Walter Spies, Pelukis Jerman yang Berkontribusi Perkenalkan Bali pada Dunia

Walter Spies, Pelukis Jerman yang Berkontribusi Perkenalkan Bali pada Dunia
info gambar utama

Bali sudah sejak lama menjadi wajah Indonesia. Pesona Pulau Dewata telah menjadi perbincangan mancanegara sejak pemerintah kolonial menjajah Hindia Belanda.

Pulau ini juga dianggap sebagai representasi budaya, tradisi, serta eksotisme negeri ini. Misalnya saat berjalan di jalanan sempit Kuta, di pantai wilayah selatan, di gemerlap pementasan tari kecak Denpasar, hingga di desa-desa wilayah Ubud yang menawarkan kesejukan tanpa tanding.

Pulau Dewata, merupakan magnet wisatawan lokal dan mancanegara. Tiap waktu, mereka berbondong-bondong datang ke sana, mencari sejumput kesenangan dan mengharap pesta terus berdendang hingga matahari terbit.

Begitu melesatnya Pulau Bali dengan keindahan dan eksotisme tidak lahir dari ruang yang kosong. Namun terdapat peran seorang seniman dan pelukis asal Jerman bernama Walter Spies. Berkat kontribusinya lewat kesenian, khususnya seni rupa, Bali pelan-pelan dikenal dunia.

Spies merupakan pelukis aliran primitivisme yang berasal dari Jerman. Lahir pada tanggal 15 September 1895 di Moscow, Rusia. Saat kecil, dia tinggal bersama orang tuanya di Jerman dan mulai menunjukkan rasa ketertarikan dengan seni lukis dan seni musik.

Keindahan Kain Tenun Gringsing yang Dipercaya Sebagai Penolak Bala

Pada 1923, Spies bertolak ke Hindia Belanda, sempat menjelajah beberapa daerah, dirinya kemudian menetap di Yogyakarta. Di Yogyakarta, dirinya mulai belajar gamelan dan juga melukis. Spies berteman baik dengan Sultan Djojodipuro, putra mahkota Kesultanan Yogya. Bahkan pernah memimpin orkes Keraton Yogya dan sesekali menjadi pemain piano pengiring di acara pagelaran musik.

Meski begitu, Spies tetap membuat lukisan dan dijual dalam beberapa kesempatan. Salah satu yang terkenal yakni lukisan berjudul Laterna Magica, yang dianggap menandai transisi antara gaya lukis Eropa dan keasyikannya dengan eksotisme Asia.

Mencintai keindahan Bali

Pada 1925, Spies kemudian datang ke Bali atas undangan bangsawan Ubud, Tjokorda Gde Raka Soekawati. Di titik inilah awal kecintaannya kepada pesona Pulau Dewata. Keduanya pun terlibat dalam pembicaraan seru tentang kesenian. Kunjungan ini memberikan kesan mendalam bagi Spies.

Karena itulah pada 1927, dirinya kemudian memutuskan untuk menetap di Pulau Dewata. Spies menempati Puri Ubud sebelum akhirnya diizinkan Raka membangun rumah di Campuan. Dengan demikian, Spies menjadi generasi awal ekspatriat yang menetap di Bali.

Hidup di lingkungan yang memandang tinggi seni, membuatnya tidak kesulitan beradaptasi. Bahkan, kultur budaya dan kesenian tinggi yang ada di Ubud, berperan penting bagi Spies dalam menjalani titik balik pada perkembangan artistik yang dimilikinya.

Hal ini ditambah dengan kecintaannya dengan panorama alam indah yang saat itu bisa ditemukan dengan mudah di Bali. Dirinya pun kerap menghabiskan waktu untuk melukis pemandangan alam yang memesona.

Misalnya saja dirinya secara jenius bisa memperlihatkan lukisan Gunung Agung dengan kemegahannya. Beberapa karyanya yang terkenal di antaranya adalah Mountains and Pond (1938), Balinese Legend (1929), serta A View from the Heights (1934).

Tidak hanya sibuk dalam melukis, dirinya pun menjadi seorang koreografer, desainer, naturalis, fotografer, kurator, hingga konsultan film. Kesibukan ini membuat dirinya menjadi seperti selebritis. Karena status inilah, rumahnya di Ubud kerap didatangi oleh para tamu-tamu asing. Tamu-tamunya bukan orang biasa, mulai dari bintang film, miliarder, hingga bangsawan.

Gang Poppies Bali, Romantisme Lagu Slank hingga Tersohor ke Seluruh Dunia

Sebut saja Antropolog Margaret Mead (asal Amerika), pelukis Miguel Covarrubias (asal Meksiko), aktor Charlie Chaplin (asal Amerika), hingga seksolog Magnus Hirschfeld (asal Jerman) pernah menjadi tamunya.

Hal inilah yang lantas membuat popularitas nama Pulau Dewata melesat di luar negeri. Para tamu yang datang memiliki pengalaman serupa, bahwa di Hindia Belanda yang jaraknya terbentang ribuan kilometer dari Eropa, terdapat surga dunia.

Selain itu, di pulau itu Spies juga mengembangkan kesenian Bali. Misalnya saja mengajarkan anak-anak Ubud melukis. Di sini terjadi kontak budaya antara pelukis Bali yang memiliki teknik tradisional tinggi dan pelukis barat.

"Kepandaiannya yang menakjubkan dan hubungannya dengan kebudayaan Jawa dan Bali menggambarkan suatu pertemuan budaya Barat dan Timur yang paling berhasil," tulis peneliti Jepang, Miyuki Soejima, dalam Walter Spies and Weimar Culture and The Sultan′s Kapellmeister yang dinukil dari Historia.

Dirinya juga mendirikan kelompok seniman Pita Maha yang membuka cakrawala bagi para pelukis Bali dalam hal tema, pewarnaan, hingga perspektif dan permainan cahaya. Hal ini juga melihat dari perubahan seni rupa Bali yang mulai menjadi seni pesanan demi memenuhi permintaan turis.

"Pelukis-pelukis Pita Maha juga terbukti mampu merumuskan konsep estetika yang khas, sebagai capaian ideologi seni mereka, yang hingga kini tetap menginspirasi pelukis-pelukis Bali," ucap I Wayan ‘Kun’ Adnyana dalam artikel Arena Seni Pita Maha: Ruang Sosial dan Estetika Seni Lukis Bali 1930‘an

Akhir tragis di tengah laut

Peran Spies dalam dunia seni mulai mendapat tantangan pada tahun 1930-an. Saat itu polisi di seluruh Hindia Belanda menggelar operasi besar-besaran terhadap lebih dari 200 pria, kebanyakan warga Eropa, yang dicurigai bersalah berhubungan seks dengan anak laki-laki di bawah umur (di bawah usia 21 tahun).

Spies sendiri merupakan seorang homoseksual. Aturan pemerintah kolonial tidak bisa menoleransi perilaku tersebut. Jika terbukti bersalah, hukuman lima tahun penjara sudah menanti.

Pada akhirnya Spies ditangkap pada 31 Desember 1938. Teman-teman Bali-nya menggelar pertunjukan gamelan di dekat penjara. Walau begitu, di penjara dirinya tetap bisa melukis dan bermain musik.

Di penjara Surabaya dia menghasilkan karya terbaiknya, "The Landscape and Its Children". Setelah delapan bulan, tepatnya 1 September 1939 dirinya dibebaskan.

Usai bebas, dirinya hanya bisa mengambil napas sebentar untuk melukis. Perang Dunia II kemudian berkecamuk, Jerman menginvasi beberapa negara Eropa, termasuk Belanda.

Mengenal Suku Bali Aga, Masyarakat Pertama yang Mendiami Pulau Dewata

Imbas dari serangan itu, pemerintah kolonial Hindia Belanda kemudian menangkap ratusan warga keturunan Jerman. Spies lalu diangkut ke kapal Van Imhoff dan dibuang ke Sri Lanka sebagai tahanan perang.

Nahas, ketika sedang berlayar di perairan barat Sumatra, peluru armada Angkatan Laut Kekaisaran Jepang menenggelamkan Van Imhoff. Angkatan laut Jepang tak tahu bahwa kapal yang diserangnya itu adalah kapal yang membawa tahanan perang. Spies yang berada di dalamnya seketika tewas di usia 47.

Perjalanan seninya harus berakhir tragis, tapi Spies telah meninggalkan warisan yang penting bagi Pulau Dewata. Selama 14 tahun tinggal di sana ia berandil mengubah perspektif masyarakat akan seni dan mengenalkan Bali pada dunia luar.

Saat ini, lukisan dari Spies menjadi karya seni berharga yang diburu oleh para kolektor. Tidak hanya itu, rumah yang pernah ditinggali oleh Spies juga memiliki nilai sejarah penting tersendiri bagi masyarakat Bali.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

RK
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini