Hasil Budidaya Alga Asal Klaten Jadi Bahan Makanan Antariksawan Amerika dan Rusia

Hasil Budidaya Alga Asal Klaten Jadi Bahan Makanan Antariksawan Amerika dan Rusia
info gambar utama

Belum banyak orang yang tahu bahwa bagi beberapa kalangan tertentu layaknya antariksawan di ruang angkasa atau para tentara di lapangan, mereka memiliki cara tersendiri dalam mengonsumsi makanan untuk bertahan hidup dan memenuhi kebutuhan nutrisi sehari-hari.

Didasari keterbatasan kondisi dan keharusan untuk menjalani semuanya secara lebih praktis, mereka biasanya mengonsumsi jenis makanan yang berbeda dengan apa yang dikonsumsi orang-orang pada umumnya.

Makanan yang dimaksud sejatinya memang diproduksi secara khusus, dibuat dalam bentuk seringkas dan sesederhana mungkin namun tidak mengesampingkan kandungan nutrisi di dalamnya.

Karena itu, makanan yang dimaksud dibuat dan diformulasikan secara khusus dengan memanfaatkan bahan-bahan bernutrisi tinggi yang mungkin selama ini tidak banyak diketahui secara luas.

Menjadi menarik dan istimewa, karena Indonesia rupanya menjadi salah satu pemasok bahan makanan bernutrisi tinggi yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan para antariksawan atau tentara di beberapa negara, yaitu berupa alga.

'Astronot' Amerika, 'Kosmonot' Rusia, 'Taikonot' Tiongkok, 'Angkasawan' Malaysia, Kalau Istilah Untuk Astronot Indonesia?

Budidaya alga air tawar asal Klaten

Alga atau yang biasanya dikenal juga sebagai ganggang yang dimaksud dari penjelasan di atas merupakan hasil budidaya yang berasal dari Desa Sidowayah, Kecamatan Polanharjo, Klaten, Jawa Tengah, dan diproduksi oleh Algaepark Indonesia Mandiri.

Melansir laman resminya, dijelaskan bahwa perusahaan rintisan yang bergerak dalam bidang industri mikrobiologi dengan teknologi dan pemanfaatan budidaya serta pemanfaatan mikroalga ini berawal dari riset mandiri yang dilakukan oleh pendirinya sendiri, yaitu Rangga Warsita Aji pada tahun 2010.

Alga merupakan tanaman air yang umumnya banyak dijumpai dan dikembangkan di perairan laut, tapi ada juga alga yang tumbuh dan dikembangkan di air tawar. Meskipun sering dianggap sebagai gulma air, namun ternyata alga memiliki manfaat yang luar biasa dan dapat menjadi komoditas sumber makanan dan pemasok gizi.

Rangga menuturkan, bahwa pengembangan alga di Sidowayah yang dimulai sejak tahun 2017 dilakukan dengan memanfaatkan teknologi tepat guna.

Dijelaskan secara sederhana, bahwa bibit alga awalnya dikembangkan atau terlebih dulu mengalami masa pembibitan di air tawar selama tiga hari.

Kemudian masuk ke tahap selanjutnya yaitu pengenceran, pengurangan kadar air, membentuk lapisan pipih, dan tahap sterilisasi. Berbagai tahap tersebut terjadi dalam kurun waktu satu bulan semenjak pembibitan untuk selanjutnya dipanen.

Begitu dipanen, alga dikeringkan dengan menggunakan oven pengering hingga bentuknya berubah menjadi semacam serbuk yang merupakan produk setengah jadi, dan nantinya dapat diolah untuk menghasilkan berbagai produk turunan.

Limbah Pindang Kini Bisa Jadi Pupuk Mikroalga

Bahan makanan antariksawan

Berdasarkan penuturan Rangga, menurut organisasi kesehatan dunia di bawah naungan PBB (WHO), dijelaskan bahwa kandungan 1 gram mikroalga disebut setara dengan 1 kilogram nutrisi sayuran dan buah-buahan.

“…dari situ kita melakukan riset dan penelitian serta membuktikan, bahwa ternyata betul…” tutur Rangga.

Bicara mengenai keberadaannya yang dimanfaatkan sebagai salah satu bahan baku pembuatan makanan untuk antariksawan, diungkap bahwa wujud alga yang diproduksi untuk kebutuhan tersebut adalah alga dalam bentuk serbuk yang menjadi bahan untuk pembuatan kapsul super food.

Menurutnya, kapsul tersebut memang ditujukkan untuk menggantikan produk makanan kimiawi ke organik secara lebih mudah dan sederhana.

“…bahan makanan astronot atau tentara itu biasanya untuk negara seperti Amerika dan Rusia, jadi negara yang memang mereka fokusnya adalah memberikan suplementasi ekstra untuk kesehatan anggotanya di mana yang dibutuhkan adalah injeksi protein. Biasanya mereka akan memformulasi secara khusus, jadi tidak hanya alga saja campurannya tapi ada juga tambahan bahan lainnya.” terang Rangga.

Diketahui bahwa dalam satu butir kapsul alga terkandung nilai protein sebesar 70 persen, dengan mengonsumsi dua butir kapsul alga dalam sehari, kandungan nutrisi yang didapat setara dengan satu kilogram sayur dan buah.

Luar Biasa! Mahasiswa UI Ini Mengolah Limbah Makanan Menjadi Kapsul Nutrisi

Produk turunan lain andalan komoditas ekspor

Tidak hanya sebagai bahan baku pembuatan kapsul untuk pemenuhan nutrisi bagi para antariksawan atau tentara, produksi alga dalam bentuk serbuk rupanya juga dapat menghasilkan berbagai macam produk turunan yang banyak dimanfaatkan sebagai pangan dan bahan baku di berbagai bidang kesehatan.

Selama ini, alga yang dihasilkan kerap diolah sebagai bahan baku untuk pembuatan makanan seperti mi dan suplemen, atau produk kecantikan seperti sabun wajah, masker, serum, dan berbagai produk lainnya.

Lain itu, produk alga ini juga memiliki manfaat untuk sektor pertanian lewat produk turunan berupa pupuk organik cair (chlorella Klaten/chloten) yang terbukti dapat mengembalikan tingkat kesuburan tanah.

Hal tersebut dikonfirmasi oleh Wawan Rohmad Widodo, selaku Kepala Urusan (Kaur) Perencanaan Desa Sidowayah, Kecamatan Polanharjo.

"Di Malang itu ada lahan yang digunakan sebagai tempat limbah pabrik, tanahnya sama sekali tandus. Setelah digempur pupuk organik dari alga ini, tanah itu kembali subur. Di Batang juga ada sampelnya. Penggunaan pupuk organik juga menghemat biaya produksi di pertanian." ujar Wawan, mengutip Solopos.com.

Bicara mengenai jangkauan pemasarannya sendiri, disebutkan bahwa hasil produksi dari budidaya alga ini sudah menjangkau pasar di seluruh wilayah Indonesia. Sementara itu untuk pasar ekspor, hasil produksi budidaya mikroalga sudah menjangkau pasar Amerika Serikat, Rusia, dan Prancis.

“Produk yang kami kirimkan ke sana itu biasanya dalam bentuk powder atau serbuk yang sudah kami treatment, di mana nanti di negara tujuan mereka akan mengolah menjadi makanan olahan seperti sereal, makanan diet, juga untuk terapi serta beauty treatment dan sebagainya.” jelas Rangga.

Diketahui bahwa untuk pasar ekspor, komoditas yang dikirimkan dapat mencapai 300 kilogram sampai dengan 800 kilogram per bulan dalam bentuk serbuk. Sedangkan harga alga standar untuk makanan mencapai Rp600 ribu hingga Rp1 juta per kilogramnya.

Mengungkap kelanjutan prospek yang dimiliki dari budidaya mikroalga ini, Rangga menuturkan bahwa kedepannya akan ada kerja sama yang terjalin dengan beberapa negara.

“Dalam waktu dekat ini insyaAllah mudah-mudahan akan terjalin kerja sama juga dengan Swiss dan Jepang.” pungkasnya.

Mahasiswa UB Ciptakan Pupuk Alternatif Mikroalga dari Limbah Cair Ikan Layang yang Bernilai Gizi Tinggi dan Ekonomis

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Siti Nur Arifa lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Siti Nur Arifa.

Terima kasih telah membaca sampai di sini