Sosok Pramodhawardani, Ratu yang Perintahkan Bangun Ratusan Candi di Jawa Tengah

Sosok Pramodhawardani, Ratu yang Perintahkan Bangun Ratusan Candi di Jawa Tengah
info gambar utama

Puncak kejayaan era klasik kuno Indonesia pada abad ke-9 ditandai dengan berdirinya bangunan-bangunan monumental di dataran tanah Jawa pada waktu itu. Kemegahan Borobudur yang termasyhur hingga saat ini menyimpan banyak misteri tentang proses berdirinya dan nilai fungsi dari bangunan tersebut.

Kehadiran Borobudur oleh Samaratungga, Raja Mataram Kuno atau kerap disebut Medang dari wangsa Syailendra, menjadi salah satu saksi sepak terjang tokoh wanita yang berperan pada era itu, Pramodhawardani (833-856 Masehi)

Dirinya adalah anak sulung Samaratungga yang namanya tercatat di beberapa prasasti yang terbit di seputar abad ke-IX di tanah Jawa khususnya kerajaan Medang di Bumi Mataram.

Nama Pramodhawardani ditemukan dalam prasasti Kayumwungan tanggal 26 Maret 824 Masehi. Menurut prasasti itu, dia meresmikan sebuah bangunan Jinalaya bertingkat-tingkat yang sangat indah. Bangunan ini umumnya ditafsirkan sebagai Candi Borobudur.

Sementara itu, prasasti Tri Tepusan tanggal 11 November 842 Masehi menyebutkan adanya tokoh bergelar Sri Kahulunan yang membebaskan pajak beberapa desa agar penduduknya ikut serta merawat Kamulan Bhumisambhara (nama asli Candi Borobudur).

Desa Ini Jadi Desa Tertua Indonesia yang Berusia Lebih Dari Seribu Tahun

Sejarawan Dr. De Casparis menafsirkan istilah Sri Kahulunan dengan “permaisuri”, yaitu Pramodhawardani, karena pada saat itu Rakai Pikatan diperkirakan sudah menjadi raja.

Pendapat lain dikemukakan oleh Drs. Boechari yang menafsirkan Sri Kahulunan sebagai ibu suri. Misalnya, dalam Mahabharata tokoh Yudhisthira memanggil ibunya, yaitu Kunti, dengan sebutan Sri Kahulunan. Jadi, menurut versi ini, tokoh Sri Kahulunan bukan Pramodhawardani, melainkan ibunya, yaitu istri Samaratungga.

Maharaja Samaratungga kemudian lengser keprabon pada 833 Masehi, Pramodhawardani ditetapkan sebagai putri mahkota Mataram. Namun ada pihak yang tidak terima dan merasa lebih berhak melanjutkan takhta, sosok ini bernama Balaputradewa.

Ada teori yang menyebut hubungan antara Balaputradewa dan Pramodhawardani adalah kakak-adik. Balaputradewa merasa berhak menjadi penerus karena dia seorang laki-laki meskipun bukan anak tertua.

Sedangkan teori yang lain menyebut Balaputradewa bukanlah adik Pramodhawardani, melainkan saudara Samaratungga. Dengan kata lain, Balaputradewa adalah paman Pramodhawardani yang merasa lebih pantas mengambil-alih kekuasaan karena Samaratungga tidak punya anak laki-laki.

Terlepas dari perbedaan tafsir tentang status Balaputradewa, pertikaian sengit keduanya tetap terjadi. Dibantu suaminya, Rakai Pikatan, Pramodhawardani menang.

Balaputradewa terpaksa harus minggat dari Medang dan pergi ke Sumatra. Di sana, dia mewarisi Kerajaan Sriwijaya dari kakeknya, Dharmasetu. Diyakini, Dharmasetu merupakan ayah Balaputeradewa dan Samaratungga.

Pernikahan beda agama yang persatukan kerajaan

Pernikahan antara Pramodhawardani dan Rakai Pikatan juga tergolong unik. Pasangan ini berasal dari dua dinasti besar di Jawa yang memiliki agama berbeda.

Para cendekiawan memang menyakini terdapat dua wangsa di Jawa, yakni Sanjaya dan Syailendra. Hal ini bedasarkan penuturan dari para sarjana asing: FH van Naerssen, Bosch, George Coedes, WF Stutterheim, atau JG de Casparis.

Menukil dari Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia (1973), R Soekmono menyebutkan, Pramodhawardani berasal dari wangsa Syailendra yang memeluk Buddha aliran Mahayana, sedangkan Rakai Pikatan adalah pangeran dari wangsa Sanjaya yang beragama Hindu aliran Syiwa.

Mataram Kuno, Kerajaan Toleransi Bercorak Hindu-Buddha

Pramodhawardani menjadi ratu pertama yang tercatat dalam sejarah Indonesia yang menikah berbeda agama. Tiga abad kemudian, Ken Arok--Raja Singhasari penganut Hindu--mengawini Ken Dedes yang beragama Buddha.

Pernikahan antara Pramodhawardani dengan Rakai Pikatan menjadi momen bersatunya keluarga kerajaan yang telah lama berseteru. Hal ini juga membuat pemeluk Hindu dan Buddha bisa hidup dengan rukun.

Dari perkawinan Rakai Pikatan dengan Pramodhawardani diperkirakan lahir Rakai Gurunwangi Dyah Saladu (prasasti Plaosan) dan Rakai Kayuwangi Dyah Lokapala (prasasti Wantil). Berkat jasanya dalam menumpas musuh negara bernama Rakai Walaing Mpu Kumbhayoni, Rakai Kayuwangi pun bisa menjadi raja sesudah Rakai Pikatan.

Memerintahkan pembangunan candi

Sosok Pramodhawardani memang telah dianggap istimewa oleh masyarakat Mataram. Hal ini terlihat dari prasasti Kayumwungan yang memuat puji-pujian istimewa yang ditujukan kepadanya.

Dikatakan pada bait 10 yang menggunakan bahasa Sanskerta, bahwa Sri Pramodhawardani merupakan seorang putri yang cantik jelita dengan berbagai macam keistimewaan lainnya. Bagian itu berbunyi sebagai berikut:

"Kecantikannya diperoleh dari bulan purnama, lenggangnya dari angsa, dan suaranya dari burung kalawingka. Ia yang mulia bernama Pramodhawardani."

Ternyata Ikan Asin Tertulis di Prasasti Jaman Mataram Kuno

Keistimewaan Pramodhawardani bukan hanya karena kecantikannya, suaranya yang merdu, dan kemolekkan tubuhnya. Melainkan juga karena jasa-jasanya membangun candi bersama-sama ayahnya, Samaratungga.

Candi yang dibangunnya itu merupakan candi agama Buddha (Jinamandira) yang disebut Wenuwana atau Srimad Wenuwana, berarti 'Yang Mulia Candi Hutan Bambu'. Dalam bahasa Sanskerta wenu berarti bambu dan wana adalah hutan.

Sampai sekarang, tepatnya di sebelah barat Muntilan dan relatif tidak jauh dari Candi Mendut, masih terdapat sebuah candi agama Buddha yang disebut Candi Ngawen oleh penduduk setempat. Candi Ngawen ini terkenal dengan arca singa yang menopang setiap sudut bagian kaki candi.

Secara etimologi, perkataan Ngawen berasal dari awi (bambu) yang kemudian mendapat imbuhan 'an'. Dengan demikian hal ini mengingatkan kita kepada Wenuwanamandira, Candi Hutan Bambu yang pernah dibangun oleh raja Samaratungga bersama-sama putrinya, Sri Pramodhawardani.

Kemudian sekitar tahun 800 Masehi Candi Borobudur dibangun oleh Raja Samaratungga. Candi ini dibangun pada tahun 824 Masehi dan selesai pada masa pemerintahan Ratu Pramodhawardani.

Saat dirinya telah berkuasa didampingi Rakai Pikatan, toleransi agama di Kerajaan Medang begitu kuat. Dirinya bahkan mengizinkan suaminya membangun candi-candi Hindu di wilayah Medang. Sebaliknya, Rakai Pikatan pun tidak segan-segan membantu pendirian candi-candi umat Buddha.

Saat itu Rakai Pikatan memerintahkan untuk membangun candi-candi Siwa, yaitu percandian Loro Jonggrang di Prambanan, yang saat ini dikenal sebagai kompleks candi Hindu terbesar di Indonesia. Sedangkan candi kecil lainnya yang berada di kompleks Candi Prambanan dibangun pada masa raja berikutnya.

Rakai Pikatan juga ikut menyumbang untuk pembangunan candi-candi Buddha, termasuk di wilayah Plaosan, dekat Prambanan (kini perbatasan antara Yogyakarta dan Kabupaten Klaten). Candi itu dikenal sebagai monumen cinta Rakai Pikatan kepada istrinya, Pramodhawardani.

Candi-candi tersebut didirikan masyarakat secara gotong-royong tanpa memandang agama. Baik Buddha maupun Hindu membantu membangunnya. Hal ini menunjukkan kedamaian dan kerukunan antar umat beragama di bawah pimpinan Pramodhawardani.

Rakai Pikatan kuasai Medang?

Di tengah kerukunan kedua keluarga besar dalam memerintah Kerajaan Medang, tersimpan suatu persoalan bahwa Rakai Pikatan dianggap terlalu dominan dalam pemerintahan daripada istrinya.

Dalam Sejarah Kebudayaan Indonesia, Asmito (1992) menyebutkan bahwa Rakai Pikatan sejatinya ingin melenyapkan kekuasaan Wangsa Syailendra. Untuk mencapai maksud tersebut, dia menikahi Pramodhawardani, sekaligus berhasil mendepak Balaputradewa.

Dirinya melakukan manuver dengan berhati-hati dan penuh kesabaran selama bertahun-tahun. Setelah mendapatkan posisi sebagai raja, Rakai Pikatan kemudian sedikit demi sedikit mengambil kekuasaan.

Misalnya saja Raja Sanjaya itu akhirnya berhasil memindahkan pusat pemerintahan Kerajaan Medang yang semula berada di Mataram (Yogyakarta) ke daerah Mamwratipura atau Kedu (Temanggung). Kemudian membangun Candi Prambanan, candi Hindu termegah di Jawa.

Pembangunan Candi Prambanan itu salah satu bentuk perebutan kekuasaan sekaligus kebangkitan kembali Wangsa Sanjaya, demikian tulis pakar epigrafi Johannes Gijsbertus de Casparis, dalam buku Memuji Prambanan: Bunga Rampai Para Cendekiawan Belanda tentang Kompleks Percandian Loro Jonggrang, karya Roy Jordan (2009).

Museum Mpu Purwa Simpan Peninggalan Kuno dari 5 Kerajaan Sekaligus

“Konsolidasi dinasti Rakai Pikatan menandai permulaan zaman baru, yang mesti diresmikan oleh pembangunan sebuah kompleks percandian besar," catat Casparis.

Benar atau tidaknya perkiraan itu, Pramodhawardani adalah ratu yang luar biasa dalam sejarah Kerajaan Mataram Kuno. Belum jelas tahun wafatnya Pramodhawardani, namun kekuasaan kemudian beralih pada Rakai Pikatan yang membangkitkan kembali Wangsa Sanjaya.

Menurut Prasasti Wantil, Rakai Pikatan turun takhta menjadi Brahmana pada 856 Masehi. Takhta dilanjutan oleh Dyah Lokapala (Rakai Kayuwangi). Mataram Kuno masih bertahan sampai beberapa generasi tapi karena banyak terjadi pemberontakan, mereka tidak bisa berjaya seperti para pendahulunya.

Hingga akhirnya, usai era Rakai Bawa (924-929 M)--keturunan Rakai Pikatan, Kerajaan Medang diperintah oleh menantunya, yakni Mpu Sindok. Ia lantas memindahkan pusat kerajaan ke Jawa bagian timur karena letusan dahsyat Gunung Merapi.

Mpu Sindok kemudian mendeklarasikan dinasti baru bernama Isyana, sekaligus menutup riwayat wangsa Sanjaya. Kelak, dari Wangsa Isyana ini lahir kerajaan-kerajaan besar di tanah Jawa, mulai dari Kahuripan, Singasari, Kediri, Majapahit, hingga Mataram Islam seperti Demak, Pajang, Mataran Islam di Surakarta, dan Yogyakarta.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

RK
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini