Sederet Musisi Indonesia yang Memperkenalkan Musik Etnik ke Mancanegara

Sederet Musisi Indonesia yang Memperkenalkan Musik Etnik ke Mancanegara
info gambar utama

Keragaman nuansa budaya yang dimiliki Indonesia selalu menjadi hal yang tidak pernah berakhir untuk dibahas. Keragaman suku, adat, budaya, etnik hingga keragaman cara berkarya akhirnya menelurkan mahakarya yang diakui oleh masyarakat Indonesia dan mancanegara.

Salah satu karya yang mampu membawa nuansa Indonesia di mancanegara adalah musik. Kolaborasi musisi di era moderen ini tidak menutup ruang untuk menghadirkan nilai-nilai musik tradisional atau musik etnik di dalam setiap karyanya.

Para seniman dan musisi berlomba membuat karya versi dirinya sendiri dan akhirnya mampu digaungkan di dalam dan di luar negeri. Berikut sederet musisi yang membawakan musik etnik Indonesia dan mampu dikenalkan kepada pendengar di luar negeri.

Musisi Indonesia yang memperkenalkan musik etnik ke mancanegara | GoodStats
info gambar

Konser Musik Etnik Rayhan Sudrajat “Akar” Mengajak Penonton Lebih Mengenal Indonesia

1. Viky Sianipar

Viky Sianipar merupakan musisi bersuku Batak Toba yang bisa memainkan berbagai alat musik moderen dan tradisional. Viky mulai terjun secara solo ke dunia musik sejak tahun 2002 dengan album “Toba Dream”. Musisi Batak ini memadukan nuansa musik jazz dengan musik etnik Batak.

Viky berkeinginan untuk mengenalkan musik tradisional Indonesia di kancah dunia. Hal tersebut dilakukannya bersama beberapa seniman dan musisi yang dirangkum dalam album “Indonesian Beauty” yang dirilis bulan Juli 2006.

Dalam album ini Viky berkolaborasi dengan musisi dari berbagai etnik, tak hanya dari suku Batak, tetapi juga dari etnik lain seperti Tio Fanta Pinem, Sujiwo Tejo, dan Ani Sukmawati.

Lagu-lagu daerah seperti Bubuy Bulan, Sing Sing So, dan Ngarep Gestung Api Baslau diaransemen oleh Viky dan kawan-kawan sehingga menunjukkan nuansa budaya dalam musik yang menarik.

"Musik itu luas. Musik adalah sebuah bahasa untuk menyampaikan pikiran setiap orang. Musisi hebat itu harus bisa mengeksplor. Musik tradisional dan musik jazz, misalnya," kata Viky dikutip dari Tempo.co (25/2/2012)

2. Dewa Budjana

Memiliki nama lengkap I Dewa Gede Budjana, ia adalah seorang musisi dengan fokus alat musik yang dimainkan berupa gitar. Dewa Budjana merupakan bagian dari grup musik GIGI dengan menempati posisi sebagai gitaris.

Sisi musik etnik yang dibawakan oleh Dewa Budjana tertuang dalam beberapa karya solo albumnya. Contohnya adalah karya yang terbaru yakni album “Mahandini” yang merupakan rangkaian karya musik jazz fusion/progressive-rock dengan nuansa etnik dan spiritual sehingga menjadikannya sebuah mahakarya.

Dikutip dari halaman resmi Dewa Budjana Official, album “Mahandini” merupakan kolaborasi Dewa Budjana dengan musisi terkenal dunia yakni Jordan Rudess (keys/piano), Mohini Dey (bass), dan Marco Minnemann (drum) dengan tamu istimewa, Mike Stern, John Frusciante dan Soimah Pancawati.

“Mahandini” merupakan album solo ke-10 dari Dewa Budjana. Makna yang ada di balik kata “Mahandini” yakni belajar lebih banyak tentang bagaimana mereka bekerja untuk membuat musik berkualitas dengan didukung nama-nama musisi hebat di dalamnya.

Mahandini adalah kombinasi dua kata dari bahasa Sansekerta, 'Maha' dan 'Nandini' yang berarti gunung yang hebat seperti apa yang Dewa Budjana katakan mengenai nama-nama besar yang terlibat dalam album ini.

3. Weird Genius

“Lathi” menjadi salah satu lagu paling populer di belantika musik tanah air pada 2020. Lagu yang dibawakan oleh Weird Genius dan Sara Fajira sebagai vokalis ini menampilkan kolaborasi epic antara sisi musik moderen yang dikemas dalam bahasa Inggris dengan sisi etnik nusantaranya yang diwakili dengan bahasa Jawa, tarian daerah yang mengimplementasikan makna lagu serta alat musik gamelan.

Pada 30 Juni 2020, Spotify merilis siaran pers bahwa lagu "Lathi" telah memecahkan rekor baru sebagai lagu lokal yang menduduki tangga lagu #1 terlama yaitu selama 6 minggu berturut-turut di Top 50 Chart Spotify Indonesia.

Beberapa pencapaian lain yang diraih oleh Weird Genius melalui lagu "Lathi" pada 2020 diantaranya adalah:

  • #1 di Spotify Indonesia Top 50,
  • #2 di Spotify Viral Top 50 Global,
  • #1 di Spotify Viral Top 50 Indonesia,
  • #1 di iTunes Indonesia Top 200,
  • #1 di Deezer Indonesia Top 300,
  • #1 di JOOX Indonesia Top 100,
  • #1 di Resso Top 30 Global,
  • #1 di Resso Indonesia Top 20,
  • #1 di Tik Tok Global 20,
  • #1 di Shazam Chart Indonesia, dan menduduki puncak tangga lagu di beberapa radio ternama di kota-kota besar di Indonesia.

Weird Genius adalah grup musik Electronic Dance Music (EDM) dan synth-pop Indonesia yang beranggotakan Reza Oktovian, Eka Gustiwana, dan Gerald Liu. Grup ini terbentuk sejak tahun 2016 dan merilis lagu pertama mereka pada tahun 2017 dengan judul DPS.

Tehyan, Lalove, dan Alat Musik Tradisional Indonesia yang Belum Banyak Diketahui

4. Gazpar Araja

Gazpar Araja adalah musisi yang berasal dari Flores dengan ciri khas kehadirannya bersama alat musik tradisional Sasando yang merupakan alat musik khas Rote.

Selama ini, Gazpar sering tampil memainkan Sasando di acara-acara instansi pemerintahan ataupun di televisi. Gazpar juga pernah tampil di Hong Kong memainkan alat musik yang memiliki 32 dawai ini sebagai elemen penting dalam karir bermusiknya.

Kecintaannya pada Sasando membuat Gazpar menjadikan Sasando sebagai inspirasi dalam berkarya. Beberapa karya musik Gazpar adalah Mama, Save Our Nature dan yang paling terbaru Pacari Kamu.

Gazpar mengatakan bahwa ia akan memainkan Sasando hingga akhir hayatnya. "Seumur hidup saya akan terus memainkan Sasando," kata Gazpar menukil Liputan6 (6/2/2017).

5. Gangsadewa

Gangsadewa adalah sebuah kelompok pemusik yang memadukan instrumen tradisional-moderen melalui karya-karyanya. Sang komposer bernama Memet Chairul Slamet, yang memberi warna Gangsadewa dengan keragaman musik etniknya.

Gangsadewa sudah tampil di depan publik Tokyo beberapa kali melalui undangan Tokyo University. Tidak hanya di Jepang, Gangsadewa bahkan pernah tampil di hadapan publik Sydney, Australia beberapa tahun lalu mewakili Kementerian Pariwisata Indonesia.

Memet selalu mengenakan odheng atau ikat kepala khas kraton Bangkalan dalam setiap penampilannya bersama Gangsadewa sebagai identitas. Selain itu, Gangsadewa juga menghadirkan instrumen-instrumen tradisional Madura seperti sronen (alat musik tiup) dan tuk-tuk (alat musik pukul) bersanding dengan instrumen-instrumen tradisional Indonesia lainnya.

6. I Wayan Balawan

Musisi asal Bali ini dikenal sebagai gitaris dengan teknik tapping-nya. Sepulang dari memperdalam pengetahuannya tentang musik di Australian Institute of Music di Sydney, Balawan kembali ke Bali dan membentuk grup musik Batuan Ethnic Fusion. Grup musik tersebut menggabungkan alat musik gitar, drum, bass dengan alat-alat musik tradisional Bali sehingga melahirkan sebuah aliran jazz yang akan menjadi ciri khas.

Bersama Batuan Ethnic Fusion, Balawan melahirkan album berjudul “Globalism” dan disusul oleh album-albumnya yang lain. Sementara itu, pada 2011 Balawan melakukan perubahan pada Batuan Ethnic Fusion. Perubahan yang dilakukan adalah menjadikan Batuan Ethnic Fusion sebuah band yang lebih banyak menonjolkan aliran musik tradisional Bali dengan penambahan perkusi kendang Jawa.

Balawan dan Batuan Ethnic Fusion pernah tampil di Teatro Prometeo, Casa de la Cultura, di Quito, Ekuador pada 2018 bersama musisi lain dengan membawakan karya yang bernuansa Nusantara.

Konten YouTube Paling Sering Ditonton Netizen Indonesia, Film dan Musik Jadi Favorit

7. Gesang

Sang Maestro Keroncong Indonesia, Gesang, memiliki nama lengkap Gesang Martohartono. Gesang terkenal lewat lagu “Bengawan Solo” yang diciptakannya saat ia masih berusia 23 tahun.

Lagu “Bengawan Solo” menjadi salah satu lagu Indonesia yang terkenal di Asia, terutama di Jepang. Lagu ini telah diterjemahkan ke dalam lebih dari 10 bahasa, termasuk bahasa Inggris, bahasa Rusia, dan bahasa Jepang.

Lagu “Bengawan Solo” pernah direkam ulang oleh Oslan Husein yang diiringi oleh orkes Teruna Ria pimpinan Zaenal Arifin yang dirilis pada tahun 1959. Versi rekaman ulang dari Oslan Husein tersebut ditempatkan pada peringkat ke-11 dalam daftar "150 Lagu Indonesia Terbaik" versi majalah Rolling Stone Indonesia yang diterbitkan pada edisi #56 bulan Desember 2009.

8. Alffy Rev

“Wonderland Indonesia” menjadi satu karya Alffy Rev yang berkolaborasi dengan banyak seniman Indonesia dalam rangka memeriahkan Hari Ulang Tahun Republik Indonesia ke-76. Alffy Rev selalu memasukkan lagu-lagu nasional Indonesia dan lagu-lagu daerah dengan unsur musik dari sejumlah suku di Indonesia, seperti Bali dan Batak yang relevan dengan musik zaman sekarang.

Mirip dengan konsep musik yang diusung Weird Genius, Alffy Rev juga memasukkan musik elektronik (EDM) dan unsur musik tradisional ke dalam lagu nasional dan lagu daerah.

Dalam beberapa karyanya, Alffy Rev merangkap posisi sebagai produser, komposer musik yang dikenal juga sebagai YouTuber. Pada 2018, Alffy Rev mengaransemen ulang lagu “Bagimu Negeri” yang akhirnya lagu tersebut terpilih menjadi lagu resmi (official song) dalam kabin pesawat Garuda Indonesia saat lepas landas dan mendarat.

Sebelum adanya aransemen ulang lagu “Bagimu Negeri”, Alffy pernah mengaransemen ulang sejumlah lagu dengan sentuhan EDM dan musik tradisional. Salah satunya adalah lagu “Tanah Airku” dengan menggandeng jebolan Indonesian Idol, Brisia Jodie dan Gasita Karawitan.

Karya-karya Alffy Rev dalam mengangkat musik etnik nusantara disebarluaskan melalui media YouTube dalam channel YouTube pribadinya “Alffy Rev”.

9. Agnez Mo

Nama Agnez Mo bukan lagi nama yang asing di telinga masyarakat Indonesia. Salah satu seniman multitalenta asal Indonesia ini sudah memulai karirnya di mancanegara. Agnez Mo beberapa kali menampilkan identitas budaya Indonesia dalam karyanya di luar negeri.

Video klip “Coke Bottle” adalah contohnya. Pada video klip tersebut, Agnez yang berkolaborasi dengan Timbaland dan T.I., sempat memakai baju dodot lengkap dengan aksesori kepala yang kental budaya Indonesia.

Baju dodot adalah salah satu pakaian adat Jawa yang biasanya digunakan pada acara pernikahan yang didasarkan pada konsep adat Jawa.

Selain itu, unsur nuansa budaya Indonesia juga ditemukan di video klip Agnez Mo yang berjudul “Long As I Get Paid” yang dirilis pada 2017 lalu. Kala itu, Agnez tampil dengan pakaian yang terdiri atas bustier dan jubah batik megah karya Anne.

Beberapa nama musisi di atas telah GNFI rangkum sebagai musisi yang membawakan musik etnik Indonesia di kancah global melalui karya-karyanya. Perkembangan zaman yang terjadi menuntut adanya perkembangan cara berkarya.

Kini, konsep kolaborasi menjadi salah satu cara beradaptasi di tengah perkembangan. Kolaborasi antara musik moderen dengan musik tradisional menjadi cara baru untuk menghasilkan sebuah masterpiece.

The Lensoist, Grup Penyanyi Andalan dan Upaya Soekarno Tandingi Musik Rock di Tanah Air

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Widhi Luthfi lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Widhi Luthfi.

WL
IA
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini