Hoala dan Koala, Upaya Selamatkan Keberadaan Lagu Anak di Indonesia

Hoala dan Koala, Upaya Selamatkan Keberadaan Lagu Anak di Indonesia
info gambar utama

Industri musik di Indonesia tidak pernah kehabisan karya luar biasa yang selalu sukses meraih pencapaian mengagumkan.

Dengan keberadaan sejumlah musisi yang berhasil menorehkan prestasi baik di dalam maupun luar negeri, ditambah dengan gencarnya perkembangan teknologi dan platform untuk menikmati setiap karya yang ada, tak heran jika industri musik di tanah air saat ini dapat dikatakan tumbuh dengan cukup pesat.

Namun di sisi lain pencapaian tersebut, ada satu bagian yang sejatinya masih menjadi tugas besar bagi para pelaku industri musik di tanah air dan selayaknya mendapat perhatian lebih serius, yaitu mengenai lagu anak yang semakin hari kian terasa semakin meredup keberadaannya.

SOS! Indonesia Darurat Lagu Anak!

Meredupnya industri dan hanya menjadi penikmat

Ilustrasi kebutuhan lagu anak
info gambar

Tidak seperti dulu di mana keberadaan lagu anak pernah ada di puncak kejayaan pada era tahun 1990-2000. Sejumlah nama penyanyi anak yang terkenal pada masanya sebut saja Tina Toon, Joshua Suherman, atau Tasya Kamila pernah secara sukses menyuguhkan hiburan berupa alunan lagu yang kerap terngiang di telinga anak-anak di masa tersebut.

Sayangnya, regenerasi musisi atau penyanyi anak tidak berjalan semulus musisi yang memproduksi lagu untuk kalangan remaja atau dewasa. Kalaupun ada, eksistensinya belum mampu menonjol di industri musik tanah air saat ini.

Alasan dari situasi tersebut pernah diungkap saat situasi krisis lagu anak sudah terjadi sejak beberapa tahun silam oleh Poppy Savitri, sosok yang pernah menjabat sebagai Direktur Edukasi Ekonomi Kreatif, Deputi Riset Edukasi dan Pengembangan Badan Ekonomi Kreatif di tahun 2018.

"Ini karena ekosistem industri nyanyian anak-anak sudah tidak kondusif lagi. Jadi saat ini terjadi kekurangan lagu, kekurangan penyanyi, juga kurangnya minat konsumen. (Ini semua) merupakan akibat dari tidak kondusifnya ekosistem yang dimaksud,” ungkap Poppy, dalam CNN Indonesia (24/6/2018).

Di tengah berkurangnya produksi musik atau lagu anak karena kondisi industri yang sudah lebih banyak fokus pada musik bagi kalangan remaja atau dewasa, tak dimungkiri bahwa di saat yang bersamaan kebutuhan akan lagu anak yang dicari oleh segelintir kalangan khususnya para orangtua tetap ada.

Akibatnya, bukan hal yang patut disalahkan jika selama beberapa tahun terakhir ini Indonesia masih sebatas menjadi penikmat akan lagu anak yang berasal dari luar negeri. Sebut saja lagu baby shark asal Korea Selatan yang sempat viral di tahun 2020 lalu, atau lagu-lagu Cocomelon asal Amerika Serikat yang masih sangat diandalkan oleh para orang tua masa kini.

Mengenal Ibu Soed, Sang Maestro Lagu Anak-Anak

Hoala dan Koala yang membawa harapan baru

Kabar baik muncul menjelang akhir tahun 2021 ini, karena harapan akan hidupnya kembali industri lagu anak di tanah air datang lewat kehadiran konten yang tidak hanya menyuguhkan lagu, namun juga dikemas dalam bentuk animasi 3D yaitu Hoala dan Koala.

Diproduksi oleh PT Amnar Awandi Kazoku, Hoala dan Koala sendiri merujuk kepada cerita persahabatan antara dua karakter utama yang akan selalu dimuat dalam berbagai konten animasi dan lagu anak yang muncul.

Adapun dua karakter yang dimaksud yaitu Hoala, seorang anak perempuan berusia tiga tahun yang gemar bernyanyi dan digambarkan sebagai karakter yang cerdas. Lain itu, sesuai namanya Koala sendiri merupakan gambaran seekor hewan koala yang diceritakan berperan sebagai sahabat Hoala dan berasal dari negeri Mykonos, dunia yang berada dalam buku cerita favorit Hoala.

Hoala dan Koala diketahui telah memiliki dan mempublikasi lebih dari 50 lagu anak yang diproduksi dengan tujuan untuk menyelamatkan keberadaan lagu anak di tanah air, dan di saat bersamaan juga berupaya agar bahasa Indonesia tidak luntur di tengah maraknya penggunaan bahasa asing pada berbagai lagu anak yang selama ini beredar di dalam negeri.

Sama halnya seperti tayangan hiburan anak yang kerap menyertakan berbagai karakter pendukung, Hoala dan Koala juga memiliki sejumlah karakter pelengkap yang mayoritas digambarkan dalam bentuk berbagai macam hewan menyenangkan seperti macan pemalu, pesulap burung hantu, ular periang, dan masih banyak lagi.

Nantinya, selain hadir dalam nuansa pop yang mudah dicerna, lagu anak dalam animasi Hoala dan Koala juga akan hadir dalam berbagai macam aliran musik seperti jazz, big band, akustik, dan lain-lain.

Pak Kasur, Pencipta Ratusan Lagu Anak Indonesia

Perkenalkan konten ramah anak Indonesia secara internasional

Tidak ingin kontennya hanya dapat dinikmati di dalam negeri, sekaligus sebagai pembuktian bahwa Indonesia juga mampu menjadi pemain selain penikmat di industri musik anak, Hoala dan Koala baru-baru ini memperkenalkan berbagai macam konten yang telah diproduksi ke pasar internasional.

Diawali dengan lagu anak dan animasi yang dihadirkan dalam versi empat bahasa lain yaitu Inggris, Mandarin, Spanyol, dan Jepang, berbagai lagu Hoala dan Koala diharapkan juga dapat dinikmati oleh penikmat lagu anak di berbagai negara.

Terbaru, upaya yang dilakukan untuk memperkenalkan karya ramah anak berupa lagu dan animasi ini dilakukan lewat pengenalan berupa pemasaran yang dilakukan ke berbagai negara seperti AS, Inggris, dan Rumania.

Pada keterangan tertulis yang dipublikasi pada, Jumat (22/10/2021), Rendyadi Amnar selaku CEO dari PT Amnar Awandi Kazoku mengungkap bahwa Hoala dan Koala menjadi serial animasi 3D Indonesia pertama yang berisi lagu anak-anak dan diterbitkan secara internasional.

"Kami ingin memperkenalkan Hoala & Koala kepada masyarakat luas agar mereka tahu bahwa Indonesia memiliki tayangan animasi 3D berkualitas tinggi dan lagu anak baru,“ pungkas Rendy.

Lily Dawis, Pelantun Lagu Anak Asal Indonesia yang dikenal sampai ke Mancanegara

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Siti Nur Arifa lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Siti Nur Arifa.

SA
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini