Patung Kristus Raja, Hadiah Soeharto yang Gagal Rebut Hati Masyarakat Timtim

Patung Kristus Raja, Hadiah Soeharto yang Gagal Rebut Hati Masyarakat Timtim
info gambar utama

Pernah menjadi bagian dari Indonesia, Timor Leste akhirnya melepaskan diri melalui hasil referendum yang digelar pada 30 Agustus 1999. Tetapi hubungan kedua negara masih tetap terikat dengan keberadaan patung Cristo Rei atau Kristus Raja.

Patung berwajah Yesus yang memiliki tinggi 27 meter ini berdiri gagah di Kota Dili, Ibu Kota Timor Leste. Cristo Rei dibangun pada 1996 dan merupakan hadiah dari Pemerintahan Soeharto kepada masyarakat Timor Timur (Timtim) -sebelum berganti jadi Timor Leste- yang waktu itu merupakan provinsi paling bungsu Indonesia.

Patung Yesus yang membentangkan kedua lengannya ini ditempatkan di Teluk Fatucama, diposisikan menghadap ke laut sehingga seperti memberkati kota Dili. Karena menghadap ke Barat, dinilai arah patung ini sebetulnya menuju ke Jakarta, sebagai Ibu kota Indonesia.

Ide pembuatan Cristo Rei diusulkan oleh Gubernur Timtim, Jose A.O. Soares kepada Presiden Soeharto. Patung ini sekaligus menjadi peringatan 20 tahun bergabungnya Timtim ke Indonesia. Soeharto menyetujui rencana itu, lalu menunjuk direktur PT Garuda Indonesia untuk menjadi pimpinan proyek. Pembangunan patung Cristo Rei ini membutuhkan hampir satu tahun.

Patungnya yang terbuat dari tembaga ini dikerjakan sekitar 30 orang di Sukaraja, Bandung. Patung ini dibuat oleh Mochamad Syailillah atau kerap disapa Bolil, seniman patung yang cukup populer pada era 90-an.

Mr. Crack yang Selalu Menghubungkan Semua Orang

"Waktu itu saya dengar pertemuannya di pesawat Garuda. Soeharto mengiyakan gagasan ini. Direktur Garuda jadi pimpinan proyek ini. Tetapi saya tidak tahu urusan politiknya. Saya cuma pematung,” kata Bolil yang dikutip dari catatan Ahmad Yunus, editor Pantau Ende Media Center.

Bolil mengisahkan saat itu, warga Dili sudah tahu ada pembangunan patung Yesus Kristus. Mereka kemudian datang berbondong-bondong dan melakukan doa di depan patung ini. Bolil dan pekerja kaget melihat reaksi dari warga ini. Apalagi ketika warga melihat wajah patung Yesus dalam ukuran besar seperti itu.

“Akhirnya kami masukan lagi ke dalam peti. Terus kami cepat-cepat naikkan ke atas,” kata Bolil.

Pengerjaan pemasangan patung ini hampir berlangsung dari pagi hari jam 07.00 hingga 11.00. Pekerja tak sanggup bekerja setelah mendekati jam siang. Panas matahari langsung menyengat. Apalagi berdiri di atas patung setinggi 27 meter ini.

"Lantas warga tanya agama saya. Saya bilang muslim,” kata Bolil sambil tersenyum.

Pada tanggal 15 Oktober 1996 Presiden Soeharto bersama Uskup MGR Carlos Ximenes Filipe Belo DSA dan gubernur Timtim menyaksikan langsung kemegahan patung ini dari udara menggunakan helikopter. Patung ini menjadi patung Yesus terbesar setelah patung Christ Redeemer di Brasil dengan ketinggian 38 meter.

Tentu tidak banyak yang menduga, 2 tahun setelah peresmian patung, tepatnya pada tahun 1998 Presiden Soeharto harus lengser dari jabatannya setelah 32 tahun. Selang setahun kemudian, Timtim kemudian lepas dari Indonesia.

Gagal menangkan hati masyarakat Timtim

Indonesia melakukan invasi ke Timtim pada 1975, setelah daerah itu lepas dari penjajahan Portugis. Melalui invasi yang dikenal sebagai Operasi Seroja, Timtim pun bergabung dengan Indonesia menjadi provinsi termuda.

Pemerintah Indonesia di bawah Presiden Soeharto menduduki Timtim bukan tanpa alasan. Banyak yang menyebut sebenarnya Soeharto awalnya tidak mau menjadikan Timtim masuk ke wilayah Indonesia.

Kendati demikian setelah mendapat masukan dari kalangan intelijen Indonesia yang salah satunya Mayjen Ali Murtopo, Soeharto mungkin mulai berpikir ulang. Salah satu alasannya adalah melihat Fretilin yang berideologi komunis diduga memunculkan kekhawatiran bagi Indonesia.

Namun, perlawanan kelompok pro kemerdekaan terus terjadi. Daerah ini terus bergolak sejak menjadi sejak menjadi provinsi ke-27 Indonesia di bawah pemerintahan Presiden Soeharto.

Walau begitu kucuran dana segar teratur dari Jakarta terus mengalir ke Timtim. Menurut Soeharto saat itu tugas membangun Timtim cukup berat, pasalnya daerah tersebut telah terbengkalai oleh warisan penjajahan yang sangat lama.

Timtim disebutnya “masih penuh bekas luka, karena perjuangan mengusir penjajah”. Karena kemajuan dan kesejahteraan yang diperjuangkan adalah untuk seluruh rakyat.

"Kita harus berjuang bersama-sama untuk segera mengejar ketinggalan yang selama ini diderita Saudara-saudara di Timtor Timur ini, agar secepatnya mengejar kemajuan-kemajuan yang telah dirasakan kita semua di daerah-daerah Indonesia lainnya," ucap Soeharto dalam pidatonya di depan Sidang Istimewa Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Timtim di Dilli, tahun 1978 dilansir dari Antara.

Beberapa hal menjadi perhatian Soeharto, seperti memperkuat hubungan antara Jakarta-Dili melalui siaran TVRI yang stasiun relaynya diresmikan hari Minggu. Di Maliana akan segera dibangun irigasi yang akan dapat mengairi sawah seluas 17.000 hektare.

Hal ini berarti dalam tahun-tahun mendatang daerah itu akan menghasilkan produksi pangan yang cukup besar, juga berarti menambah penghasilan kaum tani dan anggota masyarakat lainnya.

"Ini barulah langkah permulaan untuk memajukan daerah ini. Langkah ini akan kita lanjutkan pada masa datang, untuk itu segenap lapisan masyarakat perlu ikut serta dalam gerak pembangunan," ucap kepala negara saat itu.

Tetapi kembali lagi, Soeharto seperti melihat daerah ini dalam kacamata keamanan. Baginya saat itu pembangunan tidak akan sukses bila stabilitas keamanan di Timtim tidak terjaga.

"Saya sangat gembira melihat masyarakat sendiri ikut membantu alat keamanan negara dalam memulihkan keamanan, sehingga keamanan telah mantap seperti sekarang," katanya.

Jembatan BJ Habibie, Penghargaan dari Timor Leste untuk Habibie

Alhasil seperti yang dipaparkan oleh Indonesianis Benedict Anderson yang menyatakan metode kekuasaan Indonesia di Timtim setelah integrasi lebih mirip kebijakan untuk membendung musuh alih-alih merangkul saudara sebangsa.

Kondisi ini juga diperparah dengan pandangan publik Indonesia pada umumnya, yang melihat orang-orang Timtim sebagai warga negara kelas dua.

"Logika kolonial pun muncul ketika hasrat merdeka kemudian dianggap sebagai bentuk nihilnya rasa terima kasih mereka, bahkan pengkhianatan, karena orang-orang Indonesia menganggap telah membangun Timtim selama menjadi bagian Indonesia," ucap peneliti sejarah Rahadian Rundjan dikutip dari DW Indonesia.

Puncaknya mungkin adalah Tragedi Santa Cruz pada 1991, sebuah peristiwa penembakan para demonstran. Hukman Reni di buku Eurico Guterres: Saya Bukan Siapa-siapa (2015) menyebutkan korban dari peristiwa itu mencapai angka 273 orang tewas.

Karena itulah pembangunan Cristo Rei sebagai upaya untuk merebut hati masyarakat Timtim, gagal total. Xanana Gusmao saat itu memberikan kritik pedas atas patung Yesus Kristus Raja ini.

Waktu itu Xanana adalah Dewan Nasional Perlawanan Maubere sekaligus merangkap sebagai Panglima FALINTIL atau Forcas Armada de Libertacao Nacional de Timor Leste.

“Ini merupakan propaganda Jakarta untuk mengelabui rakyatnya sendiri maupun dunia internasional. Soeharto baik di istana maupun di tempat lain di mana pun adalah pemimpin politik." katanya kepada Kabar dari PIJAR.

Akhirnya pada 5 Mei 1999, dicapai kesepakatan antara Indonesia dan Portugal untuk menggelar referendum di Timtim. Dilaksanakan dengan dua pilihan yakni menerima otonomi khusus untuk Timtim dalam NKRI atau menolak itu.

Hasilnya 344.580 penduduk atau 78,5 persen dari total penduduk Timtim memilih untuk menolak otonomi khusus NKRI. Lalu pada Oktober 1999 secara resmi Timtim lepas dari NKRI.

Menjadi objek wisata dan perdamaian.

Sekarang hubungan antara Indonesia dengan Timor Leste pun sudah terjalin secara baik. Apalagi Indonesia masih menjadi pemasok kebutuhan pokok Timor Leste sebesar 30 persen.

Diantaranya sektor otomotif, minyak kelapa sawit, barang elektronik, makanan dan minuman. Selain itu, akan fokus pada sektor perdagangan di areal perbatasan.

Selain itu Indonesia juga tetap mendukung bergabungnya Timor Leste ke ASEAN. Diketahui, perjuangan ini telah dilakukan sejak tahun 2011.

"Sebagaimana yang diketahui, Indonesia mendukung penuh aplikasi Timor Leste sebagai anggota ASEAN. Beberapa fact-finding mission telah dilakukan dan laporannya bahkan telah disahkan," ujar Menlu Retno usai mengikuti pertemuan ASEAN Coordinating Council (ACC), Rabu (24/6/2020).

Makin Eksis di Timor Leste

Di sisi lain, Uskup Belo menyatakan masyarakat Timor Leste tidak akan melupakan jasa pemerintah Indonesia pada masa lampau. Terutama dalam peran membangun rakyat dan tanah Timor Lorosae selama masa integrasi Timtim dengan Indonesia tahun 1976-1999.

"Orang Timor Lorosae tidak akan pernah melupakan jasa besar Pak Harto dalam membangun Timtim di segala bidang kehidupan," ucapnya yang dikutip dari Antara.

"Kita berharap, walaupun Pak Harto telah meninggal dunia namun para pemimpin bangsa Indonesia yang menggantikannya memiliki semangat membangun seperti Pak Harto dan terus menjalin kerja sama Indonesia dengan Timor Leste demi tercapai perdamaian dan kesejahteraan bersama," kata Belo.

Kini Patung Kristus Raja yang terletak di Bukit Fatucama menjadi objek wisata rohani populer di Timor Leste. Setiap Sabtu dan Minggu serta hari-hari libur, kawasan ini menjadi serbuan warga Dili untuk melepas penat.

Bukan saja warga lokal namun warga asing juga datang untuk menikmati pemandangan alam, sekaligus sebagai sumber inspirasi rohani. Apalagi di bawah Bukit Fatucama ini terdapat kawasan pantai pasir putih yang indah, yang menghadap Kota Dili.

Patung ini seperti menunjukkan hubungan baik antara kedua negara yang telah terjalin pasca referendum. Seperti simbol Yesus yang mengangkat kedua lengannya memberkati kedamaian bagi kedua negara.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini