Gugurnya Ade Irma Suryani, Perisai dan Kenangan Abadi Sang Jenderal

Gugurnya Ade Irma Suryani, Perisai dan Kenangan Abadi Sang Jenderal
info gambar utama

Jenderal Abdul Haris (AH) Nasution merupakan salah satu target yang akan dibunuh dalam peristiwa Gerakan 30 September (G30S). Sosok Nasution memang dikenal sebagai jenderal yang anti dengan Partai Komunis Indonesia (PKI) sejak lama.

Nasution sebenarnya mempunyai peran cukup besar dibalik tegaknya kekuasaan Soekarno ketika mengumumkan Dekret 5 Juli 1959. Namun setelah itu, bandul politik Bung Karno malah lebih condong ke golongan kiri.

Hal itu dapat dilihat dalam doktrin Nasionalis, Agamis, Komunis (Nasakom), yang digaungkan Soekarno. Kekuatan politik Islam yang waktu itu diwakili Masyumi tak setuju dengan Nasakom, tersingkir.

Kekuatan besar yang tersisa hanya dua poros, akibatnya Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan PKI menjadi rival yang kasat mata. Namun, militer adalah kekuatan politik yang mempunyai senjata, tak heran, militer lebih diwaspadai.

Seiring menguatnya PKI, pada 1962 Soekarno menggabungkan semua angkatan militer dan kepolisian dalam Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI). Pada saat itu peran Nasution mulai melemah.

Pakar politik-militer Salim Said menyebut, perbedaan gagasan antara Bung Karno dengan Nasution membuat mantan Komandan Wilayah Divisi Siliwangi Jawa Barat ini tersingkir.

Mobil-Mobil Saksi Bisu Keganasan G30S/PKI

“Nasution yang anti-komunis adalah penghalang utama agenda politik Nasakom Soekarno," tulisnya dalam Gestapu 65: PKI, Aidit, Soekarno, dan Soeharto.

Sikap dan pandangannya terhadap PKI membuat Nasution menjadi target utama dalam peristiwa G30S. Apalagi pengaruhnya dalam tubuh TNI juga disinyalir masih besar sebagai jenderal senior di sana.

Oleh karena itu, jumlah pasukan yang dikerahkan untuk menjemputnya pun lebih banyak. Hampir dua peleton pasukan yang disebut-sebut berasal dari resimen Tjakrabirawa (pasukan pengaman presiden) datang ke rumahnya menggunakan 3 truk dan 2 mobil web.

Pagi itu, 1 Oktober 1965, sekitar pukul 03.30 WIB, pasukan tersebut sampai di rumah Nasution di Jalan Teuku Umar 40, Menteng, Jakarta Pusat. Tak banyak bicara, mereka menuju pintu rumah. Setiap gerakan kecil penjaga dibalas dengan tembakan. Suara tembakan membuat seisi rumah terbangun.

Agus Salim dalam bukunya Tragedi Fajar: Perseteruan Tentara-PKI dan Peristiwa G 30S, menyebut Nasution berhasil lolos setelah melompat ke rumah Duta Besar Irak. Sementara, Victor M Fic dalam bukunya, Kudeta 1 Oktober 1965: Sebuah Studi Tentang Konspirasi, menyebut bangunan tempatnya bersembunyi adalah rumah Dr Leimena di Jalan Teuku Umar 36.

Namun sayang, kejadian itu justru merenggut nyawa anak Nasution, Ade Irma Suryani, dan salah satu ajudannya Pierre Tendean. Ade Irma Suryani meninggal karena tertembus tiga peluru tajam Tjakrabirawa.

Ade Irma perisai pelindung ayahnya

Hendrianti Sahara, anak perempuan pertama Nasution dan kakak Ade Irma Suryani masih mengingat jelas peristiwa pada dini hari itu. Momen di mana rumahnya didatangi oleh pasukan yang melakukan teror berdarah di Jakarta.

"Saat kejadian, saya lari dari terjangan peluru. Kami mengumpet hingga suasana reda," ungkapnya seperti dikutip dalam tulisan Choirul Huda (7 Oktober 2015) dengan judul 50 Tahun Gugurnya Ade Irma Suryani dalam Kenangan Kakak Tercinta.

"Ketika itu, ayah sudah melompat ke kediaman tetangga, Kedutaan Besar Irak. Kaki saya mendapat luka. Tetapi, yang lebih sedih ketika saya dan ibu melihat Ade bersimbah darah. Waktu itu saya masih berusia 13 tahun dan Ade baru 5 tahun,” tambah Hendrianti.

Ketika itu memang Ade Irma sedang digendong oleh ibundanya, Johanna Nasution, saat tentara Tjakrabirawa menyerbu rumahnya dan melepaskan rentetan tembakan. Karena ingin melindungi Nasution, Ade Irma yang sedang tertidur kemudian dipindah oleh Johanna kepada adik iparnya.

Sayangnya, adik Nasution itu kemudian membuka pintu kamar. Rentetan tembakan kemudian dilepaskan oleh pasukan Tjakrabirawa yang mengenai Ade Irma dan adik Nasution.

Kisah Kasih Tak Sampai Seorang Pierre Tendean

Johanna mengambil alih menggendong tubuh Ade Irma yang bersimbah darah sambil mengantar Nasution untuk menyelamatkan diri melalui pintu belakang.

Hingga sampai di RSPAD Gatot Subroto, terjadi percakapan mengharukan antara Johanna dengan Ade Irma. Hal ini berlangsung sebelum anak perempuan yang lahir pada 19 Februari 1960 ini mengembuskan napas terakhir.

"Ade hidup?" ujar Johanna.

"Hidup, Mama!" jawab Ade Irma.

"Ade hidup terus?"

"Hidup terus, Mama!"

Walaupun dalam keadaan lemah, Ade Irma tetap menguatkan sang kakak yang menangis, "Mengapa kakak menangis? Kakak jangan menangis!" pintanya.

Dalam kondisi kritis tersebut, dia masih mengingat keadaan sang Ayah, "Ayah mengapa ditembak, Mama?"

Ade Irma sempat menjalani perawatan di RSPAD Gatot Subroto, Jakarta selama 5 hari. Pada 6 Oktober 1965 dinihari, Ade Irma berpulang ke haribaan Illahi. Dia dimakamkan di Jakarta pada 7 Oktober 1965.

Saat itu banyak yang melihat Ade Irma sebagai anak kuat dan tabah. Hal ini diutarakan oleh sang dokter, Dr. Handoyo, yang merawatnya saat setelah kejadian berdarah.

"Sungguh Ade ini, anak yang istimewa. Tidak menangis. Tabah dalam menderita, dan dalam keadaan sakit sendiri masih memikirkan orang lain, yaitu Ayahnya," ujar sang dokter yang dikutip dari surat kabar Berita Yudha pada 6 Oktober 1966.

Ditangisi ribuan pelajar

Duka begitu mendalam buat keluarga Nasution saat mengantar jenazah Ade Irma ke peristirahatan terakhirnya di Blok P, Kemayoran. Prosesi pemakaman ini diringi tangis ribuan pelajar yang merasa kehilangan sosok gadis berusia 5 tahun tersebut

“Anakku yang tercinta. Engkau telah mendahului gugur sebagai perisai untuk Ayahmu. Engkau mendahului kami semua menghadap kepada Allah Ta’ala dan semoga engkau mendapat tempat yang sebaik-baiknya di sisi Tuhan,” doa Nasution yang dinukil dari buku Tujuan Prajurit TNI Gugur 1 Oktober 1965.

“Ya Allah, terimalah putri kami ini dengan segala kebaikannya. Kami mengantarkannya dengan ikhlas, mengembalikannya pada-Mu, karena Engkaulah yang empunya. Kami sekeluarga memanjatkan doa syukur kepada-Mu atas segala kebahagiaan yang jadi nikmat bagi kami selama dia ada di sisi kami. Sekarang dia kembali kepada-Mu sebagaimana semuanya akan kembali kepada-Mu. Amien,” tandas Nasution.

Diceritakan oleh Nasution, pagi hari sebelum pemakaman, telah ada telepon dari Istana Bogor, menyebutkan bahwa Presiden menyarankan agar pemakaman Ade Irma seperti pahlawan-pahlawan revolusi yang dilakukan di Taman Pahlawan.

Tetapi, Nasution beserta istrinya menolak tawaran Bung Karno. Mereka merasa, lebih baik di pemakaman umum saja dengan harapan kelak ibunya dan anggota keluarga lain dapat bersama di tempat yang sama.

Sejarah Hari Ini (26 Maret 1961) - Debut Tan Liep Tjiauw dan Indonesia di Piala Davis

"Ada keistimewaan Bung Karno, biarpun kita banyak bertentangan dalam soal politik, soal hubungan pribadi tetap beliau perhatikan. Saya tahu bahwa terhadap lawan politik beliau yang terpenting, Bung Hatta, beliau juga berbuat demikian," ujar Nasution.

Hingga kini makam Ade Irma masih berada di kawasan Kompleks Kantor Wali Kota Jakarta Selatan. Pada makam tersebut, terdapat kata-kata atau pesan dari Jenderal Nasution untuk anak tercintanya itu.

"Anak saya yang tercinta, engkau telah mendahului gugur sebagai perisai ayahmu," begitu bunyinya.

Nama Ade Irma kemudian diabadikan sebagai Putri Pahlawan Revolusi. Monumennya juga dibangun oleh Pemerintah di tempat peristirahatan terakhirnya, yaitu di Kebayoran Baru, persis di sebelah Kantor Wali Kota Jakarta Selatan.

Saat ini, namanya juga diabadikan sebagai nama jalan, sekolah taman kanak-kanak, hingga panti asuhan, di beberapa daerah di Indonesia. Salah satunya adalah taman permainan dan rekreasi di Kota Cirebon yang diberi nama Taman Ade Irma Suryani Nasution.

Pencipta lagu anak, A.T Mahmud, menulis sebuah lagu sebagai bentuk penghormatannya kepada Ade Irma Suryani. Berikut ini adalah kutipan liriknya:

Akan kuingat selalu

Ade Irma Suryani

Waktu dipeluk dipangku ibu

Dengan segala kasih

Kini ia terbaring di pangkuan Tuhan

Senang dan bahagia hatinya

Kini ia terlena tertidur terbaring

Nyenyak di pelukan Tuhan-Nya.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

RK
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini