Memaksimalkan Pemanfaatan Energi Surya Melalui PLTS Atap

Memaksimalkan Pemanfaatan Energi Surya Melalui PLTS Atap
info gambar utama

Program konversi sumber energi di Indonesia kian menggema. Berbekal potensi sumber energi baru terbarukan (EBT), proyek realisasi target pemanfaatan EBT semakin memperlebar jangkauan.

Data IESR menyatakan bahwa potensi EBT di Indonesia didominasi oleh tenaga surya. Potensi listrik yang dapat dihasilkan dari Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di Indonesia sebesar 207,8 GigaWatt (GW).

Meski demikian, realisasi pemanfaatan potensi PLTS saat ini masih sangat sedikit, yakni 0,07 persen dari total potensi yang diproyeksi. Sementara itu, Kementerian Energi dan Sumber Daya Manusia (ESDM) memberikan laporan terkait realisasi PLTS di Indonesia.

Per tahun 2019, realisasi PLTS masih 0,04 persen dari total potensi yang ada, atau setara dengan 0,152 GW.

Menuju Transisi Mandiri Energi, Berikut 4 Potensi Energi Terbarukan di Indonesia

Strategi pemanfaatan tenaga surya sebagai pembangkit listrik

Potensi pemanfaatan energi surya | GoodStats
info gambar

Pemerintah membagi potensi pemanfaatan energi surya menjadi 13 klaster potensi. Berdasarkan pembagian tersebut, proyeksi potensi dengan pemanfaatan tertinggi adalah PLTS Atap sebesar 2.981,5 MegaWatt Peak (MWp) dengan kapasitas PLTS terpasang di Rencana Usaha Penyedia Tenaga Listrik (RUPTL) 2019-2028 sebesar 11 persen sementara sisanya merupakan PLTS ground mounted.

“Seluruh Indonesia, kapasitas terpasang mencapai 152,44 MW dan 10,9 persen adalah PLTS Atap dan sisanya PLTS on the ground. Potensi yang ada pun baru untuk daratan,” kata Ani Wijayanti dari Direktorat Jenderal Energi Baru, Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTEK) Kementerian ESDM.

Program PLTS Atap ini merupakan salah satu langkah untuk mempercepat pencapaian target energi terbarukan sebesar 23 persen pada tahun 2025 mendatang. Guna merealisasikan program tersebut, berikut adalah beberapa strategi yang dicanangkan pemerintah dalam implementasi PLTS Atap:

  • Program pemasangan PLTS Atap di gedung pemerintah dan gedung BUMN.
  • Program pemasangan PLTS Atap di gedung komersial.Program pemasangan PLTS Atap di gedung dalam pembangunan rumah baru (program PUPR dan REI).
  • Program pemasangan PLTS Atap pada pelanggan PLN golongan >1300 VA dengan diberikan insentif atau skema pembiayaan yang menarik seperti diskon Pajak Bumi dan Bangunan (PBB), rebate atau kredit dari bank.
  • Program pemasangan PLTS Atap di rumah pelanggan golongan tarif R1 (pelanggan 450 VA dan 900 VA).
  • MoU antara Ditjen EBTKE dengan Dewan Pengurus Pusat Persatuan Perusahaan Real Estate Indonesia.
  • Deklarasi Gerakan Nasional Sejuta Surya Atap (GNSSA) oleh berbagai pemangku kepentingan Solar PV.
Energi Panas Bumi Melimpah, Potensi Besar Energi Terbarukan untuk Indonesia

Perkembangan realisasi PLTS Atap

Progres pengembangan PLTS Atap dari Januari 2018 hingga Desember 2019 tercatat selalu mengalami kenaikan. Data dalam laporan Kementerian ESDM hingga Desember 2019 sudah ada 1.673 PLTS Atap terpasang dengan 1.673 pelanggan yang tersebar di seluruh Indonesia.

Sementara itu, dalam press release dari Kementerian ESDM pada 24 April lalu, Direktur Jenderal EBTKE, Dadan Kusdiana mengatakan bahwa jumlah pelanggan PLTS Atap sudah melebihi angka 3.000 pelanggan.

“Per Januari 2021 sudah ada 3.152 pelanggan dengan total kapasitas terpasang mencapai 22,632 MWp”, kata Dadan (24/04).

Pemasangan PLTS Atap terbesar dilakukan oleh PT Coca Cola di Cikarang Jawa Barat sebesar 7,2 MWp, kemudian ada PLTS Atap Danone Aqua di Klaten Jawa Tengah dengan 3 MWp, PLTS Atap Refinery Unit (3,36 MWp), dan PLTS Atap Sei Mangkei (2 MWp).

(Menuju COP25), Industri Minyak Kelapa Sawit : Sumber Energi Terbarukan dan Boomerang Hutan Indonesia

Kendala dan solusi pemanfaatan tenaga surya sebagai pembangkit listrik

Sebanyak 64.620 hamparan panel surya tersusun rapi di Desa Wineru, Kecamatan Likupang Timur, Kabupaten Minahasa Utara, Provinsi Sulawesi Utara. | Foto : Kementerian ESDM
info gambar

Masih sedikitnya pemanfaatan PLTS di Indonesia menjadi tanda bahwa masih banyak kendala yang dihadapi Indonesia dalam implementasi tenaga surya sebagai sumber energi listrik. Arcandra mengungkap beberapa kendala yang disoroti terkait pemanfaatan PLTS di Indonesia yakni:

1. Kendala Lahan

Pembangunan PLTS ground mounted memerlukan lahan yang luas. Pembebasan lahan terlebih wilayah perkotaan seperti Jakarta dan kota-kota besar lainnya menjadi kendala bagi investor untuk mengembangkan tenaga surya. Oleh sebab itu, PLTS Atap menjadi salah satu solusi dalam menghadapi kendala ini.

2. Kualitas Matahari di Indonesia

Meski disinari matahari sepanjang tahun, namun kualitas sinar matahari di Indonesia tidak seterik sinar matahari di negara Arab yang dapat menghasilkan kapasitas faktor listrik sebesar 24 persen. Arcandra mengatakan kapasitas faktor listrik di Indonesia rata-rata masih 18 persen.

3. Masalah Keuangan

Tingkat bunga pinjaman bagi investor untuk pengembangan energi terbarukan di Indonesia masih lebih tinggi dibandingkan negara Arab. Hal tersebut juga disusul dengan pajak penghasilan yang dibebankan.

4. Kendala Operasional

PLTS Indonesia saat ini masih memakai sistem manual dalam pengoperasiannya dan untuk menangani hal ini dibutuhkan sistem listrik smart grid yang mampu mengintegrasikan kegiatan semua pengguna.

Sementara itu, kendala yang harus dihadapi pada pemasangan PLTS Atap terutama bagi penduduk umum (bukan korporasi) adalah kendala biaya pemasangan. Modal yang dibutuhkan untuk membangun PLTS Atap saat ini ada di kisaran 20 juta rupiah untuk satu rumah.

Hingga akhirnya PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk dan PT Len Industri (Persero) menandatangani nota kesepahaman tentang pembiayaan dan pemasangan sistem PLTS Atap. Dengan adanya skema pembiayaan yang diberikan oleh BRI diharapkan bisa mendorong percepatan pembangunan PLTS Atap di dalam negeri serta produksi PLTS Atap dalam negeri.

Tercatat, kini ada sekitar 20hpi pabrik di dalam negeri yang dapat menyediakan kebutuhan PLTS Atap dengan total kapasitas sebanyak 500 KWh.

Konversi sumber energi kotor menuju energi bersih dengan modal sinar matahari diharapkan dapat mencapai target dan kian meningkat persentase pemanfaatannya. Hal tersebut tidak semata demi keuntungan secara ekonomis, namun juga keuntungan yang berkelanjutan dengan mewarisi keadaan lingkungan yang masih dapat dinikmati keindahannya kepada generasi mendatang.

Energi Terbarukan, Sumber Kehidupan yang Sebenarnya Mudah Didapatkan

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Widhi Luthfi lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Widhi Luthfi.

WL
IA
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini