Masjid Angke, Simbol Kebhinekaan yang Telah Bertahan Lebih dari Dua Abad

Masjid Angke, Simbol Kebhinekaan yang Telah Bertahan Lebih dari Dua Abad
info gambar utama

Masjid Al-Anwar atau Masjid Angke, Tambora, Jakarta Barat, termasuk salah satu masjid berusia tua di Jakarta. Masjid yang dibangun tahun 1761 ini memiliki ukuran 15x15 meter.

Meski terbilang kecil dibanding ukuran masjid modern saat ini, namun tempat ibadah ini memiliki keunikan tersendiri. Salah satunya adalah perpaduan gaya arsitektur Belanda, China, Bali, dan Jawa, dalam interior maupun eksteriornya.

Dipercaya masjid ini dibangun oleh orang-orang Bali yang bermukim di sekitar wilayah tersebut, yang dinamakan Kampung Goesti. Orang Bali memang banyak bermukim di wilayah Batavia, karena awalnya mereka dijadikan budak oleh kompeni.

Mereka dipekerjakan di tanah-tanah pertanian sekitar Batavia, atau diperintah mengurus rumah orang Belanda. Namun dalam perkembangannya, banyak juga orang Bali yang datang sukarela ke Batavia dengan tujuan mendaftar masuk dinas tentara kompeni.

"Banyak orang Bali tinggal di Batavia, sebagian dijual oleh raja mereka sebagai budak, yang lain masuk dinas militer karena begitu mahir menggunakan tombak, dan kelompok lain lagi datang dengan sukarela untuk bercocok padi," ucap sejarawan Adolf Heuken, dalam bukunya Historical Sight of Jakarta.

Teori ini juga diperkuat oleh arsitektur yang dekat dengan kebudayaan Bali. Seperti ujung-ujung atap masjid berbentuk sedikit melengkung ke atas, mengacu pada punggel yang kerap ditemui di Bali.

Sementara ada teori lain yang menyebut, masjid ini didirikan oleh seorang wanita keturunan Tionghoa Muslim dari Tartar bernama Ny. Tan Nio yang bersuamikan orang Banten pada 2 April 1761 Masehi. Arsitek pembangunan masjid ini adalah Syaikh Liong Tan, dengan dukungan dana dari Ny. Tan Nio.

Masjid Tertua di Indonesia Ini Miliki Tradisi Unik!

"Arsitektur masjid memiliki perpaduan corak unsur Jawa dan Tionghoa karena pendirinya memang berlatarbelakang dua etnis tersebut. Terlihat dari pintu masuk dan ujung atap yang mirip kelenteng. Selain itu, desain atap tumpang susun Masjid Angke mirip Masjid Demak di Jawa Tengah,” ungkap Doni Swadarma dalam Rumah Etnik Betawi.

Selain orang-orang Bali, kampung sekitar masjid dulunya juga banyak dihuni masyarakat Banten dan etnis Tionghoa. Mereka pernah tinggal bersama di sini sejak peristiwa pembunuhan massal masyarakat keturunan Tionghoa oleh Belanda.

Pengurus yang membidangi sejarah dan bangunan Masjid, Muhammad Abiyan Abdillah, mengisahkan setelah pembantaian orang China pada 1740, sebagian besar dari mereka mengungsi ke kampung Angke dan dilindungi oleh penduduk yang sudah ada sebelumnya, yaitu warga yang menganut Hindu Bali dan Islam.

“Keberadaan arsitektur bangunan masjid itu sendiri yang mencerminkan keragaman etnis yang ada di Indonesia atau dahulu disebut Nusantara sehingga, semua ini menjadi sebuah cerita sejarah maupun arsitektur yang sangat bhinneka sekali. Kita anggap sebagai sebuah representasi kebhinekaan etnik yang ada di Indonesia,” kata Abdillah yang dilansir dari Bisnis, Jumat (15/10/2021).

Tempat berkumpul para pejuang

Masjid Angke sejak dahulu merupakan pusat belajar dan juga sebagai tempat pelatihan strategi peperangan. Sehingga, selain sebagai tempat penyebaran agama Islam juga diajarkan strategi peperangan. Bahkan sejarah mencatat bahwa Sultan Bone, Arung Palakka pernah membawa pasukannya ke Angke untuk dilatih berperang.

“Fungsi lantai atas dari masjid selain untuk keperluan azan juga untuk memantau musuh sampai sekarang masih dipertahankan juga,” jelasnya.

Hal yang sama terjadi saat perang kemerdekaan, melihat situasi kota Jakarta setelah Proklamasi, lima wilayah Jakarta masih mengalami aneka ragam gejolak perjuangan. Maka, di kompleks masjid ini, para pemudanya sering melakukan pertemuan-pertemuan rahasia dalam mengoordinasi kegiatan menentang Belanda.

Melalui khotbah-khotbah yang disampaikannya, para ulama melakukan provokasi untuk menentang Belanda. Bahkan selain itu, masjid ini dijadikan tempat penggemblengan para pejuang bangsa.

"Pemuda menggelar rapat-rapat rahasia. Ulama memberikan ceramah-ceramah terselubung. Begitulah upaya mempertahankan kemerdekaan di Masjid Angke pada masa Revolusi Fisik 1945," ucap Abdillah.

Abdillah mengungkap, bahwa Angke dijadikan tempat pelatihan perjuangan dari pemuda bangsa. Dari tempat yang agak tersembunyi ini disusun strategi perjuangan dalam menghadapi kekejaman serdadu-serdadu Belanda.

Wapauwe, Masjid Kuno Peninggalan Islam yang Tak Lekang oleh Waktu

"Rapat-rapat rahasia itu dilakukan seusai salat, sehingga tak terdeteksi oleh Belanda," tambahnya.

Untuk memastikan rapat-rapat rahasia itu tak terdeteksi, katanya, ruangan lantai tiga (menara), yang dulunya digunakan sebagai tempat azan, dialihfungsikan sebagai tempat mengintai kedatangan serdadu Belanda.

Tempat itu sangat cocok jadi titik pengintaian karena ukurannya kecil (2x2 meter) dan tak terlihat dari luar masjid. Yang terpenting, tempat itu berada di ketinggian.

"Memang dahulu tahun 1980-an, saya masih bisa melihat sampai ke pesisir pantai utara dari lantai 3 itu karena belum banyak bangunan tinggi. Sunda Kelapa itu masih terlihat," kenang sosok yang lahir tahun 1974 itu.

Di Masjid Angke, semangat pemuda dalam mempertahankan kemerdekaan makin bergelora karena adanya para ulama. Mereka diberikan motivasi ataupun ceramah untuk terus berjuang. Ulama memotivasi pemuda itu dengan ceramah tertutup atau terselubung agar tidak ketahuan.

Gerakan perlawanan dari Masjid Angke terbilang rapi. Kegiatan dan aksi mereka tak tercium oleh Belanda. Oleh karena itulah, Masjid Angke bisa selamat dari serbuan tentara Belanda.

"Karena rapinya kegiatan-kegiatan dan aksi yang dilakukan oleh para pemuda daerah ini sehingga Belanda tidak dapat mencium kegiatannya. Dalam kondisi demikian, Masjid Angke terus memenuhi perannya sebagai tempat pengisian landasan perjuangan, benteng iman, dan ketakwaan umat Islam dalam menghadapi penindasan penjajah Belanda," pungkasnya.

Melestarikan keberkahan Masjid Angke

Pada Kamis, 16 September 2021, Masjid Angke rampung direvitalisasi. Bangunan temboknya tak lagi kusam. Atapnya pun sudah tak lagi mengalami kebocoran jika terjadi hujan. Sejumlah ukirannya kembali cantik dan jemaah mulai meramaikannya lagi di tiap waktu salat.

Masjid berusia lebih dari dua abad itu direvitalisasi besar-besaran sejak 2017 lewat dua tahap yang diprakarsai mendiang tokoh Lingkar Warisan Kota Tua (Lingwa) Prof. Dr. Toeti Heraty Noerhadi-Roosseno, buah kerja sama dengan Dinas Kebudayaan DKI Jakarta dan Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia (IAAI).

"...Keberadaan masjid ini dianggap ikon yang mencerminkan pluralitas, multikultural, hal inilah yang membangkitkan semangat Ibu Toeti melakukan pemugaran pertama pada Masjid Angke,” ujar Inda Citraninda Noerhadi, ketua Lingwa cum putri mendiang Prof. Toeti, dalam acara Mengenang 100 Hari Prof. Dr. Toeti Heraty N-Roosseno dan Peresmian Pemugaran Masjid Angke, melalui paparan dari Historia.

Ketua IAAI Dr. Wiwin Djuwita Ramelan, mengatakan Masjid Angke sejak 260 tahun lampau sudah jadi masjid yang menggambarkan keharmonisan multietnis di Batavia (kini Jakarta). Baginya upaya mempertahankan nilai penting masjid ini sungguh membanggakan, apalagi tengah-tengah keprihatinan karena pandemi.

Jelajah Tempat Ibadah dengan Arsitektur Unik di Indonesia

"... Ibu Toeti dan kawan-kawan tidak melupakan pembangunan budaya. Kebhinekaan selalu menjadi ciri sikap dan pemikiran Ibu Toeti sebagai budayawan dan masjid ini menyimbolkan kebhinekaan karena jadi tempat berinteraksi masyarakat Betawi, Melayu, Sunda, Bali, Pontianak, dan etnis lain,” timpal Wiwin.

Selain sebagai tempat ibadah, lingkungan sekitar masjid juga terdapat beberapa makam, salah satunya adalah makam yang dipercayai sebagai tempat peristirahatan Pangeran Syarif Hamid Alkadrie dari Kesultanan Pontianak.

Pada makam tertulis Pangeran Hamid meninggal di usia 64 tahun pada tahun 1854. Pada tahun 1800-an dia dibuang ke Batavia oleh Belanda karena memberontak.

Oleh karenanya, Kepala Dinas Kebudayaan DKI Iwan Henry Wardhana, amat mensyukuri masjid yang punya nilai sejarah itu selesai dipugar. Pemugaran itu menjadi nilai lebih bagi masyarakat ibukota untuk kemudian bisa melakukan wisata sejarah dan religi.

Menurutnya melakukan revitalisasi cagar budaya menjadi bagian yang tidak kalah pentingnya dalam mengangkat sebuah peradaban. Karena itu pekerjaan yang dilakukan oleh Toeti dan kawan-kawan di Lingwa sebagai bukti bukan hanya membangun secara fisik tetapi juga membangun peradaban.

"Ini menambah kontribusi terhadap wawasan kebangsaan, keilmuan untuk masyarakat dan generasi yang akan datang,” tutur Iwan.

Peresmian usai revitalasasi itu dilakukan imam besar Masjid Istiqlal KH Nasaruddin Umar dengan memotong pita dan mendirikan salat. KH Nasaruddin dipilih karena merupakan satu dari beberapa wasiat mendiang Prof. Toeti, terkait pemugaran masjid.

Nasaruddin kembali teringat akan awal-mula sejarah masjidnya dibangun atas bantuan pembiayaan seorang Tionghoa yang juga perempuan, dan sekarang dipugar atas prakarsa mendiang Profesor Toeti.

“Masjid tua itu tepat berkumpulnya para malaikat. Bukan di masjid megah, mahal, luas, besar. Tetapi makin tua sebuah masjid, makin berkah masjid itu. Makin lama sebuah masjid ditempati sujud, maka lorong rahasia menuju langit makin terang," bebernya.

"Ada juga hadits nabi menyebutkan bahwa tempat yang paling sering digunakan memanggil nama Allah SWT akan kelihatan para penghuni langit. Para malaikat sangat bercahaya seperti bintang-bintang kejora,” tandas Nasaruddin.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

RK
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini