Pohon Nibung, Tanaman Multifungsi yang Jadi Simbol Persatuan Masyarakat Riau

Pohon Nibung, Tanaman Multifungsi yang Jadi Simbol Persatuan Masyarakat Riau
info gambar utama

Pohon Nibung (Oncosperma tigillarium) termasuk tanaman sejenis palma (palem) yang tumbuh di Asia Tenggara bahkan tersebar hampir di seluruh wilayah Indonesia. Namun bagi masyarakat Riau, pohon ini telah dianggap sebagai simbol dari semangat persatuan dan persaudaraan.

Nibung juga telah ditetapkan sebagai flora khas identitas Provinsi Riau. Pasalnya pohon ini sudah lama menyatu dengan kehidupan masyarakat Riau.

Hal ini terbukti dengan adanya beberapa tempat, yakni Tanjung Nibung, Teluk Nibung, yang mengabadikan nama tumbuhan tersebut. Selain itu keterkaitan ini tampak pula dalam pantun ataupun ungkapan tradisionalnya.

Dalam upacara adat, Tongkat Nibung merupakan bukti bentuk besarnya peranan nibung pada masa silam terhadap kehidupan kebudayaan Melayu Riau. Tongkat ini menjadi semacam lambang kehormatan bagi seseorang yang dianggap berjasa ataupun orang yang dijadikan sesepuh atau dituakan serta dihormati.

Pohon nibung juga banyak dimamfaatkan oleh masyarakat di Desa Jangkang, Kecamatan Bantan, Kabupaten Bengkalis, Provinsi Riau. Di sini nibung banyak dimanfaatkan nelayan sebagai bahan pembuatan pondok untuk penjemuran udang rebon.

Nelayan juga memanfaatkan batang nibung untuk keperluan perikanan seperti renovasi bagan, sarip dan kilung. Selain itu, di daerah pasang surut, nibung diperjualbelikan sebagai bahan bangunan dan tiang rumah di lahan gambut.

Mengenal Nothofagus, Pohon Asal Papua yang Disorot dalam Rapat UNESCO

Batang maupun daun pohon nibung memang memiliki daya tahan yang lama dan tidak mudah lapuk meskipun terendam dalam air payau. Bahkan salah satu temuan arkeolog dari Balai Arkeologi Palembang menyebutkan bahwa batang nibung telah dipergunakan sebagai bahan bangunan di lahan gambut oleh masyarakat Jambi sejak abad kesebelas.

Dari kegiatan penelitian yang berlangsung hingga tiga kali, dan berakhir 26 Mei 2008 lalu, tim mendapati banyak tonggak kayu nibung yang biasa digunakan sebagai fondasi rumah warga di kawasan bergambut pada masa lalu. Tonggak kayu masih tertancap di atas tanah, namun tim tidak lagi menemukan ada bangunan di atasnya.

Para arkeolog juga menemukan batang-batang pohon nibung di antara sebaran artefak. Selain batang, rebusan akar nibung dapat digunakan sebagai obat penurun panas.

Bunganya juga dapat dimanfaatkan untuk mengharumkan beras. Kuncup bunga Nibung dapat dibuat sayur serta buahnya dapat pula dipakai sebagai teman makan sirih pengganti pinang.

Pohon nibung tanda sumber mata air jernih

Di mana pohon nibung hidup, disitulah terdapat sumber mata air yang jernih. Begitulah kepercayaan dari orang-orang terdahulu. Hal ini bedasarkan pepatah, nibung bangsai bertaruk muda yang menggambarkan tentang manusia yang masih berjiwa muda dan kuat, sekuat pohon nibung.

Pohon nibung memang memiliki karateristik batang yang khas dengan tekstur yang kuat, kokoh dan tahan rayap. Batang pohon nibung menyerupai susunan lidi berwarna cokelat tua, dilapisi oleh kulit batang berwarna abu-abu yang dipenuhi oleh duri-duri tajam.

Batangnya lurus tinggi menjulang tidak bercabang seperti kelapa. Antara satu pohon dengan lainnya tingginya berkisar 9-25 meter. Diameter batangnya kisaran 38-40 cm. Bentuk daunnya tersusun menyirip tunggal (pinnatus) yang kesannya dekoratif, dengan tipe daun majemuk dan bertulang daun sejajar.

Saat muda, warna daunnya hijau muda kekuningan yang berubah menjadi hijau tua. Sementara warna pelepah daun hijau kecoklatan, warna pucuk hijau kekuningan. Batang dan daunnya terlindungi oleh duri keras panjang berwarna hitam.

Pohon Pengantin Salatiga, Pohon Kesepian Penyatu Dua Insan

Nibung berkembangbiak secara vegetatif melalui tunas dan secara generatif melalui biji yang bercambah. Anakannya bisa muncul dengan rapat, membentuk kumpulan sampai 50 batang.

Nibung tumbuh pada daerah pinggiran sungai mendekati muara, berasosiasi dengan beberapa tumbuhan mangrove yang tumbuh pada kondisi tanah yang sangat lembap dengan pH rata-rata 5,9.

Joko Ridho Witono dalam bukunya, Keanekaragaman Palem (Palmae) di Gunung Lumut Kalimantan Tengah (2004), menyebutkan Indonesia memiliki sedikitnya dua jenis Oncosperma yang tumbuh pada habitat berbeda, yaitu Oncosperma horridum dan Oncosperma tigillarium.

Oncosperma horridum tumbuh di dataran tinggi yang menempati tebing-tebing. Sedangkan Oncosperma tigillarium tumbuh di tepi sungai pada zona hutan mangrove belakang mendekati daratan.

Selain di Indonesia, pohon ini juga tumbuh alami di wilayah Indocina, Thailand, Malaysia, Filipina. Sementara di Sumatra tersebar mulai dari Sungai Sembilang, Kabupaten Banyuasin, Sumatra Selatan (Sumsel), Muara Sabak, Kabupaten Tanjung Jabung Timur, juga Jambi mulai Sungai Indragiri hingga ke pesisir Pantai Bengkalis, Provinsi Riau.

H Siahaan dan AH Lukman dalam studi “Ekologi dan Sebaran Nibung (Oncosperma tigillarium (Jack) Ridl) di Sumatera” (2010), memperkirakan nibung masih terdapat di hilir-hilir sungai yang bermuara ke Pantai Timur Sumatra.

Namun pemanfaatan yang tidak disertai dengan kegiatan pembudidayaan membuat keberadaan nibung di alam makin berkurang setiap tahun. Padahal nibung merupakan komoditas utama bagi masyarakat di Wilayah Sungsang, Tanjung Lago, dan daerah lain di sepanjang aliran Sungai Musi.

Ancaman masa depan nibung

Walau dianggap sebagai identitas masyarakat, tanaman ini tetap mengalami ancaman dari kegiatan penebangan dan alih fungsi lahan. Misalnya saja yang terjadi di hutan tropis Kabupaten Pelalawan, Riau, kini kondisinya sangat memprihatinkan dan terancam punah.

‘’Akibat eksploitasi ini tidak hanya menyebabkan banjir tetapi yang lebih parah, sejumlah tanaman dan burung langka, kini terancam punah,’’ ujar Ketua Badan Pengendali Dampak Lingkungan Daerah (Bapedalda) Pelalawan Ir Bambang Puji Suroto.

Beberapa jenis tumbuhan langka yang terancam seperti Jelutung, Balam Merah, Sebarau, Kepinis, Tembesu dan Nibung. Saat ini, sudah sangat sulit menemukan jenis kayu ini.

Penelitian Ari Nurlia terkait dengan “Pola Pemanfaatan dan Pemasaran Nibung di Sekitar Kawasan Taman Nasional Sembilang Provinsi Sumatra Selatan” menjelaskan di beberapa hulu sungai di wilayah Taman Nasional Sembilang, tegakan nibung di alam bahkan hanya terlihat sisa-sisa tunggakannya saja.

Sumber nibung memang hanya diperoleh dari hutan alam. Budidaya belum dapat dilakukan karena terkendala ketersediaan lahan dan pengetahuan, atau belum adanya kemauan untuk menanam.

Asal Tahu Saja, Pohon Pelangi Terindah di Dunia Ada di Indonesia

Sementara itu nibung di hilir Sungai Sembilang diperkirakan dipanen 1.500 batang setiap tahunnya, sehingga disarankan perlu ada kebijakan pemerintah dalam bidang konservasi yang ikut melibatkan masyarakat, untuk melakukan pembudidayaan nibung.

Selain kurangnya budidaya, pohon ini juga menjadi komoditas yang dijual secara ilegal. Pada tahun 2016 misalnya, sebanyak 280 batang kayu nibung senilai Rp140 juta disita aparat Ditkrimsus Polda Lampung.

Diduga, ratusan batang kayu itu hasil penebangan liar di Taman Nasional Way Kambas (TNWK). Menurut Wakil Direktur Ditkrimsus Polda Lampung AKBP M Anwar, kayu nibung yang tergolong langka memang memiliki harga mahal.

Harganya bisa mencapai Rp500 ribu - Rp1 juta. Biasanya, kayu nibung digunakan sebagai bahan pembuatan kapal.

"Kayu yang langka ini tidak memiliki izin dari pejabat yang berwenang," katanya, Jumat (23/9/2016) dilansir dari Okezone.

Menurut Ari, diperlukan kebijakan pemerintah dalam bidang konservasi yang ikut melibatkan masyarakat untuk melakukan kegiatan pembudidayaan nibung. Hal ini untuk mencegah penurunan dan eksploitasi nibung ke dalam kawasan hutan.

Selain itu, diperlukan adanya penelitian lebih lanjut untuk menemukan substitusi nibung agar tidak terjadi over eksploitasi dan alih profesi masyarakat nelayan.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

RK
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini