Karya Tulis Dono, Kritik Polisi Korup hingga Terbitkan Kumpulan Novel

Karya Tulis Dono, Kritik Polisi Korup hingga Terbitkan Kumpulan Novel
info gambar utama

Wahyu Sardono yang lebih akrab dipanggil Dono dalam film Warkop DKI, selalu menjadi sosok yang ketiban sial. Terlebih sialnya pasti soal percintaan, kadang Dono digambarkan sebagai sosok jomlo, atau ketika sudah punya pacar, ujung-ujungnya ditinggalkan.

Tetapi dalam kehidupan nyata, pria kelahiran Klaten, 30 September 1951 bukanlah pelawak biasa. Hal ini bisa dilihat dari salah satu foto yang beredar saat dirinya memakai pakaian putih bertuliskan “Join Us We Fight for a Clean Government" dan dikelilingi aparat bersenjata.

Selain cerdas, dirinya juga merupakan mahasiswa yang kritis dan berani bersuara lantang. Kebiasaan inilah yang membuatnya diajak untuk bergabung ke grup Warkop Prambors—cikal bakal Warkop DKI—oleh Rudy Badil dan Kasino yang sudah lebih dahulu bergabung.

Jejak Dono yang kritis bisa dilihat dari skripsinya berjudul "Hubungan Status Sosial Ekonomi Keluarga dengan Prestasi Murid di Sekolah: Studi Kasus SMP Negeri Desa Delanggu" (1978) dengan konsentrasi sosiologi pendidikan.

Alasan dirinya mengambil tempat penelitian di daerah kelahirannya karena masih adanya ketimpangan sosial antara yang kaya dan miskin. Menurutnya, kesenjangan itu makin terasa setelah pembantaian 1965 yang terjadi di daerahnya.

Cara Abadi Mentertawakan Kehidupan Ala Warkop DKI

"Lurah yang dulunya berafiliasi dengan Partai Komunis Indonesia (PKI), menjadi tokoh di masyarakat dan menduduki stratifikasi sosial atas di desa tersebut, setelah terjadi pemberontakan menjadi orang biasa. Ini tidak hanya menyangkut lurah sebagai pribadi tetapi berpengaruh ke keluarga dan keturunannya," lanjut Dono yang dinukil dari Tirto.

Rani Toersilaningsih, adik Dono menuturkan sejak awal kakaknya telah memilih jurusan Sosiologi. Pasalnya sudah kebiasaan sejak dahulu, Dono memang suka mengamati perilaku masyarakat.

"...Dia memang suka mengamati orang, lingkungan, dan sebagainya. Dia suka bikin tulisan tentangnya. Itu dari hasil pengamatan dia terhadap orang-orang yang dia temui,” kata Rani dilansir dari Historia.

Semasa kuliah, Dono kemudian berteman dengan beberapa orang di jurusan sosiologi. Dari pertemanan inilah, dirinya kemudian mendirikan majalah mahasiswa independen. Tak terikat dengan birokrasi kampus, dan dananya dari kantong sendiri.

Di majalah mahasiswa bernama Tema, Dono sering membuat karikatur. Majalah ini pun cukup ampuh untuk membentuk opini mahasiswa.

Rezim Himpunan Mahasiswa Indonesia (HMI) dan Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) pun tumbang dalam suatu pemilihan ketua senat. Mahasiswa non-partisan kini memegang senat mahasiswa.

"Dono menggiatkan kritik terhadap Orde Baru (Orba) melalui penerbitan koran mahasiswa, yang ia sertai dengan kartun-kartun bikinannya," ucap Rudy Badil dalam Warkop: Main-Main Jadi Bukan Main.

Kisah Sertu Jumadi si polisi gendut

"Sertu Jumadi adalah polisi lalu lintas. Dahulu, dia tinggal di asrama polisi yang reyot, kumuh, berdesak-desak, bising, dan berbau pesing. Tetapi kini, dia tinggal di luar asrama lantaran asramanya digusur untuk pusat pertokoan yang canggih," tulis Dono dalam sebuah artikel di Majalah Forum, 1993.

Artikel berjudul Kisah Sertu Jumadi ini merupakan cara Dono untuk mengkritik institusi kepolisian zaman Orba yang mulai kehilangan wibawanya di mata masyarakat. Dono menyorot soal oknum polisi yang punya kendaraan, yang sebenarnya tak mampu dibeli dengan hitungan gaji seorang polisi.

"Entah mengapa, akhir-akhir ini Pak Jumadi ikut arus "berperut gendut". Baju jatah dari kantor menjadi ketat menempel di badan, sehingga jalannya pun tampak lebih susah dari biasanya. Barangkali, dia ingin memenuhi standar stereotip polisi zaman sekarang," imbuhnya dalam artikel tersebut.

Memang tidak banyak yang tahu, bahwa selain melawak, Dono pun kerap menulis artikel. Tulisannya pun tidak hanya sekadar coretan, tetapi juga kritikan bagi rezim saat itu.

Dono Warkop: Komedian, Dosen Hingga Aktivis Peristiwa Malari dan Trisakti

"Saat polisi itu turun di sebuah halte, hampir seluruh penumpang berkomentar: “Polisi kok takut!”; “Polisinya pasti sekongkol dengan penjahat itu!”; “Suruh masuk Bhayangkari saja! Jangan ikut Bhayangkara!”, dan, “Iya, ganti saja namanya menjadi Deborah atau Yayuk!"

Setelah membaca artikel-artikel karya Dono, seketika pula meruntuhkan citranya yang ditampilkan dalam film. Ide-ide dari pria yang memiliki tiga anak ini sangat segar pada zamannya.

Misalnya, kritiknya terhadap masyarakat yang disebut kelas menengah dalam artikel Kelas yang Sibuk dengan Sendirinya. Dalam hal ini dirinya menyebut posisi mahasiswa sebagai "agen perubahan" perlu ditinjau kembali.

Hal ini salah satunya karena status sebagai mahasiswa bisa diakses semua lapisan. Kondisi ini menurutnya juga terjadi dalam setiap profesi yang ada di Indonesia.

"Pergeseran macam itu tak melulu pada status mahasiswa saja, tetapi juga pada status-status sosial menengah lainnya, semacam guru, wartawan, dan pegawai negeri," ucapnya dalam artikel yang terbit di Majalah Forum tahun 1996.

Posisi kelas menengah saat itu, jelas Dono, juga tengah menikmati segala proses pembangunan yang terjadi, sibuk dengan pekerjaan dan rekreasi. Karena itulah kelas menengah ini memang tengah sibuk dengan dirinya sendiri.

"Jika demikian, barangkali kita cuma bisa berharap dan menunggu, sampai merasa mereka “jenuh” pada kenikmatan proses pembangunan itu," jelasnya.

"Baru kemudian sempat mengatakan bahwa demokratisasi itu perlu, ketidakadilan itu harus dihapus, kesenjangan sosial harus dibenahi, dan semacamnya, yang memang menjadi jargon kelas menengah pada umumnya," pungkasnya.

Pernah buat novel

Tidak hanya artikel, Dono bahkan sempat membuat beberapa novel. karya tulis pertamanya berbentuk kumpulan cerita humor dengan judul Balada Paijo.

Kovernya kocak, yakni karikatur wajah Dono dengan gigi besar nan menonjol. Di kepalanya ada bakul nasi enamel. Tangannya memegang pistol berisi bunga. Dia sedang menaiki kuda mainan menyerupai pemain kuda lumping.

“Orang pada membukukan cerita beginian. Saya pun ikut partisipasi! Kalau nggak kok kurang sip begitu. Apalagi saya dikenal kalangan lucu-melucu,” terang Dono dalam pengantar bukunya.

Dalam novel ini Dono menempatkan tokoh bernama Paijo, seorang pemuda desa sebagai tokoh sentral kumpulan humornya. Tokoh ini sok kritis, sok tahu, dan sok peduli pada perubahan-perubahan sosial di desanya akibat perkembangan teknologi dan pembangunan.

Sejarah Hari Ini (15 September 1950) - Kasino Putra Gombong

Setahun berselang, Dono kemudian menerbitkan novel dengan judul Cemara-Cemara Kampus. Kisahnya berpusat pada kehidupan seorang mahasiswa, seorang aktivis kampus. Dono memperkenalkan tokoh ini dengan bahasa pop yang kocak, gesit, tetapi pedih.

“Lelaki itu bernama Kodi. Aslinya sih Kodiat Suryokusumo. Sedikitnya ada delapan cewek yang pernah menutup buku hariannya dengan deraian air mata,” tulis Dono.

Tokoh ini diperkenalkan sebagai buaya darat, berbekal wajah ganteng, dirinya berhasil memikat gadis di desanya sampai rekan kuliahnya di kota. Wulan gadis di desanya bahkan hamil sebelum Kodi berangkat kuliah ke kota.

Kodi kemudian kena batunya setelah mencintai Arien. Dia pergi ke Pandeglang untuk menenangkan diri. Yang mengagetkan, Dono mengakhiri novel ini dengan kalimat “Udah ah! Segini aja gue capek nih!”

Dono kemudian menerbitkan dua novel lagi yang berjudul Bila Satpam Bercinta (1991) dan Dua Batang Ilalang (1999). Keduanya masih mengambil sosok mahasiswa sebagai tokoh utamanya.

Bila Satpam Bercinta memuat aktivitas kampus yang berkelindan dengan konflik kepentingan, bisnis, dan keluarga. Satu hal yang juga perlu mendapat perhatian adalah dalam lembar persembahannya.

Dono menulis, "Untuk sahabatku: Kasino dan Indro. Uang bisa membuat kita melakukan sesuatu yang sebenarnya tidak kita sukai."

Sementara itu, Dua Batang Ilalang merekam aktivitas mahasiswa sebelum dan selama Reformasi 1998. Novel ini menjadi yang paling laris, hal yang unik dari buku ini terdapat catatan khusus di dalamnya: "Diselesaikan di saat negeri ini dalam keadaan sulit."

Sebelum wafat, Dono sempat menulis novel berjudul Senggol Kanan Senggol Kiri. Tetapi dirinya tidak sempat melihat karena novel ini diterbitkan pada tahun 2009.

Dalam novel ini, Dono mengutarakan masalah keseharian rumah tangga kelas menengah: perselingkuhan, ketidakjujuran, pengasuhan anak, dan utang-piutang. Dia juga menyisipkan kritik sosialnya dalam sejumlah dialog.

“Nyuruh aja kok pakai bentak-bentak. Mending gajinya naik! Nanti kalau dilaporkan ke LSM Advokasi Pembantu, baru tahu. Di demo lu,” kata Si ART.

Melihat beberapa karyanya tersebut, Dono akhirnya dikenal sebagai pelawak yang juga aktif di berbagai bidang, selain menulis, dia juga berkarier sebagai penyiar radio hingga dosen. Perjalanan kariernya begitu panjang meninggalkan banyak hal untuk dipelajari generasi sekarang.

Sang pelawak legendaris tersebut meninggal dunia pada 30 Desember 2001. Dono meninggal di Rumah Sakit Santo Carolus, Jakarta Pusat. Dia sempat dirawat karena penyakit kanker paru-paru.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

RK
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini