Ketika Benyamin Sueb Tolak Jabatan Menteri Penerangan pada Masa Soeharto

Ketika Benyamin Sueb Tolak Jabatan Menteri Penerangan pada Masa Soeharto
info gambar utama

Pada akhir 1970-an, Benyamin Sueb tiba-tiba dipanggil ke Jalan Cendana, Jakarta Pusat, rumah pribadi Presiden Soeharto. Ben mengajak sahabatnya, Wiryanto untuk menemani. Wiryanto yang menyetir mobil. Benyamin deg-degan sebagai penumpang.

Wiryatno yang biasa dipanggil Kife oleh Bang Ben saat itu menjabat Manajer Pemasaran Adiasa Film, perusahaan milik Soewoto Soekendar, mantan Kepala Staf TNI Angkatan Udara. Adiasa Film memproduksi beberapa film yang dibintangi Benyamin Sueb.

"....Tak disangka tak dinyana, Presiden Soeharto menawarkan jabatan Menteri Penerangan kepada Benyamin. Saya lihat Bang Ben cengar-cengir saja," ucap Wiryanto dikutip dari DetikX, Selasa (12/10/2021).

Tentu tidak ada yang menyangka, Ben yang terkenal suka membanyol malah ditawari jabatan menteri oleh Presiden Soeharto. Lalu, apa jawaban Bang Ben kala itu?

“Saya kagak berani, Pak Presiden. Saya orangnya belum kebal, suka kagak tahan godaan. Nanti kalau ada yang dateng bawa duit lima karung, gimana? Masak saya tolak, hehehe ... Ditolak mubazir, saya terima jadi korupsi, dong,” Wiryanto menirukan jawaban Benyamin.

Mendengar jawaban lugu dari Benyamin, Presiden Soeharto hanya tersenyum.“Ya sudah kalau memang tidak bersedia,” kurang-lebih seperti itu respons Presiden terang Wiryanto.

Benyamin Sueb Mejeng dalam Google Doodle

Melihat sahabatnya menolak jabatan penting itu, Wiryanto lantas mengomel. “Kenape ditolak? Kalau Bang Ben jadi menteri, biar saya yang jadi sekretaris jenderalnya. Saya akan urus semuanya,” kata Wiryanto.

Dengan gaya khasnya, Benyamin kontan menyergah. “Kagak mau. Gue ogah main politik. Gue kagak bisa boong.”

Tawaran jadi Menteri Penerangan ini ternyata tidak dirinya ceritakan kepada keluarganya. Walau begitu, keluarganya mengaku bahwa Benyamin cukup dekat dengan keluarga Cendana. Bukan satu-dua kali Benyamin diundang ke Cendana dan Bina Graha, kantor Presiden Soeharto.

Bila saja Benyamin mau memanfaatkan kedekatannya dengan para petinggi negara itu, dia mungkin sudah lama berkantor di Senayan. Tetapi sepertinya Benyamin tetap menyukai dunia seni hingga tidak mau meninggalkannya.

“Babe cinta banget sama dunia musik dan seni sampai tidak rela ninggalin.” ucap Benny Pandawa salah satu anak Ben.

Jadi jubir kampanye Golkar

Sebagai seniman, Benyamin sebenarnya tidak benar-benar jauh dari dunia politik. Pada Pemilihan Umum (Pemilu) 1971, dirinya direkrut sebagai juru kampanye (jurkam) Partai Golkar.

Semasa Orde Baru (Orba), para artis memang digerakkan untuk mendulang suara. Tiga kekuatan: Golkar, Partai Persatuan Pembangunan (PPP), dan Partai Demokrasi Indonesia (PDI), memanfaatkan kemasyhuran mereka. Tentunya yang paling masif menggunakan artis adalah partai berlambang beringin.

Bedasarkan paparan Lokadata, Tim Kesenian Safari Golkar diperkuat oleh 324 artis dan pendukungnya, terdiri atas 60 penyanyi dan 13 band pengiring. Penyanyi kondang kala itu yang bergabung dengan Golkar di antaranya Lilies Suryani, Titiek Puspa, Taty Saleh, Elly Kasim, dan tentunya Benyamin.

Untuk mengangkut dan mengirim para artis ke seluruh penjuru Tanah Air selama musim kampanye, Golkar mengerahkan 14 pesawat milik Bouraq dan Seulawah. Dengan kekuatan artis sedahsyat itu, tak aneh jika Golkar mampu mengeruk 62,8 persen suara, unggul jauh dari sembilan partai lawannya.

Dalam catatan Majalah TEMPO (9/4/1977), PPP sebenarnya tertarik merekrut Ben. Namun mereka kalah tangkas dari Golkar. Waktu itu, Partai Kakbah cuma bertumpu kepada Rhoma Irama untuk meriuhkan kampanye.

Bicara Musik Etnik dan Budaya Betawi, Ipank HoreHore: Kite Anak Muda Nyang Kudu Jagain Obornye

"Kate siape itu? Kite kagak demen narik-narik Benyamin, dia bukan tokoh berpengaruh,” kata politisi PPP era Orde Baru, Ridwan Saidi, di rumahnya, Bintaro, Jakarta Selatan.

Dengan memilih Golkar, sebenarnya Ben dianggap menubruk tradisi Betawi. Ada slogan: haram bagi Betawi pilih partai selain PPP. Tetapi, ada pemakluman juga soal sikap Ben untuk memilih Golkar.

"Ben mungkin cari aman. Karena ada artis PPP yang sudah syuting, tetapi enggak diputar di TVRI,” kata Salim Said, yang ketika itu merupakan kritikus film dari Majalah TEMPO.

Sebagai partai penguasa, pengaruh Golkar memang bisa tembus dalam segala aspek pemerintah. Terutama untuk mengatur TVRI dan Radio Republik Indonesia, tempat para artis menyandarkan karier dan ketenaran.

Menurut Salim, faktor itu juga yang membuat Bang Ben pilih Golkar. Dirinya ingin tetap jadi seniman, bukan politisi tulen. Ia sebatas jurkam saja dengan membuatkan lagu-lagu kampanye untuk Golkar. Di antaranya Golkar-mu, Golkar-ku dan Coblos Nomer Dua.

Sejak masuk Golkar, selain makin populer, Bang Ben juga makin dekat dengan petinggi Golkar, salah satunya Harmoko. Namun Harmoko itu bukan orang baru bagi Ben, dia mengenalnya saat sama-sama nongkrong di Senen, yang kemudian terkenal dengan sebutan Seniman Senen.

“Saya sudah kenal lama, sejak kami masih sama-sama di Senen,” kata Harmoko seperti dikutip Suara Pembaruan saat itu.

Bahkan saat Ben berpulang pada 5 September, dan dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum Karet Bivak, Jakarta. Harmoko bersama empat menteri lainnya mengantarnya ke liang lahat, bersama ribuan orang yang menyemut di sepanjang perjalanan jenazah Ben ke Karet Bivak.

“Dia seniman yang sangat merakyat, yang pantas mendapatkan penghormatan besar di akhir hidupnya,” kata Harmoko.

Seni jenaka cara Ben suarakan masyarakat

Banyaknya artis-artis yang memilih Golkar tidak bisa dilepas pada masa sebelumnya. Pada masa Bung Karno, kebebasan bagi para seniman kurang, bahkan ada yang sempat di penjara.

Karena itu timbul semangat dari para seniman untuk ikut kampanye, karena mengharapkan keadaan yang lebih baik, salah satunya Benyamin. Dirinya memang punya pengalaman buruk soal ketidakbebasan itu di pemerintahan Bung Karno.

Dipaparkan oleh Historia, saat itu Ben dan teman-temannya tergabung dalam grup Melody Boys. Dengan alat musik seadanya, mereka dengan lihai memainkan dan selalu berhasil tampil menawan membawakan lagu-lagu Belanda tempo doeloe.

Suatu kali mereka mendadak didatangi jurnalis surat kabar komunis Warta Bhakti, saat memainkan lagu Blue Moon Frank Sinatra. Wartawan itu melarang mereka menyanyikan lagu barat.

Sebab, kalau tak berhenti nyanyi, Melody Boys akan bernasib seperti Tony Koeswoyo dan Koes Plus yang masuk penjara. Ketika itu musik barat mulai dilarang di pemerintahan Presiden Soekarno, berbarengan masa konfrontasi dengan Malaysia pada awal 1960-an.

Mereka pun mengganti lagu, dan membawakan Bengawan Solo, yang membuat para tamu di sebuah klub heran. Situasi itu memaksa Ben dan teman-temannya mengganti nama Melody Boys menjadi Melodi Ria.

Kebudayaan Unik Betawi yang Tersembunyi

Tetapi Ben melihat peluang lagu berirama dan berbahasa Betawi bisa mengambil tempat di hati masyarakat. Hal itu dikarenakan dirinya melihat ramuan yang sama nyatanya berhasil terhadap lagu-lagu Minang yang kemudian mendapat tempat di masyarakat Indonesia.

Bang Ben pun tertantang, dia mulai menciptakan satu demi satu lagu betawi. Hasilnya, apresiasi tinggi dia dapat. Tahun 1968 jadi titik yang membuat Ben semakin bersinar di dunia musik yang identik dengan gambang kromong --kesenian khas Betawi-- itu.

“Kalau tidak ada larangan Bung Karno, saya barangkali tidak akan pernah menjadi penyanyi lagu-lagu Betawi,” kata Benyamin kepada Theodore K.S. sebagaimana dikutip dari Kompas.

Lagu-lagu Ben, melukiskan rona kehidupan orang Jakarta. Lewat lagunya dia bicara mulai got mampet, dua tetangga yang berselisih, pertengkaran tukang kredit sampai soal memandikan burung perkutut.

Semua dia ceritakan dengan kata-kata sederhana, mudah dicerna, dan seringkali penuh jenaka. "Ledakan" pertama terjadi lewat Si Jampang (1969), disusul Kompor Meleduk (1970), dan Ondel-ondel (1971)

Pada dekade akhir 1980-an Benyamin sempat membuat lagu berjudul Digusur, ciptaannya yang berkisah tentang fenomena penggusuran di Ibu Kota. Lagu ini malah membuat Gubernur DKI Jakarta saat itu Ali Sadikin tersenyum-senyum.

Sementara lagu kritiknya yang berjudul Pungli memperoleh penghargaan dari Kopkamtib. Lagu itu dianggap menunjang program Operasi Tertib yang sedang digalakkan pemerintah tahun 1977.

Ben memang berhasil menampilkan diri sebagai seniman yang mampu melihat sisi manusiawi dari kehidupan orang-orang Jakarta. Ia bisa bernyanyi merdu bahkan tak jarang seenak perutnya sendiri, tetapi itulah kekuatan Ben yang turut membentuk kharismanya.

“Ia adalah seniman yang komikal, dan jenaka,” ujar Deny Sakrie.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini