Tak Hanya Menjadi Kota Toleran, Salatiga Menuju Kota Gastronomi

Tak Hanya Menjadi Kota Toleran, Salatiga Menuju Kota Gastronomi
info gambar utama

Penulis: Brigitta Raras

Gabung ke Telegram Kawan GNFI, follow Instagram @kawangnfi dan Twitter @kawangnfi untuk dapat update terbaru seputar Kawan GNFI.

Kota Salatiga diusulkan menjadi nominasi Creative City of Gastronomy ke UNESCO Creative Cities Network (UCCN). Kepastian usulan tersebut diperoleh diperoleh melalui surat Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO (KNIU).

Secara umum, gastronomi merupakan ilmu yang membahas mengenai kebiasaan makan yang baik (good eating habit), atau bisa juga dikaitkan dengan kenikmatan makanan dan minuman.

Namun perlu diketahui, bahwa gastronomi tak hanya soal makanan dan minuman yang terlihat dari penampilan atau rasanya saja. Melainkan juga, mulai dari sejarah, asal bahan pangan, pengolahan, hingga bagaimana cara menyajikan serta menyantap makanan tersebut.

Memahami gastronomi

Sambal Tumpang Koyor khas Salatiga | Foto: inibaru.id
info gambar

Melansir dari laman Kemenparekraf, Vita Datau, Founder dari Indonesia Gastronomy Network, mengungkapkan bahwa gastronomi tak hanya terkait dengan budaya, tetapi juga dengan letak geografis daerah tersebut. Misalnya di daerah pesisir, masyarakatnya akan cenderung mengonsumsi hidangan laut, dikarenakan sumber atau bahan pangan mereka.

Dengan kata lain, gastronomi mencakup segala hal mengenai makanan dari hulu ke hilir. Mulai dari bahan pangan, bagaimana tanaman pangan tersebut tumbuh, dari mana lokasi asalnya, budidayanya. Kemudian, membahas juga bagaimana pangan tersebut dipanen dan distribusikan.

Vita juga menjelaskan, gastronomi juga melihat bagaimana pangan tersebut masuk ke dapur dan melihat bagaimana cara mengolahnya.Bagaimana makanan itu hadir di tengah masyarakat sebagai bagian dari budaya dan kebutuhan. Bagaimana makanan itu hadir di dalam tradisi, makanan seperti apa yang digunakan dalam upacara adat, itu juga termasuk bagian dari gastronomi.

Menjelang Habisnya Minyak Timor-Leste

Salatiga jadi kota ideal untuk kota gastronomi di Indonesia

Kota Salatiga | Foto: Kompas
info gambar

Melihat dari berbagai aspek, kota dengan peraih peringkat pertama kota paling toleran ini, dianggap sebagai kota ideal sebagai Kota Gastronomi di Indonesia. Mengutip dari laman Kompas, Wali Kota Salatiga, Yuliyanto mengatakan bahwa gastronomi memiliki dimensi yang lebih luas dari sekadar kuliner, ini perlu dipahami dari dimensi histori, sosial budaya, ekonomi, dan berbagai dimensi lainnya.

"Sebagai miniatur Indonesia, Salatiga menjadi tempat berbaurnya berbagai etnis dan suku dengan keragaman kuliner dengan cita-rasa uniknya. Kenyataan ini memberikan kesempatan untuk menghasilkan akulturasi bermakna yang menjadi keunikan kota Salatiga, salah satunya beragam kekayaan kuliner,” ungkapnya dilansir dari Kompas.

Melihat dari segi lokasinya, Salatiga sangat strategis untuk dikunjungi wisatawan. Salatiga diapit tiga kota penting di Jawa Tengah dan DIY (Daerah Istimewa Yogyakarta), yakni Semarang, Surakarta, dan Yogyakarta.

Kemudian dari segi keindahan, Kota Salatiga juga tak kalah apik. Bahkan, semasa pemerintahan kolonial Salatiga dijuluki Salatiga Dea Schoonnste Staad Van Midden Java, atau Salatiga Kota Terindah di Jawa Tengah. Sejak tahun 1813, setiap sudut kota Salatiga menawarkan kuliner tradisional yang membuat pengunjung merasakan nuansa nostalgia masa lalu.

Mengingat Kehangatan Keluarga Bersama Jagung Titi Kuliner Khas Flores

Potensi Kota Salatiga

Tumpang Koyor | Foto: Kompas
info gambar

Salatiga bukanlah kota baru ini dalam hal keragaman suku dan etnisnya, sehingga memiliki kekuatan tersendiri dalam hal kuliner. Salatiga merupakan kota tertua kedua di Indonesia, berusia 1271 tahun.

Maka dari itu, banyak sekali makanan yang sudah ada sejak dulu dan sangat bisa dilihat dari sisi gastronomi. Ada berbagai sajian khas yang menjadi andalan dan keunikan dari Kota Salatiga, di antaranya sate sapi suruh, opor bebek, soto esto, gecok kambing, ronde sekoteng, enting-enting gepuk, dan sajian khas Salatiga yang ikonik adalah tumpang koyor.

Dari sisi histori, tepatnya dalam naskah Serat Centhini, resep sajian tumpang koyor ini telah ada sejak 1814. Tumpang Koyor adalah sajian sup tradisional yang terdiri dari tahu, tempe, atau hidangan berbasis kedelai, serta bumbu khas lainnya.

Resep ini telah diwariskan dari generasi ke generasi dan telah menjadi sajian khas bagi masyarakat Salatiga. Dengan kata lain, menjadikan Salatiga sebagai Kota Gastronomi juga sebagai upaya dalam melestarikan resep warisan nusantara yang telah ada sejak zaman nenek moyang.

Selain potensi kuliner, histori, dan geografis, Salatiga juga unggul dalam hal keberagaman. Salatiga menjadi tempat berbaurnya 196.082 orang dengan beragam etnis. Populasi multietnis inilah yang membuat potensi Salatiga menjadi Kota Gastronomi sangat tinggi.

Lebih Dekat dengan Seto MCI 8 dan Ketertarikannya Terhadapa Antropologi Makanan Indonesia

Dalam bidang sosial budaya, hingga saat ini akulturasi di Salatiga masih terus berlangsung. Masyarakat sangat membuka, menerima, dan menghargai keberagaman yang hadir.

Maka tak heran, jika Kota Salatiga meraih skor tertinggi sebagai kota toleran dengan nilai 6,717. Kemudian, meraih penghargaan Kota Ramah Anak, Kota Ramah HAM, serta penghargaan lainnya.

Dalam rangka menuju Kota Gastronomi, banyak hal yang dipersiapkan. Salah satunya ekosistem, mulai dari pembangunan pasar tradisional, pendidikan kuliner lokal, perbaikan kualitas pelayanan, kebersihan, kesehatan, dan penguatan ekosistem lainnya.

Meski pembangunan ini terus berjalannya, namun berita baiknya adalah tak perlu dimulai dari awal. Pasalnya, ekosistem gastronomi di Kota Salatiga telah berlangsung dan berkembang sedemikian kreatif. Kekuatan inilah yang menjadi modal awal dan senjata potensial dalam mewujudkan Salatiga sebagai Kota Gastronomi di Indonesia.*

Referensi: Kemenparekraf | Kompas

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Kawan GNFI Official lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Kawan GNFI Official.

Terima kasih telah membaca sampai di sini