Mengenal Bucephalandra, Tanaman Air Endemik Kalimantan yang Jadi Primadona Akuaskap

Mengenal Bucephalandra, Tanaman Air Endemik Kalimantan yang Jadi Primadona Akuaskap
info gambar utama

Lagi-lagi Indonesia sangat diuntungkan berkat keanekaragaman hayati yang dimiliki, sehubungan dengan kepopuleran tren akuaskap yang terjadi sejak beberapa tahun terakhir.

Sekilas informasi bagi mereka yang mungkin belum memahami secara lebih mendalam, akuaskap merupakan kata serapan dari aquascape yang diartikan sebagai seni memelihara, menata, dan mempertahankan biota air dalam akuarium sehingga menghasilkan pemandangan yang indah dalam air, misalnya pemandangan alam, gunung, dan sejenisnya.

Walau bukan hal baru, namun kegiatan yang pada tahun 2020 lalu mulai banyak digemari oleh segelintir orang ini nyatanya membuat akuaskap menjadi populer sebagai hiburan kalangan tertentu di tengah situasi pandemi.

Yang perlu dipahami, akuaskap nyatanya berbeda dengan akuarium. Jika akuarium fokus kepada penataan kotak kaca atau akrilik untuk memelihara berbagai jenis ikan hias dengan sedikit tanaman air, akuaskap justru kebalikannya.

Akuaskap lebih fokus kepada penataan berbagai komponen alam, kalaupun disertakan ikan hanya dalam jumlah yang sangat sedikit dan ikan berukuran kecil.

Dari hal tersebut bisa disimpulkan, bahwa selama pandemi melanda bukan hanya ikan hias saja yang semakin populer dan menjadi komoditas andalan ekspor sampai ke mancanegara. Akuaskap yang membutuhkan komponen utama tanaman air nyatanya juga menghadirkan potensi komoditas ekspor baru akan berbagai tanaman air, salah satunya yaitu Bucephalandra.

Daun Dolar, Tanaman Obat Khas Kalimantan yang Kontroversial

Karakteristik Bucephalandra

Bucephalandra red maharani
info gambar

Bucephalandra merupakan nama ilmiah dari tanaman air yang sejak beberapa tahun terakhir sangat populer dan banyak diminati oleh kalangan pencinta akuaskap tidak hanya di Indonesia, melainkan juga dunia.

Melansir KlikHijau.com, nama Bucephalandra sendiri diberikan karena tanaman ini memiliki bentuk bunga yang sepintas menyerupai tanduk banteng. Faktanya, tanaman ini pertama kali diperkenalkan pada tahun 2014 oleh seorang kolektor tanaman air asal Jepang bernama Nakamoto.

Tanaman yang umumnya disebut dengan nama Buce ini dikenal sebagai tanaman air endemik khas Kalimantan, sehingga membuat tanaman tersebut juga kerap disebut dengan nama Buce Kalimantan atau Buce Borneo.

Memiliki variasi yang sangat tinggi, saat ini diketahui sudah terdeteksi sebanyak 30 spesies tanaman Buce yang tersebar di Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Barat.

Ke-30 spesies berbeda tersebut memiliki bentuk dan warna yang beragam, mulai dari hijau, ungu, cokelat, hingga hijau tua. Untuk bentuknya sendiri ada yang berdaun lancip, bulat, dan masih banyak lagi.

Disebutkan bahwa berkat bentuk daun dan warnanya yang elegan, tanaman air ini bahkan menjadi target perburuan para akuaskaper seantero dunia.

5 Tanaman Berharga di Indonesia Yang Telah Terkenal Sejak Zaman Pertengahan

Diminati berbagai akuaskaper mancanegara

Bucephalandra dalam akuaskap
info gambar

Sejak diperkenalkan pada tahun 2014, tanaman eksotik dan endemik Kalimantan ini nyatanya berhasil menjadi magnet bagi para kolektor tanaman air sekaligus pencinta akuaskap yang berasal dari seluruh dunia, mulai dari Thailand, Jepang, Hongkong, China, berbagai negara Eropa, dan Amerika Serikat.

Mengutip laman resmi hortikultura.pertanian.go.id, disebutkan bahwa para akuaskaper di AS bahkan harus merogoh kocek sebesar 70 dolar AS atau sekitar Rp980 ribu hanya untuk mendapatakan satu rumpun kecil Buce Kalimantan.

Direktur Perbenihan Direktorat Hortikultura Kementan, Sukarman menjelaskan bahwa berdasarkan hasil wawancara dengan beberapa penggiat tanaman air ini, untuk harga Buce Kalimantan di tanah asalnya mencapai Rp500 ribu hingga Rp800 ribu per kilogram untuk penjualan di dalam wilayah.

Sementara itu untuk penjualan di luar wilayah Kalimantan harganya bisa mencapai Rp500 ribu hingga Rp1 juta, tergantung dari jenisnya.

Banyaknya permintaan mancanegara akan tanaman air satu ini nyatanya membuat sejumlah pembudidaya Buce Kalimantan banyak yang mengajukan permohonan ekspor ke sejumlah negara.

Merujuk data unit Pelayanan Rekomendasi di Direktorat Jenderal Hortikultura, hampir setiap hari ada usulan permohonan ekspor tanaman tersebut. Tujuan ekspor pun beragam mulai dari Amerika, Peru, Vietnam, Hongkong, Jepang, dan Korea.

“Saat ini terdapat 16 pelaku usaha yang aktif mengajukan permohonan untuk mendapatkan surat izin pengeluaran atau ekspor untuk benih Bucephalandra.” kata Sukarman, saat kepopuleran tanaman Buce ini meroket di pertengahan tahun 2020 lalu.

Selain Buce, tak dimungkiri juga ada banyak tanaman air lainnya yang tak kalah populer dan kerap diajukan sebagai komoditas ekspor oleh para pembudidaya, di antaranya yaitu Anubias, Krokot, Ammania, Aponogeton, Carolina, Bacopa, dan masih banyak lagi.

Begini Cara Membuat Rumah Makin Cantik dengan Tanaman Hias

Usaha budidaya

Budidaya Bucephalandra
info gambar

Di sisi lain meskipun memiliki keindahan dan potensi yang besar, nyatanya Buce merupakan jenis tanaman yang memiliki siklus pertumbuhan cukup lambat.

Selain itu, akibat tergiur dari permintaan yang tinggi, banyak pelaku usaha yang membudidayakan Buce dengan cara yang tidak sesuai dengan sebagaimana mestinya, sehingga dikhawatirkan akan terjadi penyalahgunaan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab seperti eksploitasi berlebih yang bisa menyebabkan gangguan pada ekosistem aslinya.

Demi meminimalisir hal tersebut, pihak Badan Penelitian Bidang Pertanian (Balitbangtan) akhirnya langsung sigap melakukan upaya budidaya Buce. Dari yang awalnya hanya tumbuh di alam Borneo, kini tanaman air Buce sudah dibudidayakan di Bogor, Cirebon, Madiun, dan termasuk di wilayah Kalimantan sendiri dengan pengawasan dari pihak yang bersangkutan.

Kenali Beragam Bunga yang Mudah Dibudidaya

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Siti Nur Arifa lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Siti Nur Arifa.

Terima kasih telah membaca sampai di sini