Kamp Plantungan, Kisah Penjara Perempuan Simpatisan Gerwani yang Tak Berbekas

Kamp Plantungan, Kisah Penjara Perempuan Simpatisan Gerwani yang Tak Berbekas
info gambar utama

Peristiwa tragedi Gerakan 30 September (G30S) 1965 di Jakarta mengakibatkan munculnya permasalahan politik bagi bangsa Indonesia. Di samping tragedi saling membunuh antar anak bangsa, juga timbul masalah baru bagi anggota Partai Komunis Indonesia (PKI) dan simpatisannya.

Pasca pembubaran PKI dan onderbouw-nya, fase yang menyedihkan bagi pihak yang dituduh terlibat dalam gerakan itu dimulai. Begitu pula bagi para anggota Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani) yang dianggap terlibat dalam peristiwa G30S 1965.

Setelah melalui serangkaian pengangkapan, interogasi, dan penahanan, mulai April 1971 tahanan politik (tapol) wanita yang termasuk golongan B di kirim ke Plantungan.

Plantungan adalah suatu kamp pengasingan bekas rumah sakit lepra pada zaman Kolonial Belanda, yang kemudian diubah fungsinya jadi Penjara Anak Negara pada 1968.

"Pemindahan sejumlah tapol wanita ke Kamp Plantungan oleh pemerintah Indonesia agar para tapol menjadi lebih terampil. Bekal keterampilan nantinya dapat digunakan ketika tapol kembali ke kehidupan masyarakat luar," catat Amuwarni Dwi Lestariningsih dalam bukunya Gerwani: Kisah Tapol Wanita di Kamp Plantungan.

Plantungan adalah sebuah nama desa yang terletak di Kecamatan Plantungan, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah. Desa ini berada di bawah kaki Gunung Prahu (Prau) yang diapit oleh Gunung Butak dan Kemulan, di jajaran Pegunungan Dieng.

“Aku segera merasa sreg di tempat itu (kamp Plantungan). Hawa segar, pemandangan indah pada pagi hari, dari lereng pegunungan, terdengar suara ayam hutan. Sama-sama ditahan, tempat ini jauh lebih menyenangkan, juga lebih sehat daripada penjara yang serba tertutup," ucap Mia Bustam membandingkan Kamp Plantungan dengan penjara sebelumnya tempat dia ditahan.

Mobil-Mobil Saksi Bisu Keganasan G30S/PKI

Jumlah Tapol Wanita yang ke pengasingan cukup banyak, bedasarkan catatan pemerintah jumlahnya 500 orang. Mereka di antaranya Mia Bustam (istri pelukis S.Sudjojono), Rose Pandanwangi (penyanyi seriosa), Sri Kayati (istri Rewang, anggota Politbiro PKI).

Kamp Plantungan sendiri memiliki enam blok besar yang dipagari dengan kawat berduri yakni, Blok A, B, C, D, E, dan F. Setiap bloknya berbentuk empat persegi panjang dengan dinding tembok dan lantainya terbuat dari plesteran semen. Setiap blok memiliki ketua dan wakil yang bertugas mengoordinasi para tahanan.

Bagi tahanan yang masuk dalam klasifikasi berat seperti dosen, seniman, guru, tenaga kesehatan maupun profesi lainnya yang memiliki nama besar dan dikenal publik dikategorikan dalam golongan B. Mereka ditempatkan di Blok C.

"Mereka adalah kaum yang telah mengetahui adanya gerakan pengkhianatan, menunjukkan sikap yang bersifat menyetujui gerakan tersebut, atau menghambat usaha-usaha penumpasan gerakan pengkhianatan," tulis Amuwarni menukil Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 13/Kogam/7/1966.

"Bagi golongan B, mereka "dipisah" dari masyarakat, dengan mengumpulkan mereka di suatu tempat. Mereka "diamankan" dari kemarahan rakyat dan mencegah jangan sampai melakukan kegiatan yang menghambat upaya penertiban yang dilakukan pemerintah," tambahnya.

Para tapol wanita dalam Kamp Plantungan

Kedatangan para tapol rombongan pertama di Kamp Plantungan diterima oleh Kepala Tefaatra Mayor Prayogo. Kondisi kamp saat itu sangat memprihatinkan, tempat itu masih perlu penanganan untuk dapat ditempati.

Di setiap kompleks kamp masih ditemukan binatang berbisa dan tumbuh-tumbuhan liar. Seorang tapol wanita tersengat kalajengking pada jari kakinya saat sedang mandi.

"Tapol itu tidak dapat berjalan hingga beberapa waktu lamanya karena bengkak di kaki. Beberapa temannya berusaha menolong dan menyembuhkan luka akibat serangan itu," tulisnya.

Selain itu para tahanan yang datang pada gelombang pertama memang memiliki tugas ekstra membersihkan rumput-rumput dan alang-alang yang tumbuh liar di sekitar kompleks bangunan kamp. Mereka melakukan kerja bakti dengan peralatan seadanya, yaitu arit yang sudah tumpul dan cangkul.

Macam-macam kejadian dialami para tapol saat melakukan kerja bakti, seperti menemukan potongan tulang manusia. Beragam kejadian pun diceritakan tentang tempat yang akan mereka tempati tersebut.

"Di sana saat kami datang masih seperti hutan, di atas atap itu masih ada ular besar, sebesar paha, saat itu petugas datang, mungkin pawang, mengambil ular itu," cerita tapol bernama Bu Kusnah.

Listrik belum terpasang di Kamp Plantungan. Untuk penerangan ruangan pada malam hari digunakan lampu tempel dan lampu minyak. Jalan-jalan dilingkungan kamp juga masih menggunakan lampu minyak.

Mengenang Francisca Fanggidaej, Pejuang Kemerdekaan yang Terhapus dari Sejarah

Malam akan terasa gelap dan dingin. Suasana malam penuh dengan irama alam. Suara burung hantu akan memecah kesunyian pada setiap malam.

Di Plantungan inilah timbul perasaan sepi dan putus asa karena para tahanan politik dijauhkan dari keluarga dan masyarakat. Kebebasan yang dirampas, hak asasi yang direnggut, kebebasan yang hilang dengan stempel tapol membuat mereka sangat menderita.

Pertemuan dengan keluarga juga sering kali membawa suasana yang penuh emosional. Kejadian itu merupakan hal yang juga sering dialami oleh Tapol lainnya.

Heryani Busono mengingat masa-masa itu dengan mata yang menerawang dan suara yang bergetar. “Benar-benar terkurung tubuh saya,” katanya.

Untuk melampiaskan rasa rindu pada anaknya, di kamp itu Heryani membuat nyanyian berjudul Lagu untuk Anakku. Dia yang menulis liriknya, sementara notasinya digubah oleh Djuwita. Lagu itu ditulisnya dengan bantuannya penjaga asrama tahanan politik di Plantungan.

Sebagian besar tapol juga merasakan perasaan terbuang ketika mereka dipindahkan ke Kamp Plantungan. Perasaan tak berguna, putus asa, dan ketidakpastian akan kehidupan pada masa depan dirasakan hampir semua tapol.

"Kami dianggap penyakit kusta, uteknya (otaknya) yang mungkin kena kusta. Jadi perlu disingkirkan seperti orang-orang yang kena kusta itu," pengakuan dari Putmainah.

Tetap berjuang walau dibebaskan

Masa penahanan para tapol di Kamp Plantungan berakhir setelah Palang Merah Internasional mendesak pemerintah Indonesia mengembalikan para tahanan politik ke masyarakat. Pada 1975, pemerintahan Soeharto mulai membebaskan mereka.

Sedangkan, 45 tahanan yang digolongkan berideologi komunis kuat selanjutnya direlokasi ke "inrehab" Bulu, Semarang, pada 1976. Tiga di antaranya, dokter Sumiyarsi, Mia Bustam, juga wartawan Istana, Roswati. Sedangkan, tahanan lainnya resmi meninggalkan Plantungan pada 1978-1979.

Walau begitu ada beberapa kebijakan pemerintah Orde Baru (Orba) terhadap para bekas tapol dan keturunannya yang dilarang bekerja sebagai anggota ABRI, Pegawai Negeri Sipil (PNS), pegawai perusahaan vital lainnya, seperti listrik dan telkom.

"Ada kecendrungan para tapol kemudian membuka warung demi mempertahankan hidupnya," tulis Amuwarni.

Beberapa bekas tapol juga menyiasati ketentuan ini dengan cara-cara tertentu agar anaknya bisa diterima sebagai PNS. Seperti Sukini yang mengganti status orang tua dan desa asal anak-anaknya dalam akta lahir dan surat-surat keterangan lainnya.

Saksi Mata 1965 : Persaingan Drum Band dan Pengemis Misterius

"Dengan demikian, anak-anak Sukini dapat diterima sebagai PNS," tulis buku tersebut.

Ada beberapa bekas tapol yang juga sulit kembali diterima dalam keluarga dan lingkungan sekitar mereka. Kusnah misalnya memerlukan waktu enam bulan agar anak-anaknya mau menerimanya sebagai seorang ibu.

Kusnah dengan sabar menunggu anak-anaknya agar dapat menerima dirinya. Dia juga tidak dapat menyalahkan anak-anaknya walau itu membuat hancur segala angan-angannya.

"...Saya memang terus terang kepada mereka bahwa maminya sedang ditahan, agar mereka tidak kaget. Tetapi, ya...Itulah mereka tetap masih sulit menerima maminya saat pertama kali pulang dari pembebasan, ya sudah biarkan saja dahulu," ungkapnya.

Kamp Plantungan dan kenangan yang tersisa

Kini Kamp Plantungan sudah berubah, tak ada lagi bangunan blok tahanan tapol perempuan. Pascabanjir bandang yang memporak-porandakan Kamp Plantungan pada 1990 silam.

Dalam bukunya, Amurwani menuliskan bahwa sebenarnya beberapa bangunan yang ada di seberang Kali Lampir masih tersisa beberapa buah setelah banjir bandang. Akan tetapi, karena suatu hal, bangunan itu dimusnahkan.

Sedangkan bangunan di sisi lain yang masih tersisa tetap dimanfaatkan sebagai Tahanan Anak Negara. Menurut penuturan Mariyati, pemerintah kemudian mengalihfungsikan kawasan tersebut sebagai tempat wisata pada tahun 2000.

Dengan kondisi yang tenang dan asri, kawasan bekas kamp kerap didatangi oleh wisatawan. Kini masyarakat lebih mengenal kawasan itu dengan sebutan Bumi Perkemahan Jodipati Plantungan.

Gugurnya Ade Irma Suryani, Perisai dan Kenangan Abadi Sang Jenderal

Jika berjalan ke utara, terdapat kolam renang kecil, dan area untuk berendam dalam air hangat yang dipagari hiasan berbentuk hati. Para pengunjung seringkali duduk di depan hiasan tersebut dan berswafoto bersama.

“Diubah seperti ini agar kesannya tidak pernah terjadi apa-apa,” sesal Kadmi bekas tapol yang dinukil dari Balairung Press, Rabu (6/10/2021).

Padahal Kamp Plantungan dan puing-puingnya bukan hanya sebatas benda mati melainkan juga merupakan situs memori. Bagi Pierre Nora dalam artikelnya, “Between Memory and History: Les Lieux de Mémoire” (1989), situs memori (lieux dé memoire) merupakan sebuah kristalisasi atas sesuatu yang telah terjadi pada masa lalu.

"Menurut sejarawan Prancis ini, situs-situs tersebut sangat berhubungan dengan narasi sejarah dan identitas suatu daerah. Keberadaan situs memori dapat membangkitkan memori kolektif," ucap Oktaria Asmarani dalam tulisannya berjudul Kisah Penyintas ‘65 di Kamp yang Tak Berbekas.

Karena itu diharapkan tur ke Plantungan menjadi suatu upaya agar masyarakat bisa mengetahui fakta sejarah kekerasan politik peristiwa ‘65. “Fakta itu tidak berdasar satu sumber dari rezim pemenang sejarah saja tetapi berdasar suara-suara yang selama ini tidak diperhitungkan,” tutur Tsabita.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini