Patung Manusia Labuhanbatu, Jejak Ritual Leluhur dan Kerajaan Kuno di Tanah Batak

Patung Manusia Labuhanbatu, Jejak Ritual Leluhur dan Kerajaan Kuno di Tanah Batak
info gambar utama

Patung batu menyerupai manusia ditemukan di Kabupaten Labuhanbatu Utara (Labura), Sumatra Utara (Sumut). Patung ini ditemukan seorang petani bernama Sarpin Ritonga di kebunnya di Desa Meranti Omas, Kecamatan Kecamatan Na IX-X, Rabu (29/9/2021).

"Ya benar, ada patung yang ditemukan warga kita, atas nama Sarpin Ritonga, di ladangnya sendiri pada tanggal 29 hari Rabu yang lalu," kata Kepala Desa Meranti Omas, Baharuddin Sagala, yang dikutip dari Detikcom, Kamis (7/10/2021).

Baharuddin mengatakan Sarpin menemukan patung tersebut ketika hendak menanam sawit di ladangnya. Setelah itu, Baharuddin mengatakan Sarpin segera memberitahukan kepadanya.

Baharuddin menceritakan orang pertama yang melihat patung ini sebenarnya adalah istri Sarpin. Saat itu, ada sedikit permukaan patung yang tersembul di tanah.

"Sebenarnya yang pertama lihat itu istrinya. Terus istrinya bilang, 'Bang itu kok kayak ada batu nisan, tanah kuburan,' lalu digalilah sama Sarpin, sehingga dapatlah patung itu," kata Baharuddin.

Sarpin menceritakan penemuan ini terjadi saat dirinya sedang mencangkul tanah di ladang. Tiba-tiba saat sedang menggali, cangkulnya terkena benda yang keras.

Candi Panataran Masa Akhir Majapahit, Bertahan Tanpa Bantuan Penguasa

"...Pas saya cek ternyata ada patung. Patung itu beratnya 50 kg. Itu merupakan penemuan yang kedua," kata Sarpin.

Sarpin bukan kali ini saja menemukan benda-benda bersejarah, sebelumnya dia pernah menemukan mangkuk berwarna kuning di lahan itu. Mangkuk kuning itu memiliki berat 7,5 ons.

"Mangkuk kuning penemuan pertama. Saya simpan di rumah. Waktu itu saya sudah beritahukan ke kepala desa," ucap Sarpin.

Sarpin menduga barang-barang tersebut merupakan peninggalan bersejarah. Dari penuturan orang-orang tua di sana, kata Sarpin, di wilayah tersebut pernah berdiri sebuah kerajaan.

"Informasi dari orang-orang tua di sini, katanya zaman dahulu ada kerajaan di wilayah ini. Ada juga gua, tetapi enggak bisa masuk," tutur Sarpin.

Hingga kini patung manusia yang ditemukan masih tersimpan dalam lingkungan ladang Sarpin. Hal ini karena kekhawatiran adanya kekuatan gaib yang tersimpan dalam patung itu.

Salah satu buktinya adalah saat penemuan patung tersebut, Sarpin terlihat kesurupan roh harimau. Saat itu dirinya kerasukan roh halus sekitar 20-25 menit, tingkahnya persis seperti harimau yang sedang mencakar-cakar.

Patung tempat bersemayam roh leluhur

Sejarawan Universitas Negeri Medan Ichwan Azhari saat dikonfirmasi mengenai patung itu mengatakan, kemungkinan besar patung itu merupakan peninggalan kepercayaan masyarakat Batak Kuno.

"Ini semacam Pangulubalang, patung yang sudah diberi kekuatan mistis," kata Ichwan yang dikutip dari Kompas.

Dia menjelaskan, Pangulubalang pada kepercayaan masyarakat Batak, dipercaya bisa menjaga dan melindungi kampung mereka dari marabahaya.

"Patung ini diyakini sebagai penjaga yang mampu mengusir roh jahat yang ingin masuk ke kampung atau huta dalam bahasa Batak," jelasnya.

Sebelum kedatangan Agama Hindu, Kristen, dan Islam, masyarakat Batak telah mengenal triniti atau tentang keilahian. Pada mulanya triniti ini dikenal dalam pengertian terbatas, yaitu roh nenek moyang.

"Misalnya ada sebutan doampung debata na tolu, natolu gugu na tolu haranjaon. Maskudnya di sini terdapat tiga dewa yakni Batara Guru, Soripada, dan Mangala Bulan," tertulis dalam buku Sejarah Daerah Sumatera Utara oleh Proyek Penelitian dan Pencatatan Kebudayaan Daerah.

Tiga Artefak Indonesia Senilai Rp1,2 Miliar Dikembalikan dari New York

Kepercayaan dan penyembahan kepada roh oleh orang batak disebut pelbegu, artinya menyembah batu dan roh. Begu adalah roh atau badan yang tidak berdaging, karena itu kerap kali disebut nabegu do i.

"Sifat kepercayaan ini berkisar pada penyembahan roh leluhur atau nenek moyang. Untuk keperluan ini mereka membuat patung-patung yang disebut adu. Patung yang ditempati oleh roh-roh leluhur disebut dengan adu satua dan harus dirawat dengan baik," ucapnya.

Biasanya pelaksanan ritual ini dilakukan melalui upacara dengan memukul gendang. Disamping itu mereka melaksanakan drama dan tarian. Tempat upacara penyembahan dewa itu adalah di Pusuk Buhit.

Salah satu ciri khas dari upacara ini adalah menghormati roh nenek moyang. Mereka percaya bahwa roh nenek moyang ini akan melayang-layang di udara dan dapat menganggu orang-orang yang masih hidup.

Untuk mengatasinya mereka akan memberikan sajian-sajian yang sesuai dengan keinginannya semasa hidupnya dahulu. Penghormatan ini harus dilakukan dengan sungguh-sungguh karena akan membahayakan diri sendiri bila tidak dilakukan secara sempurna.

Roh itu disebut banyak bersemayam di gunung, hutan, mata air, sungai, batu besar, dan pohon yang disebut sombaon, dan harus disembah melalui sesajen. Sombaon ini dipercaya bisa masuk ke dalam diri seseorang dan bisa memberi nasihat dan petunjuk untuk hidup yang lebih baik.

"Karena sombaon yang tinggal di tempat keramat itu dapat mengganggu bagi yang bersalah dalam tindakannya. Itulah sebabnya mereka menyembah pohon, batu besar, mata air, sungai dan sebagainya," tulis buku tersebut.

Jejak kerajaan kuno

Selain itu, patung ini pun dipercaya sebagai bukti kerajaan kuno di daerah Sumut. Hal ini karena salah satu fungsi dari patung tersebut sebagai penjaga dan pengusir roh halus.

Apalagi, daerah penemuan patung itu dulunya diduga merupakan jalur lintasan Pelanggan Sira atau lintasan warga dataran tinggi mencari garam ke pesisir arah pantai.

"Jalur Pelanggan Sira ini juga berkaitan dengan jalur rempah dari dataran tinggi ke pesisir. Jadi kemungkinan, arca Pangulubalang ini ditempatkan di sana oleh orang kampung Batak," ujar Ichwan.

Memang menurut catatan ada beberapa kerajaan kuno di daerah Sumut pada zaman dahulu. Hal ini bedasarkan catatan pengelana China Muslim, Ma Huan saat ikut dalam pelayaran Laksamana Ceng Ho ke Asia Tenggara.

Menurut Ma Huan dalam karyanya berjudul Ying-yai Sheng Lan, terdapat sebuah Kerajaan Aru yang bisa ditempuh dalam empat hari empat malam pelayaran dari Malaka. Di sebelah barat kerajaan itu terletak Kerajaan Samudera sedang sebelah timur terdapat dataran rendah.

Disebutkan setelahnya bahwa kerajaan itu terdapat di muara Sungai Barumun, ada juga yang menyebut lokasinya di Langkat yang bernama Teluk Haru.

Indonesia Akan Pamerkan 400 Artefak di Europalia

"Lagi pula menurut sumber tadi, Aru berbatasan dengan Samudera, jadi pastilah letaknya di utara. Sedangkan Panai masih kita temukan negerinya di tepi Sungai Kualu, antara Sungai Kualu dengan Sungai Panai di Labuhanbatu," tulis buku tersebut.

Dalam catatan itu juga disebut sebuah kerajaan bernama Nagur. Kerajaan ini berada di pedalaman di daerah pegunungan dan mungkin terletak di daerah Simalungun saat ini.

Setelah ditaklukan oleh Kerajaan Aceh, maka berdirilah kerajaan kecil-kecil yang dipimpin oleh marga-marga. Kemungkinan sebelum itu masih banyak negeri-negeri di Simalungun yang ingin meneruskan Kerajaan Nagur.

Hal ini dibuktikan dengan banyak negeri di Simalungun yang menggunakan nama Nagur, seperti Nagur Raja, Nagur Usang, Nagur Bayu, Parhutaan Nagur di daerah Tiga Dolok dan Parhutaan Nagur di Tigarunggu.

Selain itu di daerah pedalaman, sekitar Danau Toba, di Tanah Karo, Dairi, dan Mandailing sampai abad ke-15 berdiri kerajaan kecil-kecil yang diperintah raja-raja. Raja ini ada yang memiliki wilayah kekuasan luas ada pula yang hanya satu desa.

"Pemerintahan di tanah Batak itu terpecah-pecah atas sekian kerajaan yang sering mengadakan ikatan-ikatan untuk pertahanan, tetapi masing-masing anggota sebenarnya bebas dari ikatan kekuasaan yang lebih tinggi," ucapnya.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

RK
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini