Lebih Dekat dengan Adi Utarini, Ilmuwan Bangsa dalam 100 Tokoh Paling Berpengaruh di Dunia

Lebih Dekat dengan Adi Utarini, Ilmuwan Bangsa dalam 100 Tokoh Paling Berpengaruh di Dunia
info gambar utama

Penulis: Nur Annisa Kusumawardani

Semarakkan semangat dan aksi kolaborasi Festival Negeri Kolaborasi live di seluruh kanal media sosial GNFI. Informasi lebih lanjut kunjungi FNK 2021.

Sebagai seorang ilmuwan kebanggaan Indonesia, Prof. dr. Adi Utarini kembali membanggakan nama tanah air di kancah internasional, dengan kembali masuk dalam daftar orang yang berpengaruh di dunia. Seseorang yang juga berprofesi sebagai dosen di Universitas Gadjah Mada (UGM) ini telah ditetapkan menjadi salah satu dari 100 orang paling berpengaruh di dunia 2021 versi majalah TIME.

“Saat ini, hampir semua orang di Yogyakarta mengenal seseorang yang pernah terkena Demam Berdarah Dengue (DBD). Utarini sendiri telah selamat dua kali. Dengue, bagaimanapun, mungkin tidak dapat selamat dari Utarini,” tulis Melinda Gates pada halaman profil Adi Utarini dalam halaman TIME, pada Rabu (15/9) lalu.

Memiliki nama lengkap Adi Utarini, sosok yang lahir pada 4 Juni 1965 ini adalah seorang pengajar dan peneliti dari Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan (FK-KMK) UGM. Bidang penelitian yang digelutinya dalam naungan World Mosquito Program (WMP) ialah mengenai penanganan wabah DBD, dengan metode Wolbachia.

Melalui penelitian yang ia lakukan bersama tim peneliti internasional dari Program Nyamuk Dunia, Adi Utarini berpengaruh berhasil memberikan terobosan hebat dalam dunia sains dan kesehatan.

Dari MINI ke Rolly Royce, Irene Nikkein Buktikan Wanita Indonesia Berjaya di Bidang Otomotif

Awal karier Adi Utarini

Dr Adi Utarini | Foto: Instagram/adiutarinimusik
info gambar

Adi Utarini mengawali perjalanannya di UGM Yogyakarta sebagai mahasiswa pendidikan kedokteran. Setelah lulus pada tahun 1989, sosok yang juga akrab disapa Prof Uut ini melanjutkan pendidikannya dengan capaian dua gelar S2, yaitu dari UCL Great Ormond Street Institute of Child Health di Inggris (1994) dan Universitas Umeå, Swedia (1997). Selanjutnya, ia meraih gelar doktor (S3) di Umeå dengan topik program pengendalian malaria di Kabupaten Jepara, Jawa Tengah.

Berbagai penghargaan telah diraih oleh Utarini sebagai apresiasi akan dedikasinya yang tinggi dalam penelitian mengenai wabah dan penyakit. Pada Desember 2020, ia dianugerahi penghargaan sebagai salah satu dari 10 peneliti paling berpengaruh di dunia oleh jurnal ilmiah Nature. Penghargaan ini didasarkan atas penelitiannya tentang pengurangan demam berdarah dengue, melalui intervensi nyamuk ber-Wolbachia di Yogyakarta.

Nama Adi Utarini kembali melejit pada 2021 setelah ditetapkannya ia menjadi salah satu bagian dari Time 100 dalam daftar 100 Orang Paling Berpengaruh di dunia. Menanggapi ini, Utarani mengaku bersyukur dengan pencapaian bersama timnya tersebut, apalagi penelitiannya berguna untuk mencegah ancaman penyakit yang dibawa oleh nyamuk demam berdarah.

Bicara Musik Etnik dan Budaya Betawi, Ipank HoreHore: Kite Anak Muda Nyang Kudu Jagain Obornye

Dilansir dari detik.com, Utarini juga bersyukur atas apresiasi dan semangat yang didapatkan oleh seluruh tim World Mosquito Program (WMP) Yogyakarta atas kinerja yang mereka lakukan sejak 2011 silam.

Kini, nama dan wajah Adi Utarini bersanding dengan nama-nama yang telah mendunia sebelumnya, seperti Britney Spears, Naomi Osaka, Pangeran Harry dan Meghan Markle, bahkan Billie Eilish.

Dikutip dari TIME, Melinda juga mengungkapkan kekagumannya dengan profesor UGM tersebut. Ialah ketika ia mengunjungi sebuah keluarga yang berada di dekat lab Adi Utarini di Yogyakarta, beberapa tahun lalu.

Menurut Melinda, kehebatan Prof. Uut bukan hanya terletak pada kemampuannya dalam meneliti. Namun juga bagaimana ia mampu meyakinkan dan mengajak masyarakat umum, untuk ikut serta dalam tiap prosesnya.

Penelitian nyamuk WMP Yogyakarta

Ilustrasi Nyamuk DBD | Foto: CNN Indonesia
info gambar

Utarini mulai bergabung dalam upaya pemberantasan wabah DBD pada 2013 dengan menjadi kepala ilmuwan Indonesia di dalam WMP. Selain memimpin dan mengkoordinasi penelitian, ia juga menjalankan peran penting dalam mendapatkan izin berbagai kementrian terhadap percobaan ini.

Tak cukup di situ, Utarini juga turut menggalang dukungan masyarakat dengan membuat berbagai mural, film dan video singkat, serta bertatap muka. Antusiasme masyarakat untuk berpartisipasi dianggap sebagai salah satu aspek sukses dari penelitian ini.

Dilansir dari Sampai Jauh, penelitian soal nyamuk yang dilakukan Adi Utarini dan timnya adalah pemindahan bakteri dari medium lama ke medium baru dengan tingkat ketelitian tinggi, atau yang biasa disebut sebagai inokulasi. Perlakuan inokulasi nyamuk dengan bakteri Wolbachia yang tidak berbahaya bagi manusia ini diprediksi mampu membuat nyamuk tidak menularkan demam berdarah dari gigitannya.

Pada Agustus 2020 lalu, teknologi Wolbachia ini telah selesai melalui uji efikasi (kemanjuran). Utarini bersama timnya kemudian mengimplementasikan teknologi ini di Kabupaten Sleman melalui program “Si Wolly Nyaman: Wolbachia-Nyamuk Aman Cegah DBD di Sleman”.

Serba-Serbi PON XX Papua 2021, Dari Pembangunan 4 Venue Hingga Keunikan Medali

Program tersebut dilakukan melalui kerjasama dengan Pemkab Sleman melalui Dinas Kesehatan Sleman. Program ini dijalankan dengan menitipkan telur nyamuk ber-Wolbachia di rumah orang tua asuh dan fasilitas umum.

Kegiatan penggantian telur nyamuk ber-Wolbachia dilakukan setiap 2 minggu sekali, dalam periode 6 bulan. Setelah periode penitipan tersebut, diharapkan persentase Wolbachia mencapai 60 persen atau lebih sehingga mampu memberikan proteksi dari ancaman DBD.

Studi yang dipimpin oleh Adi Utarini menjadi terobosan baru, yang juga mampu membuktikan bahwa teknik ini berhasil menurunkan tingkat penyakit di lingkungan masyarakat. Bersama tim WMP Yogyakarta, Adi Utarini telah berhasil menurunkan kasus demam berdarah di Kota Yogyakarta sebesar 77 persen.*

Referensi: Sampai Jauh | Kompas | Twitter | TIME

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Kawan GNFI Official lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Kawan GNFI Official.

Terima kasih telah membaca sampai di sini