Mengingat Kehangatan Keluarga Bersama Jagung Titi Kuliner Khas Flores

Mengingat Kehangatan Keluarga Bersama Jagung Titi Kuliner Khas Flores
info gambar utama

Penulis: Nur Annisa Kusumawardani

Gabung ke Telegram Kawan GNFI, follow Instagram @kawangnfi dan Twitter @kawangnfi untuk dapat update terbaru seputar Kawan GNFI.

Sebagai warga negara yang tinggal di Indonesia, kita pasti sudah tak asing dengan berbagai olahan jagung. Mulai dari nasi jagung, puding, jagung bakar, jasuke, hingga makaroni, kreativitas masyarakat terasa tidak ada habisnya dalam mengolah makanan berbahan dasar jagung.

Tak terkecuali olahan khas Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT). Camilan dengan bahan utama jagung ini dinamai jagung titi. Kuliner ini biasanya disantap pada saat sarapan pagi, seperti umumnya sereal jagung.

Memiliki topografi wilayah yang cocok bagi pengembangan tanaman jagung, tak heran jika sejak dulu masyarakat NTT, khususnya daerah Flores Timur, telah mengenal jagung sebagai salah satu makanan pokok. Hal ini jugalah yang melahirkan jagung titi sebagai salah satu camilan sehari-hari, sekaligus sumber kehidupan mereka.

Sebagai khas NTT, jagung titi biasanya akan disajikan untuk menjamu tamu, juga sebagai bekal perjalanan jauh karena sifatnya yang mudah disimpan dan tahan lama. Rasa jagung titi dikenal gurih dan renyah, tidak terlalu manis, dan tidak pula asin maupun hambar.

Hingga kini, jagung titi menjadi camilan favorit Nusa Tenggara Timur, khususnya masyarakat Flores Timur daratan, Pulau Adonara, Solor, Lembata dan Alor Pantar. Dilansir dari Tabloid Sinar Tani, jagung emping juga dapat ditemui di hampir seluruh wilayah di NTT. kepopulerannya menjadikan camilan unik ini menjadi oleh-oleh khas daerah tersebut.

Pedasnya Sambel Wader Hidangan Khas Kabupaten Mojokerto Sejak Zaman Majapahit

Jagung titi makanan pengingat kehangatan keluarga dan kampung halaman

Jagung Titi | Tribun News
info gambar

Jagung titi umumnya lebih cocok dikonsumsi saat sedang bersantai, seperti ketika menikmati kopi di pagi atau sore hore. Selain itu, camilan ini juga cocok untuk menemani ketika sedang duduk santai sambil menonton televisi bersama keluarga atau orang-orang terdekat.

Selain dimakan secara langsung, jagung titi juga dapat dinikmati bersama siraman air putih dalam wadah piring agar teksturnya menjadi lebih lembut.

Saking cintanya masyarakat Flores Timur terhadap jagung titi, banyak disebutkan bahwa ketika mereka kembali ke kampung halaman, salah satu hal pertama dan yang paling penting dicari adalah jagung titi. Begitu pula ketika kembali ke perantauan, mereka tak akan ragu untuk membawa camilan yang disebut sebagai orang Lamaholot ini sebagai “Wata Kenaen” untuk menjadi bekal sekaligus obat kerinduan akan kampung halaman.

Orang Lamaholot (atau Lamkolot, Lamholot, Solar, Larantuka) adalah salah satu suku bangsa yang berdiam di dalam wilayah Kabupaten Flores Timur. Di sini, jagung titi merupakan sebuah ikatan budaya yang tak bisa dipisahkan dengan kehidupan mereka.

Bagi orang Lamaholot, belum makan jagung titi rasanya belum pas. Bagi mereka, jagung titi bukanlah sekadar camilan biasa, melainkan kuliner khas yang memiliki makna kultural, sekaligus pembawa nostalgia, serta sebagai simbol Lamaholot yang khas.

Bagi masyarakat Lamaholot, jagung titi tidak akan tergantikan oleh apapun. Bahkan, makanan ini telah masuk dalam pola makan masyarakat, menjadi makanan pokok yang akan selalu dicari dan diminati.

Tak hanya itu, dilansir dari Kompas, jagung titi sebagai camilan khas Flores Timur ini juga selalu ada ketika waktu berbuka puasa, menjadikannya sebagai salah satu kuliner khas ramadhan yang permintaannya kian meningkat seiring waktu.

Sup Jagung Khas Gorontalo Persatukan Dua Kerajaan

Pengolahan di balik kelezatan jagung titi

Penjual Jagung Titi di Pasar Larantuka | ekorantt.com
info gambar

Terdapat proses yang perlu dilakukan untuk mengolah jagung menjadi jagung titi. Pertama-tama, pipilan jagung terlebih dahulu digoreng dalam kuali atau wadah lainnya dalam posisi setengah matang, kemudian diambil dua sampai empat biji kemudian menitinya atau ditumbuk. Penumbukan ini umumnya dilakukan secara manual menggunakan batu.

Jagung kemudian diletakkan di atas lapisan batu bermuka datar lalu “dititi” dengan batu berukuran segenggam tangan. Sedikit banyaknya jumlah jagung yang dititi tergantung dari kemampuan sang penitinya. Umumnya, perempuan Lamaholotlah yang melakukan pekerjaan ini.

Hal itu juga yang menjadikan kepercayaan bahwa perempuan Lamaholot sangat menentukan nasib sejarah jagung titi. Hanya mereka yang dapat duduk di samping bara api sambil meniti jagung tersebut dalam keadaan panas. Hal ini juga menjadi tradisi yang diwariskan secara turun temurun.

Dalam perjalanan sejarah, jagung titi bukan hanya memberi citra dan cita rasa sendiri bagi masyarakat Lamaholot, namun ikut pula menggoda selera kalangan wisatawan yang berkunjung ke Flores Timur, Lembata dan Alor Pantar sebagai kuliner oleh-oleh. Dari sini jagung titi mulai mendunia.

Mirip Nasi Campur, dari Mana Nasi Buk berasal?

Seiring perjalanan zaman, Pemerintah Kabupaten Flores Timur ikut membantu memberi sentuhan modernisasi dalam proses pembuatan jagung titi. Salah satunya dengan memberikan mesin pembuat emping jagung kepada sejumlah kelompok masyarakat setempat untuk menghidupkan industri rumah tangga.

Kendati telah menggunakan mesin, beberapa masyarakat tetap ada yang lebih menggemari jagung titi tradisional. Sebab, rasa gurih yang dihasilkan keduanya berbeda.

Jagung titi, dalam bentuk emping maupun masih bersifat tradisional. Kemudian, dipasarkan ke sejumlah swalayan di NTT dengan harga bervariasi, sesuai bentuk dan ukurannya.

Dilansir dari Tagar Indonesia, permintaan jagung titi di pasaran telah cukup tinggi. Kawan dapat mengantongi jagung titi dengan merogoh kocek yang berkisar antara Rp15.000 hingga Rp20.000 per wadahnya.*

Referensi: Tagar.id | Tabloid Sinar Tani | Kompas | Okezone

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Kawan GNFI Official lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Kawan GNFI Official.

Terima kasih telah membaca sampai di sini