tersebut terjadi karena adanya ketidak normalan pada organ dan saluran reproduksi badak sumatra, seperti tumor atau kista. Karena itu, salah satu upaya yang ingin dilakukan untuk kembali meningkatkan populasi jenis badak satu ini adalah dengan memanfaatkan rekayasa teknologi.

“Untuk menyelamatkan sumber genetik badak sumatra, perlu segera diaplikasikan Assisted Reproduction Technology (ART) dan Bio-bank.” ungkap Agil, seperti yang diwartakan oleh Mongabay Indonesia.

Sekilas informasi, ART dan Bio-bank adalah teknologi reproduksi berbantuan yang memanfaatkan sumber daya genetika guna menghasilkan embrio badak sumatra.

“Teknologi ini dapat dikembangkan dalam beberapa skenario penyelamatan. Termasuk, teknik bayi tabung dengan in vitro fertilization (IVF) dan intra cytoplasmic sperm injection (ICSI), atau teknik kloning dengan induced pluripotent stem cell (IPSC) dari sel-sel somatik (fibroblast),” tambah Agil.

Meski ada peluang dengan pemanfaatan teknologi yang telah disebutkan, namun diketahui bahwa hal tersebut dapat dikatakan cukup berisiko karena populasi dari badak sumatra sendiri yang saat ini sudah terbatas, sehingga percobaan untuk bantuan bereproduksi juga cukup sulit dilakukan.

Pada akhirnya, KSDAE untuk sementara ini menyatakan bahwa salah satu pendekatan yang bisa ditempuh adalah dengan melindungi habitatnya, seperti langkah yang telah dilakukan untuk pelestarian badak jawa dan terbukti berhasil dalam setahun terakhir.

Meski begitu, berbagai upaya juga sedang dalam tahap penjajakan untuk memecahkan permasalahan berkembang biak yang dihadapi badak sumatra.

Fakta Menarik, Mengapa Kehidupan Badak Harus Kita Jaga

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Siti Nur Arifa lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Siti Nur Arifa.

SA
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini