Penemuan Fosil Hewan di Waduk Saguling, Bukti Kehidupan 12 Ribu Tahun Lalu

Penemuan Fosil Hewan di Waduk Saguling, Bukti Kehidupan 12 Ribu Tahun Lalu
info gambar utama

Tim dari Badan Geologi Bandung bersama sejumlah peneliti berhasil mengangkat fosil kaki gajah purba di lokasi wisata Pulau Sirtwo, Waduk Saguling, Kampung Suramanggala, Desa Baranangsiang, Kecamatan Cipongkor, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Jawa Barat (Jabar), Sabtu (16/10/2021).

Mika Rizki Puspaningrum, dari kelompok keahlian (KK) Paleontologi dan Geologi Kuarter, Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian Institut Teknologi Bandung (ITB) menuturkan survei dilakukan pada dua hari berbeda yaitu Minggu (10/11/2021) dan Jumat (15/10).

Selama kegiatan survei, tim melakukan pengamatan di 17 titik di sepanjang Pulau Sirtwo. Tim berhasil memverifikasi bahwa tulang yang ditemukan pada batuan di sepanjang pulau merupakan fosil, bukan hewan yang sifatnya modern atau kontemporer.

"Jenis fosil itu berasal dari kelompok Bovidae (sapi, kerbau, dan banteng), Cervidae (kelompok rusa), dan Elephas maximus (gajah),” terangnya yang dikutip dari situs ITB, Sabtu (23/10)

Lagi, Fosil Gajah Purba Setinggi Atap Rumah Ditemukan di Banjarejo

"Fosil-fosil yang ditemukan di permukaan dan juga yang telah terekspos kemudian diangkat dan disimpan oleh pihak yang berwenang di lokasi. Berdasarkan temuan tersebut, tim berhasil mengidentifikasi fosil-fosil yang telah dikumpulkan," tambah Mika.

Penemuan fosil kaki gajah tersebut bermula ketika salah seorang warga setempat, Jahidin (43), yang hendak menjala ikan di bantaran Waduk Saguling, mendapati tulang belulang mirip paha, kaki, kepala dan gigi binatang.

“Awalnya, saya kira hanya tulang biasa, tapi saya lihat ukurannya besar dan tersebar di beberapa titik,” jelas Jahidin.

Informasi itu sampai ke pihak pengelola wisata Sirtwo Island, yang segera melaporkan ke peneliti di ITB.

Kronologi penemuan

Mika menjelaskan, sekitar tahun 2020, beberapa warga lokal mengembangkan objek wisata Pulau Sirtwo, pulau-pulau di sekitar Bendungan Saguling. Pulau-pulau ini dulunya dimanfaatkan warga untuk menambang pasir.

Bahkan, katanya, sudah dilakukan beberapa kali wisata terbatas ke sana. Awalnya wisata yang ada hanya susur perahu, foto-foto di pinggir danau, dan ke menara Sirtwo.

"Sambil mengeksplorasi pulau, Pak Rizky--pegiat Pemandu Geowisata Indonesia--mendapatkan laporan dari warga sekitar yang bernama Pak Jahidin mengenai batuan yang seperti tulang. Kemudian beliau mengecek ke lapangan, lalu mengambil beberapa foto," ujarnya melalui keterangan pers.

Foto tersebut kemudian disampaikan kepada salah satu anggota tim ITB, yang kemudian berinisiatif untuk mengecek lokasi tersebut untuk melakukan verifikasi temuan warga.

Salah Satu Pusat Evolusi Manusia di Dunia Berlokasi di Pulau Jawa. Ternyata Telah Diakui UNESCO!

Survei pun dilakukan tim ITB pada dua hari berbeda yaitu pada 10 dan 15 Oktober yang melibatkan Alfend Rudyawan (KK Geodinamika dan Sedimentologi), Astyka Pamumpuni (KK Geologi Terapan), Sukiato Khurniawan (Dosen Prodi Geologi Universitas Indonesia, Alumni T. Geologi ITB angkatan 2011), dan Alfita Handayani (Dosen T. Geodesi ITB).

Tim yang bekerja sama dengan Museum Geologi ini juga melakukan ekskavasi terhadap tulang kaki depan gajah yang telah terbuka dan mengalami kerusakan yang cukup parah. Maka dari itu Tim ITB berinisiatif untuk melindungi fosil tersebut dengan cara membungkusnya dengan gips untuk kemudian dapat diangkat dan diteliti lebih lanjut.

"Selain paleontologi, tim juga akan mengembangkan penelitian pada aspek geologi secara menyeluruh, meliputi kajian stratigrafi, umur dan lingkungan purba," ucap Mika.

Bukti kehidupan 12 ribu tahun lalu

Lutfi Yondri memperkirakan fosil hewan yang ditemukan peneliti ITB di Pulau Sirtwo merupakan bukti adanya kehidupan prasejarah 12 ribu tahun lalu. Pasalnya fosil ini ditemukan pada lapisan yang tidak jauh berbeda dengan temuan manusia pawon.

"Kalau kita lihat dari formasi geologinya, kemudian dikaitkan dengan keberadaan temuan vertebrata itu yang sama jenisnya dengan hewan buruan manusia pawon, periode di sekitar 10 sampai 12 ribu tahun lalu," terang pria yang merupakan Arkeolog sekaligus Tenaga Ahli Cagar Budaya Provinsi Jawa Barat, seperti dikutip dari CNN Indonesia, Sabtu (23/10).

Temuan fosil-fosil hewan purba tersebut, menurutnya sezaman dengan kehidupan manusia pawon di gua-gua alam di wilayah Cipatat, Padalarang. Dicatat oleh Lutfi, keberadaan manusia pawon ini berkisar pada periode 5.600 tahun hingga 10 ribu tahun. Namun berdasarkan temuan rangka manusia dengan kedalaman 3 meter, dia menemukan rangka manusia pawon memiliki usia sekitar 12 ribu tahun.

Lutfi menceritakan, Waduk Saguling dahulu kala merupakan daerah aliran sungai yang banyak dijumpai hewan-hewan vetebrata di sekitarnya. Hewan-hewan tersebut lantas dijadikan sasaran berburu oleh para manusia pawon untuk pemenuhan kebutuhan sehari-hari.

Penemuan Ini Buktikan Leluhur Homo Sapiens Telah ada di Sumatra 63.000 Tahun yang lalu

Dia juga mengungkap bahwa fosil-fosil prasejarah sebenarnya banyak ditemukan di Jawa Barat. Bila ingin mencari fosil yang berusia lebih tua, dapat meneliti di Jawa Barat sisi utara, seperti Sumedang, Subang, perbatasan Kuningan, dan Cirebon.

Salah satunya seperti penemuan fosil gajah di Rancamalang, Margaasih, Kabupaten Bandung, sekitar 22 kilometer dari Saguling ke arah timur, pertengahan tahun 2000. Temuan fosil kaki gajah di kawasan Saguling kian menguatkan, pada masa lampau gajah purba pernah hidup di Pulau Jawa.

Lutfi meminta potongan fosil-fosil hewan yang ditemukan tak dibawa ke museum geologi, melainkan dilakukan konservasi di sekitar lokasi temuan. Salah satu tujuannya agar Waduk Saguling menjadi lokasi edukasi wisata, yang dapat menjelaskan lokasi itu merupakan bagian dari jejak kehidupan prasejarah.

"Saya mengusulkan sebaiknya (fosil-fosil hewan) dikonservasi di sana. Tetapi belum ada putusan akan dibawa ke museum geologi atau dikonservasi di sana," tutupnya.

Akan menjadi bagian Geopark Rajamandala.

Kawasan Pulau Sirtwo, tempat penemuan sejumlah fosil hewan purba direncanakan menjadi bagian dari Geopark Rajamandala. Hal ini juga sekaligus mendorong Pulau Sirtwo menjadi wahana edukasi sejarah kebumian dan peninggalan peradaban purba di Bandung.

Menurut Kepala Disparbud KBB Heri Partomo, rancangan detail terkait rencana konservasi fosil di Saguling masih dibicarakan bersama tim peneliti dari ITB dan Museum Geologi. Nantinya jika itu terwujud maka usulan kawasan Geopark Rajamandala meliputi 4 kecamatan. Yaitu, Kecamatan Padalarang, Cipatat, Saguling, dan Cipongkor.

Heri meyakini proses tersebut akan membutuhkan waktu yang cukup lama karena harus melalui berbagai kajian. Sementara ini pihaknya baru memberikan edukasi ke masyarakat sekitar agar menjaga, mengawasi, dan tidak merusak aset alam tersebut dari aktivitas apapun, termasuk penambangan.

Temuan Seperti Fosil Stegodon di Ngawi

"Sementara ini kita dorong masyarakat sekitar dan pihak kecamatan agar mengawasi supaya tidak ada yang merusak. Sambil menunggu keputusan lanjutan ke depan dari para peneliti," ujarnya, menukil Ayobandung, Sabtu (23/10).

Geopark Rajamandala memiliki pesona alam yang eksotis. Keindahan alam dan bebatuan khas peradaban Bandung Purba berada di beberapa lokasi seperti surga fosil di Pulau Sirtwo, jejak manusia purba di Gua Pawon.

Selain itu, jejak sejarah kebumian cekungan Bandung di Stone Garden, Tebing Hawu, Tebing 125, Pabeasan, Curug Halimun, Sanghyang Heuleut, Sanghyang Tikoro, Sanghyang Poek, Sanghyang Kenit, dan Cikahuripan.

"Ke depan kita juga akan membuat museum Gua Pawon. Setelah jadi bukan tidak mungkin fosil dari Pulau Sirtwo juga di simpan di situ," pungkas Heri.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

RK
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini