Mengunjungi Pemakaman Tua Peninggalan Belanda yang Penuh Sejarah

Mengunjungi Pemakaman Tua Peninggalan Belanda yang Penuh Sejarah
info gambar utama

Penulis: Brigitta Raras

Gabung ke Telegram Kawan GNFI, follow Instagram @kawangnfi dan Twitter @kawangnfi untuk dapat update terbaru seputar Kawan GNFI.

Ketika berkunjung ke Museum Taman Prasasti, hal yang pertama Kawan lihat adalah dua buah kereta jenazah yang terletak persis sebelum meja pembelian tiket. Dari sekian banyak museum yang berada di Jakarta, Museum Taman Prasasti menyimpan keunikan dan cerita tersendiri.

Di balik suasana yang sunyi, suram dan penuh pepohonan rindang, museum ini memiliki begitu banyak kisah kematian para tokoh penting dari berbagai periode sejarah. Kompleks pemakaman yang merupakan cikal bakal Museum Taman Prasasti ini adalah salah satu pemakaman umum modern tertua di Jakarta.

Peninggalan masa kolonial Belanda yang merupakan museum cagar budaya ini, terletak di Jalan Tanah Abang No. 1, Jakarta Pusat. Museum yang memiliki luas 1,2 hektar ini, dulu adalah sebuah makam bernama Kebon Jahe Kober atau Kerkhoflaan yang dibangun pada tahun 1975.

Kemudian, pada 9 Juli 1977, pemakan ini dijadikan sebuah museum dan dibuka untuk umum dengan memamerkan koleksi prasasti di dalamnya. Kawasan ini dijadikan Museum Taman Prasasti dan diresmikan oleh Gubernur DKI Jakarta, Ali Sadikin pada masa itu.

Melihat kerkhof laan

Batu nisan | Foto: Republika
info gambar

Awal mulanya taman pemakaman ini bernama kerkhoflaan dan resmi digunakan pada 28 September 1795. Berasal dari bahasa Belanda, yang terdiri dari kata ‘kerk’ berarti gereja, ‘hof’ berarti kuburan dan ‘laan’ berarti halaman.

Kemudian, selang tiga tahun, Pemerintah Belanda mengeluarkan pengumuman resmi bahwa tidak boleh lagi memakamkan orang yang meninggal di dalam gereja dan sekitarnya.

Maka, sejak saat itulah istilah kerkhoflaan atau yang sering disingkat kerkhof menjadi berubah makna. Kata kerkhof menjadi lebih mengarah ke area pekuburan saja dan tidak selalu berhubungan dengan gereja.

Braga Bandung, Pusat Perbelanjaan Sejak Masa Kolonial Belanda

Museum Taman Prasasti

Dua buah peti jenazah | Foto: Tribunnews
info gambar

Memasuki gerbang utama museum, yang berisikan hamparan batu nisan, Kawan akan melihat sebuah lonceng. Konon, lonceng tersebut akan dibunyikan ketika ada jenazah yang datang untuk dimakamkan.

Tak jauh dari situ, di sebelah kiri Kawan akan melihat sebuah patung perempuan yang terlihat menangis. Menurut cerita setempat, perempuan tersebut sedih kehilangan sang suami akibat penyakit malaria yang dideritanya. Perempuan itu tidak kuat menahan rasa sedihnya, akhirnya memutuskan untuk gantung diri.

Di museum ini, Kawan juga akan menemukan dua buah peti jenazah yang berada di dalam kaca. Peti ini pernah digunakan oleh Soekarno dan Mohammad Hatta. Pada masa itu, peti ini digunakan untuk membawa jenazah Soekarno dari Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) ke Wisma Yaso (saat ini Museum Satria Mandala) untuk disemayamkan.

Kamp Plantungan, Kisah Penjara Perempuan Perempuan Simpatisan Gerwani yang Tak Berbekas

Kemudian, peti lainnya digunakan untuk membawa jenazah Mohammad Hatta dari Rumah Sakit Dr. Tjipto Mangunkusumo (RSCM) ke Tempat Pemakaman Umum (TPU) Tanah Kusir. Selanjutnya, terdapat bangunan yang sering disebut sebagai rumah bumi merupakan makam keluarga A. J. W van Delden. Dia merupakan juru tulis di Indonesia Timur dan pernah menjadi ketua perdagangan VOC.

Pengunjung juga akan melihat batu nisan yang besar dan megah, batu nisan yang berbentuk candi merupakan milik seorang ahli sastra Jawa kuno bernama Dr. Jan Laurens Andries Brandes. Bangunan yang juga menarik perhatian bagi masyarakat adalah batu nisan berbentuk tembok besar dengan kepala tengkorak tertancap di atasnya.

Batu nisan aktivis Soe Hok Gie | Foto: era.id
info gambar

Batu nisan tersebut adalah hasil replika dari tembok peringatan yang dulu ada di daerah Pangeran Jayakarta, Jakarta Pusat. Sesuai dengan namanya, kawasan ini merupakan tempat pemakaman, Kawan akan menemukan batu nisan dari beberapa tokoh penting lainnya.

Salah satunya adalah tokoh Dr. H. F Roll yang merupakan pendiri STOVIA lalu berubah menjadi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Masih banyak lagi tokoh-tokoh yang dikebumikan di sini, seperti J.H. R. Kohler, J.J Pierrie, Olivia Mariamne Raffles, dan masih banyak lagi.

Tak hanya itu, di sini juga terdapat tokoh Indonesia yakni Miss Riboet atau yang juga dikenal Miss Tjitjih (tokoh sandiwara rakyat) dan Soe Hok Gie. Setelah Kawan berkeliling melihat batu-batu nisan tersebut, Kawan akan kembali ke arah pintu masuk awal dan melihat tulisan Belanda yang memiliki arti “Seperti Anda sekarang, demikianlah aku sebelumnya. Seperti aku sekarang, demikianlah juga kelak”.

Mengenang Fransisca Fanggiedaej, Pejuang Kemerdekaan yang Terhapus dari Sejarah

Itu tadi gambaran dari Museum Taman Prasasti, ya Kawan. Mengutip dari laman Museum Jakarta, ketika ke museum ini, Kawan akan diingatkan dengan sebuah kematian sehingga dapat menjalani hidup yang lebih baik lagi dan tidak lupa dengan sang pencipta.

Kemudian, Kawan juga mengerti dan memahami sejarah yang pernah ada di Indonesia. Jadi, selain Kawan berwisata, juga akan mendapatkan wawasan baru. Menarik, bukan? Apakah Kawan tertarik untuk berkunjung ke Museum Taman Prasasti?*

Referensi: Museum Jakarta | Kompas

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Kawan GNFI Official lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Kawan GNFI Official.

KO
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini