Silvofishery, Alternatif Melestarikan Hutan Bakau dengan Budidaya Ikan

Silvofishery, Alternatif Melestarikan Hutan Bakau dengan Budidaya Ikan
info gambar utama

Wilayah pesisir dan laut Indonesia memiliki kekayaan dan keanekaragaman hayati terestrial kedua di dunia. Hal tersebut tercermin dari keberadaan ekosistem pesisir seperti hutan mangrove atau bakau, terumbu karang, padang lamun, dan beraneka jenis ikan.

Rosichon Ubaidillah, Peneliti Zoologi pada Pusat Penelitian Biologi Lembaga Penelitian Indonesia (LIPI), mengatakan bahwa status dan tren keanekaragaman hayati Indonesia menjadikan negara ini sebagai salah satu pusat agro biodiversitas dunia.

Dari luas hutan bakau seluruh dunia 16.530.000 Hektare, Indonesia memiliki sekitar 3.490.000 hektare. Namun, wilayah pesisir dan lautan mulai mengalami kerusakan lingkungan akibat pembangunan pemukiman, industri, hingga rekreasi. Untuk mengatasi kerusakan bertambah parah, perlu dilakukan berbagai upaya dalam mengelola lingkungan dan menyeimbangkan pelestarian serta pemanfaatan ekonomi.

Salah satu metode yang tengah diupayakan untuk penyelamatan kawasan pesisir beserta keanekaragaman hayatinya ialah silvofishery.

Berbagai Upaya Pengendalian Sampah dan Peran Indonesia di World Cleanup Day

Mengenal metode silvofishery

Silvofishery merupakan sebuah sistem pertambakan tradisional yang menggabungkan usaha perikanan dengan penanaman pohon bakau. Cara ini dilakukan dengan pengenalan sistem pengelolaan yang meminimalkan input dan mengurangi dampak pada lingkungan. Kegiatan budidaya di kawasan pertambakan tradisional ini pun dilakukan demi pelestarian hutan bakau.

Metode tersebut bisa menjadi alternatif sebab Indonesia memiliki potensi hutan bakau. Secara umum, silvofishery juga diartikan sebagai bentuk aktivitas pengelolaan hutan dengan memadukan tanaman dan budidaya ikan tanpa merusak alam.

Silvofishery merupakan salah satu program alternatif untuk menjaga pelestarian hutan bakau. Tepatnya, sebuah program budidaya di kawasan pertambakan tradisional yang bermuara untuk kepentingan pelestarian lingkungan hutan bakau.

Menyoal Kemenangan Gugatan Pencemaran Udara di Jakarta dan Hari Bebas Kendaraan Bermotor

Pentingnya pelestarian hutan bakau

Mengapa pelestarian hutan bakau menjadi penting? Bagi wilayah pesisir, keberadaan bakau dapat menjaga keberlangsungan populasi ikan, kerang, dan udang. Tak hanya itu, bakau juga jadi tempat untuk pengembangbiakan beberapa spesies hewan seperti udang dan nener.

Hutan bakau pun merupakan ekosistem penting yang terletak di pesisir pantai dan memiliki manfaat besar bagi lingkungan, mulai dari mencegah abrasi, erosi, intrusi air laut, tempat hidup satwa, hingga pariwisata.

Untuk menjalankan silvofishery, dibutuhkan lahan yang sangat luas. Diketahui luas hutan milik Perum Perhutani sekitar 2,4 juta hektare yang terdiri dari komposisi hutan produksi 1.806.440 hektare dan hutan lindung termasuk hutan bakau mencapai 638.557 hektare. Di Jawa dan Madura, luas hutan bakau Perhutani mencapai 26.378,36 hektare.

Ketika silvofishery dijalankan, metode tersebut dapat menimbulkan simbiosis mutualisme alami antara ikan dengan pohon bakau. Simbiosis tersebut menghasilkan keuntungan dari sisi ekologis dan ekonomis. Bandeng, udang windu, dan kerang hijau termasuk hewan laut yang bisa dibudidayakan di kawasan bakau tanpa mengancam fungsi ekologi hutan.

Menurut penjelasan Yudha Miasto dalam tesis bertajuk “Kajian Potensi dalam Pengembangan Silvofishery di Kabupaten Tulang Bawang, Provinsi Lampung” di Institut Pertanian Bogor tahun 2010, silvofishery merupakan bentuk kegiatan terintegrasi antara budidaya air payau dengan pengembangan bakau pada lokasi yang sama. Pendekatan antara konservasi dan pemanfaatan kawasan bakau memungkinkan untuk mempertahankan keberadaan bakau yang secara ekologi memiliki produktivitas relatif tinggi.

Edi Suprapto, Direktur Aliansi Relawan untuk Penyelamatan Alam (ARuPA), mengatakan bahwa silvofishery menjadi alternatif usaha yang prospektif dan sejalan dengan prinsip blue economy untuk mewujudkan beberapa prinsip pengelolaan sumberdaya kelautan dan perikanan yang berkelanjutan.

Silvofishery juga meliputi kepedulian terhadap lingkungan melalui pengelolaan bersifat zero waste, menjamin pemanfataan sumberdaya kelautan dan perikanan yang keberlanjutan, menjamin adanya inklusivitas sosial dalam pemanfaatan sumberdaya, dan terciptanya pengembangan inovasi bisnis yang beragam.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Dian Afrillia lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Dian Afrillia.

Terima kasih telah membaca sampai di sini