Sosrokartono, Peraih Gelar Sarjana Pertama Indonesia yang Menguasai Lebih dari 25 Bahasa

Sosrokartono, Peraih Gelar Sarjana Pertama Indonesia yang Menguasai Lebih dari 25 Bahasa
info gambar utama

Tidak banyak yang tahu karena memang tidak dirayakan secara resmi, hari ini tepat di tanggal 29 September sejatinya kerap diperingati sebagai Hari Sarjana Nasional.

Kurangnya eksposur mengenai momen peringatan ini terjadi bukan tanpa alasan, mengingat jika menilik pada sejarahnya sendiri, belum ada riwayat begitu jelas yang memaparkan bagaimana latar belakang peringatan Hari Sarjana Nasional bisa jatuh setiap tanggal 29 September, atau bagaimana awal mula peringatan ini ditetapkan.

Satu hal yang pasti, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbud-Ristek) diketahui kerap memperingati momen ini sejak tahun 2014.

Terlepas dari sejarah penetapannya yang belum diketahui secara mendetail, Hari Sarjana Nasional sejatinya tetap memiliki makna besar yang ditujukan untuk para sarjana yang memiliki kesempatan dan telah menempuh pendidikan sampai ke jenjang ini.

Di saat yang bersamaan, Hari Sarjana Nasional juga diharapkan dapat menjadi suatu momentum bagi para sarjana untuk melakukan evaluasi, dalam menghargai gelar pendidikan yang didapat dengan susah payah, dan menakar kontribusi apa yang telah diberikan kepada Indonesia lewat keunggulan akademis yang telah dimiliki.

Di lain sisi, bicara mengenai insan yang beruntung dan memiliki kesempatan untuk meraih gelar sarjana, tak jarang timbul pertanyaan mengenai siapa sebenarnya sosok di tanah air yang pertama kali memiliki kehormatan mendapatkan gelar ini?

Menariknya, sosok yang dimaksud nyatanya masih merupakan relasi terdekat dari sosok pahlawan yang banyak dikenal dan menginspirasi di Indonesia sendiri, yaitu kakak dari R.A Kartini, Raden Mas Panji Sosrokartono.

Kakak Kandung R.A Kartini, Si Jenius dari Tanah Jawa yang Menguasai Puluhan Bahasa

Pembuka jalan masyarakat pribumi menempuh pendidikan sarjana ke Belanda

Sosrokartono
info gambar

Raden Mas Panji Sosrokartono, atau yang lebih dikenal dengan sebutan Kartono, adalah kakak yang diceritakan sangat dekat dengan Kartini. Kartono bahkan disebut sebagai satu-satunya sosok yang awalnya memiliki simpati besar terhadap gagasan-gagasan yang dimiliki Kartini dalam membangkitkan emansipasi perempuan pada masanya.

Terpaut usia dua tahun, Kartono yang lahir lebih dulu pada tahun 1877 menjadi salah satu kaum priayi yang memanfaatkan keistimewaannya secara bijaksana, terutama dalam hal pendidikan. Riwayat dalam menimba ilmu yang ditempuh Kartono dimulai dari Europeesche Lagere School di Jepara, kemudian berlanjut ke Hogere Burger School di Semarang.

Baru pada tahun 1897, saat di mana ada sebuah program balas budi dari pemerintah Hindia Belanda berupa pemberian pendidikan bagi anak pribumi, Kartono menjadi orang yang terpilih untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi sebagai seorang mahasiswa di Sekolah Teknik Sipil (Polytechnikische School), di Delft, Belanda. Saat ini, sekolah tersebut lebih dikenal sebagai Delft University of Technology.

Menukil Historia, karena merasa tak cocok dengan jurusan yang diambil, Kartono akhirnya memutuskan untuk pindah mengambil pendidikan Bahasa dan Kesusastraan Timur di Universitas Leiden.

Namun, perjalanannya untuk bisa menyelesaikan pendidikan yang ditempuh ternyata tidak semudah yang dibayangkan, Kartono lulus dari Fakultas Sastra dan Filsafat dan mendapat gelar sarjana muda pertama dari Indonesia pada tahun 1901.

Pencapaian Kartono tersebut yang nyatanya menjadi pembuka jalan bagi anak pribumi lainnya untuk dapat ikut mengenyam pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi di Belanda.

Tak hanya semata-mata menempuh pendidikan, di tahun 1988 Kartono diketahui menjadi sosok aktivis yang aktif dan disegani di Belanda, dirinya mendapat kesempatan untuk menyampaikan pidato berjudul Het Nederlancdsch in Indie, dan menyampaikan kritik kepada pemerintah Belanda akan keberadaannya di Indonesia, namun dengan ungkapan yang santun dan berwibawa khas kaum terpandang di tanah air.

Tak puas mendapat gelar sarjana, Kartono rupanya bertekad untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi pada instansi yang sama.

Pada tahun 1908, keberhasilan pendidikan yang lebih tinggi berhasil diraih sebagai seseorang yang menyandang gelar doktorandus dengan predikat Summa Cumlaude. Lewat pencapaian tersebut, Kartono masih menjadi orang pribumi pertama yang mendapat gelar doktorandus saat masa pemerintahan Belanda.

Perjuangan Meraih Sarjana Sekaligus Menghidupi Seluruh Keluarga

Menjadi wartawan perang berkat kemampuan poliglot

Sosrokartono
info gambar

Selesai menempuh pendidikan, Kartono nyatanya memilih untuk melanjutkan pengembaraannya di wilayah Eropa. Lama menimba ilmu di Leiden rupanya membuat Kartono mampu memahami serta menguasai ragam bahasa, dan membuatnya menjadi seorang poliglot.

Diketahui bahwa Kartono menguasai sekitar 26 bahasa, 17 di antaranya merupakan bahasa barat sedangkan sisanya bahasa timur.

Siapa sangka dengan modal tersebut, perjalanan Kartono nyatanya berlanjut dengan menjadi seorang wartawan perang yang meliput ragam peristiwa Perang Dunia I di berbagai negara Eropa.

Pada tahun 1917, Kartono lolos ujian pemilihan saat melamar lowongan wartawan yang dibuka oleh surat kabar Amerika The New York Herald Tribune. Kartono terpilih setelah berhasil memadatkan berita dalam Bahasa Prancis sepanjang satu kolom menjadi 30 kata dan mengubahnya ke dalam berbagai versi bahasa yaitu Inggris, Spanyol, dan Rusia.

Dalam buku karangan Solichin Salam berjudul R.M.P Sosrokartono: Sebuah Biografi, disebutkan bahwa Kartono bahkan diberikan pangkat mayor oleh Panglima Perang Amerika Serikat demi mempermudah pekerjaannya.

Selama berkarier menjadi wartawan, disebutkan ada satu hasil kerja Kartono yang diklaim sebagai liputan terbaik, yaitu saat dirinya berhasil memuat berita mengenai peristiwa perundingan rahasia yang menandai berakhirnya PD I.

Perundingan tersebut berlangsung secara rahasia di sebuah hutan di daerah Compiegne, Prancis Selatan, dan tidak ada pihak luar yang memiliki akses untuk meliput. Namun, Kartono diketahui menjadi satu-satunya wartawan yang berhasil memuat peristiwa tersebut.

Di saat banyak wartawan dari media lain sibuk mencari informasi tentang perundingan tersebut, The New York Herald Tribune jadi surat kabar pertama yang berhasil memuat peristiwa yang dimaksud berkat Kartono. Bahkan, tulisannya disebut berhasil menggemparkan pihak AS dan Eropa.

Tak hanya menjadi wartawan perang, berbagai pengalaman mengagumkan lainnya juga dimiliki Kartono berkat kemampuan poliglotnya. Di tahun 1919-1921, ia bekerja sebagai kepala penerjemah di Liga Bangsa-Bangsa yang merupakan cikal bakal dari organisasi PBB.

Berkat kecerdasannya yang mampu menguasai berbagai bahasa, Kartono bahkan mendapat julukan “Si Jenius dari Timur”.

Pengembaraan Kartono di Eropa berakhir pada tahun 1925, saat dirinya memutuskan untuk pulang ke tanah air dan menetap di Bandung. Ia kemudian menjadi salah satu pihak yang bekerja sama dengan Ki Hadjar Dewantara dalam perguruan Taman Siswa.

Eks Sekolah Taman Siswa Surabaya Jadi Museum Pendidikan

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Siti Nur Arifa lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Siti Nur Arifa.

Terima kasih telah membaca sampai di sini