Singkong Gajah, Varietas Unggul yang Beratnya Mencapai 50 Kilogram Per Pohon

Singkong Gajah,  Varietas Unggul yang Beratnya Mencapai 50 Kilogram Per Pohon
info gambar utama

Bagi masyarakat Indonesia, singkong bukanlah makanan yang asing. Umbi-umbian yang dikenal dengan sebutan ubi kayu atau ketela pohon ini telah menjadi makanan pokok di beberapa daerah.

Namun, tahukah Anda bahwa singkong pun memiliki beberapa jenis yang berbeda? Salah satunya adalah singkong gajah (Manihot esculenta Crantz).

Singkong ini disebut-sebut sebagai varietas unggul dan dapat berproduksi hingga 40 kilogram per pohon. Prof. Ristono, Guru Besar ahli matematika Fakultas MIPA Universitas Mulawarman, Kalimantan Timur, bisa dibilang merupakan penemu singkong gajah. Saat ini, singkong tersebut diminati para petani karena hasil panen yang tinggi.

Ditambah lagi, singkong gajah dapat tumbuh subur baik di dataran rendah maupun tinggi. Meski demikian, ia tak dapat tumbuh dengan baik di daerah rawa atau area yang sering tergenang air. Jika pada umumnya singkong per pohon memiliki bobot 5-8 kilogram, satu pohon singkong gajah beratnya bisa mencapai 50 kilogram.

Menurut keterangan Ristono, produksi singkong gajah dapat mencapai 120 ton per hektare. Untuk membedakannya dari jenis lain, ciri khas singkong gajah antara lain daun muda berwarna ungu kemerahan, pada usia tiga sampai empat bulan ujung tunasnya bercabang tiga, batang muda berwarna ungu kemerahan, dan daunnya pun tampak lebih lebar.

Asal-Usul Pisang Tongka Langit yang Kini Masih Menjadi Misteri

Budidaya singkong gajah

Sebagai varietas unggul, pembudidayaan singkong gajah butuh teknik tersendiri serta diperlukan perawatan intensif agar dapat tumbuh dengan baik. Pupuk yang diberikan pun terbilang kompleks untuk memenuhi kebutuhan nutrisi singkong gajah.

Pada saat pembibitan, bibit singkong gajah yang ditanam harus murni dan sama sekali tidak tercampur dengan jenis singkong lain. Untuk penyisipan atau setek yang mati bisa dilakukan setelah 15-20 hari setelah penanaman. Lahan yang akan ditanami bibit singkong gajah pun harus dipastikan subur dan gembur.

Untuk memaksimalkan cahaya matahari diterima dengan baik, bibit singkong gajah bisa ditanam dengan jarak 1,5 meter mengarah ke utara dan selatan. Usahakan pula untuk menanam bibit pada awal musim penghujan agar kebutuhan airnya tercukupi. Jenis dan dosis pupuk yang dipakai pun harus disesuaikan dengan kondisi lahan.

Proses penggemburan tanah untuk menanam bibit singkong gajah bisa dilakukan secara mekanis atau kimiawi. Jika lahannya memang cukup besar, penggemburan bisa memakai bahan kimia karena lebih efektif dan efisien.

Tanaman singkong gajah umumnya memiliki batang dengan tiga cabang. Ketika pohon singkong gajah sudah berusia 1,5 bulan, bagian-bagian tanaman yang tidak perlu bisa mulai dipangkas. Pilih satu batang saja yang memang sehat dan subur untuk ditumbuhkan, sedangkan batang-batang lain sebaiknya dibuang.

Penting juga untuk memperhatikan perubahan lingkungan karena dapat memengaruhi pertumbuhan dan produktivitasnya. Ini termasuk sinar matahari harus penuh dari pagi sampai sore tanpa terhalang apapun, ketersediaan air mencukupi selama pertumbuhan tanaman, kondisi tanah gembur, ketersediaan bahan organik yang lengkap, serta kombinasi kelembapan dan angin yang pas untuk dapat menghasilkan fotosintesis yang baik.

Perawatan tanaman singkong gajah sebenarnya cukup sederhana dan tak serumit komoditas pertanian lain. Selain memberikan pupuk dasar pada masa awal penanaman, diperlukan juga pemupukan susulan dengan menggunakan pupuk kandang dan kompos pada usia tanam sekitar tiga bulan.

Lahan juga perlu dilindungi dari tumbuhnya gulma dan hama yang mengganggu dan dijaga kelembapannya. Pada musim kemarau, lahan perlu dialiri air hingga cukup basah.

Daun singkong gajah | @warat42 Shutterstock
info gambar
Luas Kawasan Mangrove Indonesia dan Upaya Menghadapi Ancaman Kerusakan

Olahan tepung mocaf

Kebutuhan singkong yang tinggi di Bali menjadi peluang dalam budidaya singkong gajah. Kelompok Tani Ternak Kerti Winangun di Desa Bukti, Kecamatan Kubutambahan, Kabupaten Buleleng, mampu mengolah singkong menjadi tepung mocaf.

Menurut Anak Agung Ngurah Badung Sarmuda Dinata peneliti Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bali (BPTP Balitbangtan-Bali) menjelaskan bahwa sejak tahun 2015 pihaknya telah mengembangkan kegiatan inovasi pertanian bioindustri.

“Pertanian bioindustri merupakan salah satu model pertanian intensif yang lebih menekankan proses biologis dengan memanfaatkan peran mikroorganisme dalam proses produksinya.

Kegiatan ini dilaksanakan di Desa Bukti Kecamatan Kubutambahan Kabupaten Buleleng yang notabene merupakan lahan kering dataran rendah beriklim kering,” jelasnya.

Salah satu produk dari pertanian bioindustri adalah tepung mocaf. Mocaf sendiri merupakan produk turunan tepung ubi kayu yang menggunakan prinsip modifikasi sel ubi kayu secara fermentasi. Tekstur tepung mocaf cenderung mirip terigu dan tidak selicin tepung tapioka.

Di Desa Bukti, pembuatan tepung mocaf dilakukan dari hasil fermentasi daging singkong gajah. Pemilihan singkong gajah juga karena produksinya yang sangat tinggi. Bahkan, disebutkan bahwa untuk luas lahan satu hektare saja, para petani bisa meraup keuntungan bersih hingga Rp70 juta sekali panen. Untuk meningkatkan pendapatan, petani pun telah dilatih untuk mengolah tepung mocaf.

Untuk membuat tepung mocaf, singkong yang digunakan harus dipanen pada usia sembilan bulan. Prosesnya mulai dari mengupas dan membersihkan singkong, kemudian diiris tipis sampai menjadi serpihan.

Selanjutnya akan dilakukan proses fermentasi dalam sebuah wadah tertutup dengan menambahkan inokulan bakteri asam laktat (BAL) selama 12 jam. Setelah itu, singkong akan dijemur sampai kering dan digiling hingga berubah menjadi tepung.



Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Dian Afrillia lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Dian Afrillia.

Terima kasih telah membaca sampai di sini