Ubah Motor Bekas Jadi Robot, Karya Seniman Asal Bantul Laris Manis Diburu Pebisnis China

Ubah Motor Bekas Jadi Robot, Karya Seniman Asal Bantul Laris Manis Diburu Pebisnis China
info gambar utama

Tidak akan ada penghalang menuju keberhasilan jika seseorang berani untuk berkreasi dan selalu ingin mencoba sesuatu yang baru. Setidaknya hal tersebut yang dijalani oleh Eri Sudarmono, pria berusia 42 tahun asal Bantul, Yogyakarta yang belakangan menarik perhatian publik.

Eri ramai dibicarakan karena keberhasilannya membuat karya yang menakjubkan berupa replika robot, yang jika dilihat secara seksama tampak begitu mirip seperti karakter yang selama ini banyak dikenal kehadirannya dalam film Transformers.

Seakan memberikan kesan nyata, robot-robot yang dihasilkan pada dasarnya memang dibuat dari komponen kendaraan berupa motor bekas berusia tua yang sudah tidak dapat digunakan.

Di tangan Eri, motor-motor bekas yang awalnya hanya memiliki nilai jual rendah atau bahkan tidak bernilai sama sekali, disulap menjadi sebuah karya yang memiliki nilai tinggi bahkan sampai diburu oleh pebisnis mancanegara.

Robot-robot Mulai Gantikan Pekerjaan Manusia di Bandara Ini

Salah satu seniman yang terdampak pandemi

Terungkap bahwa sebelum menggeluti usaha membuat robot dari kendaraan bekas, Eri ternyata merupakan seorang seniman lukis yang sudah berkarier sejak tahun 2006, di saat yang bersamaan dirinya juga biasa mengerjakan dekorasi untuk beragam acara di berbagai pusat perbelanjaan atau hotel saat momen liburan.

Namun semenjak pandemi melanda dan membuat seluruh aktivitas pariwisata dan hiburan terhenti, dirinya tidak lagi mendapat permintaan seperti biasa bahkan sempat tidak bekerja selama kurang lebih enam bulan.

"Saya selama enam bulan sejak ada virus corona tidak bisa berkarya. Rasanya aneh kalau saya tidak berkarya dalam waktu yang lama," ujar Eri, seperti yang dimuat oleh SuaraJogja.id.

Seiring berjalannya waktu, pada awal tahun 2021 Eri dihubungi oleh seorang kenalan asal Tiongkok yang sebelumnya kerap membeli lukisan hasil karyanya. Kenalan tersebut meminta Eri untuk membuatkan replika sebuah robot dengan syarat harus berasal dari material besi rongsok yang bersih.

Tak tanggung-tanggung, pemesan tersebut ternyata langsung mengirimkan uang muka atas orderan karya yang diketahui laku seharga Rp25 juta tersebut.

Di samping itu, ternyata ada alasan lain yang melatar belakangi Eri berani untuk mengambil pesanan membuat robot meski sebelumnya ia berprofesi sebagai pelukis. Eri ternyata pernah mengenyam pendidikan di jurusan Seni Kriya Logam, Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta pada tahun 1999.

Pendapatan yang menurun drastis selama pandemi juga membuat Eri berani untuk keluar dari zona nyaman, dan mencoba peruntungan menerima pesanan tersebut.

Indonesia Dominasi Kompetisi Robot di Malaysia

Tantangan membuat robot pertama

Bicara mengenai proses pembuatan, pada saat mengerjakan pesanan pertama Eri mengungkap bahwa untuk membuat robot berukuran setinggi 2,5 meter dirinya bersama para pegawai yang ia miliki membutuhkan waktu sekitar satu bulan.

“…pertama kali buat robot seperti di film Transformers butuh waktu satu bulan. Saya dan pegawai saya sempat lembur karena baru pertama kali." ungkap Eri.

Untuk karya robot perdana yang memiliki bobot sekitar 200-300 kilogram tersebut, dijelaskan bahwa material utama yang dibutuhkan terdiri dari lima unit sepeda motor bekas. Eri memilih motor bekas karena pada bengkel yang ia miliki, terdapat sejumlah motor tua yang awalnya akan direstorasi sehubungan dengan hobinya mengoleksi motor tua.

Adapun kendala yang dihadapi dalam membuat robot perdananya adalah saat harus menyesuaikan bahan-bahan yang ada. Pasalnya, tidak semua bagian sepeda motor yang sudah dipereteli punya ukuran yang sama.

Dijelaskan Eri, sebelum membuat satu unit robot langkah pertama yang harus dilakukan ialah membongkar sepeda motor dan membersihkan semua bagian seperti sok, karbu, tangki, hingga mesin yang sudah berkarat menggunakan bensin dan sabun.

Selesai dibersihkan, perakitan robot dimulai dari bagian kaki hingga ke kepala. Setelah itu, rangkaian yang telah ditetapkan kemudian dilas agar menjadi satu kesatuan yang kokoh, untuk selanjutnya masuk ke proses pengecatan yang membutuhkan waktu sekitar dua hari sampai benar-benar kering.

Robot Dari Sampah?

Proses pembuatan yang semakin terasah

Sukses mengerjakan pesanan pertama, tiga bulan berselang Eri diketahui mendapat pesanan lain yang tidak hanya berasal dari China melainkan juga Jerman. Banjiran pesanan yang didapat membuat dirinya harus membeli material motor bekas yang berasal dari pihak luar.

Dalam satu waktu, bahkan pernah ada yang melakukan pemesanan 10 robot sekaligus. Untuk memenuhi pesanan tersebut Eri mendatangkan motor bekas dari pengepul barang bekas yang berasal dari Kulonprogo dan Klaten.

Dari setiap unit motor bekas yang dibeli, Eri membayar sekitar Rp500 ribu hingga Rp800 ribu tergantung kondisi. Meski begitu, tak semua motor bekas ia pereteli untuk dijadikan material membuat robot, melainkan tergantung dari kelengkapan surat-surat yang dimiliki dari masing-masing motor.

Jenis motor yang dipakai pun kebanyakan merupakan motor tua keluaran Yamaha dan Suzuki kisaran tahun 1970-1980.

"Kadang ada motor yang masih lengkap surat-suratnya, ya sudah tidak jadi saya pereteli, saya simpan sendiri untuk direstorasi" ungkap Eri.

Melanjuti proses pembuatan robot yang semakin banyak dipesan, Eri kini mengerjakan seluruh prosesnya di sebuah galeri bernama Er Studio Art yang berlokasi di Dusun Kauman, Kelurahan Gilangharjo, Kecamatan Pandak, Bantul.

Dari yang awalnya membutuhkan waktu satu bulan untuk membuat sebuah robot, nyatanya kini dalam kurun waktu yang sama Eri dan para pegawai yang dimiliki dapat memproduksi robot jauh lebih banyak.

"Perlahan kalau sudah hafal jadi gampang, sekarang dalam sebulan bisa membuat lima sampai tujuh robot." papar Eri.

Mengenai penghasilan, Eri juga tak menampik bahwa keuntungan yang ia dapatkan lebih besar dibanding saat dirinya menggeluti profesi sebagai seorang pelukis atau mengerjakan dekorasi.

Diketahui bahwa untuk satu unit robot yang dihasilkan, harga yang dibanderol bisa mencapai Rp25 juta hingga Rp60 juta, tergantung dari tingkat kesulitan dalam pembuatan dan detail yang diinginkan oleh konsumen.

"Dibandingkan pendapatan dari bisnis lukisan dan dekorasi, pendapatan dari pembuatan robot ini jauh lebih besar." tutur Eri, mengutip Gatra.com.

Meski begitu, hal tersebut nampaknya sebanding dengan perkembangan bisnis yang ia jalani. Diketahui bahwa semenjak mendapat banyak orderan, Eri yang awalnya hanya memiliki enam orang pegawai kembali merekrut pekerja dengan jumlah yang sama. Sehingga saat ini diketahui dirinya telah bekerja bersama 12 orang pegawai dalam mengerjakan robot-robot yang dipesan oleh konsumen.

Adapun sejak pertama kali menggeluti usaha replika robot hingga saat ini, terhitung sudah ada sebanyak 30 unit robot yang dihasilkan.

"Robot yang dibeli dari saya biasanya dijual lagi di sana. Pembelinya kebanyakan pebisnis." jelas Eri.

Kreasi Anak-Anak, di Kampung Robot Trenggalek

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Siti Nur Arifa lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Siti Nur Arifa.

Terima kasih telah membaca sampai di sini