Hari Pariwisata Sedunia: Hadapi Tantangan Pandemi dengan Memanfaatkan Teknologi Digital

Hari Pariwisata Sedunia: Hadapi Tantangan Pandemi dengan Memanfaatkan Teknologi Digital
info gambar utama

Pariwisata, satu sektor yang di Indonesia sendiri memiliki andil dan peran besar dalam memberikan pengaruh terhadap perekonomian, terutama jika bicara mengenai sub-sektor ekonomi kreatif.

Saking pentingnya dan diakui sebagai faktor serta pendorong utama dalam hal pertumbuhan ekonomi, salah satu badan organisasi dari PBB yaitu Organisasi Pariwisata Dunia (UNWTO), bahkan telah menetapkan Pariwisata sebagai hal yang kerap memiliki hari peringatan resmi setiap tahunnya, yaitu World Tourism Day atau Hari Pariwisata Sedunia yang jatuh setiap tanggal 27 September.

Pertama kali ditetapkan pada tahun 1979 dan perayaan pertamanya baru berjalan di tahun 1980, Hari Pariwisata Sedunia memiliki tujuan besar dalam meningkatkan kesadaran akan peran pariwisata terhadap berbagai hal termasuk nilai sosial, budaya, politik, dan ekonomi dunia.

Namun jika berbicara mengenai sektor pariwisata saat ini, tentu bukan hal yang mudah mengingat kondisinya sendiri sedang ada dalam situasi yang tidak sedang baik-baik saja. Lagi, semua karena terpaan pandemi.

Kabar baiknya, kondisi ini sudah barang tentu mendapat perhatian khusus dari pemerintah melalui Kementerian Pariwisata (Kemenpar), yang bekerja sama dengan Google untuk menghadirkan solusi pemanfaatan teknologi digital, bagi para pelaku penting di industri pariwisata lewat program Gapura Digital untuk Wonderful Indonesia.

Sekadar informasi, Gapura Digital adalah program yang mendukung seluruh sektor usaha kecil dan menengah Indonesia tanpa terkecuali, termasuk mereka yang memiliki usaha di bidang pariwisata untuk memajukan bisnisnya melalui pemanfaatan teknologi digital.

Lantas, sudah sejauh mana keberhasilan program ini membantu keberlangsungan para pelaku usaha di sektor pariwisata?

Peran Teknologi dalam Menghidupkan Kembali Pariwisata di Indonesia

Meningkatkan citra usaha kuliner lewat penilaian di platform digital

Usaha restoran Leo's Kitchen di Samosir yang memanfaatkan pemasaran digital
info gambar

Pengaruh positif pertama yang dirasakan berkat adanya program bimbingan dari Gapura Digital datang dari seorang pemilik usaha kuliner yang berada di Kabupaten Samosir, Sumatra Utara, yaitu Renhard Sidabutar.

Renhard yang sekaligus merupakan kepala juru masak di restoran miliknya sendiri yaitu Leo’s Restaurant membagikan perubahan yang ia rasakan dalam mempertahankan usaha kuliner turun temurun yang sudah berdiri sejak tahun 1983 tersebut.

Renhard tidak menampik, bahwa restoran miliknya menjadi salah satu pihak yang merasakan dampak cukup besar akibat situasi pandemi yang terjadi, terutama dari segi pendapatan.

“…pendapatan kami turun sangat signifikan karena berkurangnya wisatawan dan juga banyak orang yang mengurangi aktivitas makan di luar rumah. Saya merasa harus memutar otak agar keluarga bisa tetap bertahan dalam kondisi ini.” papar Renhard.

Setelah mengikuti program Gapura Digital yang dipublikasi oleh Kemenpar, Renhard mengaku mendapatkan banyak pandangan baru mengenai cara menjalankan usaha kulinernya terutama dalam hal pemanfaatan platform digital sebagai salah satu strategi dalam melakukan pemasaran.

Renhard disebut mulai memanfaatkan layanan profil bisnis yang membuat informasi mengenai usaha kuliner miliknya muncul pada saat seseorang melakukan pencarian di mesin pencari Google, lengkap dengan penilaian, ulasan, dan gambaran yang biasanya dibutuhkan oleh para pelancong atau wisatawan yang ingin berkunjung ke wilayahnya, yaitu Samosir.

“…tidak disangka, rating dan ulasan usaha kami meningkat pesat, yang sebelumnya 4,5 saat ini naik menjadi 4,8 berkat 282 ulasan baik dari para pelanggan yang merasa puas atas layanan yang didapatkan. Saya juga mulai sering membuat post di Business Site agar semakin banyak pelanggan baru yang datang…” tambah Renhard.

Upaya lanjutan tentu tidak berhenti dilakukan, Renhard juga diketahui telah mengantongi sertifikat CHSE, yang dikeluarkan oleh Kemenparekraf di tengah situasi pandemi untuk memberikan jaminan kepada wisatawan bahwa restorannya telah memenuhi pelaksanaan kebersihan, kesehatan, keselamatan, dan kelestarian lingkungan.

Sudah Saatnya Indonesia Dongkrak Pariwisata Digital

Pelaku usaha cendera mata yang beradaptasi dengan kemajuan teknologi

Produk kerajinan tangan batok kelapa yang menjadi cendera mata wisatawan di Lombok Barat
info gambar

Cerita pemanfaatan teknologi di industri pariwisata juga datang dari seorang pria yang menggeluti usaha di bidang kerajinan asal Kecamatan Lingsar, Kabupaten Lombok Barat, yaitu Faturrahman.

Pada dasarnya, Faturrahman memiliki usaha yang terbentuk dari gagasan untuk mengubah limbah batok kelapa menjadi barang bernilai guna dan memiliki harga jual yang tinggi, seperti kerajinan tangan dan pernak-pernik suvenir lainnya.

Dalam keberlangsungan usaha yang digeluti, Faturrahman mengajak kelompok ibu rumah tangga di sekitar tempat tinggalnya untuk memproduksi sendok, garpu, sumpit, gelas, tempat tisu, centong sayur, mangkok, dan berbagai barang lainnya dengan menggunakan limbah batok kelapa sebagai bahan baku utama.

“80 persen dari tenaga kerja kami adalah ibu rumah tangga, mereka tetangga-tetangga di lingkungan rumah saya. Saya ingin bermanfaat bagi lingkungan sekitar, dan juga membantu mereka agar memiliki ekonomi yang lebih baik.” ujar Faturrahman.

Terpaan pandemi tentu tidak membuat usaha yang digeluti Faturrahman lolos begitu saja. Diakui bahwa saat pandemi melanda, penurunan pendapatan usaha hingga pengurangan jumlah karyawan bahkan terpaksa harus dilakukan karena tidak adanya pemasukan signifikan yang diterima.

“Omzet kami menurun hingga 70 persen karena pesanan sangat sedikit. Bahkan saat ini kami sama sekali tidak mendapat pemasukan. Dengan berat hati kami harus mengurangi tenaga kerja hingga hanya tiga sampai lima orang saja yang membantu usaha kami.” tutur Faturrahman.

Manfaat besar nyatanya didapatkan setelah Faturrahman mengikuti program Gapura Digital. Dirinya mengungkap, bahwa ada satu hal yang ternyata selama ini luput dari perhatian dalam menjalankan usaha yang digeluti, yaitu pemanfaatan teknologi terutama dalam aspek pemasaran.

Dijelaskan, bahwa sebelumnya Faturrahman hanya melakukan promosi secara konvensional atau door-to-door kepada berbagai pihak dalam memasarkan hasil karyanya sebagai cendera mata, seperti kepada pihak perhotelan yang biasanya ramai dengan para wisatawan.

Namun, kini dirinya menyadari bahwa pemasaran secara digital ternyata sangat penting dalam kelangsungan bisnis secara online. Apalagi, Faturrahman juga mengungkap bahwa akun media sosial usahanya ternyata sangat minim pemanfaatan, bahkan dapat dikatakan tidak dikelola dengan baik.

“Setelah mengikuti pelatihan ini, banyak ilmu yang sangat bermanfaat dan saya menjadi paham betapa pentingnya pemasaran digital. Walaupun saya sudah berumur, saya harus bisa beradaptasi di masa sekarang yang sangat mengandalkan penjualan online dan saya harus banyak belajar tentang digital agar media sosial usaha yang kami punya bisa mempromosikan produk kami secara maksimal ke pelanggan.” pungkas Faturrahman.

Optimisme UMKM Go Digital Lewat Dukungan Transaksi di Platform eCommerce

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Siti Nur Arifa lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Siti Nur Arifa.

Terima kasih telah membaca sampai di sini