Mengenang Francisca Fanggidaej, Pejuang Kemerdekaan yang Terhapus dari Sejarah

Mengenang Francisca Fanggidaej, Pejuang Kemerdekaan yang Terhapus dari Sejarah
info gambar utama

Peristiwa yang terjadi tepat di tanggal 30 September pada 56 tahun silam sejatinya memang bukanlah momentum yang menyenangkan untuk dikenang, terlebih bagi para keturunan yaitu cucu dan cicit dari mereka yang gugur sebagai korban dari usaha kudeta, yang dilakukan oleh kelompok Partai Komunis Indonesia (PKI) pada masanya.

Namun, tak dimungkiri bahwa masih adanya sejumlah fakta dan sisi lain yang mungkin belum terkuak, dan membuat peristiwa tersebut kerap diperingati oleh berbagai lapisan masyarakat Indonesia hingga saat ini.

Bukan tanpa alasan, masih seringnya digaungkan peringatan akan kejadian nahas tersebut nyatanya bertujuan untuk mengenang sekaligus memberikan pemahaman kepada generasi muda, bahwa sejatinya kemerdekaan yang dirasakan saat ini bisa tetap dimiliki berkat pengorbanan sejumlah pihak di masa lampau yang rela menukar kehidupannya demi keutuhan bangsa.

Jika ditelisik lebih dalam, selain tujuh perwira tinggi yang menjadi korban utama dari aksi kudeta yang dilakukan, sejatinya ada ratusan bahkan ribuan orang Indonesia yang harus kehilangan kehidupan sebagaimana mestinya semenjak letusan peristiwa G30S/PKI.

Dari sekian banyak orang yang dimaksud, salah satu yang kiranya layak untuk dikenang ialah Francisca Fanggidaej, sosok pejuang yang justru harus meninggalkan kehidupan dan keluarganya di tanah air demi keberlangsungan hidup mereka.

Gugurnya Ade Irma Suryani, Perisai dan Kenangan Abadi Sang Jenderal

Terjebak di negeri orang dan tidak bisa pulang

Francisca Fanggidaej, pemimpin Kuba Fidel Castro (menelpon) meminta suaka untuk menetap
info gambar

Memiliki nama lengkap Francisca Casparina Fanggidaej, Francisca adalah tokoh pergerakan Indonesia yang di saat bersamaan juga menggeluti beberapa profesi lain, di antaranya menjadi seorang guru Bahasa Inggris dan penerjemah.

Lain itu, sosok yang lahir di Noël Mina, Timor pada tanggal 16 Agustus 1925 tersebut juga merupakan anggota DPR Gotong Royong yang ditunjuk Presiden Soekarno dari wakil golongan wartawan sejak tahun 1957. Sebelumnya, dia merupakan seorang jurnalis kantor berita Antara dan memimpin INPS (Indonesian National Press Service).

Sebagaimana yang kita tahu, setelah tahun 1945 Presiden Soekarno memang aktif melakukan berbagai pendekatan dengan negara lain sebagai bentuk upaya dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Kala itu, ada ribuan orang dari berbagai kalangan mulai dari diplomat, wartawan, anggota parlemen, termasuk mahasiswa ikatan dinas (Mahid), yang dikirim ke beberapa negara untuk menyerukan kabar kemerdekaan Indonesia lewat berbagai keikut sertaan dalam sederet acara yang dihadiri masyarakat dunia.

Entah memang kebetulan atau memang suratan takdir yang sudah ditentukan, Francisca menjadi salah satu dari ribuan orang Indonesia yang ditunjuk untuk ikut melakukan hal tersebut.

Sebenarnya, sejak tahun 1947 sosok perempuan yang ikut berjuang di Pertempuran Surabaya tersebut memang kerap dikirim ke beberapa negara Eropa dan India untuk mewakili Indonesia dalam pertemuan internasional pemuda.

Sampai di tahun 1965, Francisca mendapat tugas untuk berkunjung ke Helsinki dan Chili, untuk berpartisipasi dalam konferensi pemuda yang digelar di negara tersebut. Tanpa diduga di saat yang bersamaan, peristiwa G30S/PKI pun pecah. Dirinya langsung dilanda ketakutan untuk pulang karena kadung dikenal sebagai salah satu sosok pendukung pemerintahan yang dipimpin oleh Soekarno dan saat itu ingin digulingkan.

Pun saat sudah memberanikan diri untuk pulang, ternyata niat tersebut tidak bisa dilakukan karena status kewarganegaraan yang dicabut oleh negara dalam masa kepemimpinan Presiden selanjutnya.

Pada akhirnya, Francisca menjadi satu dari ribuan orang Indonesia yang hidup tanpa arah pulang di berbagai negara, orang-orang ini bertahan hidup dengan meminta suaka (tempat berlindung) dari para pemimpin di satu negara ke negara lainnya, yang oleh Gus Dur sendiri dijuluki sebagai ‘orang kelayapan’.

Mengetahui kondisi mencekam yang terjadi di tanah air sendiri pada saat itu, alhasil Francisca pun tidak berani pulang dan terpaksa harus hidup berpindah-pindah dari Kuba, China, hingga Belanda. Dirinya berpindah antar negara dengan bermodalkan paspor sementara yang diberikan oleh Fidel Castro, sosok pemimpin Kuba kala itu.

Kurang lebih 20 tahun hidup di negeri orang, selama masa itu pula Francisca memutus kontak dengan kerabat di Indonesia dan sama sekali tidak menjalin komunikasi dengan tujuh orang anaknya yang kebanyakan masih berusia di bawah 15 tahun.

Bukan tanpa alasan, hal tersebut ia lakukan semata-mata demi melindungi keluarganya. Baru pada tahun 1985, saat berpindah ke Belanda Francisca berani menghubungi anak-anaknya setelah sekian lama tidak memberi kabar sama sekali.

"Sebagai seorang ibu, saya meninggalkan anak-anak saya yang waktu itu masih kecil. Ini bukan demi saya, tapi untuk keselamatan mereka" ungkap Francisca yang dimuat dalam sebuah buku berjudul Pesindo, Pemuda Sosialis Indonesia 1945-1950 terbitan tahun 2016 karya Norman Joshua Soelias.

Saksi Mata: Menyaksikan "Pendudukan" Sekolah-sekolah Tionghoa Pasca G30S/PKI

Ingatan kelam nan menyakitkan bagi ketujuh anak Francisca

Tujuh anak pasangan Supriyo-Francisca Fanggidaej (dan sepupunya) sekitar tahun 1960an.
info gambar

Berpaling sebentar dari kehidupan Francisca yang terombang-ambing di negeri orang, kehidupan tak jauh menyakitkan dialami oleh anak-anaknya di tanah air saat peristiwa kelam yang hingga saat ini masih menyisakan luka terjadi.

Sedikit informasi mengenai riwayat pernikahannya, Francisca sebenarnya menikah dua kali. Pertama dengan Sukarno, rekan sesama anggota Pesindo dan dikaruniai seorang anak perempuan bernama Nilakandi Sri Luntowati.

Kemudian dirinya menikah dengan Soepriyo, rekan sesama wartawan dan dikaruniai enam orang anak yaitu Dien Rieny Saraswati, Godam Ratamtama, Nusa Eka Indriya, Savitri Sasanti Rini, Pratiwi Widiantini, dan Mayanti Trikarini.

Dari anak bernama Pratiwi Widiantini, Francisca memiliki cucu yang saat ini dikenal sebagai aktor yang kerap berperan dalam film bertemakan nasionalisme di tanah air, yaitu Reza Rahadian.

Kembali ke kisah pilu yang dibagikan oleh anak-anak Francisca, semuanya berawal dari sebuah pagi di awal bulan Oktober 1965, hanya berselang beberapa hari setelah peristiwa G30S/PKI terjadi.

Ketujuh anak Francisca yang berada di rumah dikejutkan dengan suara gaduh dari halaman depan rumah. Suara tersebut ternyata berasal dari beberapa tentara bersenjata lengkap yang turun dari truk dan mencari sang ayah.

Pada saat itulah, Soepriyo ditangkap oleh rombongan tentara dan dijebloskan ke penjara Salemba, Jakarta, karena dikaitkan dengan pilihan Francisca yang diketahui memihak Soekarno.

Melansir BBC Indonesia, salah satu anak Francisca yaitu Savitri menceritakan betapa mencekamnya kejadian saat itu.

"Kita hanya bisa menangis, (seraya setengah berteriak) 'Bapak, bapak, bapak kenapa?’” kenang Savitri pilu.

Sang ayah yang dijebloskan ke penjara ditambah dengan sang ibu yang tidak kunjung pulang dan menghilang bak ditelan bumi diakui membuat tujuh orang anak bersaudara itu hidup menderita selama bertahun-tahun.

Kabar simpang siur mengenai keberadaan sang ibu membuat kondisi mereka semakin terpuruk, salah satunya ada yang mengatakan bahwa Francisca telah tiada. Selepas dari kejadian ditangkapnya Soepriyo, anak-anak tersebut kemudian diselamatkan dan hidup bersama keluarga dekat Francisca.

Hal menyedihkan lainnya, rumah yang ditinggali oleh keluarga tersebut disita dan mengalami penjarahan, semua harta habis tak tersisa dan ketujuh anak tersebut ikut tinggal bersama dengan sanak saudara dari sang ibu hanya bermodalkan pakaian yang menempel di tubuh.

Mobil-Mobil Saksi Bisu Keganasan G30S/PKI

Tumbuh dengan dikucilkan sampai detik-detik bertemu dengan sang ibu

Pertemuan Francisca dengan anak-anaknya di Belanda
info gambar

Tak dimungkiri bahwa ketujuh anak Francisca tumbuh dengan berbagai tuduhan yang menyakitkan akan sang ibu. Dalam lingkungan bermain dan bersekolah, mereka kerap mendapat julukan sebagai 'keluarga PKI'.

Setiap anak memiliki ceritanya masing-masing menghadapi penilaian orang-orang yang memandang mereka sebagai anak Francisca, sosok yang mendapat stigma negatif akan pilihan politik yang dimiliki.

“…bayangkan, saat kita bermain, (diteriaki) 'PKI, PKI’” ungkap Nusa, anak laki-laki Francisca yang lahir di tahun 1956.

Cerita lain dibagikan oleh Maya, anak bungsu yang pernah disebut ‘PKI’ oleh salah seorang temannya.

"Saya kejar dia sampai rumahnya, saya tarik rambutnya. Anak itu sering ngatain saya (PKI)," ujar Maya.

Seiring berjalannya waktu, Maya bahkan mengaku tidak bergaul secara mendalam saat memasuki masa SMA, hal itu ia lakukan hanya demi menghindari pertanyaan mengenai kedua orang tuanya dan menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.

Beruntung, semenjak sang ayah bebas dari penjara pada tahun 1978, anak-anak Francisca mulai memahami duduk perkara dan persoalan yang sebenarnya. Terutama mengenai alasan mengapa ayahnya dijebloskan ke penjara dan ibunya yang tak kunjung pulang.

Semenjak saat itu, ketujuh anak Francisca ibaratkan memiliki mental baja dan meyakini bahwa kedua orang tuanya tidak bersalah.

“Saya merasa ibu saya tidak salah kok. Ini hanya politik. Bapak saya yang sering beritahu," ujar Maya.

Lama berselang, semenjak tahun 1985 tepatnya setelah komunikasi mulai terjalin berkat bantuan keluarga yang lebih dulu tinggal di negara tempat sang Ibu berada, ketujuh anak tersebut mulai rutin berkomunikasi dengan bertukar surat dan mengirim foto.

Sementara itu pertemuan secara langsung baru terjadi di tahun 1993, saat Maya bertolak ke Belanda untuk bertemu pertama kalinya sejak tahun 1965. 28 tahun berpisah, tak dimungkiri bahwa pertemuan tersebut menciptakan kesan yang ‘kikuk’.

Bukan tanpa alasan, saat pertama kali terpisah usia anak-anak Francisca masih ada di bawah 15 tahun, sedangkan saat bertemu kembali sang anak sudah berkeluarga, Francisca pun sudah menua.

Meski begitu pertemuan yang terjadi juga masih terbatas karena status eksil yang melekat pada Francisca, setidaknya sampai tahun 1998 saat di mana masa reformasi terjadi. Kala itu Presiden Abdurrahman Wahid (Gus dur) mencabut status eksil yang melekat pada para ‘orang kelayapan’ yang dijulukinya.

Francisca akhirnya bisa pulang ke Indonesia pada tahun 2003, membawa cerita lebih mendalam mengenai alasan dirinya tidak bisa pulang selama puluhan tahun, dan berakhir dengan pemahaman ketujuh anaknya akan perjuangan dan penderitaan sang ibu yang harus meninggalkan mereka.

Francisca meninggal dunia saat usianya menginjak 88 tahun, tepatnya di tanggal 13 November 2013 dan dimakamkan di Belanda. Mengetahui penderitaan yang dialami sang ibu setelah melakukan berbagai upaya perjuangan untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia, pihak keluarga saat ini hanya berharap bahwa ibunya dapat dikenang dengan cara yang adil dan selayaknya.

Karena terlepas dari perlakuan yang ia terima, Francisca nyatanya tetap menanamkan pesan kepada anak cucunya untuk tidak berhenti mencintai Indonesia. Hal tersebut diungkap dalam sebuah narasi video yang dipublikasi oleh Anna Marsiana melalui kanal YouTube pribadinya, dengan mengutip ucapan terakhir yang disampaikan oleh Francisca kepada Reza Rahadian.

“Merdeka itu adalah pulang.” ucap Francisca.

Tidak Banyak yang Tahu, Inilah Asal Kata Merdeka!

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Siti Nur Arifa lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Siti Nur Arifa.

Terima kasih telah membaca sampai di sini