Kampung Yoboi, Desa Wisata Terapung di Danau Sentani Papua

Kampung Yoboi, Desa Wisata Terapung di Danau Sentani Papua
info gambar utama

Sebagai salah satu daya tarik wisata di Papua, nama Danau Sentani sudah cukup populer di kalangan wisatawan. Danau yang berada di lereng Pegunungan Cagar Alam Cyclops ini terbentang dari kota hingga kabupaten Jayapura.

Danau Sentani memiliki luas 9.360 hektare dan menjadi danau terluas di Papua. Di sana terdapat 30 spesies ikan air tawar dan empat di antaranya merupakan endemik Danau Sentani, yaitu ikan gabus Danau Sentani, ikan pelangi Sentani, ikan pelangi merah, dan hiu gergaji.

Berjarak sekitar 59 kilometer dari Jayapura, Danau Sentani termasuk kawasan yang sudah dijadikan objek wisata. Di sana pun terdapat banyak perahu wisata yang bisa disewa pengunjung untuk berkeliling danau. Pun, para wisatawan dapat memancing, bermain ski air, berenang, bahkan menyelam.

Tidak lupa mengunjungi sebuah desa yang berada di kawasan Danau Sentani, yaitu Kampung Yoboi. Desa Wisata Kampung Yoboi masuk dalam daftar 50 besar Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2021 yang diselenggarakan oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.

Berkenalan dengan 5 Rumah Adat Papua Sebagai Warisan Budaya Tanah Air

Daya tarik Kampung Yoboi

Keunikan Kampung Yoboi yang pertama ialah lokasinya terapung di atas Danau Sentani. Sekitar 90 persen bangunan memang berada di atas danau. Desa wisata ini punya berbagai potensi pariwisata yang menarik, mulai dari alam, budaya, hutan sagu, berbagai festival kebudayaan, hingga spot foto kekinian.

Memasuki kawasan Kampung Yoboi dari Dermaga Khalkote, pengunjung akan menyaksikan pemandangan berupa tebing-tebing tinggi, hamparan pepohonan hijau, dan tentunya pemandangan Danau Sentani yang eksotis.

Kampung Yoboi didominasi rumah-rumah terapung yang dibuat dari kayu, terutama bagian pilar dan dinding rumahnya. Namun, uniknya kebanyakan jalan dan rumah dicat warna-warni, mengingatkan kita pada pemandangan Desa Jodipan di Malang. Suasana di kampung ini jadi begitu ceria dengan segala warna yang ada.

Daya tarik lain yang bisa ditemukan selama liburan di desa wisata ini ialah kegiatan masyarakat setempat yang membuat kerajinan tangan khas Papua, mulai dari kayu ukir hingga kerajinan dari pahat. Ada juga masyarakat yang menanam tanaman di atas air atau mengolah sagu sebagai bahan pangan utama mereka menjadi berbagai jenis masakan yang lezat.

Ada pemandangan unik di desa ini, yaitu cara bertanam masyarakatnya. Semua tanaman seperti sayuran dan buah ditanam tidak menggunakan media tanah, melainkan ditaruh dalam kotak kemudian dibiarkan mengapung di atas air dengan memakia media tanam berupa humus atau ampas sagu.

Jangan sampai Anda melewatkan kesempatan untuk mencoba makanan khas yang ada di Kampung Yoboi, mulai dari papeda, es krim sagu, sagu bakar, dan aneka kue tradisional berbahan dasar sagu. Segala makanan ini nantinya akan disediakan untuk para kontingen dan wisatawan yang hadir di acaran PON XX Papua.

Mengenal Nothofagus, Pohon Asal Papua yang Disorot dalam Rapat UNESCO

Trekking hutan sagu

Melancong ke Kampung Yoboi rasanya kurang lengkap tanpa menjelajahi area hutan sagunya. Di sana, terdapat hutan sagu sepanjang 420 meter dari total 1.600 hektare. Dalam satu area, terdapat setidaknya 20 jenis pohon sagu tumbuh subur dan menjadi kawasan hutan sagu terbesar di Indonesia.

Hutan sagu berada di sebelah barat Kampung Yoboi dan masih terus dilestarikan oleh masyarakat setempat. Sebab, sagu sendiri merupakan sumber makanan pokok mereka. Bahkan, pelepah dan daun sagu juga dimanfaatkan sebagai atap dan dinding rumah.

Bila tak pandemi, biasanya di kampung ini banyak sekali acara-acara kebudayaan yang diselenggarakan secara rutin. Mulai dari Festival Danau Sentani, Festival Ulat Sagu, hingga Festival Ela atau berburu hewan hutan.

Meski tampak aneh bagi beberapa orang, cobalah setidaknya sekali saja mencoba makanan yang populer di sana yaitu ulat sagu. Ulat ini biasanya ditemukan pada batang pohon sagu yang usdah mulai lapuk dan dipercaya mengandung kandungan protein tinggi.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Dian Afrillia lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Dian Afrillia.

Terima kasih telah membaca sampai di sini