Bicara Musik Etnik dan Budaya Betawi, Ipank HoreHore: Kite Anak Muda Nyang Kudu Jagain Obornye

Bicara Musik Etnik dan Budaya Betawi, Ipank HoreHore: Kite Anak Muda Nyang Kudu Jagain Obornye
info gambar utama

''Inginnya satu, yang muda-muda mau bergerak. Jangan sampai mati obor. Karena kalo bukan kite, siape lagi? Kalo bukan sekarang kapan lagi?''

---

Musik etnik merupakan kekayaan budaya yang dimiliki oleh Indonesia. Kekayaan ini bahkan bisa menjadi alat promosi Indonesia dalam pentas mancanegara.

Namun banyak tantangan dalam proses pengembangan musik etnik. Selain minimnya dana dan sumber daya manusia (SDM), tradisi ini pun harus menghadapi tantangan zaman dengan munculnya teknologi.

Musik etnik Betawi yang termasuk dekat dengan pusat industri pun mengalami hal serupa. Kekayaan yang tidak terhingga akibat percampuran banyak tradisi ini mengalami krisis regenerasi.

Padahal, musisi Betawi pernah begitu berjaya sejak era kemerdekaan hingga akhir 90-an. Nama-nama tenar semacam Ismail Marzuki, Benyamin Sueb, hingga Ellya Khadam, tidak habis menghibur di layar kaca.

Melihat hal ini seniman muda sekaligus pustakawan asal Kota Depok, Irfan Maulana, atau tenar dengan panggilan Ipank Horehore, mulai bergelut untuk mengembalikan musik etnik Betawi. Sebagai anak muda Betawi, Ipank merasa terpanggil untuk tampil.

"Jangan sampai mati obor. Kalo bukan kita siapa lagi, kalo bukan sekarang kapan lagi?" ucapnya.

Disambut di rumahnya yang begitu asri dan kental unsur Betawi. Dengan logat Betawi, Ipank menceritakan pengalamannya saat bergelut dan terus mengembangkan musik leluhurnya kepada penulis GNFI, Rizky Kusumo.

Juga bagaimana dirinya memulai untuk melakukan regenerasi agar api musik Betawi tidak padam. Berikut kutipan bincang-bincang Ipank dengan GNFI.

Mengapa Encang ingin mengembangkan musik etnik?

Komedian Betawi banyak, musisi Betawi juga banyak. Tetapi sekarang yang mainin musik Betawi itu coveran. Pasti yang dimainin itu lagu-lagu legenda.

Jadi gue tetap gini aja, kalau yang bikin musik cover banyak. Kalau gue ini lihat isu. Terus mereka bilang gue berkarya tidak nyanyiin lagu orang. Tetapi mencipta.

Bukan karena gue mau dibilang seniman. Tetapi karena emang gue enggak bisa nyanyiin lagu orang.

Suara gue gini, kalau nyanyiin lagu orang jadi auran (berantakan). Makannya gue buat lagu sendiri. Enak enggak enak, kan lagu gue. Isinya juga curhatan.

Makin kesini, makin berani. Jadi salah satu cara gue bergerak dalam budaya.

Mulai kapan Encang tampilin musik etnik Betawi?

Kalau mulai karena khususnya gue tidak bisa menyanyikan lagu orang. Gue inget tuh lagu THR Belom Caer, 2 tahun lalu. Mulai berani dan termotivasi. Tidak sengaja upload, di medsos masih sepi, kalau WhatsApp (WA) banyak yang kirimin. Dapat apresiasi.

Mengapa banyak yang memberikan apresiasi?

Mungkin bahasa yang gue pakai sederhana. Memakai lirik yang ceplas-ceplos, kedua orang dengarnya itu easy listening. Makin kemari iya nih.

Lagunya juga tidak hanya budaya, menjaga atau merawat. Tetapi juga menyinggung lingkungan kadang kritik alus-alus dikit.

Lagu-lagu gue tuh banyak dicekal sama orang. Itu jadi motivasi. Satu sisi sedih, kita kan mau bersuara, mengapa malah di peringatkan? Ada yang Direct Massage (DM) bisa dihapus enggak?

Kalau mau dihapus, Instagram aja hapus, WA aja hapus. Biar enggak bisa sebar-sebar. Tetapi yang bikin semangat, secara enggak langsung liriknya kena. Biar cuma gini doang, kena nih.

Sekarang banyak request minta lagu. Cuma kita bagaimana untuk terus mau mencoba. Sekarang alhamdulilah tidak merasa star syndrome.

Kalau bikin lagu berapa lama, Cang?

Misal ada yang liat gue pake kacamata di IG. Tuh mata lirik-lirik ke bawah. Berarti itu lagunya baru jadi. Baru beberapa menit lirik jadi, tetapi inget nadanya. Kok tumben bisa cepet. Orang pikirnya anugerah tapi biasa aja.

Dari dahulu udah senang bikin lagu, tetapi dahulu lagunya punk, pergerakan, perlawanan. Sekarang masih kebawa tapi dalam versi Betawi.

Tantangan Pelestarian Kain Tenun Tanimbar, Hiyashinta Klise: Seniman Tenun Kuncinya

Apa sih Cang musik etnik Betawi itu?

Ada di Depok itu disebut Betawi Ora, dialeknya A. Kalau di Jakarta dialeknya E. Sering ditanya, kan Cang dari Depok, kok dialeknya E? Ya udah biasa dari kecil. Jadi kadang pakai A kadang pakai E. Kalau musik etnik Betawi tuh campuran ya. Dari beragam bangsa dan daerah.

Ada alat musik Betawi apa aja, Cang?

Kalau pribadi tidak ada. Cuma satu menyimpan buat kuncian, itu tehyan. Perpaduan unsur budaya China.

Tinggal tehyan doang kalau di rumah. Kalau teman-teman sebagian yang bergerak di musik tradisi ada. Misal gambang keromong, tanjidor, di Depok juga ada gong si bolong.

Kadang kita main, silaturahmi, kenalan, ada gambang keromong, belajar yuk. Gue jembatanin. Tetapi sekarang gue mulai belajar tehyan. Biar jadi magnet. Jangan jadi bumerang. Lu ajak gue, tetapi kok lu enggak keliatan ya?

Jadi harus belajar terus. Nih cara mainnya. jadi kalau mendoktrin orang, jadi enak. Gali semangat. Jangan ayo doang, tetapi bersama-sama belajarnya.

Bagaimana mengajak orang untuk menyukai tradisi budaya?

Gue terus mengajak untuk melestarikan. Maaf-maaf, kan zamannya udah gini ya. Enggak salah juga ikutin zaman. Tetapi harus inget sama akarnya. Tidak salahin mereka, tetapi tetap edukasi.

Kalau gue sih pikirannya. Jangan sampai mati obor. Kalo bukan kita siapa lagi, kalo bukan sekarang, kapan lagi?

Jadi kalau doktrin temen-temen nih, ayo dong. Kan engkong kita udah pada tua nih. Kita bukan sumpahin, tetapi kalau tidak ada yang terusin, pegimane coba?

Maaf-maaf, nanti udah pada almarhum. Nanti ada namanya rebana biang, tanjidor tetapi liatnya di foto. Sekarang sih masih aman. Tetapi nanti anak-anak kita? Cucu kita?

Dahulu ada nih permainan tanjidor, di mana? Di majalah. Orangnya tidak ada.

Jangan malu. Ternyata tidak dipungkiri. Teman-teman yang mendalami musik tradisi ini sebagian dicari, sampai keluar-keluar.

Gue main biola, temen gue main tehyan. Gue mainin alat musik orang luar. Tetapi cuma sampai gini doang. Tetapi kalau temen gue yang main musik tradisi sampai luar negeri. Jadi jangan malu buat lanjutin.

Bagaimana cara kaderisasinya, Cang?

Sebenarnya banyak strategi, banyak orang bilang gue humoris. Tetapi seenjoy-enjoynya harus tetap mikirin strategi.

Tuh ada Perpustakaan, sebelum PPKM ini buka Senin, Rabu, Sabtu. Di lapangan kita buat banner. Tarik remaja, anak-anak.

Literasi kita rendah banget. Apalagi muncul digitalisasi. Handphone (HP) mulu. Ketika ada, awalnya anak-anak, kemudian dewasa, lalu orang tua ramai di perpustakaan, tidak gue doktrin. Tetapi diem-diem, gue doain, bismilahin.

Kita ada kesenian di kampung gue, ada gong si bolong. Bagaimana nih melanjutkan nya? Kemarin gue denger (senimannya) orang tua, udah pikun. Jangan sampai mati obor. Yuk barsama-sama kite jagain budayenye dengan jadi penerusnye.

Mau tuh satu dua. Gue balikin lagi, kegiatan sosial budaya tidak bisa dipaksakan kembali ke dirinya sendiri. Dia punya minat dan dari dirinya sendiri. Enggak pakai di ajak pasti ingin nimbrung.

Tanggapan Encang soal tradisi Betawi, seperti ondel-ondel dan musik yang ngiringin?

Dari satu sisi mungkin miris, ketika ada sesuatu yang sakral dibuat gini jadi murah. Tetapi memang di Betawi itu ada yang ngurus ondel-ondel.

Akhirnya bikin kesepakatan. Boleh ngamen tetapi harus sepasang laki-laki dan perempuan. Alat musik harus lengkap. Misal tehyan dan gong. Kudu seragaman. Itu masih diperbolehkan.

Kalau sekarang ondel-ondelnya malah yang dorong gerobak. Lah gimana?

Gue juga ngamen. Dan lebih enak ngamen daripada kerja. Tetapi setelannya rapi, pake sepatu. Gue ngamen jual karya, gue ngamen jual idealisme.

Gue tahu kondisi di jalan, orang ngamen yang cari duit. Dari jam segini belum ada yang kasih uang. Beratnya itu, apalagi masih ada pengamen gerobak, bencong.

Pengembangan Desa Wisata di Sumba, Boyke Hutapea: Potensinya Bisa Lebih dari 100 Desa

Kondisi sanggar Betawi sekarang bagaimana?

Sanggar banyak, apalagi kalau ada acara kayak ulang tahun Betawi, ulang tahun Jakarta. Kalau enggak ada PPKM keluar semua. Acara palang pintu keluar semua.

Mereka tetap ada, pelestari ada. Tetapi banyak yang tidak peduli. Mereka hanya ditampilkan kalau ada kegiatan seremonial, misal ada hubungannya dengan Betawi.

Padahal kalau bisa, ada acara di lingkungan sini tuh pakai musik Betawi. Ini kan lingkungan kita. Harusnya bisa diperkuat.

Kalau ada event apapun misal ada Hari Sampah. Apa salahnya dari sekian banyak penampil, musik Betawi juga ditampilin. Misal dengan catatan lagunya berhubungan dengan tema acaranya.

Jadi orang tetap tahu, eh ada musik ini ya. Bukan event saja pas acara Betawi.

Banyak yang menyebut musik tradisi mahal?

Tradisi mahal ya wajar, karena langka. Dan jarang tampil rutin, terus dapet order. Harga yang penting aman tetapi rutin, biasanya sih tidak akan mahal.

Sudah diundang ke mana aja, Cang?

Sebelum PPKM, suka juga diundang. Memang lebih suka yang akar rumput seperti itu. Menjaga silaturahmi.

Tetapi misal ada yang ngundang ke gunung, nanya dahulu, mau ngapain ke sana? Kalau naik sekalian ambil sampah sih boleh. Tetapi kalau cuma nikmatin gunung, ogah.

Kemarin kabarnya sempat diundang Babe Rano Karno?

Siapa sih yang tidak tahu Si Doel Anak Sekolahan. Ada Cang Mandra, Babeh Benyamin, Cang Karno. Tetapi yang paling fenomenalnya kan oplet.

Kalau nonton si Doel pasti opletnya yang dikenal. Pas itu kalau tidak salah Raffi Ahmad ingin tukar opelet dengan Rolls Royce. Itu ramai di medsos.

Cuma teman-teman media Betawi kan respons dengan bentuk gambar. Tetapi kalau gue bikin lagunya, karena gue pikir beneran (dijual).

Ehh jangan dijual. Kalau dijual, balik lagi sejarahnya, orang Betawi, orang luar Betawi, siapa sih yang tidak tahu opelet.

Kalau sampai dijual, hilang juga budayanya. Lalu gue buat lagunya, judulnya Opelet Jangan Dijual.

Opelet si doel bukan barang jadul, biar sekarang harganya mahal betul, opelet legenda yang banyak ceritanya, jadi nemenin kita semua.

Itu gue buat, ehh sampai ke dia. Teman-teman media Betawi banyak yang repost. Dipanggil dah tuh, nih saya asistenya Cang Karno. Awalnya enggak percaya.

Tim bilang bener, terus berangkat. Babe (Rano Karno) kasih apresiasi, katanya peka. Dia titip pesan, teruskan. Ditanya udah rekaman belum? Kalau belum nanti rekaman di sini.

Di ceritain kisah Si Doel. Kalau engga ada PPKM panjang. Nanti saja kalau ada waktu. Silaturahmi tetap. Di ajak main film Si Doel. Tetapi ada PPKM jadi belum bisa.

Apa rencana Encang ke depan?

Kemarin sempat bincang dengan Jon Kastella. Dia kan dari Syarikat Idola Remaja. Bilang dahulu, Iksan Skuter, Danila Riyadi, Jason Ranti, pernah alami ini. Saya melihat perkembangan Ipank, tetapi saya ingin lihat Ipank jadi diri sendiri. Ini kalau istilahnya star syndrome.

Orang indie rasain ini. Ada masanya di tinggi-tinggin orang. Ada yang naik ada yang biasa.

Ditanya punya pacar tidak, gue bilang belum tetapi anak udah dua. Aman berarti katanya. Katanya awal bisa melenceng. Ketiga, harus ada tim. Biar Ipank berkarya. Manajamen urusin uang.

Label ada yang nawarin. Tetapi gue nggak bisa terikat. nggak sreg. Sering bergerak di akar rumput. Tetapi kalau manajemen yang ribet jadi mati langkah. Kita tidak usah gitulah nabung-nabung dikit-dikit.

Menyoal Sampah Hutan, Ferdinand Hamin: Ini Memang Persoalan Mental

Ada rencana digitalisasi, Cang?

Belum ada. Belum rekaman. Sekarang lagu cuma semenit. Sekarang lagi ingin dipanjangkan. Tambahin lirik biar tidak semenit

Biar tambahin durasi di Youtube, biar orang juga denger full. Kemarin sudah dapat tempatnya nyaman, kaki gue enggak gemetaran

Disarankan sekarang solo dulu, biar tiangnya kuat. Dibilang, karya lu banyak, nanti malah disebutnya karya mereka.

Ada fase bosan dengan kegiatan ini?

Gue happy sih, misal Jumat Berbagi ini gerakan kita. Kita kan gerakan orang senang, jadi harus membuat orang senang juga.

Gue punya prinsip kalau membuat orang senang, kita tidak perlu jadi robot. Memang ada rezekinya segitu ya segitu. Ini kegiatan bersama-sama. Enjoy aja.

Apa harapan Encang untuk musik etnik Betawi?

Inginnya satu yang muda-muda mau bergerak. Jangan sampai mati obor. Kelar. Karena kalau bukan kita, siapa lagi? Kalau bukan sekarang kapan lagi?

Lalu ruang-ruang bergerak untuk musik tradisi bisa dikasih panggung yang cukup. Biar nanti kalau ada generasi baru ruangnya diperluas.

Ketika regenerasi ada, ruangnya ada. Kita bisa melestarikan pelestari. Jadi ini ada, nanti ini ada lagi, karena terus-menerus.

Udah banyak anak-anak yang tertarik dengan budaya luar. Tetapi setelah tahu budaya kita keren. Jadi mereka ke budaya luar cukup tahu.

Selain itu semoga kembali lagi ada radio atau medsos yang tampilin khusus budaya Betawi. Sehingga jangkauannya lebih luas, bukan hanya di Jakarta.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

RK
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini