Menilik Riwayat Pembangunan Museum Sumpah Pemuda

Menilik Riwayat Pembangunan Museum Sumpah Pemuda
info gambar utama

Menjadi salah satu peristiwa bersejarah yang memegang peran penting dalam keberlangsungan bangsa Indonesia jauh sebelum momentum kemerdekaan terjadi, hingga detik ini peringatan Hari Sumpah Pemuda tak pernah terlewat untuk selalu digaungkan oleh berbagai lapisan masyarakat dari segala penjuru negeri.

Sebagai tonggak utama dalam sejarah pergerakan kemerdekaan Indonesia, Sumpah Pemuda yang identik dengan ikrar yang digaungkan oleh para tokoh pemuda terdahulu dianggap sebagai awal mula semangat untuk menegaskan cita-cita berdirinya negara Indonesia, dan terus dijadikan pedoman kehidupan berbangsa bagi kalangan pemuda hingga detik ini.

Memiliki riwayat panjang yang dilalui, tak heran jika Sumpah Pemuda menjadi salah satu momentum istimewa yang setiap detail sejarahnya sangat dijaga agar tak terlupakan di masa depan kelak. Hal tersebut tergambar dengan kehadiran Museum Sumpah Pemuda yang masih berdiri kokoh hingga saat ini.

Berlokasi di Jalan Kramat Raya, Jakarta Pusat. Seperti apa jejak pendirian dari museum yang menyimpan salah satu sejarah besar bagi rakyat Indonesia tersebut?

Ikrar Sumpah Pemuda di Sembilan Titik, Wujud Semangat Kesatuan Pemuda Bangsa

Tempat tinggal dan belajar para pemuda di tahun 1908

Gedung Jalan Kramat Raya 106 pada tahun 1984
info gambar

Melansir riwayat dari laman Museum Sumpah Pemuda, jauh sebelum menjadi museum seperti saat ini, bangunan Museum Sumpah Pemuda ternyata awalnya merupakan rumah milik seorang etnis Tionghoa bernama Sie Kong Liang, dan disewakan sebagai tempat tinggal sekaligus belajar untuk para pemuda yang sedang menjalani pendidikan kedokteran di Stovia (School tot Opleiding van Inlandsche Artsen) dan pendidikan hukum di RS (Rechtsschool).

Adapun mereka yang pernah tinggal di rumah tersebut di antaranya Muhammad Yamin, Amir Sjarifoedin, Abu Hanifah, Mohammad Amir, Mohammad Tamzil, Soemanang, dan masih banyak lagi. Mereka adalah pemuda yang terlibat dan berperan penting dalam keberadaan Kongres Pemuda kedua yang menjadi cikal bakal lahirnya momentum Sumpah Pemuda.

Semenjak 1927 bangunan yang pada akhirnya berubah fungsi menjadi Gedung bernama Gedung Kramat 106 tersebut sering digunakan oleh berbagai organisasi pergerakan pemuda untuk melakukan kegiatan pergerakan.

Karena sering digunakan sebagai tempat pertemuan berbagai organisasi pemuda seperti Sekar Roekoen, Pemuda Indonesia, dan Perhimpunan Pelajar Pelajar Indonesia (PPPI) juga pernah menggelar kongres disana, akhirnya gedung tersebut berganti nama menjadi Indonesische Clubhuis yang artinya gedung pertemuan.

Setahun berselang tepatnya di tahun 1928, bangunan gedung tersebut yang nyatanya menjadi saksi bersejarah dari peristiwa dibacakannya ikrar Sumpah Pemuda oleh Kongres Pemuda kedua. Lebih detail, di gedung tersebut pula Wage Rudolf (W.R.) Soepratman menutup kongres dengan pembawaan lagu IndonesiaRaya yang saat itu masih berjudul Indonesia menggunakan biola yang beliau miliki.

Refleksi Hari Sumpah Pemuda : Mereka yang Mati Muda Demi Bangsanya

Sempat menjadi toko bunga, hotel, hingga kantor bea cukai

Berselang lima hingga enam tahun semenjak Kongres Pemuda kedua dilaksanakan, para pelajar sekaligus pemuda yang menetap di bangunan tersebut perlahan mulai meninggalkan bangunan karena bersamaan dengan selesainya masa pendidikan yang mereka jalani di Stovia dan RS.

Lama kelamaan kosong dan para pelajar tidak melanjutnya sewa, akhirnya pada tahun 1934 Gedung Kramat 106 disewakan kepada seseorang bernama Pang Tjem Jam dan dijadikan rumah tinggal selama tiga tahun hingga 1937.

Penggunaan bangunan tersebut untuk berbagai kepentingan perseorangan juga terus berlangsung di tahun-tahun setelahnya. Dimulai dari tahun 1937, gedung tersebut menjadi toko bunga yang dijalankan oleh seorang etnis Tionghoa bernama Loh Jing Tjoe hingga tahun 1948.

Kemudian setelahnya, bangunan tersebut sempat menjadi tempat singgah dengan nama Hotel Hersia hingga tahun 1951. Baru setelahnya Gedung Kramat 106 tersebut disewa oleh pemerintah guna menjadi Inspektorat Bea dan Cukai untuk perkantoran dan penampungan karyawan.

Terakhir, gedung bersejarah tempat lahirnya ikrar Sumpah Pemuda tersebut pada akhirnya dimiliki oleh Pemda DKI Jakarta dan mengalami pemugaran di tahun 1973, yang di saat bersamaan juga menandai dibukanya museum dengan nama Gedung Sumpah Pemuda.

Peresmian dari Gedung Sumpah Pemuda sendiri dilakukan oleh Gubernur DKI Jakarta yang menjabat pada tahun 1973 yaitu Ali Sadikin.

Sumpah Pemuda dan Kepulangan Anak-anak Rantau

Koleksi Museum Sumpah Pemuda

Biola W.R. Soepratman, salah satu koleksi Museum Sumpah Pemuda
info gambar

Sama seperti museum pada umumnya yang sudah pasti menjadi rumah dari berbagai benda bersejarah dari suatu peristiwa tertentu. Museum Sumpah Pemuda sendiri diketahui menyimpan deretan benda yang berhubungan dengan semangat juang para pemuda terdahulu yang terlibat dalam keberadaan Kongres Pemuda baik angkata pertama atau kedua.

Selain bangunan utamanya sendiri yang penuh akan riwayat panjang dari peristiwa dibacakannya ikrar Sumpah Pemuda, di museum ini juga terdapat Monumen Persatuan Pemuda yang memiliki bentuk tangan terkepal sebagai simbol persatuan dan kesatuan para pemuda.

Lain itu, ada juga parung beberapa tokoh Sumpah Pemuda yang masin-masing berperan penting pada masanya, seperti patung Muhammad Yamin, Prof. Mr. Soenario, Mohammad Tabrani, dan W. R. Soepratman.

Kembali mengingat mengenai momentum W. R. Soepratman saat membawakan lagu Indonesia Raya tanpa lirik di Kongres Pemuda kedua, biola yang digunakan dalam peristiwa tersebut juga dapat ditemui dalam Museum Sumpah Pemuda saat ini.

Dijelaskan bahwa biola tersebut dibuat dari tiga jenis kayu yang berbeda untuk setiap bagian, di antaranya bagian papan depan yang berbahan kayu Cyprus (jati Belanda). Papan samping, papan belakang, leher, dan kepala dibuat dari kayu maple Italia.

Sementara itu bagian senar holder, penggulung senar, kriplang, dan end pin menggunakan kayu hitam atau kayu eboni Afrika Selatan.

Berdasarkan informasi terbaru yang dimuat dalam Detik.com, setelah menjadi lokasi penyelenggaraan upacara dalam memperingati Sumpah Pemuda hari ini, Kamis, (27/10), museum tersebut kabarnya akan ditutup mulai besok hingga akhir tahun atau bulan Desember 2021 sehubungan dengan dilakukannya revitalisasi.

Hal tersebut dikonfirmasi secara langsung oleh Kepala Museum Sumpah Pemuda, Titik Umi Kurniawati.

"Hari ini adalah terakhir museum kami ada, karena, besok 29 Oktober sampai akhir Desember, kami Museum Sumpah Pemuda akan melakukan revitalisasi tata pameran tetap, Museum Sumpah Pemuda akan kita kemas sedemikian rupa dengan semuanya sejarah, digital mengikuti perkembangan 4.0. InsyAllah akan buka kembali Januari 2022,” jelas Titik.

Fenomena Xenoglosofilia: Seperti Apa Substansi Sumpah Pemuda di Kalangan Milenial?

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Siti Nur Arifa lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Siti Nur Arifa.

Terima kasih telah membaca sampai di sini