H Agus Salim, Diplomat Poliglot yang Memilih Melarat Sepanjang Hidup

H Agus Salim, Diplomat Poliglot yang Memilih Melarat Sepanjang Hidup
info gambar utama

Nama Haji Agus Salim telah menonjol di luar negeri ketika diadakan konferensi buruh sedunia di Jenewa pada tanggal 30 Mei 1929. Pemerintah kolonial mengirimkan dua orang utusan ke konferensi ini, pertama Haji Agus Salim untuk bergabung dengan delegasi buruh Belanda dan Achmad Djajadiningrat bergabung dalam delegasi Belanda sebagai ahli (Teknis).

Mulai saat itu nama Agus Salim dikenal di dalam pergaulan internasional, yang oleh pemerintah kolonial berusaha ditutup-tutupi aktivitas bangsa Indonesia dan kesanggupannya.

Setelah Indonesia merdeka, karena kompetensinya, Agus Salim sempat dipercaya menjabat menteri dalam beberapa kabinet. Di Kabinet Sjahrir I dan II, Agus Salim adalah menteri muda luar negeri. Sementara itu, di Kabinet Amir Sjarifuddin (1947) dan Kabinet Hatta (1948-1949), dia menjabat menteri luar negeri.

Pada tahun 1947, dia menjadi penasihat tim perundingan Linggarjati; di tahun yang sama dia bersama Sutan Sjahrir menjadi wakil Indonesia dalam Konferensi Inter-Asia di New Delhi. Misi diplomatik ini sukses.

B A Ubain menceritakan bagaimana delegasi ini disambut dengan meriah di lapangan terbang Palm di New delhi. Saat itu menurutnya Agus Salim yang bertubuh kecil, berjenggot putih, berpeci khas dan berusia lanjut itu bisa menarik perhatian masyarakat India.

"Karena beliau lincah dan aktif dan suka bergaul dengan siapa saja. Beliau menguasai banyak bahasa asing, seperti Inggris, Prancis dan Arab, dan pintar membicarakan segala sesuatu, dari soal politik, ekonomi dan sosial hingga sampai kepada pengobatan timur tradisional dengan gaya yang mudah dimengerti oleh si pendengarnya," ucap pria yang menjabat ketua Panitia Perjuangan Kemerdekaan Indonesia (PPII) di India.

Inilah Negara Pertama yang Mengakui Kemerdekaan Indonesia

Sjahrir dan Salim mengikat janji dengan Pandit Jawaharlal Nehru (Bapak India) dan Muhammad Ali Jinnah (Bapak Pakistan) untuk saling mendukung kemerdekaan masing-masing.

Sesudah konferensi, Agus Salim meneruskan perjalanan ke Mesir sebagai ketua Misi Republik Indonesia ke Timur Tengah. Dia ditemani oleh AR Baswedan, Mr. Nazir Pamoentjak dan Prof. Dr Rasjidi.

Singkat cerita, misi itu kemudian berhasil. Secara de facto dan de jure persyaratan pengakuan dari negara lain atas eksistensi Republik Indonesia tercapai dengan kesepakatan tersebut. Mesir menjadi negara pertama yang mengakui kedaulatan dan kemerdekaan Republik Indonesia.

Pengakuan negara Mesir terhadap kemerdekaan Indonesia itu tentu saja tidak lepas dari perjuangan empat tokoh tersebut, terutama Agus Salim yang menjabat sebagai Menteri Luar Negeri. Kehebatan Agus Salim dalam merebut hati masyarakat Mesir diungkapkan salah satu anggota misi diplomatik RI ke Timur Tengah, AR Baswedan.

"Begitu pula kesan dari orang-orang Mesir yang bertemu dengan beliau, padahal orang Mesir dikenal sebagai tukang ngobrol, ahli debat dan bersilat lidah. Asyik betul memiliki Ketua Delegasi semacam Haji Agus Salim ini," ucap Baswedan yang dikutip dari artikelnya Misi Diplomatik Republik Indonesia Di Mesir yang dikabarkan Republika, Jumat (8/10/2021).

Menjadi pemimpin ala Agus Salim

“Haji Agus Salim seorang ulama dan intelek. The Grand Old Man,” ujar Soekarno.

Pernyataan Bung Karno yang ditunjukkan pada lelaki kelahiran Kota Gadang, 8 Oktober 1884 dengan nama asli Masyudul Haq (bermakna; pembela kebenaran) itu benar adanya. Semasa hidup Agus Salim memang seorang intelek dan polyglot (orang yang menguasai berbagai bahasa) 9 bahasa asing di dunia.

Mengenai asal-usul nama Agus Salim sendiri jika dirunut sudah dimulai sejak Masyudul haq kecil masih berada di Kota Gadang, Sumatra Barat. Begitu penjelasan Asvi Warman Adam dalam H. Agus Salim (1884-1954) Tentang Perang, Jihad, dan Pluralisme.

"Ketika Masyudul kecil, dia diasuh oleh seorang pembantu asal Jawa yang memanggil anak majikannya “den bagus” yang kemudian dipendekan menjadi “gus.” Kemudian teman sekolah dan guru-gurunya pun ikut memanggilnya “Agus"," tulisnya.

Ketika berusia 6 tahun, Agus Salim diterima pada sekolah dasar Belanda, ELS (Europeese Lagere School). Setelah lulus, dia dikirim ke Batavia untuk belajar di HBS (Hogere Burger School).

Dia lulus dengan angka tertinggi, tidak saja di sekolahnya, tetapi juga untuk sekolah HBS lain (Bandung dan Surabaya). Namanya terkenal di seantero Hindia Belanda di kalangan kaum kolonial dan terpelajar.

Raden Ajeng Kartini pun sampai menghibahkan beasiswa kepadanya sebesar 48.000 gulden setelah beasiswa kedokteran yang diajukan Agus Salim ditolak oleh pemerintah Belanda. Namun, Agus Salim memilih untuk bekerja setelah penolakan pertamanya diajukan.

Tahun 1905, Agus Salim mendapatkan pekerjaan sebagai penerjemah dan pengurus urusan haji di Konsulat Belanda di Jeddah. Pada periode inilah, dia memperdalam agama Islam dengan berguru pada pamannya, Syech Ahmad Khatib.

Kisah K.H. Agus Salim dan Diplomasi Pertama RI Tahun 1947 Diangkat Menjadi Novel!

Sepulang ke Tanah Air, dia sempat bekerja di dinas pekerjaan umum. Pada 1917, dia terjun ke dunia media massa dengan mendirikan dan sebagai pemimpin redaksi harian Neratja, Hindia Baroe, Fadjar Asia, dan Moestika. Bersamaan dengan itu, dia terjun ke dunia politik pergerakan melalui Sarekat Islam.

Tahun 1921-1924, Agus Salim menjadi anggota Volksraad (Dewan Rakyat) mewakili Sarekat Islam. Meskipun poliglot, dia justru yang pertama kali berpidato dalam bahasa Melayu/Indonesia di sidang Volksraad.

Setelah menikah dengan Zainatun Nahar, Agus Salim kemudian memboyong istrinya kembali ke Jakarta. Dari sinilah kehidupan dan keadaan rumah tangganya dia jalani dengan sederhana dengan beberapa kali pindah rumah kontrakan di sekitaran Jakarta.

“la pernah tinggal di rumah kontrakan di Tanah Tinggi yang jalannya berlumpur di musim hujan, atau menumpang di rumah seorang kawannya,” tulis Amrin Imran dalam Perintis Kemerdekaan: Perjuangan dan Pengorbanannya (1991).

Padahal sebagai seorang pemimpin sebuah organisasi besar seperti Sarekat Islam, Agus Salim dapat hidup serba berkecukupan di zaman kolonial tersebut. Namun Ia lebih mengedepankan motto hidupnya sebagaimana tercatat dalam tulisan Muhammad Roem dan Kasman setelah mereka berkunjung ke rumah kontrakan Agus Salim pada tahun 1920-an.

“Jalan pemimpin bukan jalan yang mudah. Memimpin adalah jalan yang menderita. Seperti bunyi pepatah kuno Belanda: leiden is lijde—memimpin adalah menderita." Simpulan tulisan mereka berdua di Prisma No.8 Agustus 1977 dengan tajuk “Haji Agus Salim, Memimpin Adalah Menderita.

Memilih melarat hingga akhir hayat

Ketika sang penghuni, Agus Salim, wafat pada November 1954, kediamannya hanya berupa rumah sempit di gang sempit yang masih berstatus sewa. Padahal banyak jabatan yang pernah dirinya dapatkan, anggota dewan Volksraad, diplomat ulung yang meraih pengakuan internasional pertama bagi RI, dan Menteri Luar Negeri era revolusi.

"Sangat boleh jadi tidak ada tokoh bangsa yang semelarat namun sebahagia Haji Agus Salim. Hatta masih punya rumah di kawasan Menteng. Agus Salim boro-boro punya rumah. Sampai wafat dia tetap berstatus “kontraktor”," tulis Faisal Basri dalam artikel bertajuk Haji Agus Salim: Kisah Teladan Kesederhanaan.

Menurut Faisal, baru beberapa tahun kemudian, anak-anaknya patungan membeli rumah kontrakannya itu demi mengenang sang ayah. Sepanjang hidupnya Agus Salim hidup nomaden, berpindah-pindah dari kontrakan di satu gang ke gang lainnya di berbagai kota.

Di Jakarta, pasangan ini Agus Salim dan Zainatun Nahar memang seringkali berpindah-pindah tempat tinggal. Dia, misalnya, pernah tinggal daerah Tanah Abang, Karet, Petamburan, Jatinegara, di gang Kernolong, Tuapekong, gang Listrik dan masih banyak lagi.

Haji Agus Salim sebenarnya tidak terlahir sebagai orang papa. Lingkungan keluarganya berada dan dia sempat lama memiliki pekerjaan bergaji besar yang bisa menyenangkan keluarganya secara materi.

Dia baru “jatuh miskin” gara-gara “jatuh cinta” kepada HOS Tjokroaminoto. Ditugasi sebagai intelijen politik, Salim malahan terjun penuh sebagai pejuang kemerdekaan.

"Perubahan drastis gaya hidup diterima secara biasa saja oleh Salim. Tinggal di apartemen serba bagus dan di kontrakan kumuh dan becek, hampir sama saja baginya," tulis Faisal.

"...Rumah tangga Salim dikenal harmonis, dan selalu riang meskipun tidak punya banyak uang," tambahnya.

Wanita Ini Jadi Orang Pertama yang Nyanyikan Lagu Indonesia Raya

Meskipun miskin untuk ukuran orang kebanyakan, Salim sendiri merasa dirinya baik-baik saja. Karenanya, rasa percaya dirinya selalu tinggi, tidak pernah minder atau canggung di lingkungan mana pun.

"Salim mirip BK (Bung Karno). Ia bisa berbincang dengan Pangeran Phillip (suami Ratu Inggris) sama nyamannya dengan kalau ia bicara dengan hansip yang di tengah ronda malam mampir ke rumah kontrakannya. Dengan segala keunikannya itu, H Agus Salim dijuluki The Grand Old Man," bebernya.

Seorang profesor, sekaligus Perdana Menteri Belanda (1945-1946), Willem Schermerhorn dalam buku hariannya, Het Dagboek van Schermerhorn, secara gamblang pernah memuji sosok Haji Agus Salim. Untuk Salim, dia mencatatnya sebagai sosok negosiator tangguh, pandai bicara dan berdebat.

"...Salim hanya memiliki satu kelemahan: selama hidupnya dia melarat,” kata Schermerhorn yang dilansir dari Historia.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

RK
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini