Misteri Begu Ganjang, Kisah Mistik dan Fenomena Kecemburuan Sosial

Misteri Begu Ganjang, Kisah Mistik dan Fenomena Kecemburuan Sosial
info gambar utama

Pada bulan Maret 2021, polisi meringkus 10 orang yang terlibat dalam pengrusakan rumah milik keluarga Jamapor Sagala di Dusun Jumala, Desa Pegagan 2, Kecamatan Sumbul, Kabupaten Dairi, Sumatra Utara (Sumut). Kesepuluh orang itu telah ditetapkan sebagai tersangka dan langsung mendekam di sel Mapolres Dairi.

“Benar, kami sudah menangkap 10 orang pelakunya. Sekarang kasus itu masih dalam pengembangan,” kata Kapolres Dairi, AKBP Ferio Sano Ginting melalui Kasubbag Humas Polres, Iptu Donny Saleh, Rabu (24/3/2021), seperti dikabarkan dari JPNN.

Kesepuluh pelaku ini melakukan tindakan pengrusakan dengan dalih keluarga Jamapor Sagala memelihara begu ganjang. Akibat tuduhan ini, keluarga tersebut bahkan harus berpindah-pindah rumah.

"Saat ini orang tua kami berada di Duri. Kami minta rumah kami yang dirusak bisa dibangun kembali. Begitu juga barang yang dijarah, diganti. Demi harga diri dan memulihkan nama baik, kami berharap bisa kembali ke kampung halaman,” harap Sumiharto.

Aksi main hakim sendiri dengan tuduhan korban menjalani ritual mistis begu ganjang tidak hanya kali ini saja terjadi. Pada Agustus 2020 silam, warga Kecamatan Sidamanik, Kabupaten Simalungun, Sumut, dianiaya warga karena diduga memiliki begu ganjang.

Makna Weton hingga Kisah Mistik Soekarno Pilih Proklamasi pada 17 Agustus

Dikabarkan oleh Tagar, saat itu korban dan istrinya sedang mengurung ternak mereka ke dalam kandang pada Jumat, 31 Juli 2020 pukul 21.00 WIB. Melihat hal itu, warga datang menghampiri dan menjemput MS yang tinggal di Nagori Manik Hataran, Kecamatan Sidamanik.

Tak lama, warga yang menjemputnya menganiaya MS hingga terkapar dan dirawat. Hingga kini, dugaan penganiayaan itu masih dalam tahap penyelidikan aparat kepolisian.

Fenomena aksi kekerasan berlatar begu ganjang memang bukan hal asing bagi masyarakat Sumut. Banyak orang dibunuh, dibakar, dan diusir dari kampung gara-gara isu memelihara hantu yang digambarkan bertubuh panjang dan ganas itu.

Seperti kisah satu keluarga yang dibakar masa hingga tewas pada 15 Mei 2010 silam. Satu keluarga itu merupakan warga Dusun Buntu Raja Desa Sitanggor, Kecamatan Muara, Tapanuli Utara.

"Ketiganya tewas dibakar hidup-hidup setelah dituding sebagai pemelihara begu ganjang," ujar R Situmeang, warga Lubuk Pakam, dalam Merdeka.

Ironisnya, meski aksi kekerasan masih sering terjadi karena isu mistis ini, namun keberadaan begu ganjang sendiri belum bisa dibuktikan sampai sekarang. Bahkan saking resahnya dengan isu begu ganjang yang memunculkan banyak aksi kekerasan.

Pada 2012 silam, Binsar Purba, Camat Bandar Khalifah, Kabupaten Serdang Bedagai, Sumut berinisiatif membuka sayembara. Siapa yang bisa menangkap hantu tersebut akan diberi ganjaran Rp12,5 juta.

"Ada warga yang diusir dari rumahnya karena dituduh memelihara begu ganjang, ada yang dibakar rumahnya karena isu begu ganjang, jadi sering menjadi isu,” kata Purba, mengutip detikcom.

Apa itu begu ganjang?

Tidak sedikit masyarakat Sumut yang memercayai keberadaan hantu begu ganjang. Seorang warga Jalan Makmur, Tembung, Deli Serdang, bernama Kurniawan menceritakan pengalamannya tentang keseraman hantu ini.

Kurniawan menceritakan kejadian mistis yang pernah menimpa tetangganya akibat teror begu ganjang. Bahkan dirinya menyakini kematian tetangganya itu akibat ulah makhluk astral tersebut. Saat itu, menurut Kurniawan, tetangganya sempat memakan buah jeruk di Berastagi. Tetapi setelah itu korban mengalami sakit perut dan berujung meninggal dunia.

"Tetapi, ritual tidak berhasil. Sebab begu ganjang penunggu kebun jeruk itu tidak mau memaafkan, hingga akhirnya sakit yang diderita si korban tidak kunjung sembuh," tuturnya.

Misteri Kapten Jas yang Dikeramatkan di Museum Taman Prasasti

Menurut kepercayaan, begu merupakan wujud makhluk gaib yang diyakini masyarakat bagaikan pembawa petaka. Wujudnya digambarkan bagaikan iblis dengan dimensi badan yang besar. Dikatakan memiliki tampilan yang mengerikan, membuat ciut nyali yang membuat korbannya lari sembari terkencing-kencing.

Konon, begu memiliki banyak jenis, sombaon, solobean, silan, dan ganjang. Dari semua jenis hantu tersebut, begu ganjang adalah yang paling ditakuti.

Konon kabarnya, para 'majikan' hantu ini akan menjadi kaya raya. Begu ganjang juga bisa dimanfaatkan untuk tujuan yang tidak baik, seperti mencelakai orang.

"Menurut saya, begu ganjang itu roh yang bisa disuruh untuk tujuan tertentu. Mengapa di sebut begu ganjang? Karena ketika kita melihatnya, maka makin panjang, dan makin panjang. Itulah mengapa disebut begu ganjang," sebut paranormal di Kota Medan, Abah Rahman, seperti dikabarkan Liputan6.

Karena perawakannya yang panjang, begu ganjang dipercaya suka tinggal di pucuk-pucuk pohon-pohon tinggi. Selain berperawakan panjang, dia juga memiliki rambut yang panjang dengan muka seram.

Sama dengan ritual pesugihan lainnya, menggunakan begu ganjang dalam mencari harta juga disertai dengan tumbal. Mulai dari tumbal sederhana seperti sesajen makanan hingga tumbal nyawa manusia.

Abdul Rahman mengaku pernah mengalami kejadian mistis saat masih kecil. Dirinya pernah dihantui dengan bayangan-bayangan hitam ketika berada di tempat sunyi dan tempat yang lembap.

"Saya pernah merasakannya. Tetapi saya tidak mau memastikan itu begu ganjang atau tidak. Namanya makhluk halus, ya. Intinya saya tidak ada masalah sama orang lain. Tetapi saya pernah melihat penampakan seperti itu," kenangnya.

Karena itulah, walau menyakini keberadaan begu ganjang, dirinya melihat banyak oknum yang mempolitisir keberadaannya. Misalnya, untuk membuat suatu hal yang dapat membuat orang celaka akibat diembuskan isu soal begu ganjang.

"Kalau bagi saya, begu ganjang itu ada. Tetapi jangan sembarangan membahas begu ganjang terkait suatu persoalan tertentu, bahaya," tandasnya.

Begu ganjang dan upaya eskapisme sosial

Begu ganjang memang menjadi fenomena yang sulit dijelaskan, apalagi terkait dengan urusan gaib. Bahkan di masa lalu pada kebudayaan Toba, sama sekali tidak dikenal istilah begu ganjang.

Pada masa lalu, kata begu (hantu) bagi orang Toba digunakan untuk mengacu kepada sumber penyakit. Istilah 'sakit' memang sudah dikenal, namun tidak begitu dengan sumber penyakit.

Karenanya, setiap ada seseorang yang sakit, kerap disebut karena ulah begu. Apalagi orang yang mati mendadak, terutama anak-anak dan masih lajang. Padahal bisa saja dia terkena virus mematikan atau terjangkit penyakit yang memang belum dikenal di tempat itu.

Selain itu, isu-isu ini juga beriringan dengan munculnya praktik-praktik perdukunan sesat. Kebanyakan para dukun ini menggunakan simbol-simbol dalam kebudayaan Toba.

4 Lelembut Menurut Cerita Rakyat Indonesia

Padahal, orang Batak Toba tidak mengenal dukun. Yang dikenal adalah parubat dan sibaso. Parubat adalah seorang tabib yang cakap meramu obat-obatan. Sedangkan sibaso adalah mereka yang dianugerahi kemampuan supranatural, yakni mereka yang mampu melihat masa depan dan masa lalu.

Biasanya mereka juga mampu berkomunikasi dengan jiwa (roh). Orang Batak Toba menyebutnya 'hasandaran' orang yang bisa dimasuki roh nenek moyang. Kemampuan semacam ini pun sudah diakui dalam ilmu pengetahuan modern. Studi formalnya bernama parapsikologis.

Budayawa Toba, Thompson Hs, pun menyebut tidak ada satu pun literatur dalam budaya Toba yang menyebutkan begu ganjang.

"Kalau kita lihat referensi, isu itu mencuat di tahun 90-an akhir. Tidak jelas siapa yang pertama kali memunculkannya. Namun bila ditelusuri, biasanya kasus-kasus begu ganjang itu didasari dendam dan cemburu. Jadi isu itu adalah settingan,” katanya pada Medan bisnis daily.

Sementara itu Ricky Politika Sirait menyebut munculnya fenomena begu ganjang merupakan bagian dari eskapisme sosiologis. Di mana masyarakat menghindari dari segala kesulitan, terutama dalam menyelesaikan masalah yang bisa diselesaikan secara wajar.

Apalagi dengan kondisi masyarakat yang sedang menghadapi kesulitan, pengangguran dan kemiskinan merebak seiring resesi ekonomi yang kian bergulir akibat pandemi Covid-19.

"Pada titik itulah ketika kebohongan (hoax) melanda negeri ini, masyarakat pun turut terundang dan atau menjadi korban dari kabar atau berita yang tak jelas benar maupun sebaliknya," ucap pria yang menjadi advokat pada Kantor Lembaga Bantuan Hukum Mitra Keadilan, seperti ditulis RMOL.

"Apalagi jika dibumbui atau dikemas kepada sesuatu yang berbau mistik, maka makin cepatlah kabar atau berita itu berkembang," pungkasnya.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

RK
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini