Menyaksikan Upacara Wiwitan dan Tari Edan-Edanan di Kampung Wisata Rejowinangun

Menyaksikan Upacara Wiwitan dan Tari Edan-Edanan di Kampung Wisata Rejowinangun
info gambar utama

Yogyakarta merupakan salah satu daerah dengan beragam potensi wisata di Pulau Jawa. Rasanya tak pernah bosan mengunjunginya karena selalu banyak tempat yang bisa dijelajahi, mulai dari wisata alam, budaya, sejarah, belanja, kuliner, atau hanya sekadar ingin berjalan-jalan santai sambil menikmati suasana perkotaan yang tenang.

Ada beberapa objek wisata legendaris yang ramai dikunjungi turis, terutama yang baru pertama kali ke Yogyakarta, misalnya kawasan Malioboro, Alun-Alun Selatan, Taman Sari, Pantai Parangtritis, Candi Prambanan, Tugu Yogyakarta, Goa Pindul, dan pantai-pantai di daerah Gunung Kidul.

Namun, selain itu banyak pula tempat wisata lain yang bisa dijelajahi. Misalnya, kawasan desa wisata. Yogyakarta termasuk salah satu kota yang punya banyak desa wisata dengan keunikan masing-masing. Salah satunya adalah Kampung Wisata Rejowinangun.

Menjelajahi Pesona Objek Wisata di Kaki Gunung Semeru

Kampung Wisata Rejowinangun

Tak sulit menemukan desa wisata ini, sebab lokasinya tak jauh pusat kota seperti Keraton dan Malioboro, berdampingan dengan Gembira Loka Zoo. Secara administrasi, kampung ini berada di Kelurahan Rejowinangun Kecamatan Kotagede.

Kampung Wisata Rejowinangun menawarkan konsep wisata dengan lima kluster, yaitu budaya, kerajinan, kuliner, herbal, dan agrowisata.

Kluster agrowisata termasuk pilihan yang disukai anak-anak. Salah satu atraksi paling diminati adalah kegiatan tata kelola pertanian kota atau membuat keripik dari bahan utama 200 jenis daun. Dari kluster herbal, pengunjung bisa menikmati wisata keliling perkebunan Toga dan meihat proses pembuatan jamu.

Selain itu, wisatawan pun dapat melihat berbagai kerajinan yang dibuat masyarakat setempat, mulai dari wayang kulit, batik motif kipo, blangkon, lukisan, kerajinan berbahan kulit, kerajinan fiber berbentuk pajangan pesawat, hingga kerajinan daur ulang dari sedotan. Soal kuliner, jangan lewatkan kesempatan mencoba hidangan legendaris Bakmi Jowo Mbah Gito.

Tenganan Pegringsingan, Desa Bercorak Bali Kuno dan Perang Pandan

Tari Edan-Edanan

Mengunjungi Kampung Wisata Rejowinangun, Anda bisa menyaksikan atraksi tarian Edan-Edanan. Biasanya tarian ini memang ditampilkan untuk menyambut para wisatawan. Bahkan,’ para penari akan mengajak tamu menari bersama karena pada dasarnya tarian tidak memiliki gerakan atau pakem khusus sehingga siapapun bisa bergabung.

Salah satu keunikan dari tarian ini justru terletak pada penampilan si penari yang menggunakan riasan heboh dan cenderung aneh, seperti badut.

Tarian Edan-Edanan ini sebenarnya merupakan salah satu upaya manusia untuk mengalihkan perhatian makhluk halus saat manusia sedang memiliki hajat. Selain penampilan tari-tarian, biasanya para penari juga akan menebar kembang warna-warni di berbagai tempat, khususnya yang memang dianggap keramat.

Selama ini, masyarakat Jawa memang dikenal dengan rasa sosial tinggi, ramah, gotong-royong, toleransi, dan meyakini adanya kehidupan makhluk lain di tengan kegiatan manusia, serta tentunya percaya pada kuasa Tuhan. Jin, setan, dan roh halus tidak dipahami manusia apakah mereka ingin mengganggu atau sekadar ingin berinteraksi.

Selain untuk menyambut tamu, tari Edan-Edanan juga biasa ditampilkan pada upacara pernikahan. Biasanya penari terdiri dari pasangan laki-laki dan perempuan menyerupai pengantin untuk menolak bala dari roh jahat. Namun, tarian ini bukan sekadar ritual, tetapi juga berfungsi sebagai hiburan.

Pos Bloc, Tempat Kongko dan Ruang Kreatif Baru di Gedung Kantor Pos

Upacara wiwitan

Daya tarik lain di Kampung Wisata Rejowinangun ialah gelaran upacara adat wiwitan yang erat kaitannya dengan pertanian. Upacara adat tersebut biasa diadakan untuk mengawali panen padi, yaitu ritual pemotongan padi menggunakan alat yang dinamakan ani-ani.

Upacara ini dimeriahkan dengan berbagai pernak-pernik dan aneka makanan tradisional dan sega wiwit yang menjadi persyaratan. Rangkaian acara selama wiwitan ini termasuk gelaran kirab budaya, seni pertunjukkan wayang kulit, sebagai ungkapan gembira masyarakat atas hasil panen yang melimpah, sekaligus ungkapan rasa syukur mereka kepada Tuhan atas kesejahteraan warga.

Upacara wiwitan akan dimulai dengan prosesi arak-arakan sego wiwit bersama gunungan padi kering dan buah-buahan, ingkung ayam, hingga sego gurih sampai ke persawahan yang akan jadi tempat upacara. Nantinya, masyarakat dan wisatawan yang berkunjung pun bisa sama-sama menikmati kembul bujono, makan nasi wiwit bersama.

Petani pemilik lahan pun akan memetik tangkai padi. Jumlah tangkai yang dipetik pertama kali disesuaikan dengan hari pasaran Jawa saat padi tersebut mulai dipetik. Kemudian, tangkai padi yang dipetik akan dibawa pulang oleh pemilik lahan dan ditempel di tembok rumah sebagai simbol agar rezeki selalu didapatkan oleh pemilik rumah dan jadi pengingat bahwa rezeki yang diterima tidak lain berasal dari Tuhan.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Dian Afrillia lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Dian Afrillia.

Terima kasih telah membaca sampai di sini