Menelusuri Ulu Rawas, Jejak 4 Ribu Tahun Peradaban Manusia Sumatra yang Terlupakan

Menelusuri Ulu Rawas, Jejak 4 Ribu Tahun Peradaban Manusia Sumatra yang Terlupakan
info gambar utama

Sumatra Selatan (Sumsel) sejak lama telah dikenal sebagai pusat peradaban masa lampau. Bahkan sebelum kehadiran Kerajaan Sriwijaya, wilayah ini telah memiliki peradaban yang cukup maju seperti terekam pada peninggalan artefak.

Misalnya saja saat mendatangi Gua Batu yang terletak di Desa Napal Licin, Kecamatan Ulu Rawas, Kabupaten Musi Rawas (Mura), Provinsi Sumsel. Karena gua ini berada di kawasan desa Napal Licin maka disebut oleh masyarakat setempat dengan nama Gua Napal Licin.

Mulut gua menghadap barat. Kondisinya kering, sebagian permukaan datar. Tanahnya lempung berpasir, dan sebagian dipenuhi kotoran kelelawar. Terdapat stalaktif dan stalagmit, serta lumut dan tanaman merayap.

Jika ingin naik ke atas gua, dapat melalui sebuah lubang dengan diameter 45 sentimeter yang bagian luarnya dipenuhi lumut. Dari atas Bukit Batu [189 meter dari permukaan laut], terlihat hamparan hutan, sungai, dan pemukiman (desa) yang berada di sekitar Taman Nasional Kerinci Sebelat (TNKS).

Dahulunya tempat ini dikenal sebagai objek wisata sejak masa Pemerintahan Belanda. Tetapi setelah ada penelitian Balai Arkeologi (Balar) Sumsel pada 2012 baru diketahui ada jejak hunian manusia purba.

Ada 13 artefak batu yang ditemukan. Satu buah temuan alat masif berupa kapak perimbas (chopper) dengan bagian tajaman melintang.

“Berdasarkan penelitian selanjutnya, Gua Batu diperkirakan ada hubungannya dengan kompleks gua manusia purba di Bukit Bulan, Sarolangun, Jambi. Carbon datingnya lebih tua yakni 5.000 tahun lalu,” kata Sigit Eko Prasetyo, arkeolog dari Balar Sumsel, menukil Mongabay Indonesia, Senin (4/10/2021).

Bedasarkan carbon dating yaitu penentuan usia suatu objek materi organik berdasarkan sifat radiokarbon. Gua Batu yang berada di ketinggian sekitar 189 meter dari permukaan laut ini, terhubung dengan kehidupan manusia purba sekitar 4.000 tahun lalu.

Homo Erectus Bumiayu, Penemuan Fosil Manusia Purba Tertua di Jawa

Ada beberapa bukit yang sangat dihormati masyarakat Desa Napal Licin yakni Bukit Sabit, Bukit Batu, Bukit Karangnato, Bukit Payung, dan Bukit Semambang. Semua ini terhubung dengan legenda Si Pahit Lidah, sosok manusia sakti yang dipercaya pernah hidup pada masa lalu.

Saat itu area Gua Batu ini memang dipercaya masyarakat telah menjadi hunian atau rumah. Tetapi selanjutnya disumpah Si Pahit Lidah menjadi batu.

Legenda ini pun dikaitkan dengan keberadaan dua batu peninggalan peradaban megalitikum, yakni Batu Larung (silindrik) yang disebut warga sebagai “Batu Kuning”, dan Batu Megas. Dua batu yang dikeramatkan masyarakat ini dianggap sebagai bukti kehidupan masa megalitikum sekitar 3.000 tahun lalu.

“Wilayah TNKS yang masuk wilayah Sumsel dan Jambi merupakan lanskap peradaban manusia purba dan sejarah,” kata Sigit.

Menelusuri Sungai Rawas

Saat kita menelusuri lanskap Sungai Rawas dari Kecamatan Rawas Ulu hingga Kecamatan Ulu Rawas. Tercatat ada 54 anak sungai, dimulai dari Sungai Betuah, Sungai Buluh, Sungai Ratau, Sungai Betung, Sungai Baru, Sungai Tambang, Sungai Beringin, hingga Sungai Keruh.

Hal yang menarik adalah, dari anak sungai ini, berbagai suku hadir di hulu Sungai Rawas sejak ratusan tahun lalu. Misalnya Suku Rejang, Merangin Kerinci, Palembang, dan Jawa.

Bedasarkan penuturan Awi, tokoh masyarakat Desa Napal Licin, Desa yang masuk wilayah TNKS di Kecamatan Ulu Rawas ini merupakan permukiman yang dibentuk Suku Rejang (Bengkulu).

"Leluhur kami [Rejang] datang melalui hulu Sungai Kulus (Lebong dan Rejang, Bengkulu). Sungai Kulus ini anak Sungai Rawas. Permukiman yang dibuat pertama Napal Licin, selanjutnya ke hulu (Desa Kuto Tanjung) dan ke hilir seperti Desa Sosokan, Muara Kuis, dan Muara Kulam. Leluhur kami datang untuk berkebun dan bertani,” ucapnya.

Menguak Lukisan Purba di Pulau Tak Berpenghuni di Maluku

Sementara itu pada akhir tahun 1811, Sultan Mahmud Badaruddin II (Sultan Palembang) menyingkir ke Muara Rawas karena berkonflik dengan Inggris. Pelarian ini meninggalkan wong Palembang, yang kini banyak menetap di Lubuk Mas, Kecamatan Rawas Ulu.

“Ulu Rawas itu punya marga sendiri yakni marga Ulu Rawas,” kata Ahmad S Subari, Ketua Pengurus Pembina Adat Sumsel, Selasa (29/12/2020).

Marga adalah penyebutan masyarakat adat di Sumsel. “Di Musi Rawas termasuk Muratara terdapat banyak marga. Menandakan wilayah tersebut sejak dahulu didatangi berbagai suku bangsa,” kata Subari.

Kaya akan sumber daya alam

Begitu melimpahnya Sumber Daya Alam (SDA) yang terdapat di Sumsel dianggap menjadi alasan banyaknya migrasi ke wilayah ini. Pasalnya Sumsel memang kaya akan gunung yang merupakan sumber mata air bagi sungai utama yang mengalir dari barat ke timur.

Sumsel juga kaya akan sungai besar yang mengalir di daerah dataran rendah. Sungai Musi mendominasi seluruh wilayah dengan semua sisi merupakan pertemuan sungai-sungai besar lain dari daerah uluan dan berakhir pada perairan Selat Bangka.

Sementara itu kondisi hutan tropis di Ulu Rawas atau TNKS tidak berubah dari kondisinya 5.000 tahun lalu. Kaya dengan SDA. Karena itulah pasca masa megalitikum, banyak suku bangsa datang ke Ulu Rawas.

Hal ini juga bisa dibaca dalam Prasasti Karang Berahi. Pada prasasti itu berbicara sebuah kutukan bagi orang yang tidak tunduk atau setia kepada raja, dan orang-orang yang berbuat jahat.

Ancaman kutukan ini dilakukan Raja Sriwijaya mungkin guna menguasai atau melindungi sumber mineral berharga seperti emas, timah hitam, dan besi di lanskap Bukit Barisan (Ulu Rawas, Rawas Ulu, dan Merangin).

Asumsi ini diperkuat dengan temuan pada Situs Karang Berahi berupa struktur bata empat persegi (5,26 x 1,96 meter), sekitar 200 meter dari Sungai Merangin. Di bawah bangunan ini ditemukan empat tempayan yang berisi butiran emas dan manik-manik kaca.

Baik pada masa kerajaan, kesultanan, kolonial Eropa, hingga Pemerintahan Indonesia saat ini. Selain hasil hutan, emas memang telah diburu di wilayah ini.

Kisah Migrasi Manusia di Pegunungan Karst Sulawesi Selatan

"...Selain itu, terobosan dan arus keluar batuan andesit dan liparit menyebabkan munculnya deposit biji emas dan perak," catat Dr Thomas Horsfield naturalis dan ahli kedokteran pada masa Belanda.

Pulau itu memang banyak diserbu pendatang yang mengadu nasib dan mengejar keuntungan ekonomi dengan membuka berbagai macam usaha, baik perorangan maupun korporasi. Penduduk lokal Sumsel menyebut masa tersebut sebagai oedjan mas atau hujan emas.

"Pembagian oedjan mas merata baik pemerintah kolonial Belanda maupun masyarakat lokal. Orang-orang Eropa yang datang berpetualang mencari keuntungan banyak ditampung instansi, baik partikelir maupun non-partikelir," tulis Trihayanto dalam Pers Perlawanan Politik Wacana Antikolonialisme Pertja Selatan.

"....Para pengusaha swasta Eropa masuk membawa modal ke Sumsel seperti gelombang besar. Koran lokal, Pertja Selatan, yang terbit pada masa kolonial melukiskan para pengusaha kala itu sebagai kaoem oeang yang bergerak di balik soerga doenia," tambahnya

Kerusakan alam yang hilangkan identitas

Hingga kini penambangan emas masih terlihat saat menelusuri Sungai Rawas di Rawas Ulu dan Ulu Rawas. Masih terdengar suara mesin diesel dompeng yang digunakan untuk mengisap pasir dan batuan untuk mendapatkan butiran emas.

Menukil dari Mongabay Indonesia, penggunaan dompeng marak sejak sembilan tahun terakhir. Penambangan ini merusak (mencemari) air Sungai Rawas yang debitnya terus menurun. Awalnya pada 2001 di Desa Lubuk Mas, kemudian menyebar ke Desa Pulau Kidak, Jangkat, dan Muara Kulam pada 2014.

Selain di Sungai Rawas, sebelumnya penambangan emas marak di Sungai Dingin, anak Sungai Batang Asai, Kabupaten Sarolangun, Jambi.

“Tidak ada warga desa kami (Napal Licin) yang menambang emas di sungai, sebab mengkeruhkan air. Air Rawas ini buat minum, mandi dan mencuci,” kata Awi.

“Dilarang menambang emas di sini. Tidak ada emas di sungai ini,” kata seorang perempuan di Desa Kuto Tanjung, yang tengah mencuci di tepian Sungai Rawas.

Seperti Apa Manusia Maros 2.750 Tahun yang Lalu? Temuan Ini Menjawabnya

“Pernah ada yang mencoba mencari emas di sini, tapi tidak dapat, dan juga langsung dilarang warga kami,” lanjutnya.

Selain penambangan, Syarif Hidayat, saat menjabat Bupati Muratara pada 2019 lalu melaporkan kasus pembalakan liar di wilayah TNKS kepada Gubernur Sumsel. Dikutip dari sumsel.idntimes.com, Syarif menyatakan sekitar 200 ribu hektare wilayah TNKS di kabupatennya marak dengan kegiatan itu.

Padahal dengan rusaknya lanskap Ulu Rawas bukan hanya terancamnya kekayaan flora, fauna, hutan, sungai, dan bukit. Tapi juga jejak peradaban manusia di Sumatra.

“TNKS ini sumber dari segala kehidupan pada masa mendatang. Tidak hanya untuk Kabupaten Musi Rawas Utara, tetapi juga buat dunia.” ucap Devi Suhartoni, Bupati Musi Rawas Utara yang baru terpilih pada 2020.

“Saya juga menghimbau kepada seluruh masyarakat agar TNKS, jangan dirusak. Kita ke depan akan bersama-sama memanfaatkan TNKS, tapi tetap terjaga. Harus ada kegiatan ekonomi yang tidak merusak, dan kita gali budayanya.”

Dr. Najib Asmani, pegiat lingkungan dari Universitas Sriwijaya, mengatakan apa yang disampaikan Devi Suhartoni merupakan peluang bagi para pegiat lingkungan dan budaya untuk menyelamatkan TNKS dari kerusakan yang lebih parah.

“Ini peluang bersama. Saya pikir para pegiat lingkungan, budayawan, arkeolog, beserta masyarakat bekerjasama dengan TNKS dan Balar Sumsel bersatu menyusun agenda bersama, dan melakukan berbagai upaya agar TNKS terjaga dari berbagai aktivitas yang merusak seperti penambangan liar dan perambahan,” sebutnya.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

RK
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini