Ketika Junghuhn Membongkar Kisah Misteri yang Menyelimuti Kawah Putih

Ketika Junghuhn Membongkar Kisah Misteri yang Menyelimuti Kawah Putih
info gambar utama

Dataran tinggi Bandung Selatan yang merupakan kawasan Gunung Patuha, memiliki keindahan alam yang sangat memesona. Banyak tempat wisata di area ini, dan yang paling indah adalah Danau Kawah Putih Ciwidey, Bandung.

Alam pemandangan di sekitar Danau Kawah Putih Ciwidey cukup indah, dengan air danau berwarna putih kehijauan, sangat kontras dengan batu kapur yang mengitari Danau Kawah Putih. Di sebelah utara danau berdiri tegak tebing batu kapur berwarna kelabu yang ditumbuhi lumut dan berbagai tumbuhan lainnya.

Namun pada masa lalu, Kawah Putih di puncak Gunung Patuha dianggap angker oleh masyarakat setempat sehingga tak seorang pun berani menginjaknya. Konon katanya kawasan ini merupakan tempat berkumpulnya roh halus para Prajurit Prabu Siliwangi yang moksa.

Selain udara yang dingin, bahkan di sore hari bisa mencapai 0 derajat, suasana sunyi dan hening sangat terasa ketika memasuki Kawah Putih ini. Ditambah dengan lebatnya hutan di kanan dan kiri jalan menuju puncak kawah, makin menambah kesan angker tempat ini.

Konon asal mula nama Gunung Patuha ini bermula dari kata sepuh yang dalam bahasa Indonesia disebut Pak Tua. Lambat laun, kata Pak Tua berubah menjadi Patuha.

Sementara itu menurut para ahli, sejarah terbentuknya kawah bermula pada Abad 10 dan 12 di mana terjadi sebuah letusan yang membentuk sebuah kawah besar yang sangat indah. Tetapi, sayangnya keindahan ini tidak diketahui oleh masyarakat setempat, bahkan segerombolan burung yang terbang jarang sekali melewati gunung ini.

Gunung Gede Pangrango, Tempat Sakral bagi Masyarakat Sunda dalam Catatan Bujangga Manik

Kalaupun ada burung yang lancang berani terbang di atas kawasan tersebut, akan jatuh dan mati. Anggapan tersebut juga diperkuat dengan adanya bau menyengat yang merebak di sekitar wilayah tersebut.

Masyarakat setempat mengaitkan peristiwa ini dengan kepercayaan akan adanya 7 makam para leluhur/sesepuh di puncak gunung tersebut. Satu di antara puncak Gunung Patuha yakni Puncak Kapuk, disebut-sebut sebagai tempat pertemuan para leluhur yang dipimpin oleh Eyang Jaga Satru.

Katanya, di tempat ini secara gaib terlihat sekumpulan domba berbulu putih. Masyarakat setempat menyebutnya domba lukutan.

Dengan bahasa Sunda, domba lukutan bermakna domba berlumut. Tetapi sampai sekarang tidak ada bukti yang dapat menyingkap mistis domba lukutan itu.

Junghuhn pecahkan misteri Kawah Putih

Narasi mistis mengenai keangkeran gunung itu juga selanjutnya sampai ke telinga Franz Wilhelm Junghuhn (1809-1864) yang disebut seorang Botanis kelahiran Jerman. Junghuhn saat itu tinggal di kawasan tanah Priangan untuk mengembangkan tanaman kina.

Dirinya telah menjelajahi gunung-gunung di Pulau Sumatra dan Jawa hingga menerbitkan buku yang menjadi acuan bagi peneliti dari sudut pandang ilmu botani, geologi, dan vulkanologi.

Berkat jasanya Indonesia menjadi negara pengekspor kina terbesar di abad 19. Dia pula yang pertama kali menulis laporan ilmiah tentang Pulau Jawa dan Sumatra.

Pada tahun 1837, Junghuhn berkunjung ke Bandung bagian Selatan (Ciwidey). Saat itu, dia memandangi sebuah area gunung yang terlihat sunyi bahkan tidak ada satu ekor burung pun yang terbang di atasnya, dan hal ini membuatnya penasaran.

Kemudian Junghuhn mencari informasi melalui masyarakat setempat tentang keanehan tersebut. Hampir dari mereka menceritakan hal yang sama bahwa Gunung Patuha merupakan area yang sangat angker di mana merupakan tempat arwah para leluhur dan merupakan pusat kerajaan makhluk halus.

Kimia Farma dari Pabrik Kina yang Pernah Kuasai Pasar Farmasi Dunia

Kondisi ini mungkin bagi seorang Eropa dengan latar belakang dan pemahamannya merupakan sesuatu yang kurang masuk akal sehingga membuatnya lebih penasaran. Gunung Patuha yang berbentuk hutan belantara saat itu pun ditembus Junghuhn dengan kemauan pecahkan misteri.

Tidak diduga, perjalanan Junghuhn waktu itu malah berbuah hadiah cantik berupa keindahan yang tidak terlukis oleh mata. Dia mendapati sebuah danau kawah yang cantik. Berbau belerang juga menusuk.

Kawah itu digenangi air sehingga membentuk danau yang sangat indah. Air bening dingin yang berasal dari mata air mengalir ke arah danau kawah menjadi air danau yang hangat. Danau kawah itu dikelilingi tebing-tebing dan pohon-pohon rimbun.

Pepohonan di salah satu bagian tebing tampak hangus seperti terbakar api. Nampaknya asap belerang hanya bertiup ke salah satu bagian tebing sehingga menghanguskan pepohonan di bagian itu.

Sesudah ditelaah, kandungan belerang di kawah itu tinggi sekali. Rupanya, hal itu yang mengakibatkan burung malas lewat di atas gunung setinggi 2.436 meter di permukaan laut (mdpl) itu.

Sumber daya belerang yang terdapat di Kawah Putih tidak lama setelah ditemukan Junghuhn dieksploitasi oleh pemerintah kolonial Belanda. Pabrik belerang Zwavel Ontgining Kawah Putih didirikan di dekat kawah.

Pada saat Jepang menduduki Indonesia pabrik itu diberi nama Kenzaka Yokoya Ciwidey. Pabrik itu diawasi secara ketat oleh tentara pendudukan Jepang dan didayagunakan untuk kepentingan militer.

Entah sejak kapan produksi belerang dari Kawah Putih mulai merosot, seterusnya berhenti. Namun penambangan belerang saat ini masih dilakukan oleh penduduk setempat.

Pengunjung Kawah Putih sering memunguti butir-butir belerang sebesar kerikil yang berwarna kuning bening di seputaran tepi danau kawah. Butir belerang itu sering dikonsumsi seperti layaknya minum obat keluaran pabrik. Butiran kuning bening itu dipercaya bisa menyembuhkan penyakit kulit.

Sementara itu gua peninggalan bekas pertambangan belerang itu masih ada. Hanya saja, kini sudah dipalang pakai kayu. Jangankan masuk, berdiri lama-lama di depan gua itu saja dilarang. Katanya, berbahaya buat kesehatan.

Dahulu, belerang yang ditambang dari tempat ini diangkut menggunakan kereta. Belanda membangun rel kereta dari Kawah Putih hingga Ciwidey. Kini, meski terputus-putus, rel itu pun masih ada. Melintang di hutan, tepi jalan dan perkampungan.

"Untuk wisata, ada rencana menghidupkan kembali jalur kereta itu," kata Lies Bahunta, Head Ecotourism & Agribusiness Bureau, Perhutani se-Jawa, yang dilansir dari JPNN, Kamis (14/10/2021).

Jadi tempat wisata favorit

Kendati potongan surga itu sudah ditemukan sejak 1837, masyarakat luas baru bisa menikmati keindahannya sejak tahun 1987 setelah PT Perhutani (Persero) Unit III Jabar dan Banten mengembangkannya menjadi objek wisata.

"Mulanya itu objek wisata rintisan. Sekadar tiket. Sejak 2010, potensi wisata tersebut mulai dibenahi secara serius oleh Perhutani," kata Bahunta.

Berada di ketinggian 2.434 meter di atas permukaan laut dengan suhu antara 8-22°C, akses ke puncak Gunung Patuha, Kecamatan Ciwidey, Bandung Selatan tak lah rumit. Dari Jakarta, masuk tol arah Bandung. Keluar di pintu Tol Kopo. Ambil arah Soreang.

Lanjut ke Ciwidey. Di kanan kiri jalan yang berliku dan turun naik, Anda bisa menikmati hamparan kebun strawberry. Sekitar 20 hingga 30 menit dari Kota Ciwidey, petunjuk jalan akan memandu Anda menuju gerbang objek wisata Kawah Putih.

Dari pintu gerbang ke puncak Patuha untuk melihat keindahan danau kawah, jaraknya sekira 5,6 km. Hanya 10 hingga 15 menit bila menggunakan kendaraan.

Medannya menanjak. Cukup curam dan sempit. Kurang lihai, kendaraan Anda bisa mundur karena tak mampu naik. Bila naik transportasi publik, dari Kota Bandung naik angkutan umum tujuan Ciwidey. Dari Ciwidey disambung angkutan pedesaan tujuan Situ Patengan.

Braga Permai, Restoran Jadul Bernuansa Eropa Klasik di Bandung

Setelah tutup karena pandemi Covid 19, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bandung berencana untuk membuka kembali kawasan wisata Kawah Putih. Selama tiga bulan sejak diberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) 2020 lalu, objek wisata Kawah Putih mengalami kerugian Rp 6 miliar dengan asumsi jumlah pengunjung 3000 orang.

Untuk menarik minat pengunjung objek wisata Kawah Putih kini ada tempat parkir luas, ada mushola, toilet, alat transportasi dari gerbang depan sampai ke kawah, pusat informasi, restoran, puluhan warung kuliner.

Alat transportasi yang mengantar pengunjung dari parkir depan sampai ke kawah yang berjarak kurang lebih 3 km itu yakni ontang-anting, bus mini yang dimodifikasi jadi kendaraan wisata. Satu ontang-anting bisa muat 12 orang.

Sampai ke kawah yang luasnya 25 hektare ini, dijamin pengunjung tidak akan tahan untuk berselfie. Yang hafal sejarahnya dan pernah mendengar mitos angkernya mungkin akan lupa karena pesona Kawah Putih.

Di tengah Kawah Putih kini dibangun dermaga ponton terbuat dari kayu yang dilengkapi pelampung. Wisatawan yang ingin berada di tengah-tengah kawah maka di dermaga inilah berada setelah melalui jembatan apung dari tepi kawah. Petugas akan memandu wisatawan untuk keamanan.

Di salah salah satu sisi kawah terlihat asap putih mengepul kaluar dari lubang lava. Jika saja tanpa jejak Junghuhn, mungkin sampai saat ini Kawah Putih belum tentu tergali potensinnya.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini