Sukses Jual Roti Hingga Buka 100 Cabang, Afan Syahdana: Tuhan Bersama Anak Muda yang Nekat

Sukses Jual Roti Hingga Buka 100 Cabang, Afan Syahdana: Tuhan Bersama Anak Muda yang Nekat
info gambar utama

"Tidak usah menjadikan modal sebagai alasan. Paling penting itu modal dengkul, modal nekat, berani, dan aksi dulu."

---

Bisnis kuliner memang tidak ada matinya. Selain karena memang kebutuhan pokok manusia dalam kehidupan sehari-hari, makanan juga menjadi hiburan dan banyak orang menikmati hidangan lezat untuk meningkatkan suasana hati. Bila sedang berkunjung ke sebuah daerah, makanan khas juga akan dicari-cari demi menambah pengalaman dan memperkaya wawasan soal kuliner.

Orang Indonesia juga dikenal senang jajan, mengonsumsi camilan, bahkan sudah jadi hobi untuk berburu makanan enak. Tentunya kebiasaan tersebut menjadi peluang bagi para pengusaha untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

Salah satu sosok pengusaha di bidang kuliner yang inspiratif adalah Afan Syahdana. Usianya memang masih muda, 20 tahun, tetapi ia terbilang sukses dalam mengembangkan usahanya yang bernama Roti Gembong Gedhe.

Pemuda asal Yogyakarta tersebut sebenarnya masih mengemban pendidikan tingkat tinggi di Singapura dengan jurusan bisnis manajemen. Namun, karena pandemi, ia terpaksa pulang ke Tanah Air. Tidak ingin menganggur di Indonesia, ia pun mulai terjun ke dunia bisnis kuliner.

Tak butuh waktu lama, kini usahanya telah memiliki 100 cabang dengan 1.100 karyawan dan tentunya akan terus berkembang lebih besar lagi.

Untuk mengetahui perjalanan Afan dalam mengembangkan bisnis di usia muda, GNFI berkesempatan untuk berbincang-bincang dengan Direktur Marketing Roti Gembong Gedhe tersebut melalui sambungan telepon, Jumat (22/10/2021).

Berikut kutipan bincang-bincang Afan dengan GNFI:

Boleh dijelaskan tentang produk roti gembong?

Jadi produk roti gembong ini aslinya dari Kutai Kertanegara, Kalimantan. Menurut sejarahnya, roti gembong ini dulu roti untuk para raja di Kalimantan. Rotinya sendiri mirip dengan roti sobek. Namun, di Yogyakarta belum ada yang jual jadi kami Roti Gembong Gedhe termasuk pionir di Jawa Tengah, khususnya Yogyakarta.

Awalnya roti gembong hanya ada tiga varian, yaitu original, buttercream, dan serikaya. Kemudian kami menambah varian rasa yang lebih banyak pilihan agar bisa dinikmati masyarakat.

Roti bukan makanan baru di Indonesia, lantas apa yang menjadi keunggulan Roti Gembong Gedhe?

Roti Gembong Gedhe merupakan pionir roti gembong dan untuk komposisi dari roti itu selalu kita upgrade, dari kelembutan dan aroma. Kami percaya diri dengan kualitas Roti Gembong Gedhe yang selalu terjaga dan unggul dari segi kelembutan dan aromanya yang menarik.

Ditambah penggunaan bahan pilihan, misalnya butter dan susu yang didatangkan langsung dari New Zealand. Kami juga selalu mempertahankan kualitas, meski misalnya harga bahan baku naik, tapi harga jual bisa tetap sama.

Sampai saat ini, pembuatan roti pun masih handmade dan mengandalkan tangan. Sempat pesan mesin dari China tapi kurang sesuai eksprektasi. Jadi saat ini pembuatan roti masih dikerjakan karyawan di masing-masing outlet. Setiap outlet ada produksi di tempat dan langsung matang dan dijual di tempat.

Afan Syahdana © Instagram Afansyahdana
info gambar
Kiprah Maya Stolastika Menyebarkan Semangat Bertani Organik kepada Pemuda

Bagaimana proses awal memulai bisnis ini?

Roti Gembong Gedhe itu awalnya didirikan tahun 2019 oleh kakak saya. Awalnya masih bernama Roti Gembong Mokoh. Saat itu, jualannya masih sebatas memperkenalkan roti gembong pada masyarakat, seperti apa sih roti gembong itu.

Banyak yang bilang namanya unik dan membuat orang bertanya-tanya apa itu roti gembong sehingga penjualannya pun belum seramai sekarang. Paling satu hari hanya 50-80 roti yang terjual.

Awalnya bisnis ini dikelola kakak saya dan saya juga masih kuliah di Singapura. Kemudian bulan Februari 2020 ternyata pandemi dan memaksa saya untuk pulang ke Indonesia, karena para pelajar foreigner yang ada di Singapura dideportasi ke negara masing-masing.

Daripada jadi pengangguran di Indonesia jadi saat itu saya ikut-ikutan jualan roti gembong bersama kakak. Di momen inilah usaha roti tersebut berubah nama jadi Roti Gembong Gedhe.

Kalau soal bisnis, saya dari kecil memang sudah interest ke bisnis dan sudah terbiasa juga melihat bisnis orang tua, yang memililiki usaha di bidang travel umrah. Saya dari SMP juga sudah coba-coba jualan karena memang interest.

Untuk modal, saat saya pulang dari Singapura masih ada sisa uang sekitar Rp7 juta dan memang belum punya banyak uang. Jadi saya pun pinjam sana-sini dan ada tambahan dari orang tua, bahkan sampai menjual mobil.

Mengapa tertarik pada bisnis roti?

Awalnya yang memperkenalkan roti gembong itu bapak saya. Bapak pernah coba roti gembong dan punya rekanan lalu membuka usaha ini di Yogyakarta. Bapak juga yang meyakinkan saya kalau roti ini bakalan laku di Jogja karena memang rotinya unik, enak, dan murah. Dari keyakinan bapak ini membuat saya dan kakak berani menjual roti gembong dengan merek Gedhe.

Peran Anda dalam Roti Gembong Gedhe?

Roti Gembong Gedhe ini menjadi bisnis keluarga dan melibatkan kakak serta orang tua. Jadi semua punya peran masing-masing. Saya sendiri berperan sebagai Direktur Marketing dan kakak sebagai Direktur Utama.

Apa saja tantangan yang dihadapi dalam perjalanan membangun bisnis?

Tantangannya ada di standarisasi dan agak kewalahan di SOP (standard operating procedure). Saat ini kita ada 1.100 karyawan dan salah satu tantangan kita memang agar semuanya tetap sesuai standar. Awalnya tim hanya tiga, saya pun ikut ngurus keuangan dan belanja.

Garry Yusuf, Pemuda 18 Tahun yang Raih Omzet Besar dari Bisnis Martabak

Strategi apa saja yang sudah dilakukan untuk mengembangkan bisnis ini?

Promosi di media sosial termasuk efektif dan mendapatkan jangkauan banyak, khususnya Instagram. Roti Gembong Gedhe juga punya Facebook dan website, tetapi memang paling aktif di Instagram untuk informasi misalnya pembukaan cabang baru dan promo. Tidak berbayar pun sangat membantu.

Kita memang menggunakan ads dan di awal tidak mau endorse seperti food blogger dan influencer karena tidak ingin terkesan ‘menggoreng’ produk Roti Gembong Gedhe. Jadi pas awal memang natural saja. Kita berharap orang yang membeli karena memang suka dengan produknya.

Produk kita juga sempat disebut roti viral, tetapi kita enggak pernah dengan sengaja memviralkan roti ini dan memang itu sebutan dari masyarakat.

Kemudian sekarang sesekali baru kita pakai endorsement untuk meningkatkan awareness bagi pelanggan bahwa ini produknya adalah roti gembong dengan brand-nya Gedhe.

Kita juga berinovasi di komposisi dan terus menambahkan varian rasa yang bermacam-macam. Saat ini rasa roti gembong ada mulai cokelat, tiramisu, cappuccino, durian, red velvet, green tea, macchiato, abon mayo, dan blueberry.

Saat ini sudah ada berapa cabang dan di mana saja?

Tanggal 23 Oktober ini kita akan membuka cabang ke-100. Saat ini Roti Gembong Gedhe sudah ada di Yogyakarta, Bandung, Semarang, Tegal, Purwokerto, Pekalongan, dan Salatiga. Memang yang paling banyak cabangnya itu di Yogyakarta, ada 28 outlet. Rencananya juga kita akan buka di seluruh Indonesia.

Bagaimana penjualan Roti Gembong Gedhe?

Roti Gembong Gedhe ini kisaran harganya Rp14-15 ribuan dan waktu awal buka hanya menjual sekitar 50 roti per hari dengan omzetnya Rp500 ribu, itu pun boncos untuk pengeluaran seperti beli gas. Akhir-akhir ini baru bisa menjual sekitar 300-400 roti per hari di masing-masing outlet.

Ada tips untuk anak muda yang ingin memulai bisnis?

Buat teman-teman yang masih muda dan ingin memulai usaha, pertama-tama tidak usah menjadikan modal sebagai alasan. Paling penting itu modal dengkul, modal nekat, berani, dan aksi dulu. Sekarang ini era digital, untuk mulai usaha juga tidak perlu modal besar, ibaratnya hanya punya kuota internet pun sudah bisa jualan.

Kedua adalah harus punya mental kuat. Bisnis itu butuh mental yang kuat karena di tengah perjalanannya akan merasakan up and down. Kalau kalau di atas, jangan jumawa dan kalau sedang down, jangan putus asa.

Ketiga, yang masih muda jangan malu memulai bisnis. Karena bisnis itu keren dan jangan takut untuk memulai. Mau usaha apapun, sekecil apapun, jangan pernah takut untuk memulai, karena Tuhan bersama anak-anak muda yang nekat.

Catatan:

Artikel di atas merupakan persembahan GNFI untuk memperingati Hari Sumpah Pemuda, 28 Oktober 2021.

Mereka adalah segelintir dari banyak anak muda yang mampu membangkitkan asa, mendobrak pesimistis, dan bermanfaat bagi diri sendiri, keluarga, serta lingkungannya, di tengah situasi pandemi Covid-19 ini.

Selamat Hari Sumpah Pemuda, Maju Terus Anak Muda Indonesia. Kalian adalah pemantik asa yang perkasa.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Dian Afrillia lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Dian Afrillia.

DA
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini