Tenganan Pegringsingan, Desa Bercorak Bali Kuno dan Perang Pandan

Tenganan Pegringsingan, Desa Bercorak Bali Kuno dan Perang Pandan
info gambar utama

Hampir sepanjang tahun, wisatawan dalam dan luar negeri selalu berbondong-bondong ke Bali untuk berlibur. Pesona Pulau Dewata memang selalu membuat orang mudah jatuh hati. Rasanya, tak cukup hanya sekali mengunjungi Bali karena banyak hal yang bisa dijelajahi, mulai dari alam, kebudayaan, sejarah, kuliner, hingga hiburan kekinian.

Selain diberkahi dengan berbagai objek wisata dan hiburan, Bali juga memiliki beberapa desa wisata yang masih kental dengan adat-istiadat dan nilai-nilai tradisional.

Salah satu desa wisata yang menarik untuk didatangi adalah Desa Tenganan. Lokasi desa ini berada di timur Pulau Bali, tepatnya di Kecamatan Manggis, Kabupaten Karangasem. Jaraknya sekitar 70 km dari Denpasar dengan waktu tempuh kurang lebih dua jam perjalanan.

Kepulauan Talaud, Surga di Ujung Indonesia dengan Pulau dan Pantai Eksotis

Keunikan Desa Tenganan Pegringsingan

Lokasi Desa Tenganan Pegringsingan berada di sebuah lembah dan diapit oleh perbukitan seluas 917.200 hektare. Desa ini masuk ke dalam wilayah pemerintahan dinas Desa Tenganan bersama dengan desa pakraman lain, seperti Tenganan Dauh Tukad, Gumang, Bukit Kangin, dan Bukit Kauh.

Untuk mengunjungi desa ini, bila datang dari arah Denpasar bisa menuju ke Bali Timur arah Candi Dasa. Lokasi desa tak jauh dari jalan utama dan mudah ditemukan karena tak banyak persimpangan jalan. Salah satu keunikan desa ini adalah lanskapnya yang berupa terasering atau berundak. Bukan tanpa alasan, tapi memang sengaja dibuat demi menghindari kikisan air hujan.

Daya Tarik Desa Wisata Carangsari, Tanah Kelahiran I Gusti Ngurah Rai

Kerajinan tangan masyarakat lokal

Sebagian besar masyarakat Desa Tenganan Pegringsingan menekuni usaha kerajinan. Ada yang membuat atta, lontar, berbagai jenis cendera mata, dan menenun kain gringsing.

Kain gringsing merupakan kerajinan istimewa dari desa wisata ini. Keunikannya terletak pada proses pembuatannya yang masih secara tradisional dan tidak menggunakan mesin. Teknik yang digunakan pun terbilang khas yaitu tenun ikat ganda yang butuh keahlian serta waktu lama dalam pengerjaannya.

Untuk mengerjakan sehelai tenun gringsing, kurang lebih dibutuhkan waktu dua sampai lima tahun tergantung tingkat kesulitannya. Teknik yang dipakai dalam membuat kain ini juga merupakan satu-satunya di Indonesia. Dengan segala usaha dalam pembuatannya, tak heran bila harga selembar kain gringsing dijual dengan harga yang tergolong mahal, bahkan bisa mencapai ratusan juta rupiah.

Bagi warga Desa Tenganan Pegringsingan, tenun gringsing bukan sekadar kain biasa, tetapi memiliki arti menjauhkan seseorang dari penyakit dan sebagai penangkal pengaruh negatif. Biasanya, kain tersebut digunakan warga desa untuk berbagai upacara keagamaan dan upacara adat.

Kampung Yoboi, Desa Wisata Terapung di Danau Sentani Papua

Desa dengan corak Bali kuno dan tradisi perang pandan

Desa Tenganan Pegringsingan merupakan salah satu desa wisata yang memiliki corak Bali kuno atau dikenal dengan sebutan Bali Aga. Ciri khas desa Bali Aga adalah tidak terpengaruh kebudayaan Kerajaan Majahaphir yang masuk ke Bali.

Masyarakat desa Bali Aga memiliki adat istiadat Bali kuno. Corak kehidupannya diwujudkan dalam bentuk sistem sosial masyarakat dan tata upacaranya yang tidak dipengaruhi budaya Bali Majapahit. Untuk membedakan desa yang termasuk Bali Aga sebenarnya juga bisa dilihat dari sistem pemujaan. Di desa Bali Aga biasanya ada banyak pura dan tidak hanya menyembah dewa, tetapi juga para leluhur dan alam.

Ada pula keunikan lain di desa ini yaitu tradisi perang pandan atau mekare-kare. Perang ini diadakan setahun sekali dan menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang berkunjung ke Bali.

Ketika perang pandan berlangsung, pemuda-pemudi desa akan saling menyerang dengan menggunakan daun pandan berduri dan memakai tameng dari anyaman rotan. Peperangan ini rutin dilakukan warga untuk melatih fisik dan mental.

Mekare-kare juga menjadi puncak dari prosesi upacara adat yang disebut Usaba Sambah. Selama peperangan berlangsung, acara akan dimeriahkan oleh iringan musik gamelan seloding.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Dian Afrillia lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Dian Afrillia.

Terima kasih telah membaca sampai di sini