"Auf wiedersehen, Mutti"

"Auf wiedersehen, Mutti"
info gambar utama

Tanggal 26 September 2021 adalah pemilihan umum di Jerman, dan ini menandai berakhirnya masa kepemimpinan Angela Merkel sebagai Kanselir Jerman. Ada banyak hal yang dapat kita pelajari dari perjalanan hidup Kanselir wanita di Jerman ini, baik di dunia politik maupun kesederhanaan dia.

Angela Merkel dikenal dengan sebutan Mutti dan reputasinya sebagai 'Mutti Merkel' atau Ibu Merkel mencakup gagasan bahwa dia adalah sosok yang dapat diandalkan dan dapat dipercaya.

Julukan itu pertama kali diperkenalkan sebagai istilah menggurui yang digunakan oleh lawan-lawannya untuk mengkarakterisasinya sebagai 'ibu yang mengomel.' Partai dan pendukungnya mengubah nama itu sebagai istilah yang disayang dan kehormatan.

Masyarakat Jerman banyak yang merasa sedih dengan berakhirnya masa jabatan Merkel, karena dia menjadi panutan banyak orang. Sekarang banyak ditemui di jalan-jalan Jerman penjual suvenir menjual boneka Angela Merkel dengan baju sederhana yang sering dipakai.

Ketika Jerman belum bersatu, Merkel tinggal di Jerman Timur yang di bawah kekuasaan komunis Uni Soviet selama 35 tahun pertamanya tinggal di Jerman Timur. Merkel belajar fisika dan lulus dari Karl Marx University pada tahun 1978 dengan gelar dalam fisika dan kimia fisik.

Pada tahun 1986, ia melanjutkan pendidikannya dan menerima gelar Ph.D. dalam kimia kuantum. Dia lulus dengan tesis yang disebut "Pengaruh korelasi spasial dari tingkat reaksi biomolekul reaksi unsur di media padat."

Goethe dan Friedrich Nietzsche juga adalah alumni universitas itu. Ketika tembok Berlin yang memisahkan Jerman Barat dan Timur di hancurkan, nama Alma Maternya berganti nama menjadi "Universitas Leipzig."

Merkel melanjutkan pekerjaannya dalam ilmu di 'Akademie der Wissenschaften' (Akademi Ilmu Pengetahuan) dari tahun 1978 hingga 1990, di mana dia adalah salah satu dari sedikit peneliti wanita.

Para sarjana mencatat bahwa Merkel menggunakan karirnya dalam ilmu pengetahuan untuk menghindari rezim Jerman Timur, Karier di bidang politik mungkin tidak memberinya kemewahan ini. Baru-baru ini, latar belakangnya dipandang sebagai aset bagi Jerman selama pandemi Covid-19.

Dalam 16 tahun sebagai pemimpin, Merkel telah melihat banyak rekan internasional datang dan pergi. Dia telah bekerja dengan 8 perdana menteri Jepang, 7 perdana menteri Italia, 5 perdana menteri Inggris, dan 4 presiden AS, belum lagi 6 pergantian perdana menteri di Australia.

Banyak pemimpin secara dramatis meremehkannya, menilai salah dari nama panggilan awalnya "das Mädchen" (gadis itu) bahwa dia mungkin orang baru politik. Dia segera terbukti menjadi panutan untuk keandalan dan tanggung jawab, serta dampak kepemimpinan perempuan.

Beberapa orang menyebut Merkel sebagai salah satu pemimpin dunia paling berpengaruh di era modern. Yang lain mengenalinya sebagai sosok yang luar biasa dalam berbagai cara, kadang-kadang melalui kritik.

Merkel adalah seorang wanita yang berpendidikan tinggi dan rendah hati dengan gelar doktor dalam kimia kuantum yang berhasil melewati karier yang ditandai dengan berbagai peran. Dia juga memainkan peran kunci dalam menegosiasikan transisi yang stabil melalui Brexit.

Ada saat-saat ketika dia mendorong ide-ide yang bertentangan dengan konsensus umum tentang masalah di Jerman dan di antara para pemilihnya, seperti dalam sikap moderatnya terhadap China.

Lain itu, kejujurannya dan kesederhanannya tak tergoyahkan sebagai Kanselir yang pensiun. Dia tinggal di apartemen yang sama seperti orang kebanyakan, dan bahkan tidak memiliki pembantu rumah tangga karena dia mengatakan bahwa dia tidak membutuhkannya.

Pada satu kesempatan, seorang wartawan bertanya kepada Kanselir mengapa dia mengenakan gaun yang sama pada upacara yang berbeda. Merkel menatap wajah wartawan itu dan menjawab, "Karena saya bukan model, tetapi kanselir."

Untuk jawaban seperti ini, rakyat Jerman bertepuk tangan dan mencintainya. Kanselir terpilih pada tahun 2005 ini adalah wanita pertama dan orang Jerman Timur pertama yang memegang jabatan elektif tertinggi di negaranya. Dia akan menjadi pemimpin terlama kedua di Jerman di era modern, setelah mantan mentornya, Helmut Kohl.

Indonesia juga memiliki banyak tokoh yang hidup dengan penuh kesederhanaan seperti Angela Merkel. Tokoh-tokoh pendiri bangsa ini yang memiliki integritas dan ilmu yang tinggi, namun menampilkan kesederhanaan dalam hidupnya. Tidak mentang-mentang sebagai tokoh atau pejabat.

Sebut saja misalnya bapak Mohammad Hatta, salah satu proklamator dan Wakil Presiden Republik Indonesia yang pertama pernah menyatakan kalau wafat tidak ingin dimakamkan di Taman Makam Pahlawan dan berangkat menunaikan ibadah haji tidak memanfaatkan fasilitas negara, melainkan hasil menabung dari honor menulis.

Baharuddin Lopa, mantan Menteri Kehakiman dan HAM, dikisahkan membelikan cucunya sebuah mainan anak-anak yang harganya Rp7.500. Ada lagi Ir. Sutami, mantan Menteri Pekerjaan Umum di era Presiden Soekarno dan Soharto. Beliau mencicil rumah yang dibelinya, dan baru lunas menjelang pensiun tahun 1978.

Sementara Muhammad Natsir, mantan Perdana Menteri Indonesia ke-5, sebelum menjabat sebagai Menteri Penerbangan sering terlihat mengenakan pakaian tambalan.

Mutti Angela Merkel dan beberapa tokoh bangsa Indonesia tadi memberikan pelajaran bagi kita, bahwa seorang pemimpin tidak dilihat dari kemewahan kekuasaannya, melainkan dari integritasnya, dari ilmu yang dikuasainya dan dari kesederhanaannya.

Oleh: Ahmad Cholis Hamzah

Penulis aktif menulis di Koran Jawa Pos, Surya, dan rutin menulis di GNFI. Beberapa tulisannya acapkali dimuat/dikutip Koran Malaysia dan Thailand. Penulis yang juga tersohor sebagai akademisi sekaligus profesional di kota kelahirannya, Surabaya.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Ahmad Cholis Hamzah lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Ahmad Cholis Hamzah.

AH
AH
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini