Lebih Dekat dengan Seto MCI 8 dan Ketertarikannya Terhadap Antropologi Makanan Indonesia

Lebih Dekat dengan Seto MCI 8 dan Ketertarikannya Terhadap Antropologi Makanan Indonesia
info gambar utama
Semarakkan semangat dan aksi kolaborasi Festival Negeri Kolaborasi live di seluruh kanal media sosial GNFI. Informasi lebih lanjut kunjungi FNK 2021.

Hardian Eko Nurseto atau yang kerap disapa Seto dikenal sebagai salah satu finalis Master Chef Indonesia Season 8 (MCI 8). Tak hanya menggeluti bidang memasak saja, Seto juga memiliki ketertarikan serta minat terhadap kajian Antropologi Makanan dan Kebudayaan.

“Antropologi merupakan ilmu yang mempelajari kebudayaan manusia. Kemudian, makanan adalah salah satu bentuk dari kebudayaan manusia, karena merupakan hasil adaptasi manusia untuk bertahan hidup,” ungkap Seto, ketika diwawancarai tim Kawan GNFI, Rabu (22/9/2021) melalui Zoom Meeting.

Menurut Seto, Fokus dari kajian antropologi makanan adalah melihat dan meneliti makanan. Seperti apa kaitannya dengan kebudayaan dan bagaimana makanan itu dikonsumsi secara budaya. Kajian antropologi mempelajari makanan dan kaitannya dengan kebudayaan, seperti simbol, identitas, kelas sosial, hingga relasi gender dalam masyarakat.

“Meskipun di depan kita ada berbagai macam makanan dari seluruh dunia, kita akan tetap memilih sendiri mana yang ingin kita makan dan tidak. Hal ini dipengaruhi oleh kebudayaan yang kita miliki,” lanjut Seto.

Awal mula Seto tertarik dengan antropologi makanan

Hardian Eko Nurseto | Foto: Dokumentasi milik Seto
info gambar

Seto mengungkapkan ketertarikannya terhadap antropologi makanan karena ia menyukai makanan, memasak, dan berkeliling Indonesia untuk mencicipi berbagai hidangan. Kemudian, saat menjalankan studi magister, Seto juga membuka restoran dan kerap melakukan penelitian di bidang restoran.

“Bisnis restoran butuh perhatian yang cukup tinggi, agar berjalan beriringan dan tidak tercecer. Saya memutuskan untuk melakukan penelitian di bidang restoran juga. Inilah awal mula terjerumus di rimba antropologi makanan,” ujar Seto.

Gastrodiplomasi jadi Jalur untuk Meningkatkan Ekspor Rempah dan Kuliner Nusantara

Seto juga mengungkapkan bahwa banyak sekali yang bisa dibahas dari makanan dan itu menjadi menarik. Makanan baginya juga sebagai pintu untuk meneliti suatu kebudayaan dalam kelompok masyarakat.

Ketertarikannya dalam bidang antropologi makanan, membuat Dosen Antropologi Universitas Padjajaran ini melakukan berbagai penelitian mengenai makanan. Salah satu penelitian yang ia jalani di tahun 2019 dan berlanjut hingga saat ini, ialah meneliti makan fermentasi.

Penelitian tersebut dilakukannya di delapan kota. Di antaranya Padang (dadiah), Medan (tauco), palembang (tempoyak), Purwokerto (tempe mendoan), Semarang (sawi asin), Banjarmasin (iwak pakasam), Samarinda (ikan jambrong), dan Manado (bakasang). Penelitian ini juga menghasilkan sebuah buku dan film dokumenter karya Parti Gastronomi bertajuk “Delicious Rot”.

Penelitian lain juga ia lakukan di Pangandaran. Di sana, Seto bersama mahasiswanya meneliti opak sebagai identitas masyarakat di Pangandaran. Kemudian, masih banyak penelitian lain yang ia lakukan untuk mengulik makanan dan kebudayaan.

Makanan sebagai bagian dari kebudayaan

Hardian Eko Nurseto | Foto: Dokumentasi milik Seto
info gambar

Seperti yang telah disebutkan di awal, makanan adalah produk budaya dan hasil adaptasi manusia untuk bertahan hidup. Dapat dikatakan, di dalam setiap kebudayaan akan hadir berbagai macam makanan yang tentunya akan disesuaikan dengan preferensi dari kebudayaan suatu komunitas.

Setiap makanan berbeda-beda di tiap kebudayaan sehingga masyarakat punya kebiasaan makan (food habit) yang berbeda-beda. Tak hanya itu, selera makanan juga dapat berbeda pula.

Seto mencontohkan makanan-makanan asal Manado. Masakan Manado cenderung lebih pedas dan berbumbu aromatik. Hal ini dikarenakan untuk menghilangkan aroma daging dari hewan yang mereka konsumsi.

Gastrodiplomasi: Upaya Membangun Citra Bangsa Melalui Makanan

Selain itu, kita juga bisa melihat pada masyarakat Sunda. Masyarakatnya sangat suka menyantap lalapan di berbagai hidangan mereka. Hal tersebut tentunya memiliki alasan karena di Jawa Barat terdapat berbagai jenis tumbuhan yang bisa dimakan, dan orang Sunda pada masa itu aktivitasnya adalah berladang.

“Di Sunda, orang-orang suka dengan lalapan karena di sini punya berbagai jenis tumbuhan yang bisa dimakan. Kebiasaan masyarakatnya pada saat itu adalah berladang,” kata Seto.

Seto juga mengungkapkan, ketika kita berbicara ‘kecap’ di luar negeri ini akan merujuk ke kecap asin (soy sauce). Padahal, di Indonesia akan merujuk kepada kecap manis. Hal ini dikarenakan adanya kebudayaan yang terlibat di dalamnya.

Dahulu, ketika kecap datang ke pulau Jawa, masyarakat jawa merasa tidak cocok dengan rasa yang diberikan. Alhasil, mereka membuat kecap dengan rasa yang manis dan inilah kecap yang dikenal hingga saat ini. Dapat diartikan, makanan-makanan yang hadir di masyarakat sangat berkaitan erat dengan kebudayaan dan tempat manusia itu tinggal.

Keberagaman dan keunikan makanan nusantara

Bagi Seto, mempelajari beragam makanan Indonesia akan membuatnya lebih mengenal keunikan tiap makanan. Seto akan mempelajarinya lebih dalam dan kemudian menemukan berbagai fakta menarik yang mengiringinya.

Misalnya, makanan di Bali memiliki dengan kepercayaan, agama, dan roh sehingga terdapat beberapa makanan yang sengaja dibuat untuk sesajen. Di Jawa, terdapat tumpeng sebagai simbol ungkapan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. Selain itu, tumpeng juga menjadi penanda kelas sosial.

Di banyak kebudayaan, makanan bukan hanya tentang kebutuhan biologis. Makanan juga sebagai simbol, identitas, rasa syukur, perantara supranatural, hingga menjadi obat yang menyembuhkan.

Gastrodiplomasi dan Mimpi Besar Nation Branding Indonesia

Saatnya generasi muda melestarikan kuliner nusantara

Untuk melestarikan budaya kuliner Indonesia, kecintaan terhadap makanan asli Indonesia perlu dimiliki oleh generasi muda. Dapat dimulai dengan mempertanyakan apa yang kita makan.

Misalnya mulai mempertanyakan apa saja bahan yang menyusun makanan yang dihidangkan, dari mana asalnya, bagaimana mengolahnya, dan sebagainya. Dengan mencari tahu, wawasan yang generasi muda miliki dapat diceritakan kembali ke orang lain. Secara tak langsung, hal itu juga turut melestarikan kuliner Indonesia.

Sosrokartono, Peraih Gelar Sarjana Pertama Indonesia yang Menguasai Lebih dari 25 Bahasa

“Kalau kita mau melestarikan masakan Indonesia, mulailah mengonsumsinya. Kemudian belajar mengolahnya. Atau, kalau tidak bisa mengolah, dapat kita mulai dengan menceritakan kepada orang lain,” pungkas Seto.

Belajar dari Seto, Kawan dapat mulai lebih menghargai dan mempelajari makanan nusantara. Bukan hanya sekadar mengonsumsi atau mengolah saja, tapi juga mulai menceritakannya kepada siapa pun. Kecintaan dan kebanggaan terhadap makanan harus kita tanamkan mulai dari diri sendiri.* (Comm)

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Kawan GNFI Official lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Kawan GNFI Official.

Terima kasih telah membaca sampai di sini