Menengok Desa Wineru, Ladang Panel Surya Terbesar di Indonesia

Menengok Desa Wineru, Ladang Panel Surya Terbesar di Indonesia
info gambar utama

Penulis: Nur Annisa Kusumawardani

Gabung ke Telegram Kawan GNFI, follow Instagram @kawangnfi dan Twitter @kawangnfi untuk dapat update terbaru seputar Kawan GNFI.

Indonesia dengan iklim tropis yang dimilikinya menjadi anugerah tersendiri bagi pemenuhan energi, menjadikan peluang bangsa kita dalam mengembangkan teknologi Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS). Ini adalah salah satu energi alternatif terbarukan yang berperan besar, dalam kemandirian energi dan menopang kebutuhan energi masyarakat di Indonesia khususnya masyarakat desa.

Menurut catatan Kementerian Energi dan Sumber Daya Manusia (ESDM), elektrifikasi di Indonesia masih berada pada 55 sampai 60 persen, dan mayoritas wilayah yang belum teraliri listrik adalah wilayah pedesaan. Adanya panel surya yang dapat dibangun di mana saja dengan biaya yang relatif terjangkau, dapat menjadi energi alternatif dalam memenuhi kebutuhan listrik masyarakat.

Indonesia merupakan negara kepulauan yang terdiri dari desa-desa yang menyebar dari Sabang hingga Merauke. Maka, PLTS dapat menjamin masa depan Indonesia yang lebih baik dengan menyediakan kesempatan yang sama bagi masyarakat, untuk memperoleh akses listrik tanpa terhalang batasan geografis.

2050 Indonesia Bisa 'Panen Raya' Listrik dari 10 Miliar Panel Surya

Peluang sumber energi surya di Indonesia

Dilansir dari laman Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), pemanfaatan energi matahari sebagai sumber energi alternatif untuk mengatasi krisis energi. Kususnya minyak bumi, telah terjadi sejak tahun 1970-an dan mendapat perhatian yang cukup besar dari banyak negara di dunia.

Di samping jumlahnya yang tidak terbatas dan bisa diperoleh sepanjang tahun khususnya bagi negara beriklim tropis, pemanfaatan energi surya juga tidak menimbulkan polusi yang dapat merusak lingkungan. Cahaya atau sinar matahari dapat dikonversi menjadi listrik dengan menggunakan teknologi sel surya atau fotovoltaik.

Potensi energi surya di Indonesia ialah sekitar 4.8 KWh/m2 atau setara dengan 112.000 GWp. Sayangnya, jumlah yang besar ini baru dimanfaatkan sekitar 10 MWp saja. Saat ini, pemerintah telah mengeluarkan roadmap pemanfaatan energi surya yang menargetkan kapasitas PLTS terpasang.

Target tersebut hingga tahun 2025 adalah sebesar 0.87 GW atau sekitar 50 MWp/tahun. Jumlah ini merupakan gambaran potensi pasar yang cukup besar dalam pengembangan energi surya di masa datang.

Di Indonesia, telah terdapat basis yang cukup kuat bagi pengembangan PLTS dari segi kebijakan, yang artinya usaha ini mendapatkan dukungan penuh oleh pemerintah. Sayangnya, PLTS masih memiliki berbagai hambatan dalam segi implementasi yang menyebabkan pemanfaatannya kurang dapat berjalan secara optimal.

Menuju Transisi Mandiri Energi, Berikut 4 Potensi Energi Terbarukan di Indonesia

Hambatan tersebut terletak pada segi teknologi, ketika industri photovoltaic (PV) di Indonesia baru mampu memproduksi modul surya dan mengintegrasikannya menjadi PLTS. Sel surya sebagai komponen utama dalam sistem PLTS masih didapat melalui impor dengan harga tinggi dari negara lain.

Saat ini, berbagai teknologi pembuatan sel surya terus diteliti dan dikembangkan. Hal itu dalam rangka upaya penurunan harga produksi sel surya agar mampu bersaing dengan sumber energi lain.

Sebagai negara kepulauan, kebanyakan daerah yang belum dialiri listrik adalah daerah pedesaan yang jauh dari pusat pembangkit listrik. PLTS dapat menjadi alternatif yang penting untuk dikembangkan karena kelebihannya berupa dapat dibangun di hampir di semua lokasi.

Desa Wineru dengan sumber energi listrik surya terbesar di Indonesia

Desa Wineru | Foto: Dok. Kementerian ESDM
info gambar

Salah satu proyek PLTS Indonesia yang dinilai berhasil terletak di Desa Wineru, Kecamatan Likupang Timur, Kabupaten Minahasa Utara, Provinsi Sulawesi Utara. Menurut catatan Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE), wilayah ini menjadi sumber energi listrik dari surya terbesar di Indonesia.

Sebanyak 64.620 panel surya terbentang di atas ladang Desa Wineru seluas 29 hektare ini. Pembangunan panel surya yang memakan waktu hingga 1,5 tahun ini melahirkan PLTS yang dapat menjangkau hingga 15.000 rumah tangga. Pembangkit ini juga berperan dalam mengurangi efek gas rumah kaca hingga 20,01 kiloton.

Selama puncak kegiatan konstruksi, PLTS Likupang mampu menyerap hingga 900 pekerja lokal. Sementara, saat beroperasi, 80 persen pekerjanya merupakan masyarakat sekitar.

Kesuksesan pemanfaatan energi surya di Desa Wineru menjadi bukti potensi pemanfaatan EBT di Indonesia. Bukan hanya berkontribusi dalam mengaliri listrik di desa-desa beserta menekan emisi karbon, adanya PLTS ini juga mampu menciptakan lapangan pekerjaan hijau (green jobs) bagi masyarakat lokal.

Inilah 3 Peluang Bisnis Energi Terbarukan yang Cocok untuk Anak Muda

Peluang Ekspansi PLTS di Indonesia

Keberhasilan mengoperasikan PLTS Likupang mendorong Vena Energy membuka opsi untuk melakukan ekspansi pada sejumlah proyeknya di Indonesia sambil menunggu keputusan PLN. Melalui laman ESDM, diungkapkan bahwa langkah selanjutnya perlu menunggu kesiapan dan kesediaan PLN berkaitan dengan Rencana Umum Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL).

Vena Energy juga telah diundang oleh PLN untuk mengikuti tender PLTS di 3 lokasi di Pulau Jawa (Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur). Kasubdit Investasi dan Kerja Sama Aneka Energi Baru Terbarukan (EBT) Direktorat Jenderal EBTKE Kementerian ESDM Ani Wiyanti menuturkan bahwa potensi pengembangan PLTS memang terhitung besar.

Saat ini, Kementerian ESDM terus berupaya mendorong agar pengembangan EBT terus dilakukan. Hal ini tidak lain adalah demi menyediakan akses listrik yang setara bagi seluruh masyarakat Indonesia.*

Referensi: Pertagas Pertamina | ESDM | EBTKE ESDM

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Kawan GNFI Official lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Kawan GNFI Official.

Terima kasih telah membaca sampai di sini