Tahura Pancoran Mas, Saksi Bisu Depok Jadi Hutan Kota Zaman Hindia Belanda

Tahura Pancoran Mas, Saksi Bisu Depok Jadi Hutan Kota Zaman Hindia Belanda
info gambar utama

Depok menjadi kota yang menyangga ibu kota negara hal ini karena berbatasan langsung dengan wilayah DKI Jakarta. Daerah yang dahulunya kawasan tanah partikelir Belanda ini berkembang menjadi daerah urban, sentra industri, kawasan perdagangan hingga pendidikan.

Hal ini memang berubah jauh kalau melihat sejarah Depok yang dahulunya dicanangkan menjadi kawasan taman kota. Bahkan pada zamannya, kota ini telah terkenal menjadi kawasan cagar alam pertama di Hindia Belanda.

Pencanangan Depok sebagai kawasan taman kota digagas oleh Herman van Breen tokoh sentral melawan banjir dari Technische Hoogeschool Bandung. Pasalnya begitu sukarnya penanganan banjir Kota Batavia akibat perusakan lingkungan di sekitar puncak untuk perkebunan teh.

"Membayangkan di masa depan pinggiran selatan Jakarta, terutama Depok sebagai kawasan biru atau pemertahanan air, sekaligus kawasan hijau alias pepohonan melulu," jelas sejarawan JJ Rizal.

Miliki Jutaan Hektare, Inilah 10 Provinsi dengan Hutan Terluas di Indonesia

Cornelis Chastelein tuan tanah di daerah Depok memang telah membangun kota ini sebagai daerah hijau. Karena itu gagasan wilayah hijau di pinggiran Jakarta Selatan itu bukan hanya angan-angan semata.

"Bahkan dia membayangkan lebih dari sekadar Depok kota taman, yaitu kota taman dengan arboretum atau hutan kota" ucapnya yang dilansir dari Sejarah Jakarta.

Saat itu Chastelein telah mewujudkan gagasan tentang daerah hijau, seperti penentuan kawasan Ratu Jaya, Rawa Geni hingga Mampang yang di timurnya berbatasan dengan Parung Belimbing sebagai hutan Depok.

Soal bagaimana ketatnya Chastelein menjaga hutan Depok itu dapat dibaca dalam wasiatnya. “anakku Anthony Chastelein budak-budak turun temurun tiada sekali-sekali boleh potong atau memberi izin akan potong kayu dari hutan.”

Chastelein memang sosok yang mencintai lingkungan, dirinya mengkritik keras ketika hutan-hutan di daerah sekitar Batavia dibabat dan dijadikan kebun tebu untuk industri gula Vereenigde Oost Indische Compagnie (VOC). Dirinya paham pembabatan hutan akan merusak keseimbangan vegetasi tropis.

"Kekhawatiran itu benar karena pembabatan hutan itulah yang membawa bencana ekologi dengan wabah penyakit-penyakit aneh sehingga mematikan VOC dan kota Batavia sejak pertengahan abad ke-18," jelas Rizal.

"VOC bangkrut dan penduduk dipaksa pindah mencari tempat baru ke selatan di sekitar Gambir," tambahnya.

Sepeninggalnya, warisan dari Chastelein masih bisa dinikmati oleh masyarakat. Sampai hampir dua abad hutan kota Depok masih sangat memukau.

"Terutama karena memiliki jenis-jenis tanaman yang khas dan tidak ada lagi di Jawa, seperti Sloanea Javanica yang akarnya lebar dan Orania Macroladus sejenis palem," imbuhnya.

Cagar alam pertama Hindia Belanda

Cagar alam Depok telah ditetapkan sejak era Hindia Belanda. Kawasan yang sekarang terkenal dengan nama Taman Hutan Raya (Tahura) ini berada di Kelurahan Depok, Kecamatan Pancoran Mas Kota Depok.

Hutan ini dahulunya memiliki luas hingga 150 hektare, merupakan peninggalan pada abad ke 17. Tetapi kemudian terus menyusut akibat perubahan fungsi menjadi lahan pertanian, hingga hanya tersisa 7,1 hektare.

Khawatir terus menyusut, pada 31 Maret 1912, Nederlands Indische Vereniging Tot Natuur Berscherming atau Perhimpunan Perlindungan Hutan Alam Hindia Belanda bekerja sama dengan kota praja (Gemeente) Depok menetapkannya sebagai cagar alam (natuur reservaat).

Apresiasi untuk Penjaga Hutan dalam Pengelolaan Sumber Daya Alam Indonesia

Bahkan hal ini konon disampaikan Prof. Dr O Porsch di Wina, Austria sebagai kawasan cagar alam pertama di Hindia Belanda.

"Inilah momen penting bagi tonggak sejarah konservasi modern di Indonesia," ucap Rizal.

Berbeda dengan pembangunan Kebun Raya Bogor di Buitenzorg (Bogor) yang dimaksudkan untuk menghutankan kembali dengan mengumpulkan pohon langka (forest). Cagar Alam Depok sendiri justru ditetapkan untuk tetap mempertahankan keasliannya sebagai asli hutan belantara (jungle).

Namun memasuki tahun 1990-an, melalui SK Menteri Kehutanan dan Perkebunan Nomor 276/Kpts-II/1999 tanggal 7 Mei 1999, Cagar Alam Pancoran Mas Depok kemudian menjadi Tahura. Hal ini karena turun kualitasnya sebagai wilayah konservasi.

"Ini menyedihkan tetapi tetap masih membanggakan karena Depok menjadi salah satu dari 22 kota di Indonesia yang memiliki Tahura atau Taman Hutan Raya," tegasnya.

Tahura Pancoran Mas menjadi bagian dari ruang terbuka hijau (RTH) atau hutan kota yang berfungsi untuk menekan pencemaran udara, perubahan iklim, dan penampung cadangan air bersih. Pengelolaan ini juga berfungsi untuk pelestarian berbagai macam flora dan fauna, baik endemik tahura atau bukan endemik.

Dahulunya terdapat banyak pepohonan rindang dan menjulang tinggi, merupakan habitat yang nyaman bagi berbagai jenis burung. Sementara di dalam semak belukar menjadi habitat bermacam sarangga, berbagai hewan seperti kijang, harimau Jawa, monyet, kancil, rusa, bangau putih, dan kelinci hutan.

Di samping itu, Tahura dimanfaatkan bagi kepentingan umum sebagai tujuan penelitian, ilmu pengetahuan, dan pendidikan. Selain juga, untuk tujuan budaya, pariwisata, dan rekreasi.

Namun semua kekayaan hayati tersebut hanya tinggal kenangan masa lampau. Hingga tahun 2000 di hutan ini masih ditemukan monyet, biawak dan ular. Kini, yang tersisa hanya hewan melata serta sejumlah jenis burung. Keadaannya sudah tak ada bedanya dengan sebuah lahan yang dengan mudah disulap menjadi hutan beton.

Menurut Rizal, kawasan Depok pernah masuk konsep green belt atau sabuk hijau yang dicanangkan Wali Kota Jakarta, Soediro tahun 1957. Begitu juga dalam master plan Jakarta 1968-1985, namun hal ini berantakan setelah Soeharto memindahkan Universitas Indonesia ke Depok.

"Sejak itulah ide kota yang bertopang pada ruang biru dan hijau berantakan," bebernya.

Tahura nasibmu kini

Begitu pesatnya pembangunan di Depok, beserta bertambahnya permukiman-permukiman baru. Membuat kawasan hutan hijau warisan Chastelein itu mengalami penyempitan lahan.

Kekayaan keanekaragaman hayati yang menjadi mahkotanya, kini telah jauh berkurang. Tidak ada lagi kawasan pepohonan yang rindang dan menjulang tinggi sebagai ciri khas hutan dataran rendah Pulau Jawa bagian barat.

Berdasarkan catatan Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Tahura Pancoran Mas, saat ini kawasan konservasi di tengah kota itu hanya menyisakan 83 spesies dan 43 famili flora. Di antaranya, 27 jenis pohon sepeti meranti, waru, jambu, keluih, dan laban.

Ada juga 30 jenis tumbuhan bawah seperti rotan, pakis hutan, dan rumput gajah serta empat jenis liana, yaitu seserehan, rarambatan, gadung, dan cipatuheur.

Begitu pula dengan koleksi satwa yang tersisa saat ini adalah spesies ular seperti sanca, kobra, ular pucuk dahan kepala merah, serta kucing hutan, musang, dan biawak. Kita juga masih bisa menemukan jenis katak pohon dan katak terbang serta beberapa spesies burung belukar seperti jogjog, ciblek, cincuing, kipasan, dan perenjak.

Perubahan statusnya menjadi Tahura belum serta-merta mengubah perilaku masyarakat sekitarnya untuk ikut menjaga kelestarian hutan kota ini. Lokasi yang dikepung permukiman padat penduduk seperti sekarang ini membuat pengelola sulit melakukan pengawasan.

Miliki Jutaan Hektare, Inilah 10 Provinsi dengan Hutan Terluas di Indonesia

"Menyedihkan karena tak terawat dan menjadi tempat pembuangan sampah warga serta dikepung permukiman," ucap Rizal.

"Kekhawatiran juga timbul Tahura Depok akan mengalami seperti yang dialami Cagar Alam Muara Angke di Jakarta yang sedikit demi sedikit dirambah dan beralih fungsi menjadi permukiman," tambahnya.

Kepala UPTD Tahura Pancoran Mas Purnomo Sujudi menyatakan bahwa pihaknya sejak Oktober 2020 telah menyusun Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) untuk penataan dan pengembangan Tahura Pancoran Mas. RPJP ini nantinya akan disampaikan kepada Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan untuk disetujui.

Menurut Purnomo, sejumlah tahapan dilakukan seperti konsultasi publik dengan melibatkan unsur tokoh masyarakat, para ketua RT, RW, lurah, dan camat setempat serta para pegiat lingkungan. Hasil dari konsultasi publik itu pun dipaparkan pihak Purnomo kepada warga dalam sebuah pertemuan di Depok, Jumat (11/12/2020).

"Kami berencana mengembangkan Tahura Pancoran Mas untuk tujuan ekowisata serta pusat konservasi tumbuh-tumbuhan. Semua akan dilakukan mulai 2022 nanti," katanya yang dilansir dari Indonesia.go.id

Purnomo pun mengakui bahwa untuk membenahi Tahura Pancoran Mas memerlukan waktu yang tak sebentar. Selain itu, sejak Juni 2020 lalu pihak Purnomo juga telah menyelesaikan renovasi terhadap pagar pembatas antara lokasi tahura dengan lingkungan sekitarnya.

Pagar tersebut dibuat dari bahan besi dan cor beton setinggi 2 meter dengan panjang keliling mencapai hampir 1 kilometer. Pengerjaannya baru diselesaikan sepanjang 100 meter dan akan dilanjutkan pada tahun anggaran berikutnya. Renovasi ini bertujuan untuk menjaga kelestarian ekosistem di dalam kawasan Tahura Pancoran Mas.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini