Manfaatkan Ribuan Botol Bekas, Museum Plastik di Gresik Gaungkan Kepedulian Lingkungan

Manfaatkan Ribuan Botol Bekas, Museum Plastik di Gresik Gaungkan Kepedulian Lingkungan
info gambar utama

Di kalangan anak muda, belakangan pameran atau museum yang mempertontonkan berbagai instalasi dan hasil karya seni sedang populer serta banyak diminati. Dengan sebagian besar instalasi seni yang umumnya memiliki tampilan estetis, tak heran jika banyak dari mereka yang datang untuk mengabadikan setiap sudut yang dinilai menarik untuk dibagikan ke media sosial.

Di tengah kepopuleran tren tersebut, nyatanya ada sebuah komunitas yang ingin menghadirkan hal serupa namun bukan dengan mempertontonkan instalasi berupa karya seni, melainkan hal yang selama ini tak dimungkiri luput dari perhatian masyarakat, yaitu sampah plastik.

Digagas oleh sebuah organisasi pelestarian lingkungan bernama Ecoton dengan menyertakan sejumlah relawan yang didominasi kalangan anak muda, instalasi ini belakangan populer dan banyak dikenal dengan nama museum plastik.

Seperti apa proses pembuatan dan tujuan sebenarnya dari kehadiran museum ini?

Berbagi Tugas Bersihkan Bumi dari Sampah Plastik

Dibuat dari sampah botol plastik asal sejumlah sungai di Jawa Timur

Museum plastik berlokasi di sebuah tanah kosong yang dimiliki oleh Ecoton sendiri, tepatnya di Dusun Krajan, Desa/Kecamatan Wringinanom, Gresik. Lebih detail, lokasinya memang berada di pinggir sungai.

Pada museum tersebut, terdapat beberapa instalasi yang dibuat dengan memanfaatkan sekitar lebih dari 10 ribu sampah yang terdiri dari botol bekas, kantong plastik, sampah sedotan, sampah kemasan barang konsumsi rumah tangga seperti detergen, dan masih banyak lagi.

Ribuan sampah yang dimaksud berasal dari sejumlah sungai yang ada di beberapa kota di wilayah Jawa Timur, seperti Sungai Brantas di Jombang, Sungai Wonokromo di Surabaya, Sungai Marmoyo di Mojokerto, dan Sungai Pelayaran di Sidoarjo.

Diketahui bahwa dibutuhkan waktu sekitar tiga bulan untuk dapat mengumpulkan berbagai sampah dari deretan sungai tersebut.

Pada museum plastik ini ada empat buah instalasi yang dibuat, instalasi pertama yang merupakan terowongan sepanjang 10 meter yang ditutupi dengan jaring-jaring tempat menggantung sebanyak 3.544 botol plastik bekas.

Kemudian di bagian tengah pameran juga terdapat patung Dewi Sri, dewi kemakmuran yang banyak dipuja oleh masyarakat Jawa. Rok panjang dari patung tersebut dibuat dari bekas kemasan produk rumah tangga sekali pakai.

Sementara itu ada juga dua instalasi lain berupa menara tas kresek setinggi enam meter, dan jaring sepanjang delapan meter yang dipenuhi sampah gelas plastik.

AIESEC dan Komunitas Pemuda Surabaya Menyuarakan Bahaya Sampah Plastik di Masa Mendatang

Ajak masyarakat menyadari rasanya hidup dikepung sampah

Prigi Arisandi, Founder Ecoton
info gambar

Melansir JPNN.com, dibangunnya museum plastik ini bertujuan untuk meyakinkan orang-orang agar memikirkan kembali kebiasaan mereka dan menolak tas serta botol sekali pakai. Hal tersebut diungkap oleh Firly Mas’ulatul selaku koordinator pameran museum plastik.

Dirinya menyampaikan keresahan yang dimiliki mengenai kondisi pencemaran sampah di sungai Surabaya, Sidoarjo, Mojokerto, dan Gresik.

"Ada seribu lebih lokasi timbunan sampah di sepanjang Brantas, 55 persen berupa sampah plastik sekali pakai yang akan terpecah menjadi mikroplastik,” ujar Firly.

"Pameran ini bertujuan untuk mengedukasi agar masyarakat mengurangi pemakaian plastik sekali pakai yang banyak mengotori sungai-sungai di Indonesia." tambahnya.

Hal tersebut sejalan dengan apa yang disampaikan Ecoton melalui keterangan tertulis di akun media sosial resminya, mereka menjelaskan bahwa lewat pameran tersebut pengunjung akan diajak untuk menyusuri kehidupan berbagai makhluk hidup yang lingkungannya tercemar oleh sampah.

Sebagai contoh, pada instalasi terowongan yang seluruh bagiannya ditutupi oleh sampah botol bekas, disebutkan bahwa bagian tersebut memiliki tujuan untuk membuat siapapun yang memasukinya akan mengetahui bagaimana rasanya hidup bersanding dengan kumpulan botol dan sampah plastik sama halnya seperti apa yang dirasakan oleh ikan atau makhluk hidup di sungai.

Ancaman Sampah Plastik di Hutan Mangrove Pesisir dan Upaya Mengatasinya

Pengunjung yang mengaku tersadar berkat museum plastik

Melansir Reuters, Prigi Arisandi selaku pendiri Ecoton sebagai pihak yang mendirikan museum plastik kembali mempertegas tujuannya akan apa yang mereka bangun.

“Kami ingin menyampaikan informasi kepada masyarakat untuk menghentikan penggunaan plastik sekali pakai.” ujar Prigi.

Lantas apakah hal tersebut berhasil? Masih berdasarkan sumber yang sama, diketahui bahwa sejak pertama kali dibuka untuk umum pada awal bulan September 2021, museum plastik sudah dikunjungi oleh berbagai masyarakat yang awalnya merasa tertarik untuk menjadikan instalasi yang ada sebagai spot foto.

Namun pada akhirnya, beberapa pengunjung mengaku bahwa mereka mendapat pandangan baru dan memiliki kesadaran lebih akan penggunaan produk yang dikemas dengan plastik.

Salah satu pengunjung yang menyampaikan hal tersebut adalah Ahmad Zainuri, seorang mahasiswa yang mengaku telah membuka mata akan besarnya permasalahan plastik yang terjadi.

"Saya akan beralih ke tas jinjing dan ketika saya membeli minuman, saya akan menggunakan tumbler" ujarnya.

Sementara itu hal serupa juga disampaikan oleh seorang mahasiswa lain bernama Ayu Chandra Wulan.

“Saya harus membeli barang-barang yang dapat digunakan kembali seperti botol minum daripada membeli botol plastik, melihat banyaknya sampah yang ada di sini saya merasa sedih.” tutur Ayu.

SD di Lombok Barat Jadi Sekolah Pertama yang Dibangun dari Bata Sampah Plastik

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Siti Nur Arifa lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Siti Nur Arifa.

Terima kasih telah membaca sampai di sini