Gedung Merdeka, Bangunan Kolonialisme hingga Jadi Tempat Persatuan Asia-Afrika

Gedung Merdeka, Bangunan Kolonialisme hingga Jadi Tempat Persatuan Asia-Afrika
info gambar utama

Terletak di ruas Jalan Asia Afrika, Gedung Merdeka merupakan salah satu landmark utama kota Bandung. Gedung ini awalnya merupakan bangunan Societeit Concordia, yaitu tempat rekreasi dan sosialisasi sejumlah ekspatriat Belanda yang bermukim di Bandung pada masa pendudukan Belanda.

Societeit Concordia merupakan Perkumpulan Pertanian Bandung (Bandoengsche Landbouwvereniging) yang semula beranggotakan 18 orang.

Pada 1895, untuk mengakomodasi kegiatan-kegiatan hiburan, Societeit Concordia pindah ke bangunan megah di Jalan Pedati (kemudian lebih dikenal sebagai Jalan Braga atau Bragaweg).

Menurut pendeta Marius Buys yang menjadi Dominee Gereja Protestan di Bandung (1887-1890), Gedung Societeit Concordia dahulunya adalah gedung serba guna. Pernah menjadi tempat pertunjukan Toneelvereeniging Braga (Perkumpulan Tonil Braga), tempat pertemuan Bandoengsche Landbouwvereeniging, vergaderingen (tempat rapat), dan tempat khotbah agama Kristen Protestan.

“Di sinilah Societeit Concordia sebagai perkumpulan kaum elite mencapai puncak popularitasnya,” tulis Ridwan Hutagalung dan Taufanny Nugraha dalam Braga Jantung Paris van Java dikutip dari Historia, Sabtu (8/10/2021).

Societeit Concordia sendiri berisi hiburan kelas atas bagi penduduk kolonial Eropa di kota Bandung. Setiap akhir pekan, gedung ini selalu ramai dengan pertunjukan musik, sandiwara, dan dansa. Selain mengadakan pertunjukan rutin, mereka juga menyelenggarakan pertunjukan khusus yang bertajuk Bragabal (berisi pertunjukan tarian dan musik) sekali dalam tiga bulan.

Pergantian tahun juga menjadi momen spesial bagi penduduk Eropa di Bandung. Mereka merayakan pergantian tahun dengan mengadakan pesta yang dikunjungi oleh khalayak ramai (penduduk Eropa).

Braga Permai, Restoran Jadul Bernuansa Eropa Klasik di Bandung

Oleh sebab itu, tidak heran jika Societeit Concordia berkembang mejadi Societeit terbaik di Hindia Belanda. Societeit Concordia memang salah satu dari sekian banyak societeit yang muncul di kota-kota besar di Hindia Belanda pada abad ke-19.

Kelahiran berbagai perhimpunan, organisasi, dan klub di Hindia Belanda diatur melalui ordonansi gubernur jenderal nomor 64 bertanggal 14 Juni 1870 sebagai tindak lanjut keputusan raja tanggal 28 Maret 1870 nomor 2 tentang kedudukan hukum perkumpulan di Hindia Belanda. Societeit Concordia adalah nama klub yang agak umum digunakan di tempat lainnya.

Sebelum didirikan di Bandung pada 1879, nama Societeit Concordia digunakan di Mojokerto (Staatsblad no. 234, 1875) dan Malang (Staatsblad no. 96, 1877). Pada 1879, selain di Bandung, didirikan pula Societeit Concordia di Muntok (Staatsblad no. 239) dan Surabaya (Staatsblad no. 254).

Menurut A. Sobana Hardjasaputra dalam disertasinya “Perubahan Sosial di Bandung 1810-1906,” Societeit Concordia mencirikan bertambahnya kehidupan modern di Kota Bandung pada abad ke-19 hingga awal abad ke-20, sejalan dengan bertambahnya penduduk Eropa beserta aktivitas-aktivitasnya.

Societeit Concordia mendorong tumbuhnya pertokoan di Jalan Braga yang khusus menjual kebutuhan berpesta. Perkumpulan ini pun berperan dalam mengembangkan sarana dan jalur transportasi menuju Jalan Braga. Hingga akhirnya, Jalan Braga dikenal sebagai jantung kota Bandung.

Bangunan megah simbol rasisme

Dalam perjalanannya, Gedung yang menempati areal seluas 7.500 m2 mengalami perubahan rancangan baik bentuk maupun gayanya. Arsitek Van Gales Last yang memiliki gaya Indis Empire Style pada sebagian besar rancangannya, merenovasi bangunan tersebut pada tahun 1920.

Tidak lama kemudian, dalam selang waktu 7-9 tahun terjadi lagi perubahan yang dilakukan oleh C.P. Wolff Schoemaker dimana beliau merenovasi bangunan tersebut dengan gaya Art Deco Geometrik yang fungsional dan lebih menonjolkan struktur. Kegunaan gedung ini berubah menjadi gedung pertemuan “super club” yang paling mewah, lengkap, eksklusif, dan modern di Nusantara.

Ditambah lagi dengan lokasinya yang strategis, berada di dekat Hotel mewah Savoy Homann dan Preanger. Bentuk simetris pada sudut bangunan Jl Braga – Jl Asia Afrika itu pun kembali diubah menjadi melingkar (seperti saat ini) setelah A. F. Albers merenovasinya 10 tahun kemudian dengan gaya International Style.

Arsitek tersebut memiliki aliran yang berbeda, yaitu Nieuw Bouwen, sehingga bentuk bangunannya berbeda dari bangunan aslinya. Bangunan gaya arsitektur ini bercirikan dinding tembok plesteran dengan atap mendatar. Tampak depan bangunan berupa garis dan elemen horizontal, sedangkan bagian gedung bercorak kubistis.

Braga Bandung, Pusat Perbelanjaan Sejak Masa Kolonial Belanda

Pada tampilan fasadnya, terdapat kolom-kolom yang menempel pada dinding dengan ornamen ionic di atasnya, memberikan kesan megah pada bangunan Gedung Societeit Concordia, sesuai dengan karakter dan fungsi dari bangunan tersebut yang ingin menonjolkan sisi kemewahan dan keangkuhannya.

Gedung ini memang menjadi ikon rasisme dari masyarakat Belanda, karena pada masa pendudukan Belanda terdapat larangan keras bagi warga pribumi. Ketika masuk ke dalam area gedung ini akan ada tulisan yang berbunyi ‘Verbodden voor Honden en Inlander’ (dilarang masuk bagi anjing dan pribumi).

"Kemunculannya mempertegas jurang pemisah antara kalangan Eropa dan bumiputra. Orang Eropa mengemban gaya hidup eksklusif,” tulis Denys Lombard dalam Nusa Jawa Silang Budaya 1.

Memang demikian eksklusifnya gedung ini sehingga tak sembarangan orang bisa masuk dan menikmati kemewahannya. Jangankan kaum pribumi (inlandeer), orang kulit putih yang tidak memiliki akses ke dalam komunitas elite Eropa di Bandung juga akan sulit masuk.

Pada masanya, Concordia merupakan tempat pertemuan paling mewah dan modern. Di dalamnya terdapat ruangan tempat minum, bersantai, dan menyaksikan pertunjukan kesenian. Lantainya terbuat dari marmer Italia, belum lagi lampu-lampu Kristal dan berbagai fasilitas yang ketika itu terbilang mewah.

Pada Zaman Jepang, gedung ini diubah namanya menjadi Dai Toa Kaman dengan fungsi sebagai tempat pertunjukan kesenian dan hiburan bagi tentara Dai Nippon. Kebakaran terjadi pada 1944 dan menyebabkan bagian kiri rusak.

Padahal bagian tersebut baru dua tahun sebelumnya mengalami perluasan dan renovasi oleh arsitek AF Aalbers yang dibantu R A de Waal. Setelah Jepang menyerah pada Sekutu, gedung ini kemudian beralih fungsi sebagai pusat pemerintahan Kota Bandung.

Maret 1946, terjadi peristiwa bersejarah yang dikenal dengan nama Bandung Lautan Api. Saat itu, tentara Indonesia meninggalkan gedung ini dan kemudian berfungsi lagi sebagai tempat seni dan hiburan.

Jadi simbol persatuan bangsa dunia

Pasca-Perang Dunia II, dunia terbelah menjadi dua bagian secara politik global. Hal ini terjadi karena perebutan pengaruh antara kapitalisme yang dikomandoi oleh Amerika Serikat, dan komunisme yang dipimpin oleh Uni Soviet.

Perebutan pengaruh tersebut membuat dunia terpecah menjadi dua bagian yang kemudian dikenal dengan istilah Blok Barat dan Blok Timur. Berdasar hal tersebut, Indonesia pada 1955 menyelenggarakan sebuah konferensi tingkat global yang kemudian dikenal dengan Konferensi Asia Afrika.

Persiapan penyelenggaraan Konferensi Asia Afrika mulai dilakukan. Bandung dipilih menjadi tempat penyelenggaraan. Pemilihan Bandung sebagai tempat berlangsungnya Konferensi Asia Afrika sendiri merupakan permintaan langsung dari Presiden Soekarno.

Soekarno menyatakan bahwa pemilihan tersebut lebih didasarkan pada alasan yang cenderung bersifat emosional karena Bandung merupakan awal mula gerakan kemerdekaan yang dipimpinnya secara langsung. Pemilihan yang cenderung bersifat emosional ini melibatkan seluruh memori dari Bung Karno akan kota Bandung.

Pemilihan Societeit Concordia sebagai tempat penyelenggaraan Konferensi Asia-Afrika tidak terlepas dari peran Bung Karno sebagai seorang arsitektur. Walaupun pada saat dipilih, gedung Concordia mengalami kerusakan yang hebat karena sudah lama ditinggalkan dan pernah dibakar pada masa revolusi.

KAA, Bandung, dan Romansa Nostalgia Soekarno

Pada kenyataannya gedung ini tetap dipilih karena memiliki ruang pertunjukan yang besar sehingga mampu menampung semua perwakilan dari negara Asia Afrika. Namun ada juga kisah perang dingin yang terjadi antara Soekarno dan Ali Sastroamidjojo tentang penataan arsitektonis Gedung Societeit Concordia yang akan digunakan untuk sidang pleno.

Menurut Bung Karno, sebagai seorang insyinyur dirinya berharap Gedung Concordia bisa menginspirasi para peserta yang hadir. Sehingga, katanya, gedung tersebut tidak boleh terkesan kaku seperti pengadilan, menyindir Ali yang merupakan pengacara.

"...Anda tahu yang saya pikirkan? Seorang pengacara tidak akan pernah memulai revolusi. Mereka tidak memiliki inspirasi. Padahal para peserta harus direngkuh dalam inspirasi. Untuk alasan itu, ubah interior gedung ini dengan apa yang saya katakan," catat Shimazu yang mengutip Roeslan Abdulgani dalam Bandung Connection.

Soekarno juga mengganti nama Gedung Societeit Concordia menjadi Gedung Merdeka, perubahan nama ini mendapatkan kecaman dari Pemerintah Kota Bandung. Hal itu karena Bung Karno diketahui tidak berkomunikasi dengan pemerintah kota sebelum mengganti nama.

Namun demikian, Soekarno tetaplah Soekarno. Ia memiliki satu alasan mengapa perubahan nama gedung itu harus dilakukan. Dirinya beralasan bahwa pergantian ini merupakan bentuk memori kolektif masyarakat Indonesia dan masyarakat dunia untuk memperjuangkan kemerdekaan bangsa di Asia Afrika dari belenggu kolonialisme.

"Peristiwa penting itu terjadi di dalam sebuah gedung yang pada awalnya merupakan simbol kolonialisme di kota Bandung. Gedung megah itu, tidak lain adalah Societeit Concordia," tulis Achmad Sofyan dalam artikel Dari Societeit Concordia Menuju Gedung Merdeka: Memori Kolektif Kemerdekaan Asia-Afrika.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini