Eksibisi Between Worlds, Sebuah Persembahan bagi Raden Saleh di Singapura

Eksibisi Between Worlds, Sebuah Persembahan bagi Raden Saleh di Singapura
info gambar utama

Penulis: Nur Annisa Kusumawardani

Gabung ke Telegram Kawan GNFI, follow Instagram @kawangnfi dan Twitter @kawangnfi untuk dapat update terbaru seputar Kawan GNFI.

Nama Raden Saleh tentunya sudah tidak asing bagi telinga kita. Seniman yang karyanya kerap dipelajari dalam pelajaran seni dan budaya ini memang telah menghasilkan karya-karya luar biasa.

Tak hanya dikagumi di Indonesia, Raden Saleh juga menjadi inspirasi bagi seniman-seniman di seluruh dunia. Lukisan yang ia ciptakan telah dipajang di museum-museum di berbagai negara. Salah satunya Singapura.

Galeri Nasional Singapura (The National Gallery Singapore) mengumpulkan beragam karya-karya terbaik Raden Saleh, dan menampilkannya dalam eksibisi berjudul “Between Worlds” di tahun 2017 hingga 2018 lalu.

Dalam eksibisi Between Worlds, lukisan-lukisan Raden Saleh disejajarkan dengan karya Juan Luna, seorang seniman asal Filipina yang memenangkan medali emas di eksibisi nasional karya seni murni di Madrid pada 1884.

Kolaborasi kedua seniman ini penting sebagai gambaran estetika yang tidak berpusat pada kolonial (kolonial sentris) dengan memberi ruang bagi imajinasi nasional Indonesia dan Filipina sebagai negara yang berdaulat dalam dunia seni.

Kisah dan Makna di Balik 5 Lukisan Raden Saleh yang Mendunia

Mengenal Raden Saleh: seniman modern terbaik Indonesia

Raden Saleh | dw.com
info gambar

Memiliki nama lengkap Raden Saleh Sjarif Boestaman, Saleh lahir dalam keluarga bangsawan dengan keturunan Arab di Semarang, Jawa Tengah. Ketika menginjak 10 tahun, ia pindah ke Batavia (kini Jakarta).

Di Batavia, Saleh mulai berteman dengan orang-orang Belanda, termasuk Profesor Caspar Reinwart, salah satu pendiri Kebun Raya Bogor. Prof. Caspar inilah yang kemudian mempekerjakan Raden Saleh.

Selama bekerja, Raden Saleh bertemu dengan seorang pelukis bernama AAJ Payen yang kemudian menaruh perhatian pada bakat Saleh dan memutuskan untuk mengajarkannya melukis. Melalui rekomendasinya dan beasiswa dari pemerintah Hindia, Raden Saleh kemudian pergi ke Eropa untuk melanjutkan pendidikan dalam bidang seni di tahun 1829.

Di Eropa, Saleh sering mendapat tugas untuk melukis para bangsawan, ia bahkan dijuluki sebagai “King’s Painter” oleh King Willem III Belanda. Di negara itu pula, karya-karya Saleh dipamerkan. Misalnya dalam Rijksmuseum Amsterdam dan Hague.

Di salah satu acara pameran, Raden Saleh bertemu dengan pelatih singa asal Prancis bernama Henri Martin. Perjumpaan inilah yang menjadi titik awal minat, sekaligus ciri khas yang ditorehkan Raden Saleh dalam karya-karyanya yang bertemakan alam liar dan binatang buas.

Labi-labi Moncong Babi, Hewan Endemik Papua yang Semakin Langka

Between Worlds: eksibisi karya seni Raden Saleh dan Juan Luna

Six Horsemen Chasing Deer by Raden Saleh | Foto: National Gallery Singapore/File
info gambar

Pameran Between Worlds yang digelar mulai dari 16 November 2017 hingga 11 Maret 2018 ini adalah bagian dari rangkaian Century of Light, sebuah penampilan istimewa yang berfokus pada karya seni di abad ke-19.

Sebagai salah satu pameran terbesar yang menampilkan karya Raden Saleh, terdapat sekitar 72 lukisan Saleh yang ditampilkan di museum ini. Termasuk dua lukisan lanskap Jawa dari koleksi Smithsonian American Art Museum.

Dilansir dari The Jakarta Post, pihak kuratorial museum bernama Russell Storer mengatakan bahwa pameran Between Worlds ini adalah puncak dari empat tahun kerja keras para kurator galeri -Clarissa Chikiamco, Syed Muhammad Hafiz, dan ia sendiri- untuk menyatukan lukisan, gambar, dan arsip Raden Saleh dan Juan Luna.

Karya-karya yang ditampilkan di pameran ini berasal dari berbagai belahan dunia, baik sektor publik seperti museum, maupun koleksi pribadi Asia Tenggara, Eropa, dan Amerika. Hal ini menjadikan eksibisi Between Worlds menjadi yang pertama kali melakukan kurasi dan pengumpulkan karya Saleh dan Luna dalam skala besar.

Eddy Soetriuono, Kurator Seni yang Setia jadi Jembatan Seniman dan Masyarakat

Dilansir dari Art Asia and Pacific, pameran Between Worlds tidak hanya berkutat pada topik nasionalis yang diekspresikan melalui praktik artistik. Bahkan, salah satu karya penting Raden Saleh yang menunjukkan keberpihakan politiknya, Penangkapan Pangeran Diponegoro (1857) tidak ditampilkan dalam pameran ini.

Sebaliknya, museum menampilkan karya-karya yang kurang terlihat di Asia Tenggara. Hal ini dilakukan untuk mengajak pengunjung untuk mempertimbangkan pembacaan paralel dari kreasi para seniman. Bukan hanya lambang nasionalisme, melainkan juga refleksi dari perjalanan visual masing-masing.

Melalui Between Worlds, publik dapat melihat perjalanan personal Raden Saleh dalam menangkap kejadian dan fenomena yang mengelilinginya. Ia juga menawarkan perspektif lain melalui seni bahwa Indonesia bukan hanya tentang tanah yang dijajah oleh kolonial, melainkan juga keindahan kehidupan sehari-hari yang diabadikan melalui karya seni.*

Referensi: Indonesia Design | Art Asia Pacific | The Jakarta Post

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Kawan GNFI Official lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Kawan GNFI Official.

Terima kasih telah membaca sampai di sini