Dari Tanpa Pupuk dan Pestisida Kimia, Hingga Jadi Pahlawan Pangan Indonesia

Dari Tanpa Pupuk dan Pestisida Kimia, Hingga Jadi Pahlawan Pangan Indonesia
info gambar utama

Siti Rahmah merapikan pot-pot tanaman di depannya. Dengan lincah dan rapi tangan-tangan gesitnya menyingkap bagian bawah tanaman, membersihkan, lalu menyiram dengan air secukupnya.

Beragam tanaman sayuran tersebut adalah organik atau dikelola tanpa menggunakan pupuk dan pestisida kimiawi. Tanah-tanah di kebun sekeliling rumahnya yang tak begitu luas telah digemburkan dan diberi kompos secukupnya. Butuh waktu lebih lama untuk tumbuh dan panen, namun hasil panennya dijamin akan lebih baik dan sehat.

“Sudah sekitar 11 tahun kami tidak lagi menggunakan bahan kimiawi. Selain berbahaya bagi kesehatan penggunaan pupuk dan pestisida kimiawi juga tak bagus bagi kondisi tanah untuk jangka panjang,” katanya, awal September 2021 silam, di Desa Pitusunggu, Kecamatan Ma’rang, Kabupaten Pangkajene Kepulauan (Pangkep), Sulawesi Selatan.

Siti Rahmah boleh dikata telah sangat paham dengan pengomposan. Di bagian belakang rumahnya terdapat rumah kompos bantuan pemerintah, serta alat membuat kompos bantuan dari program Restoring Coastal Livelihood Oxfam-MAP beberapa tahun silam.

Sementara mesin pencacah tanaman masih bekerja dengan baik. Ia juga paham bagaimana membuat pupuk organik cair berasal dari ekstraksi beragam macam tanaman buah.

Sebagai petani organik, Siti Rahmah punya prestasi tak sedikit. Prestasi tertinggi ketika ia, mewakili kelompoknya Pita Aksi, terpilih sebagai satu dari tujuh perempuan pejuang pangan “Female Food Heroes Indonesia 2013”, bertepatan Hari Perempuan Internasional, 8 Maret 2013.

Pada Desember 2014, dia juga menerima penghargaan Adhikarya Pangan Nusantara dari pemerintah. Lalu, berkesempatan bertemu Presiden Joko Widodo bersama 88 penerima penghargaan lain, 16 Januari 2015. Ia juga sering diundang menjadi narasumber ke petani lain dan bahkan ke penyuluh-penyuluh pertanian.

Prestasi yang dicapai Siti Rahma tidaklah mudah. Ia mengakui konsistensi berorganik memiliki banyak tantangan dan kesabaran. Apalagi godaan untuk menggunakan bahan kimiawi tidak sedikit ketika hasil panen hancur diserang hama dan lambat pertumbuhannya dibanding tanaman yang dikelola secara kimiawi.

“Di awal-awal kita banyak dicemooh tetangga, dianggap mustahil dilakukan. Kalau tidak sabar pasti sudah lama ditinggalkan, namun ternyata bisa bertahan sampai sekarang.”

Tidak hanya mendapat manfaat dari hasil kebun sayuran organik, namun juga dari pembuatan pupuk kompos. Jika dulunya hanya digunakan untuk kepentingan sendiri, maka sekarang ia juga produksi kompos untuk dijual ke petani lain. Bahkan di masa eforia tanaman bunga, pemesanan justru banyak dari pecinta bunga di berbagai daerah sekitar. Ia bisa produksi beberapa ton dalam sebulan yang segera habis.

"Kemarin sudah ada pemesanan 500 kg dari kota, kadang sulit dipenuhi semua kalau pemesanan banyak,” katanya.

Untuk pembuatan kompos ini, dia dibantu suami dan anak-anaknya. Suaminya Arief Sore juga seperti dirinya aktif dalam mempromosoikan pertanian organik, bukan hanya untuk kebun tapi juga tambak udang dan ikan.

Arief, seperti halnya Siti Rahmah, sejak mengetahui pertanian organik secara konsisten tidak lagi menggunakan bahan kimiawi.

Di belakang rumahnya terdapat lahan sawah sekitar delapan hektar, bekas lahan tidur yang diubah menjadi sawah organik.

“Itu dulunya bekas tambak yang ditinggalkan, yang kemudian ditumbuhi padangilalang, hampir 20 tahun tak terurus. Pemiliknya bahkan menyerahkan lahannya untuk diolah. Setelah panen berhasil keluarga pemilik lahan itu meminta lahannya kembali,” ungkap Arief tertawa.

Puluhan hektar sawah tidak produktif ia kelola hingga kemudian menghasilkan padi organik yang sehat. Seperti halnya Siti Rahmah, di awal-awal ia pun mendapat cemoohan dari tetangga dan warga lain.

Berkat Sekolah Lapang

Siti Rahmah mengakui keaktifannya dalam pertanian organik dimulai ketika ia mengikuti Sekolah Lapang yang dilaksanakan oleh Oxfam melalui program Restoring Coastal Livelihood (RCL) yang dalam pelaksanaannya difasilitas oleh lembaga Mangrove Action Project (MAP), yang kini berganti nama menjadi Blue Forests atau Yayasan Hutan Biru.

Di sekolah lapang itu mereka diajarkan bagaimana membuat pupuk kompos, pupuk Mikroorganisme Lokal (MOL), mengelola tanaman organik, dan kecakapan pribadi, seperti pengelolaan kelompok, cara berorganisasi dan tampil di depan khalayak.

“Dari sekolah lapang itu kita diajarkan betapa bahayanya pupuk dan pestisida kimiawi bagi kesehatan, sekaligus bagaimana mengelola tanaman organik di kebun dan sawah.”

Sekolah Lapang program RCL ini sendiri berlangsung selama 12 minggu, dengan 12 kali pertemuan dengan jumlah peserta sebanyak 20 orang. Berbeda dengan metode penyuluhan biasa, di SL para peserta aktif dalam belajar. Mereka berdiskusi bersama mencari solusi-solusi masalah yang dihadapi. Mereka juga berbagi pengalaman satu sama lain.

“Sekolahnya di pekarangan rumah masing-masing. Belajar sedikit teori dan langsung praktik,” katanya.

Ia menilai keberadaan sekolah lapang sangat penting dalam meningkatkan kapasitas petani karena metodenya yang interaktif dan kaya dengan pengetahuan. Apalagi peserta kemudian diajarkan membuat pupuk organik dan MOL, kebutuhan utama petani dan petambak saat ini di tengah kondisi kelangkaan pupuk saat ini.

Sukses dengan pertanian organiknya, Rahmah berencana mengembangkan usahanya lebih jauh dengan membangun agrowisata memanfaatkan sawah dan kebunnya. Meskipun rencana ini masih memiliki tantangan berupa akses ke lokasi persawahan. Ia juga memberi lahan kepada anaknya untuk dikelola ditanami cabe.

Penulis: Wahyu Chandra, Makassar

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Akhyari Hananto lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Akhyari Hananto.

AH
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini