Berkenalan dengan Museum Tertua di Indonesia yang Berdiri Sejak Tahun 1890

Berkenalan dengan Museum Tertua di Indonesia yang Berdiri Sejak Tahun 1890
info gambar utama

Tepat di hari ini, 12 Oktober 2021 sejatinya merupakan momen istimewa untuk memperingati Hari Museum Nasional.

Sebagai negara yang memiliki sejarah panjang dalam mencapai kemerdekaan, dan didukung dengan kekayaan budaya tak terhingga dari berbagai suku yang wajib dilestarikan, tak heran jika Indonesia memiliki ratusan museum yang saat ini tersebar di seluruh penjuru negeri.

Menurut data yang dimiliki oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbud Ristek), tercatat bahwa per tahun 2020 Indonesia memiliki sebanyak 439 museum yang tersebar di berbagai wilayah tanah air.

Adapun dari ratusan museum tersebut, beberapa provinsi yang mayoritas berada di Pulau Jawa dan sekitarnya diketahui menjadi wilayah dengan keberadaan museum terbanyak.

Diketahui bahwa di peringkat pertama ada provinsi Jawa Timur yang memiliki sebanyak 63 museum, diikuti dengan Jawa Tengah yang memiliki 62 museum, DKI Jakarta dengan 61 museum, Jawa Barat dengan 41 museum, kemudian Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta yang memiliki sebanyak 35 museum.

Sementara itu sekitar 177 museum sisanya tersebar di seluruh wilayah lain seperti Bali, Sumatra Utara, Sumatra Barat, Aceh, Bengkulu, Gorontalo, dan masih banyak lagi.

Lalu bagaimana awal mula lahirnya Hari Museum Nasional dan apa makna yang ingin dijaga dari hadirnya hari peringatan ini?

10 Provinsi dengan Museum Terbanyak di Indonesia

Sejarah dan tujuan peringatan Hari Museum Nasional

MMI
info gambar

Penetapan Hari Museum Nasional diketahui bermula dari Musyawarah Museum se-Indonesia (MMI) yang pertama kali diselenggarakan pada tanggal 12-14 Oktober 1962 di Yogyakarta.

Lewat pertemuan yang dihadiri oleh sebanyak 250 pengelola museum di Indonesia, dilakukan pembahasan mengenai sejumlah isu dan kerangka visi serta misi dalam dunia permuseuman untuk kemajuan museum di tanah air.

Walau MMI sudah berlangsung sejak tahun 1962, tapi penetapan Hari Museum Nasional baru diresmikan setelah adanya diskusi yang dilakukan oleh Direktorat Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman Kemdikbud pada tahun 2015.

Hari berlangsungnya MMI pertama dipilih sebagai tanggal untuk memperingati Hari Museum Nasional, sehingga dunia permuseuman di Indonesia akhirnya memiliki tanggal sendiri dalam perayaan Hari Museum yang jatuh setiap tanggal 12 Oktober hingga saat ini.

Tak dimungkiri, bahwa museum merupakan hal yang sangat penting dalam menjaga peradaban dan sejarah yang dimiliki. Beberapa pihak bahkan menilai bahwa keberadaan museum jika bisa terus bertambah, seiring dengan semakin banyaknya kekayaan budaya di masa lampau yang ternyata belum terkuak seluruhnya hingga saat ini.

Di saat yang bersamaan, museum diharapkan dapat menjadi sarana agar generasi di masa depan memiliki sumber pengetahuan mengenai sejarah dan riwayat penting akan berbagai peristiwa yang terjadi di tanah kelahiran mereka.

Melihat pentingnya peran yang dimiliki dari keberadaan museum di tanah air, tak jarang muncul pertanyaan mengenai seperti apa sebenarnya wujud museum yang pertama kali hadir di Indonesia, dan apakah masih ada hingga saat ini?

125 Tahun Hadir, Inilah Kegiatan Dari Museum Zoologi Bogor

Museum pertama di tahun 1890

Museum
info gambar

Museum Radya Pustaka, adalah museum tertua di Indonesia yang sudah berdiri sejak tahun 1890 dan masih ada hingga detik ini. Bagi masyarakat Solo mungkin tidak asing dengan keberadaan museum yang berlokasi di Jalan Slamet Riyadi, Kelurahan Sriwedari, Kecamatan Laweyan, Surakarta ini.

Memiliki berbagai macam koleksi barang sejarah dan menggambarkan kehidupan masyarakat Jawa di masa lampau, Museum yang jika diartikan dari namanya memiliki makna ‘Perpustakaan Keraton’ atau ‘Perpustakaan Negara’ ini memiliki beragam koleksi yang berasal dari zaman Kerajaan Mataram, Majapahit, dan Demak.

Menilik riwayat pendiriannya, Museum Radya Pustaka didirikan pada masa pemerintahan Pakubuwono IX oleh Kanjeng Raden Adipati Sosrodiningrat IV, pada tanggal 28 Oktober 1890 di Dalem Kepatihan Keraton Surakarta.

Pada awalnya, tempat itu digunakan untuk menyimpan berbagai surat-surat kerajaan, dan sering digunakan sebagai tempat berkumpulnya para sastrawan dan pujangga keraton. Karena itu, tak heran jika tempat ini memiliki nama lain Perpustakaan Keraton.

Namun seiring berjalannya waktu, tempat tersebut kemudian juga digunakan untuk menyimpan benda-benda lain milik kerajaan. Karena semakin banyak barang yang disimpan, akhirnya pada tanggal 1 Januari 1913 semua koleksi tersebut dipindahkan ke Jalan Slamet Riyadi Solo yang menjadi lokasi museum hingga saat ini.

Kala itu, bangunan Museum Radya Pustaka tidak seperti museum pada umumnya yang selama ini banyak dikenal. Karena bangunan tersebut pada dasarnya merupakan sebuah rumah tinggal milik warga Belanda bernama Johannes Busselaar yang juga dikenal dengan nama Loji Kadipolo.

Wayang kulit koleksi Museum Radya Pustaka
info gambar

Seiring berjalannya waktu, luas museum akhirnya semakin bertambah bersamaan dengan semakin banyaknya berbagai koleksi barang penting yang diperoleh. Berbagai koleksi yang dimaksud terdiri dari buku, manuskrip, naskah kuno, pusaka adat, arca-arca, benda atau perkakas kuno, berbagai jenis wayang, alat musik tradisional, dan masih banyak lagi.

Lain itu, objek koleksi yang menjadi ikon utama dari museum ini adalah patung Raden Ronggowarsito yang merupakan seorang Pujangga Keraton Surakarta dari abad ke-19.

Ada juga koleksi lain yang paling terkenal yaitu sebuah kotak musik buatan Prancis yang berhiaskan bunga-bunga dengan ornamen burung kecil yang menancap di bagian atasnya. Konon, benda tersebut merupakan hadiah dari Raja Prancis Napoleon Bonaparte kepada Raja Pakubuwono ke-4.

Melansir laman Indonesia.go.id, diduga bahwa pengumpulan benda-benda yang ada di Museum Radya Pustaka dulunya dilakukan oleh Ronggowarsito.

Sekilas informasi, Ronggowarsito (Raden Ngabehi Rangga Warsita) adalah pujangga besar budaya Jawa yang hidup di Kasunanan Surakarta. Dirinya dianggap sebagai pujangga besar terakhir tanah Jawa dan dipandang sebagai sosok yang cerdas pada zamannya.

Pernah berjalan dengan pengelolaan yang berbeda dibanding museum lainnya, museum pertama dan tertua yang dimiliki Indonesia ini sempat berada di bawah pengelolaan Komite Museum Radya Pustaka yang merupakan pengembangan dari Yayasan Paheman Radya Pustaka Surakarta yang dibentuk pada tahun 1951.

Namun karena mengalami beberapa kesulitan pengelolaan terutama dalam segi pemenuhan kebutuhan biaya, sejak tahun 2017 akhirnya pengelolaan Museum Radya Pustaka diambil alih oleh Pemerintah Kota Solo yang melibatkan Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa Tengah.

Belajar Sejarah Jawa dan Pembacaan Weton di Museum Radya Pustaka

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Siti Nur Arifa lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Siti Nur Arifa.

Terima kasih telah membaca sampai di sini